
Sejak pulang tadi, Anin sama sekali tak berniat untuk melakukan apapun. Entah apa yang ada di benak Anin. Ia merasa jengkel, marah, dan sebagainya ke Delano.
"Lebih baik aku tidur, daripada mikirin itu manusia satu." gerutu Anin
Baru saja ia melangkah, langkahnyabtiba-tiba terhenti. Ternyata Elena yang menghadangnya.
"Anin, orang dimana-mana kalau habis ujian itu pasti bawannya lega. Nah kamu kok kayak lagi marah sama seseorang sih? Muka mu itu kusut kayak kanebo kering hahahaha." ucap Elena tak lupa dengan ketawanya yang mengejek Anin.
"Udah mending kamu diem. Sana masuk kamar kamu. Aku mau istirahat."
"Apa seseorang itu bernama Delano nin?" ucap Elena tiba. Tiba.
Degh
Anin yang tadi hendak masuk ke kamar tiba-tiba menghentikan langkahnya. Lagi dan lagi Delano.
"Siapa sih Delano itu. Kenapa dari kemaren Delano terus." ucap Anin dalam hatinya.
"Bener ya? Lagi dan lagi Elena kembali bertanya.
"Yakin nih nggak mau cerita? Masa kamu lagi deket sama seseorang kamu nggak cerita tuh sama aku. Syedihh kan aku huhuhu." ucap Elena lagi. Tak lupa drama seakan ia sedih beneran. Tak lupa juga lirikan mata Elena yang terus memperhatikan gerak gerik Anin.
"Aku istirahat dulu. Males bahas itu manusia." ucap Anin. Anin langsung masuk ke kamarnya, ia tidak ingin Elena semakin bertanya kemana-mana.
__ADS_1
Hati Anin masih seperti gado-gado. Ada isian timun, tahu, tempe, lontong, tauge, kol, apalagi ya? Pokoknya gitulah. Nah hati Anin sekarang isinya seperti itu. Terlalu banyak isi pikiran wkwkw.
Elena yang melihat tingkah Sahabatnya hanya terkekeh sendirian di ruang tamu.
Baru saja Elena hendak ke kamarnya, langkahnya tiba-tiba terhenti, mau tidak mau dia harus putar badan dan segera membuka pintu, kalau kelamaan ntar yang ada di dobrak eh.
Ceklek
Saat pintu terbuka tampak sosok laki-laki, kisaran tinggi 180 cm, membuat Elena yang badannya dibawah standar membuatnya harus mendongak menatap sosok itu.
"Maaf mbak, Aninnya ada?" Tanya sosok itu. Ya dia Delano. Ia menyusul Anin kerumahnya. Delano merasa bersalah pada Anin. Entahlah hanya Delano dan Tuhan yang tahu. Azeekkk
"Emm, ada sih mas, tapi sepertinya Aninnya lagi nggak mau diganggu. Mukanya kusut banget kayak kanebo kering. Ehh maaf mas kecoplosan.
Ini dia sosok Elena, memang dia punya bejibun cara untuk menyelesaikan masalah, dewasa juga, tapi ada nih satu kurangnya, suka kecoplosan. Nah kan bingung sekarang Elenanya.
"Mbak boleh minta tolong. Tolongin saya. Saya ingin bertemu Anin 5 menit aja. Soalnya daritadi saya chat nggak dibalas, di telpon nggak diangkat."
"Yaiyalah nggak diangkat dan dibales mas, orangnya aja lagi tidur katanya.
"Masa orang tidur bisa main ponsel mbak? Ini kalau mbak nggak percaya." Ucap Delano lalu memperlihatkan roomchatnya dengan Anin.
"Duh mas sosweet banget sih nama kontaknya."Ucap Elena lalu beranjak dari sana. Elena menuju ke kamar Anin.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Anin? Kamu masih tidur?" teriak Elena dari luar kamar.
Ceklek
"Kenapa Len?" ucap Anin dengan gaya ala-ala baru bangun tidur padahal ia tidak tidur sebenarnya.
"Tuh, ada cogan nyari kamu."
"Hah? Cogan? Mata kamu masih ada bagus kan len?" ucap Anin. Entah itu pertanyaan atau nada mengejek.
"Yee buruan sana. Ntar aku rebut coganmu baru tahu rasa." ucap Elena lalu pergi dari hadapan Anin.
"Siapa sih? Cogan? Perasaan aku nggak punya cogan." ucap Anin.
Daripada tamu menunggu terlalu lama, akhirnya Anin menemui tamunya itu. Tapi untuk menghilangkan rasa bersalahnya pada tamunya karena menunggu lama ia mampir ke dapur lebih dulu untuk membuat dua gelas minuman dingin.
Setelah selesai, Anin langsung menuju ke ruang tamu, Delano yang membelakangi jadi Anin belum tahu kalau tamunya adalah Delano.
"Mari masuk mas, duduk dulu. Ini juga saya buatin minuman buat masnya." ucap Anin
Saat sosok laki-laki itu berbalik, Anin kaget, rasa marah yang tadi sudah sedikit reda kembali meleduk eh meledak.
__ADS_1
"Delano?" ucap Anin tiba-tiba.
****