Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 18


__ADS_3

Pov Delano


Aku sudah siap dengan pakaian rapiku. Sebelum berangkat menjemput Anin, aku menghubunginya lebih dulu. Hingga lima kali panggilan dariku ia tidak mengangkatnya juga.


"Apa Anin masih tidur ya?" ucapku


Akhirnya tanpa berpikir lagi aku segera keluar kamar dan pamitan lebih dulu sama mama. Mama masih sibuk dengan persiapan makan malam dibantu oleh si bibi.


"Ma, Delano jalan dulu ya." ucapku sambil meraih punggung tangan mama dan menciumnya.


"Iya kamu hati-hati."


Aku langsung segera melajukan kendaraan roda empatku. Suasana jalanan malam ini tidak terlalu ramai, jadi aku bisa lebih celat tiba di apartemen.


Dua puluh menit perjalanan, aku memarkirkan kendaraanku di parkiran khusus mobil dan segera menuju ke unit Anin.


Ceklek...


Saat aku baru masuk suasana sepi. Aku melangkahkan kaki ku mencari Anin di kamarnya. Dan ternyata dugaanku benar. Saat aku sudah masuk, aku melihat Anin masih bersembunyi di balik selimut.


Dan tak jauh dari Anin, kudapati ponselnya yang masih sedang mengisi baterai.


"Pantesan nggak diangkat, di silent rupanya. Ucapku dan mencabut charging dan menyimpan charging di dalam laci nakas.


Aku segera meraih remot kontrol AC dan kumatikan. Aku langsung duduk di pinggir tempat tidur dan membanngunkan Anin.


"Anin..bangun hei..." ucapku sambil mengoyangkan lengannya dengan perlahan.

__ADS_1


Anin yang mendengar ada suara laki-laki di sampingnya langsung terbangun dan berteriak. Dan tak lupa ia menarik selimut menutupi seluruh badan. Hanya kepala saja yang tampak.


"Delano." Ucap Anin saat baru menyadari kedatanganku.


"Kamu capek banget ya?"Tanyaku


"Iya maaf ya aku jadi lupa kalau ada janji mau kerumah kamu malam ini. Aku siap-siap dulu ya." ucap Anin dan langsung bergegas turun dari tempat tidurnya yang berukuran King Size itu.


"Baiklah, aku tunggu di luar ya." ucapku dan melangkah keluar dari kamar Anin menuju dapur mengambil minuman dingin dan menunggu Anin di ruang tamu saja.


Hampir sejam Anin baru selesai. Seketika aku terpana dengan penampilan Anin malam ini.


"Ayo kita ke rumah kamu." ucap Anin membuat lamunanku buyar. Aku melihat jam yang terpasang di pergelangan tanganku, ternyata sudah pukul 20.00. Mama pasti ngomel nih kalau sudah sampai.


Tanpa mengulur waktu lagi aku dan Anin berjalan beriringan menuju parkiran, semua mata yang memandang pasti beranggapan kita adalah sepasang kekasih yang begitu romantis. Padahal statuspun masih belum jelas.


Untungnya saja kondisi jalanan malam ini mendukung, jadi aku sudah samlai dihalaman rumah kurang lebih 20 menit.


Aku segera turun dan berlari kepintu di bagian Anin, lalu membukakan pintunya. Tak lupa aku mencoba mengulurkan tanganku dihadapannya. Ternyata dia paham. Anin langsung meraih tanganku dan terus ku genggam tangan itu sampai di hadapan mama.


"Akhirnya kalian sampai juga. Mama sampai mikir kalian malah nyeleneng ke tempat lain."


"Maafkan Anin tante, Anin yang salah. Anin kebablasan tidurnya." ucap Anin


Mama langsung berjalan mendekati Anin dan menuntun Anin untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Kamu duduk disini ya sayang. Kamu santai aja kalau disini."

__ADS_1


"Terimakasih tante."


Acara makan malam berlangsung dengan khidmat. Tak ada yang bicara, semua fokus menikmati hidangan makanan.


"Oh ya Anin, gimana soal apartemen? Kamu suka sayang?" ucap Mama Delano saat acara makan sudah selesai.


"Iya tante. Anin suka. Anin jadi nggak enak sama tante dan juga Delano."


"Itu tidak seberapa sayang, yang terpenting bagi tante, Delano anak mama satu-satunya itu bahagia. Dan kebahagiaan itu ia baru dapat sama kamu."


Anin hanya tersenyum mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut perempuan yang telah melahirkan Delano.


"Ya sudah, Delan... ajak.gih Anin ke taman belakang. Nanti mama akan suruh bibi bawain kalian minuman kesana."


"Sayang, tante masuk ke kamar dulu ya, dada tante mulai nggak enak. Nggak papa kan?"


"Tante sakit?"


"Nggak kok sayang, tante nggak papa."


Mama Delano mengode Delano agar anaknya segera membawa Anin ke taman belakang. Anin hanya menurut saja.


Selepas keduanya sudah pergi, mama Delano memanggil bibi yang bekerja dirumahnya.


"Bi...." teriak Mama Delano. Tak lama bibi sudah datang dengan sebuah lap yang mengantung bahunya.


"Bi, tolong ya buatin dua minuman dingin buat Delano dan Anin, terus kamu bawa ke taman belakang. Ohiya obat saya jangan lupa bawa ke kamar ya." Ucap Mama Delano dan meninggalkan bibi begitu saja..

__ADS_1


****


__ADS_2