Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 24


__ADS_3

Sesuai pembicaraan ibunya tadi saat di rumah makan, Anin dan Ibunya kini berada di sebuah hotel. Keduanya memutuskan untuk beristirahat semalam disini. Anin langsung membersihkan badannya dan segera menghampiri ibunya yang sedang menatap ke arah bangunan-bangunan yang tinggi dari arah Jendela.


"Bu.." ucap Anin. Membuat Ibunya menoleh ke arahnya.


"Apa sekarang ibu bisa jelasin sama Anin?"


Ibunya langsung berjalan ke arah sofa dan kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Papa kamu sudah menikah siri dengan mama Delano."


"Apa bu? Menikah?"


"Beberapa waktu lalu, waktu papa kamu datang, ia memberitahu ibu, bahwa ia sudah berhasil mendekati janda kaya raya yang tinggal di kota. Entah kenapa Ibu penasaran sama Papa kamu. Tapi tidak mungkin kan Ibu yang kekota. Tapi ibu kembali mikir, ngapain ibu harus mikir sejauh itu, lagian terserah papa kamu dia mau berbuat apalagi.


Beberapa hari kemudian, ada teman Ibu yang kebetulan tinggal dikota. Ia memberitahu ibu, bahwa dia melihat papa jalan berdua dengan perempuan. Dan Ibu minta tolong sama teman ibu tadi buat cari tahu. Dan setelah diteliti, papa kamu sudah menikah siri dengan perempuan itu. Dan ternyatan perempuan itu memiliki seorang anak dari mantan suaminya itu. Dan yang lebih buat Ibu marah adalah kenapa harus Delano."


"Jadi maksud ibu Aku sama Kak Delan saudara?"


"Kalian tidak bersaudara seayah. Hanya saja ibu tidak mau kamu dekat-dekat lagi sama keluarga Delan."


"Tapi bu. Kak Delan tidak salah. Ibu dengar sendiri kan tadi? Kak Delan juga baru tahu ini semua."


"Sudah cukup Anin. Lebih baik kamu fokus urus kuliah kamu. Tidak usah mikir laki-laki dulu. Lebih baik sekarang kamu istirahat, siapa tahu sebentar sore kita bisa mencari tempat tinggal untuk kamu."


Anin tidak menjawab, ia hanya mengganggukkan kepalanya. Ibunya sudah berada di atas tempat tidur.


Anin mencoba membuka ponsel yang sedari tadi tidak pernah ia buka.


"Ada pesan dari Delano dan Ada sebuah pesan dari Mama Delano." Anin segera membuka layar ponselnya dan membuka room chat dengan Mama Delano.

__ADS_1


[Assalamualaikum Anin, ini Mamanya Delano. Anin sebelumnya mama mau minta maaf sama kamu. Mama sudah mendengar semua dari Delano, karena mama hubungan kalian berakhir, Ibu kamu pasti tidak ingin kamu dekat dengan keluarga mama lagi kan? Tapi nak, Delano tidak salah. Tolong jangan akhiri hubungan kalian ya. Mama akan mengakhiri hubungan mama dengan papa kamu. Mama akan meminta pisah darinya.]


Huftt..


[Anin tidak bisa berbuat apa-apa Ma, biar gimanapun Anin hanya punya Ibu. Tapi untuk urusan mama mau minta pisah itu terserah mama lagi. Anin tidak ada hak. Lagian Papa bukan papa Anin lagi. Dia papa kejam dan terjahat yang Anin kenal.]


Terkirim....


Anin berpindah membuka room chat dengan Delano.


[Anin, kamu dimana? Kapan kita bisa bertemu? Aku ingin berbicara berdua sama kamu tentang kita. Please kamu mau ya..]


[Aku lagi nginap semalam di hotel sama Ibu kak. Maaf ya kak, kayaknya aku nungguin ibu balik dulu baru bisa ketemu sama kamu kak]


[Baiklah, nanti aku bantu cari tempat tinggal untuk kamu ya]


Anin segera menonaktifkan ponselnya. Untuk saat ini dia harus jauh dulu dari ponsel. Biarlah dia menunggu Ibunya kembali ke rumah baru dia akan kembali menghubungi Delano.


****


Kini menunjukkan pukul 16.00, Anin dan Ibunya sudah bersiap-siap untuk mencari tempat tinggal untuk Anin selama ia menuntut ilmu disini.


Akhirnya hampir dua jam berkeliling, Anin menemukan rumah kost yang tak jauh dari kampusnya. Jadi ia bisa ke kampus dengan berjalan kaki. Kebetulan juga di luar pagarnya terdapat tulisan "Ada Kamar Kosong."


Kost-kostan ini terbilang mewah, jadi harganya juga lumayan mahal. Tapi fasilitas di dalam sudah lengkap, hanya beberapa saja yang akan di beli.


Anin dan Ibunya berjalan menuju kost-kostan itu dan ternyata pemiliknya tinggal tak jauh dari sana. Setelah bertemu dan berbincang-bincang, Anin dan ibunya mengecek kondisi kamar dan setelah dirasa bagus, Ibunya segera membayar untuk setahun kedepan.


"Besok saja kita pindah kesini nak. Ibu akan kembali besok siang nak. Ada pekerjaan ibu di sekolah. Kamu nggak papa kan urus perlengkapan kamu sendiri?"

__ADS_1


"Iya bu, Anin bisa kok."


"Ya sudah, mungkin motor kamu akan datang besok. Ya sudah, kita cari makan dulu baru habis itu kita pulang. Nanti sebelum balik ke hotel kita singgah dulu di supermarket."


"Iya bu."


*****


Setelah selesai makan, kini Anin dan ibunya singgah di sebuah supermarket. Ibunya membelikan beberapa bahan makanan untuk di kost Anin dan juga perlengkapan lainnya. Takut tidak sempat besok.


Setelah hampir sejam berbelanja, Anin dan Ibunya menuju hotel. Tiba dikamar, setelah bersih-bersih, ibunya langsung istirahat. Berbeda dengan Anin, ia membuka buku catatan yang sempat ia beli tadi.


Anindya Putri Deranda Maheswara


Trauma Pasca Luka


Membuka hati adalah salah satu hal yang paling menakutkan yang akan kita lakukan, terutama jika orang lain telah menyakiti kita sebelumnya. Ketika kita disakiti oleh seseorang yang harusnya menjadi pelindung kita, dan pada akhirnya membuat kita sulit untuk mempercayai orang lain lagi, tapi ada yang lebih parah dari itu, merubah banyak hal dalam diri kita, mengubah pandangan tentang orang, tentang cinta, bahkan tentang hidup. Kadang juga membuat kita merasakan cemas yang berlebihan dan membuat kita ingin pergi sejauh mungkin dari orang-orang. Namun yang menjadi pertanyaannya, apakah itu benar-benar membuat kita lebih kuat ? Jika dalam waktu yang singkat, saat kita mencoba 'untuk mengingat luka kita' kemudian meratapinya. Tapi dalam jangka panjang, kita akan lemah karena kita tidak membiarkan diri kita masuk ke dalam jenis cinta yang dapat menyembuhkan kita.


Kita seolah menghindari sinar matahari untuk menghindari hujan padahal keduanya penting bagi kita untuk tumbuh. Satu-satunya cara untuk benar-benar sembuh adalah berani untuk mencintai. Ini satu-satunya cara untuk tahu dimana kita membutuhkan lebih banyak cinta.


Ketika kita menemukan orang yang dapat memahami rasa sakit kita dan ingin mengisi retak hati kita dengan cintanya, kemudian membuka diri kita kepadanya, menjadi terbuka dengannya. Trauma pasca luka dari orang terpercaya adalah luka terberat. Namun kita harus tetap sembuh dan menjalani hidup kembali. Satu-satunya cara mengobati sesuatu yang telah rusak adalah dengan mencoba kembali percaya akan cinta itu, kembali merakit hati yang telah hancur, Meski dengan orang yang baru.


****


Selepas menulis, Anim kembali menyimpan bukunya ke dalam tas yang sering ia pakai. Sebelum tidur ia mengecek ponselnya, yang sejak semalam ia matikan. Ternyata ada pesan dari Delano. Anin segera membuka dan membacanya.


[Gimana keadaan kamu? Hufft rasanya aku rindu sama kamu, rindu jalan bareng, makan bareng.]


Anin hanya tersenyum membaca isi pesan itu. Ia tak berniat membalas. Biarlah nanti saja dia membalasnya.

__ADS_1


__ADS_2