
Pagi ini Anin sudah siap dengan setelan kemeja putih dan rok panjang hitam. Tak lupa ia kembali mengecek satu per satu barang bawaannya. Setelah semua selesai, Anin segera mengambil ponselnya di dalam tas dan mencari kontak Ibunya.
Tutttt....tutttt....tutttt
[Assalamu'alaikum Anin, gimana nak?]
[Wa'alaikumussalam iya bu, ini Anin udah siap-siap. Doain Anin biar bisa lulus ya bu]
[Itu sudah pasti nak. Sana gih berangkat. Jangan sampai telat]
[Ya udah bu, Anin berangkat dulu. Mungkin habis ujian baru Anin telpon ibu lagi ya?]
[Iya sayang, semangat ya]
Setelah selesai menelpon, Anin kembali menyimpan ponselnya. Sekarang sudah menunjukkan pukul 06.30. Berarti Anin masih punya waktu satu setengah jam.
Dikarenakan Anin belum sempat sarapan tadi, dan masih ada waktu akhirnya Anin singgah sebentar di sebuah minimarket. Niatnya ingin membeli roti dan susu. Setelah semua barang ada lekas ia langsung menuju kasir dan kembali melajukan motornya menuju kampus.
Jarak dari minimarket dengan kampusnya tidak terlalu jauh. Setelah Anin sampai Anin segera mencari tempat parkir yang sejuk. Dan ia akan berjalan kaki menuju fakultas tempat ia akan ujian.
Hampir 10 menit mencari, akhirnya ia menemukan ruangannya. Di dalam hanya ada beberapa orang, mungkin yang lain belum hadir. Tak mau pusing, Anin melangkah masuk dan langsung duduk di kursi paling depan. Anin memang paling suka duduk di depan entah apa alasannya.
Sekarang menunjukkan pukul 07.40 itu artinya sekitar 20 menit lagi ujian akan di mulai. Akhirnya untuk mengusir rasa bosannya Anin memilih memainkan ponsel miliknya.
Seketika ia terkejut, terkaget, akun dengan nama @DeLaNo kembali mengirim sebuah pesan. Tapi ada foto juga. Karena penasaran akhirnya Anin mencoba membuka room chat dengan nama Delano itu.
Saat gambar itu terbuka, betapa kagetnya Anin. Ternyata pesan berisi foto Anin saat di Minimarket tadi, saat Anin membayar, saat Anin mulai masuk ruangan. Saat Anin mencoba berbalik ke belakang ternyata sosok Delano ada dibelakangnya. Nyata tapi berasa mimpi.
Dengan rasa tak bersalah dan sok akrabnya itu Delano hanya melambaikan tangannya pada Anin. Baru saja Anin hendak ingin menghampiri tiba-tiba pengawas ujian sudah masuk. Biarlah nanti saja ini diselesaikan. Ada begitu banyak pertanyaan dalam benak Anin.
'Kenapa harus di sini sih?'
'Eh tapi tunggu dulu, bukannya dia juga kuliah di kampus kemaren?'
__ADS_1
'Ahhhh Anin fokuss... Hufftttt'
Lembar soal sudah ada di hadapan Anin. Susah gampang ternyata. Begini ternyata bentukan soal kalau ujian masuk perguruan tinggi wkwkwk.
Hampir satu setengah jam bergukat dengan soal-soal akhirnya Anin sudah selesai. Saat Anin hendak berdiri, ternyata sosok Delano lebih dulu menyetor jawaban hasil tesnya.
"Sudah selesai ya?" ucap pengawas pada Delano. Anin masih bisa mendengarnya karena ia duduk di paling depan.
"Sudah bu". Ucap Delano
"Silahkan keluar, dua jam lagi akan ada ujian wawancara di fakultas masing-masing." ucap ibu pengawas lagi.
"Baik bu." ucap Delano dan langsung keluar dari ruangan.
Setelah Delano hilang dari pandangan, Anin juga berdiri dan mengumpulkan hasil jawabannya.
Tanpa banyak bicara, Anin langsung keluar. Ia mencari tempat yang sejuk untuk istirahat sejenak. Roti dan susu yang ia beli tadi, belum sempat ia makan. Setelah dapat tempat duduk yang nyaman, Anin mengeluarkan roti dan juga susu tadi.
"Duduk aja." Ucap Delano
Karena hanya ini tempat duduk yang bagus akhirnya Anin duduk kembali tapi ia duduk agak jauhan dari Delano.
"Enak ya rotinya?" Ucap Delano. Entah ini pertanyaan atau menyindir. Anin tak peduli ia kembali menikmati rotinya. Sebenarnya Anin masih ada roti satu lagi di tas.
Anin melirik ke arah Delano, terlihat sekali keringat membasahi wajahnya. (Aduh Anin...awas matamu loh wkwkw)
Karena kasihan, Anin mengambil roti dari dalam tasnya. Lalu memberikannya pada Delano.
"Terimakasih."ucap Delano
"Sama-sama, maaf cuma ada itu."
"Untuk pertanyaan yang menumpuk dipikiran kamu tebtang aku, nanti aku akan jawab kalau kamu nggak sibuk." ucapnya sambil memakan roti pemberian Anin.
__ADS_1
"What??? Kok dia bisa tau ya? Apa dia cenayang?" ucap Anin tentunya dalam hatinya dong.
"Aku bukan cenayang, aku pake logika aku aja. Pasti kamu bingungkan kenapa aku ada disini."
"Tidak juga."
"Temenin makan yuk? Kamu juga pasti belum makan kan? Sebentar masih ada wawancara loh. Lama tuh kayaknya. Roti sebungkus nggak menjamin perut kamu bakal tahan."
"Terimakasih tawarannya. Tapi roti juga udah kenyang."ucap Anin
"Anin,, kamu harus makan. Nanti kamu pingsan di fakultas kamu, nggak ada yang nolongin kamu. Aku juga nggak bisa nolongin karena kita beda fakultas." ujarnya lagi
"Hah? Kok bisa tau fakultas kita beda? Kamu mata-matain aku ya? Atau kau dukun?"
"Nanti aku jawab. Ayo sekarang kita makan dulu. Disana ada kantin."
"Anin hanya bisa pasrah saja."
****
Kini keduanya sudah berada di kantin kampus. Tak terlalu banyak mahasiswa yang makan disini. Anin hanya fokus pada makanannya, ia tak ingin ada obrolan sepanjang makan.
Setelah 15 menit berlalu, keduanya sudah selesai makan. Setidaknya perut Anin aman sampai selesai wawancara. Setelah Delano selesai membayar keduanya segera meninggalkan kantin. Delano mengantar Anin menuju fakultasnya.
"Masuh gih, semangat wawancaranya ya.." ucap Delano
"Oh ya minta nomor kamu dong. Nanti aku bakal tunggu kamu disini lagi ya."
Anin hanya bisa pasrah saja. Selagi masih baik menurut Anin. Menambah teman.
Setelah urusan dengan Delano selesai, Anin langsung menuju ke dalam fakultasnya. Setelah Anin masuk, Delano tersenyum tipis lalu menuju fakultasnya juga.
****
__ADS_1