Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 12


__ADS_3

Sebulan berlalu, itu artinya hari ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh Anin. Ia begitu risau, ditambah lagi dengan soal apartemen kemaren, sampai sekarang ia belum membicarakan hal itu pada ibunya.


Anin segera menyalakan laptopnya dan segera membuka situs pengumuman kelulusannya. Ternyata masih ada sekitar tiga jam lagi baru terbuka.


Karena hari ini ia tidak banyak aktifitas, jadi Anin kembali merebahkan badannya di tempat tidur andalannya.


"Delano kemana ya? Kenapa sejak hari itu dia tidak pernah menghubungiku lagi?."


"Aduh Anin kenapa malah mikirin dia sih. Tapi nggak ada salahnya kan aku coba telpon dia."


Akhirnya Anin mencari kontak Delano di aplikasi berlogo hijau.


Tut...tut...tutt..


"Halo? Ada apa nin?" ucap Delano dari seberang.


"Em,, itu cuma mau kasih info kalau hari ini bakal pengumuman." Ucap Anin kemudian.


"Aku sudah membatalkan kuliah disana nin." ucap Delano.


"Kenapa?"


(Anin nggak peka guys wkwkwk)


"Biar kamu tenang kuliah disana tanpa bayang-bayang aku." ucap Delano lagi tapi ada sedikit kata menggoda eh apa sih bahasa anak mudanya. Ah pokoknya itulah hihihi.


"Emm Anin maaf ya, aku sibuk banget. Nanti aku telpon lagi."


"Tu-"


Tut....

__ADS_1


Panggilan berakhir, rasa penasaran menanti azek..


Pov Anin


Setelah aku menelpon dengan Delano kenapa ada rasa nyesek ya. Apa dia kecewa padaku? Apa karena aku mengatakan tidak jadi kuliah? Tapi masa hanya gara-gara gitu aja marah. Begitulah unek-unek Anin sehabis menelpon dengan Delano.


"Daripada mikirin Delano lebih baik aku buka kembali situs pengumuman. Aku berharap harapan aku untuk kembali ke kota itu masih ada.


Ternyata situs pengumuman sudah terbuka, gegas Anin memasukkan nomor peserta.


Dag..dig..dug..


"Selamat kepada Anindya Putri Deranda Maheswara. Anda dinyatakan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru"


"Alhamdulillah aku lulus di jurusan yang aku inginkan. Aku harus beritahu Ibu."


"Anin langsung keluar dari kamar menemui Ibunya. Tak lupa laptopnya ia bawa ke hadapan Ibunya.


"Bu, sini deh liat ini." ucapku.


tes..tes..tes.


Tetes demi tetesan air mata membasahi wajah Ibu Anin.


"Bu kenapa menangis." ucapku Raut bahagia tadi langsung berubah sendu.


"Ibu cuma terharu nak, akhirnya tahun ini kamu bakal jadi mahasiswa. Semoga kamu sukses selalu ya nak.


"Jadi kapan pendaftaran ulangnya nak?" tanya Ibu lagi.


"Anin belum tahu bu. Nanti akan Anin ciba tanyakan di grup Mahasiswa Baru. Ucapku lagi.

__ADS_1


"Baiklah nak. Jadi kamu mau lanjutkan sayang?" tanya ibu padaku.


Dari sorot mata ibu terlihat jelas ada sebuah harapan yang ia dengar dari mulutku sendiri. Baiklah aku akan lanjut demi kebahagiaan ibu."


"Iya bu. Anin akan lanjut." jawabku. Ibu langsung memelukku erat. Akhirnya satu masalah sudah selesai saatnya aku bahas ke ibu soal apartemen pemberian Delano.


"Bu.." sahutku. Ibu yang memyadari panggilanku langsung merenggangkan pelukannya.


"Iya nak kenapa?" Tanya ibu.


"Ini..." ucapku dan memperlihatkan Ibu sebuah kunci. Ibu gegas mengambil dan mengamati kunci itu.


"Apartemen? Kamu dapat darimana?" tanya ibu lagi


"Itu dari Delano bu. Kemaren dia sempat ngomong sama aku, katanya ini apartemen ia sudah sewa selama 5 tahun, dan mamanya juga mengetahui hal ini bu. Dan Delano minta Ibu juga ikut sama Anin. Kita tinggal sama-sama disana." ucapku dengan sedikit was-was.


"Anin, kamu jawab jujur ya pertanyaan ibu. Kamu ada hubungan apa sama nak Delano?" tanya Ibu lagi.


"Kami berdua tidak ada hubungan apa-apa bu. Anin pun bingung kenapa dia tiba-tiba memberikan ini."


"Hufft.."


"Anin, ibu kan kerja disini sayang. Ibu tidak bisa meninggalkan apa yang menjadi tanggung jawab Ibu.


"Gini aja, ibu janji tiap hari jumat sampe minggu ibu bakal temenin Anin disana."


"Ohiya jangan lupa kamu telpon nak Delano. Ucapkan terimakasih dan salam dari Ibu. Ya sudah kamu istirahat gih, ibu mau ke dapur ya." ucap Ibu dan beranjak dari ruang tamu menuju dapur.


Aku langsung ke kamar, setelah meletakkan laptop di atas meja belajarku, langkahku ku teruskan ke arah jendela kamar. Aku menghirup pelan udara yang menusuk. Sungguh tenang rasanya.


Aku meraih ponselku dan menghubungi Delano. Satu, dua, tiga kali percobaan belum di jawab oleh Delano. Hingga panggilan ketujuh kali, masih sama hasilnya.

__ADS_1


"Aku merindukanmu Delano." lirih Anin sambil menghirup udara yang masuk lewat jendela kamarnya.


Notes :Nah ngaku juga akhirnya Anin. Rindukan jadinya wkwkwk. Nah gimana nih kelanjutan tentang Delano dan Anin ya? Mana nih tim Delan 'DELanoANin" hiyaa azek.


__ADS_2