
Sesuai perkataan Delano kemaren hari ini Anin dan Delano akan berangkat ke kota. Dan Delano menepati janjinya pada Ibunya Anin untuk datang lebih pagi agar bisa ikut sarapan bersama-sama.
Anin juga sudah tidak mulai kesal pada Delano. Entah apa ramuan ceramah yang disampaikan oleh Ibunya.
Acara sarapan berlangsung khidmat. Tak ada obrolan sama sekali. Hingga beberapa menit kemudian, ketiganya sudah selesai sarapan. Anin langsung membantu Ibunya membereskan piring dan langsung mencucinya.
Sedang Delano sudah berada diruang tamu bersama Ibunya Anin. Diruang tamu agak sedikit berantakan karena Anin berkemasnya entah jam berapa.
Sambil menunggu Anin, Delano memasukkan barang-barang Anin ke dalam bagasi mobilnya. Setelah semua beres ia kembali dudul di samping Ibunya Anin.
"Nak Delano."
"Iya bu?"
"Terimakasih ya nak, sudah mau baik sama anak ibu. Ibu tidak tahu lagi harus membalas dengan apa. Apalagi yang kamu berikan pada anak ibu itu bukan hal yang mudah dan kamu harus mengeluarkan banyak biaya."
"Bu, nggak usah di bahas lagi ya. Delano ikhlas bantu Anin. Delano janji pada Ibu akam selalu menjaga Anin. Ibu juga harus hati-hati disini ya. Oh ya bu, Delano minta maaf karena belum izin sama Ibu. Di depan ada dua orang kepercayaan saya yang akan saya tugaskan disini untuk membantu saya memantau keadaan Ibu dari jauh."
"Hah? Aduh nak.. "
"Ini demi keselamatan Ibu. Kita tidak tahu musibah akan menghampiri kita kapan."
"Terimakasih ya nak." ucap Ibunya Anin dan memeluk Delano.
****
Tepat pukul 08.00 Anin dan Delano berpamitan dan segera melajukan kendaraan meninggalkan rumah Anin menuju ke kota.
Saat di pintu gerbang, Delano berhenti dan membuka kaca mobilnya.
"Saya titip Ibu, tolong kalian bekerja dengan baik. saya harap kalian bisa memudahkan saya menjaga ibu."
"Baik tuan."
__ADS_1
Delano kembali menaikkan kaca mobil dan melajukan kendaraannya menuju ke kota. Anin sepanjang perjalanan hanya diam atau sekedar menutup mata saja.
Tiga jam sudah mereka lalui. Keduanya singgah di sebuah warung makan sekaligus Delano bisa merenggangkan badannya.
Sejam mereka gunakan untuk beristirahat. Selama sejam pula keduanya hanya saling diam.
"Anin, kamu kenapa? sejak dari sarapan tadi sampai detik ini kamu enggan bicara padaku."
"Maaf."
"Ada salah lagi ya?"
"Tidak ada kok."
"Lalu kenapa? sikap kamu kenapa gini?"
"Aku sendiri juga bingung. Aku minta maaf atas sikapku."
Delano yang mendengar ucapan Anin tertawa terbahak-bahak.
"Kok ketawa sih?"
"Nggak papa, cuma keinget aja sama ucapan ibu kamu."
"Ucapan?"
"Iya ucapan. Ibu kamu bilang kalau aku harus ekstra sabar menghadapi kamu."
"Emangnya aku nakal apa sampai dikatain harus ekstra sabar menghadapi aku."
"Bukan nakal sih tapi ngambek-ngambekkannya susah ditebak. Kamu itu kenapa sih? Kalau ada sesuatu yang kamu mau sampaikan, silahkan. Aku siap selalu mendengar apapun itu."
Sebelum berbicara, Anin meneguk kembali minumannya.
__ADS_1
"Aku tidak enak aja sama kamu. Soalnya aneh aja, kita kenal baru beberapa hari, terus tiba-tiba kamu kasih aku apartemen, dan semua kebaikan kamu."
"Aku sebenarnya agak malas jika bahas itu lagi sih."
"Maafin aku."
"Udah nggak papa. Gimana? lanjut jalan lagi? Palin sekitar sejam lagi kita nyampe."
"Yaudah aku ke toilet dulu baru habis itu kita lanjut lagi. Ucap Anin dan hanya di balas anggukan kecil oleh Delano.
Tak lama Anin sudah kembali, dan setelah Delano membayar dikasir, mobil Delano kini melaju membelah jalanan yang mulai sedikit padat kendaraan.
****
Anin dan Delano sudah tiba di apartemen yang akan Anin huni selama 5 tahun kedepan. Dari pintu masuk saja, Anin sudah dibuat takjub dengan interior yang ada di lobby apartemen. Dan beberapa furnitur yang jika diinginkan harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit.
Anin mengikuti langkah Delano yang menuju lift. Mereka berdua menuju lantai 60. Kini mereka berjalan menuju kamar apartemen. Delano menempelkan kunci akses dan terbukalah pintu apartemen milik Anin.
Lagi dan lagi Anin dibuat takjub. Gimana nggak takjub saat masuk saja Anin di suguhi dengan ruang tamu yang luas. Disana ada sofa seperti ruang tamu dan ada sebuah tv. Anin melangkah masuk dan menelusuri tiap ruangan. Di unit ini, terdapat dua kamar, dua kamar mandi, dan dapur disertai kitchen set dan meja makan.
Lagi dan lagi semua furtinur bukan furnitur murahan. Kini Anin mengikuti Delano yang menuju sebuah kamar.
"Nah Anin, ini kamar utamanya. Didalamnya sudah ada kamar mandinya. Kamar ini yang akan kamu tempati. dan diujung sana tadi itu semacam kamar tamu. Jadi jika ibu datang, dia bisa istrahat disana."
Anin hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali mengikuti langkah Delano menuju dapur.
"Nah di dapur semua sudah lengkap ya. Di kulkas juga sudah terisi bahan makanan buat kamu. Pokoknya kamu aman disini. Kemudian Delano mendekat ke arah kulkas dan mengambil dua minuman dingin dan melangkah menuju ruang tamu.
Sedang Anin masih berada di dapur. Ia penasaran dengan isi kulkas. Saat dibuka ia begitu kaget. Begitu lengkap.
Ada beberapa ikan dan sebagainya, ada juga beberapa makanan junk food. Tak lupa beberapa buah segar. Di bagian sebelahnya, terdapat beberapa minuman dingin, dan juga beberapa cemilan.
"Apa Delano ya yang menyiapkan semua ini?"
__ADS_1
****
Hai readers, gimana nih menurut kalian? Maaf ya cerita aku belum terlalu jelas arahnya. tapi kalian harus sabar ya. Karena perjalanan anindya masih panjang. Jangan bosan-bosan untuk di baca ya...