Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 13


__ADS_3

Pagi hari ini Anin agak kesiangan bangunnya. Semalam ia sulit tidur. Ia pun tak tahu alasannya. Sebelum beraktifitas Anin mengecek ponsel yang sejak semalam belum pernah ia buka. Berharapnya ada pesan daru Delano. Namun saat ia membuka aplikasi berlogo hijau ternyata nihil. Nama yang ia harapnada menghubunginya rupanya itu hanya mimpi.


"Huffft kenapa aku jadi seperti ini? Gimana cara aku ketemu sama Delano? Apa aku ke kampusnya? Tapi aku mana tau dia fakultas apa. Lagian aku masih di rumah, belum di Kota." ucap Anin


"Rupanya ada grup baru. Pantesan ribut, karena belum aku silent." ucap Anin lagi. Ia gegas menekan dilayar dan mengubah setelan grup jadi silent.


Anin membuka room chat yang lumayan banyak juga obrolannya.


[@Dewa "Ini admin buatin grup khusus kita-kita aja tanpa ada dosen."]


[@Riska "Bagus deh kalau ada inisiatif seperti ini muncul. Aku paling takut buat nanya-nanya di grup itu.]


[@Dewi "wkwkwk"]


[@Rizki "Diinformasikan kepada seluruh kawan-kawan ku dari segala jurusan, tanggal xx akan dimulai pendaftaran ulang. Dan pada tanggal xx akan di adakan pengenalan kampus oleh pihak fakultas dan jurusan masing-masing"]


["@Rizki "Ini adalah link grup khusus fakultas dan jurusan masing-masing."]


Begitulah kira-kira isi percakapan di room mahasiswa baru. Maklum masih baru jadi masih semangat-semangatnya. Semoga semangatnya bertahan hingga selesai oleh drama perskripsian wkwkw.


Anin segera mengklik tautan khusus fakultasnya dan juga mengklik tautan jurusannya. Anin menyimpan kembali ponselnya diatas nakas di samping tempat tidurnya. Lalu ia segera berbenah kamar dan segera mandi.


Hampir sejam Anin baru selesai mandi dan kamarnya juga sudah rapi. Ia segera ke dapur menemui Ibunya dan menyampaikan soal pendaftaran ulang tadi.


"Duh anak Ibu sudah bangun rupanya." Ucap Ibu Anin


Anin hanya terkekeh mendengar perkataan ibunya. Sedikit menyinggung wkwkw.


"Bu, tadi Anin dapat info dari temen, katanya tanggal xx pendaftaran ulang sudah dimulai dan tanggal xx akan ada pengenalan kampus gitu bu." ucap Anin sambil menguyah sebuah roti dengan olesan susu coklat.


"Baiklah, Anin jadi mau tinggal di apartemen itu nak?" Tanya ibu membuat kegiatan Anin terhenti.

__ADS_1


"Anin bingung bu, sejak kemaren Anin coba menghubungi Delano tapi nggak diangkat dan direspon sama sekali." ucap Anin.


"Ya sudah berhubung pendaftaran ulang kamu tinggal tiga harian lagi, kamu ke kota saja. Tapi ibu nggak bisa temenin nak. Nggak papa kan?"


"Iya bu. Tapi ibu bener berani sendiri? Gimana kalau Papa datang dan menyakiti Ibu lagi."


"Kamu tenang saja ya sayang. Ibu aman kok."


"Ya sudah kamu sarapan gih." perintah Ibunya.


****


Setelah selesai sarapan, dan membantu Ibunya beres-beres pekerjaan rumah. Anin kembali ke kamarnya.


Baru saja Anin hendak merebahkan badannya, terdengar suara ketukan pintu.


"Anin, ibu mau pergi dulu ya sama temen ibu. Ada urusan pekerjaan sekolah. Ini kamu pegang siapa tahu kamu bosen dirumah." ucap Ibunya dan memberikan Anin tiga lembar uang warna merah.


"Iya bu. Ibu hati-hati di jalan ya." ucap Anin dan mencium tangan Ibunya.


"Ahhh enak banget sih yang namanya rebahan."


"Delano lagi ngapainnya kira-kira? Apa aku coba telpon lagi aja ya?"


Anin langsung membuka ponsel dan mencari kontak Delano. Panggilan pertama gagal, kedua gagal, ketiga gagal, hingga panggilan ke sepuluh baru terhubung.


(Mungkin si Delano capek ditelponin mulu kali ya? Wkwkwk)


"Del-"


"Aku tunggu diluar." ucap Delano.

__ADS_1


Tut..


Panggilan berakhir


"Hah? Ini dia kenapa? Diluar mana sih? Terus bilang aku tunggu diluar. Apa ya?"


(Aduh Anin kambuh lagi nih penyakitnya wkwkw)


"Delano dateng..!!!!" Teriak Anin menggelegar hingga barang di kamarnya bergetar.


Anin langsung lari terburu buru keluar, dan nampak sosok yang selama beberap hari ini menghilang tanpa kabar.


"Delano?" sapa Anin


"Sudah siap?" Tanya Delano


"Emang mau kemana?" Tanya Anin lagi.


"Udah ganti baju sana, aku tunggu dimobil." ucap Delano.


"Tapi aku belum izin sama Ibu. Apalagi ibu lagi pergi." sahut Anin lagi.


"Udah diizinin kalau sama aku."


Tanpa menjawab lagi Anin segera kembali ke kamarnya. Ia memilih akan mengenakan baju yang mana. Celana yang mana. Baju ini dan celana ini serasi nggak sih. Aduh ribet Anin mah wkwkw.


Setelah siap Anin langsung mengambil tas kecil yang sering ia pakai, ia memasukkan ponsel, dan dompet. Simpel kan seorang Anin.


Tak lupa ia mengunci rumahnya dan tak lupa motornya ia masukkan ke garasi. Lalu ia berjalan ke arah mobil Delano.


Degh degh...

__ADS_1


Atur detak jantung Anin wkwkwk


(Kira-kira Delano bakal bawa Anin kemana ya?)


__ADS_2