Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 5


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Tepat hari ini adalah hari pendaftaran terbuka. Sesuai yang dikatakan oleh Ibu Desi waktu itu, waktunya memang hari ini. Tapi sampai sekarang Ibu Desi belum memberikan informasi sedikitpunn.


Hari ini kegiatan Anin tidak banyak, ia hanya membereskan kamarnya saja. Ditengah kegiatannya membereskan kamar, ponsel miliknya yang sedaru tadi ia letakkan di atas meja berbunyi.


Ia langsung menghentikan aktifitasnya, ia langsung menuju meja belajarnya dan ia sangat berharap itu pesan dari Ibu Desi. Dan tepat sekali, ternyata Ibu Desi yang mengirim sebuah pesan.


[Assalamu'alaikum nak Anin, ini Bu Desi. Ibu cuma mau ngasih kabar, pendaftaran sudah dibuka ya. Ini ibu kirimkan linknya. Jadi semua serba online ya nak, jadi paling kamu ke kota kalau sudah waktunya tes.]


[Terimakasih banyak ya bu, ibu sudah banyak bantu Anin. Semoga kita masih bisa ketemu nantinya ya bu.]


[Iya nak, Ibu tunggu. Semoga kamu lulus ya.]


Anin hanya membalas dengan emoticon. Berita ini akan ia berutahu pada Ibunya. Tapi ia harus mendaftar dulu. Gegas ia membuka laptop miliknya dan menklik link pendaftaran tadi.


Anin mulai teliti mengisi data-data dengan baik. Ia tidak ingin ada kesalahan. Setelah hampir sejam berkutat mengisi formulir serta dokumen-dokumen lainnya Anin langsung menklik mendaftar. Tak lama muncul di layar sebuah kartu tes. Dan benar saja ujiannya masih sekitar sebulan lagi.


Setelah ia menyimpan file kartu tes ia langsung keluar kamar mencari Ibunya.


"Bu...Ibu....!!" teriak Anin


"Ibu diruang tv nak."


Mendengar sahutan dan balasan dari sang Ibu, Anin langsung menuju ke sumber suara. Dan ternyata bener ibunya lagi asyik menonton siaran favoritnya. Begitulah emak-emak gays.. Wkwwkwkk


"Ada apa sih nak, teriak-teriak gitu." ucap Ibu Anin saat putrinya sudah duduk manis disampingnya.


"Ini ibu lihat.." ucap Anin lalu memperlihatkan ponselnya pada Ibunya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semoga tesnya nanti berjalan lancar ya sayang, semoga kamu keterima disana."


****


Satu bulan berlalu, itu artinya sebentar lagi jadwal tes Anin untuk bisa kuliah seperti teman-temannya yang lain. Siang ini, Anin tidak punya kegiatan lain, jadi ia lebih memilih untuk berbenah barang-barang bawaan ia besok. Agar malam nanti ia bisa istirahat penuh.


Lagi dan lagi Anin hanya pergi ke kotanya sendiri. Ibu Anin ada pekerjaan mendadak. Ibunya ada kegiatan yang tal bisa ditinggal.


Setelah semua barang-barang bawaan Anin siap ia rebahan sejenak sambil memainkan ponsel miliknya. Saat asyik dengan ponselnya, tiba-tiba sebuah notif masuk dari salah satu aplikasi media sosial yang berlogo kotak merah muda kombinasi putih.


'@DeLaNo137 start following you'


Anin yang membaca sekilas langsung memperbaiki posisinya dari rebahan langsung posisi duduk. Panik gak tuh? Hehehe


"Apa ini Delano yang sama ya? Tapi dia tahu dari mana kalau itu akun aku?" gumam Anin.


Sekitar 15 menit di cuekin, tapi ternyata dia nggak nyerah juga. Daripada pusing, Anin lebih memilih tidur saja. Mungkin dengan itu ia bisa lupa dengan laki-laki itu.


Anin sudah mencoba untuk menutup mata tapi nihil. Ia mencoba balik kanan, balik kiri, masih juga sama. Karena mata tidak mendukung, Anin kembali memainkan ponselnya. Terdapat 50 pesan belum di buka.


@DeLaNo137


[Hai...]


[Ini bener nggak sih akun milik Anindya, yang kukenal?]


[Hei, balas dong]

__ADS_1


[Tapi dari beberapa postingan di akun kamu, memang seperti Anin yang ku kenal]


[Aku tunggu ya responnya]


[Gimana soal kampus kemaren? Kamu milih dimana?]


[Semoga kita bisa kuliah satu kampus ya...]


[Tapi kalau nggak, nggak papa juga. Asal kita masih satu kota]


[.........]


Anin yang membaca bejibun pesan rasanya geli. Anin lebih memilih abai saja. Toh nanti juga bakal berhenti sendiri kalau nggak ditanggepin. Begitulah pikiran orang yang benar-benar tertutup hatinya untuk soal hati dan perasaan.


****


Sejak bejibun pesan dari akun itu, kini tidak ada lagi pesan darinya. Artinya laki-laki itu nyerah juga. Hidup Anin beberapa hari kedepan akan aman, entahlah kalau ia sampai jadi kuliah di Kota.


Pagi ini, Anin sudah siap akan ke kota, besok ia akan mengikuti tes. Lagi dan lagi ia harus menginap di rumah Elena. Melakukan perjalanan kurang lebih 5 jam, perempuan, sendiri, bayangin gimana pegelnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam lebih, akhirnya Anin tiba juga dirumah Elena. Si yang punya rumah, sudah berada di pekarangan rumahnya sejak tadi. Melihat kedatangan Anin, ia langsung mendekat ke arah Anin, dan membantu membawakan barang bawaan Anin.


Elena yang mengerti kondisi sahabatnya itu, apalagi ia melakukan perjalanan sekitar 5 jam. Ia membiarkan sahabatnya beristirahat dikamar yang kemaren ditempati oleh Anin.


"Hufft,, capei juga kalau gini terus. Harus semangat Anin. Jangan sampai Ibu sedih jika aku gagal."


Tak lama Anin terlelap dan masuk ke alam mimpi dan memulai drama yang ada di alam mimpinya.(Emang bisa gitu ya guys hihihi)

__ADS_1


****


__ADS_2