Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 23


__ADS_3

Anin yang patuh pada perintah Ibunya segera membereskan pakaian-pakaiannya. Saat sedang berkemas, ponsel yang sedari tadi ia letakkan di atas nakas bergetar, menandakan ada panggilan masuk, Anin segera mengambil ponsel dan menerima panggilan.


"Elena? Ada apa ya? Apa ada kaitannya juga?"


Anin segera mengangkat panggilan itu karena ia penasaran apa sebenarnya terjadi, barangkali Elena tahu.


"Ya Len?"


"Anin, kamu dimana?"


"Di apartemen."


"Ibu sudah cerita sama aku, dan tadi katanya kamu disuruh ninggalin tuh apartemen, jadinya aku tawarin deh biar kita tinggal bareng tapi ibu kamu nolak, dia kata biarlah Anin tinggal sendiri lagian kalau kamu tinggal bareng aku si Delano mu itu mudah nyari kamu."


"Ibu kenapa ya Len? Tiba-tiba gitu sikapnya. Aku tadi udah tanya ada apa tapi ibu nggak jawab. Ibu cuma nyuruh kemas barang-barang aku. Padahal aku sama Delano baru aja semalam jadian."


"Whattt??"


"Heem.. Aku juga lagi coba hubungin Delano tapi nggak diangkat."


"Ya udah aku mau lanjut kemas dulu, soalnya ibu lagi perjalanan kesini."


"Oke. Kamu kalau ada apa-apa hubungin aku ya."


Panggilan pun berakhir, meski dalam benak Anin ingin tahu ada apa sebenarnya, ia tetap mengikuti perintah Ibunya. Biar gimanapun Anin cuma punya ibunya sekarang.


Anin telah selesai mengemasi barang-barangnya dan membawa ke ruang tamu. Setelah itu ia melanjutkan membersihkan setiap ruangan meski tidak terlalu berantakan, tapi ia harus meninggalkan apartemen dalam keadaan bersih dan rapi.


Saat sudah rapi, Anin duduk sejenak di sofa ruang tamu. Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Anin segera menengok siapa yang datang, ternyata Delano.


"Kak.." Ucap Anin dan langsung berlari ke arah Delano, keduanya saling berpelukan seakan ini adalah pertemuan mereka yang terakhir kalinya.


"Kak bisa jelasin ke Anin ada apa sebenarnya?" Tanya Anin yang masih sesegukan di pelukan Delano


"Maafin aku Anin. Aku nggak tahu kalau ternyata..."


"Apa kak...Jawab pertanyaan aku..!!


"Kakak mau tau sesuatu? Ibu menyuruh aku jauhin kakak, dan sekarang kak Delan liat itu, ibu nyuruh aku buat pindah dari sini. Anin bingung kak. Kenapa tidak ada yang mau beritahu Anin."

__ADS_1


"Izinin aku buat memeluk kamu untuk terakhir kalinya Anin.. Please..!!"


Keduanya menangis dalam pelukan, tak ada suara, keduanya benar-benar seperti tidak menyangka ini akan terjadi padahal baru saja semalam keduanya saling mengutarakan perasaan masing-masing, tapi masalah ini begitu berat apalagi Delano sangat marah saat mengetahui kejujuran dari sang mama.


Ditengah keduanya saling berpelukan tiba-tiba dari arah luar terdengar ketukan pintu, Delano segera melepas pelukan mereka dan segera membuka pintu. Muncullah dihadapan keduanya Ibunya Anin.


"Ngapain kamu ada disini?" Ucap Ibunya Anin


"Bu.. Ibu kenapa jadi berubah gini sama Kak Delan? Ada apa bu?"


Ibunya Anin tak menggubris pertanyaan dari sang Anak. Ia melangkah masuk dan mendekat ke arah Delano. Sebelum itu ia menutup pintu agar pembicaraan mereka tidak mengganggu pengunjung yang lain.


"Dengar baik-baik ya Delano. Ibu dulu memang menyukaimu, tapi setelah ibu tahu sebuah fakta ibu benci sama kamu dan juga mama kamu itu. Dan sekarang saya jadi tahu, kenapa kamu begitu baik pada anak saya. Mulai detik ini saya ingin kamu menjauhi anak saya, sekalipun itu dikampus. Dan satu lagi, silahkan kamu ambil apartemen kamu ini kembali, nanti saya akan mengganti semua uang yang sudah kamu keluarkan buat membayar apartemen ini."


"Bu,, maafin saya dan juga mama saya. Maafkan semua kesalahan mama saya. Mama saya cuma termakan rayuan Papa Danu. Dan Papa Danu juga awalnya mengaku masih bujang ke mama saya. Dan mama saya percaya waktu itu bu. Dan ternyata mama sudah menikah siri sama papa Danu. Delano benar-benar nggak tahu bu, Delano baru tahu sekarang."


"Papa Danu? Mama? Menikah siri? Maksudnya apa? Kak jelasin sama aku."


"Bu, Please jangan pisahin aku sama Anin, aku sayang sama Anin bu."


"Tidak bisa..sekali saya bilang tidak tetap tidak. Anin ayo kita pergi dari sini."


"Tapi bu.."


"Tapi Kak Delan belum jawab pertanyaan Anin bu."


"Anin cepat ambil barang-barangmu. Ibu tunggu di mobil."


Ibunya Anin segera keluar dari apartemen, kini tinggal Anin dan Delano.


"Kamu jaga diri baik-baik ya Anin. Maafin aku karena baru tahu fakta ini. Andai dari awal aku tahu, aku tidak akan membiarkan rasa ini tumbuh dan ada."


"Aku bantuin bawa barang-barang kamu ya."


"Makasih kak."


Delano dan Anin sudah tiba di lobby. Tampak ibunya sudah berada dalam mobil, dan enggan menatap Delano. Seakan ibu begitu benci pada Delano.


"Baik-baik ya kuliahnya. Jaga diri baik-baik." ucap Delano tak lupa ia mengelus kepala Anin dengan lembut.

__ADS_1


Delano tetap membantu Anin memasukkan koper-kopernya ke dalam bagasi, tak lupa ia mendekati ke arah pintu kemudi, kebetulan Ibu Anin menurunkan kaca mobilnya tapi ia lupa menaikkan kembali.


"Bu, hati-hati ya di jalan." ucap Delano yang masih dicuekin sama Ibunya Anin. Anin yang sudah masuk di mobil duduk di pintu sebelah kemudi hanya menatap sedih pada sosok laki-laki yang ia cintai.


Tak patah semangat Delano kembali mengulurkan tangannya ke arah Ibunya Anin. Ibu Anin yang melihat usaha Anak disampingnya itu menghempaskan nafas dengan kasar.


Hufft...


Dengan wajah yang masih sedikit terpaksa Ibunya Anin membalas uluran tangan Delano. Delano dan Anin yang melihat itu, seketika senyum keduanya terbit.


"Ya sudah, saya pergi dulu." ucap Ibunya Anin dan menaikkan kedua kaca mobilnya.


Kini mobil melaju meninggalkan lobi apartemen, dan meninggalkan Delano yang masih menatap kepergian mobil Anin dan Ibunya.


"Kamu sudah makan nak?" Tanya Ibunya Anin. Sedangkan yang ditanya masih belum merespon. Ibunya melirik ke arah Anin lagi dan lagi Ibunya hanya menghembuskam nafas kasar.


"Sudahlah Anin, lupakan urusan laki-laki dari pikiranmu dulu. Kamu lebih baik fokus urus kuliahmu. Kamu sudah sarapan?"


"Belum bu."


Akhirnya mobil yang melaju kencang seketika memperlambat kecepatan. Hingga berhenti di sebuah rumah makan. Anin mengikuti langkah ibunya yang sudah berjalan masuk dan duduk di sebuah meja.


Keduanya masih saling terdiam, dan tak lama seorang pegawai rumah makan dan menghampiri meja Anin dan Ibunya.


"Selamat Pagi bu. Menu-menunya mau dipesan langsung atau mau di sajikan saja bu?"


"Sajikan saja mas."


"Baiklah, mohon ditunggu bu."


Tak berselang lama, datang dua orang pegawai rumah makan itu membawa semua sajian makanan khas Sumatera Barat. Ya ibunya Anin memilih makan di rumah makan padang.


Setelah semua terhidang, Anin dan Ibunya makan dengan tenang, tak ada pembicaraan.


"Anin, nanti motor kamu ibu kirim saja ya. Untuk sementara kamu pakai taksi online. Nggak papa kan?"


"Iya bu nggak papa."


"Ya sudah, kamu makan yang banyak. Untuk hari ini kita nginap di hotel, besok baru kita cari tempat tinggal untuk kamu ya."

__ADS_1


"Iya bu."


****


__ADS_2