
Kini Anin kembali ke kamar Ibunya. Sedabg Delano tadi ia pamit. Entah ia akan kemana.
"Bu.. Gimana kondisi ibu sekarang." ucap Anin saat ia sudah duduk di pinggiran ranjang tepat disebelah Ibunya.
"Ibu sudah lebih baik nak. Oh iya gimana dengan ujian kemaren?" Tanya Ibu.
"Alhamdulillah bu. Syukurnya Anin bisa menjawabnya."
"Semoga kamu lulus ya nak." sahut Ibu lagi.
Anin melakukan aktifitas lain agar Ibunya tidak membahas soal kuliah dulu. Anin segera ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk Ibunya. Tak lupa persediaan air dalam teko ia sediakan. Setelah beres, Anin langsung kembali ke kamar ibunya dan menyuapi Ibunya.
"Istirahat sana di kamarmu nak. Kamu istirahat juga. Ibu mau tidur lagi." perintah ibunya.
"Baiklah bu, tapi ibu tidur ya." ucap Anin.
"Iya nak." ujar Ibunya
****
Anin terbangun dan ternyata sudah hampir senja. Berarti lumayan lama juga ia tidurnya. Anin langsung menuju kamar mandi, ia segera mandi dan siap-siap untuk shalat magrib.
Saat Anin baru saja selesai shalat tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Anin langsung berdiri dan membuka pintu kamarnya.
"Sudah selesai shalat nak?"Tanya ibu
__ADS_1
"Iya bu. Sudah. Ibu butuh sesuatu?" Tanya Anin balik
"Itu di depan ada temenmu. Si nak Delano."ucap Ibu lagi
"Baiklah bu, Anin kedepan dulu. Ibu lagi nggak butuh sesuatu? Tanya Anin lagi.
"Nggak ada kok nak. Sana temuin gih." perintah Ibu lagi.
Anin menemui Delano, dan benar saja sosoknya berdiri di luar pintu.
"Ekhem." Kode Anin
Delano yang mendengar itu, langsung berbalik dan menampakkan senyum tipisnya.
"Ada apa?" Tanya Anin singkat. Rasanya ia malas berlama-lama dengan Delano.
Anin mau tidak mau menyetujuinya, mungkin setelah ini Delano tidak akan dekati Anin lagi
"Baiklah, lima menit dimulai dari sekarang." sahut Anin lagi.
"Kita bisa bicara di sana? Tadi sempat aku lihat disana ada kursi kayak ditaman-taman gitu." ucap Delano lagi.
Kini keduanya sudah duduk di sebuah bangku taman. Memang di depam rumah Anin terdapat sebuah taman, meski tidak terlalu luas setidaknya ada area untuk anak-anak disini untuk bermain.
"Silahkan, lima menit dari sekarang." ucap Anin lagi
__ADS_1
"Oke. Anin sebelumnya aku minta maaf. Aku minta maaf karena aku yang sudah merusak mood kamu sejak awal kita ketemu dan aku minta maaf atas tindakan aku yang tiba-tiba langsung ikut kuliah juga dikampus kamu. Aku cuma ingin lebih mengenal kamu. Itu aja alasannya.
"Maaf Delano. Tapi untuk hal itu aku tidak bisa. Aku mohon kamu bisa mengerti. Lagian juga aku tidak jadi kuliah disana."
Ucapan Anin membuat Delano terkejut.
"Kenapa Anin? Apa karena aku? Kalau itu karena aku baiklah aku tidak akan kuliah disana."
"Bukan. Tapi kejadian hari ini membuatku berpikir seribu kali. Dan keputusannya sudah bulat. Meskipun Ibu tetap memintaku untuk tetap lanjut." ucap Anin lagi.
"Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku pamit ya. Permisi." ucap Anin dan segera berdiri.
Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba tangannya di tahan oleh Delano.
"Aku sayang sama kamu Anin, aku ingin melindungi kamu dan juga ibu kamu. Malam ini aku akan balik ke kota. Aku harap kamu mau kembali Anin, Kalau perlu bawalah Ibumu juga ke kota untuk tinggal bersama kamu nantinya. Dan ini aku ada kunci akses sebuah apartemen. Kamu pegang ya." ucap Delano dan menyerahkan sebuah kunci pada genggaman tangan Anin.
"Aku harap kamu mau terima ini. Meskipun kamu nggak mau ketemu aku lagi nantinya, aku harap kamu mau menerima pemberian dari aku. Kamu tenang saja. Kamu bisa pakai apartemen itu sepuas kamu. Aku sudah melunasinya untuk lima tahun kedepan."Ucap Delano lagi. Terlihat dari sorot matanya ada sebuah kekecewaan.
"Aku pamit pulang ya. Kamu dan Ibu kamu jaga diri baik-baik." ucap Delano dan tak lupa ia mengelus kepala Anin.
Setelah Delano menghipang dari pandangan, Anin kembali duduk di bangku taman tadi.
"Hah. Dia kenapa begitu baik padaku? Apa yang akan ku katakan pada Ibu. Lalu kunci ini?" lirih Anin.
Anin memutuskan pulang, ia akan cari waktu yang pas untuk berkata jujur pada Ibunya. Toh lagian, pengumuman kelulusannya sekitar sebulan lagi.
__ADS_1
****