Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 21


__ADS_3

Anin terbangun dan seketika ia terkejut, rupanya ia tertidur cukup lama. Ia segera mencuci wajahnya dan bergegas ke dapur. Ia mengecek stok bahan makanan di kulkas. Ternyata masih cukup untuk ia kelola malam ini.


Malam ini Anin berencana masak ikan kuah kuning dan tempe goreng tepung. Ia memulai masak nasi lebih dulu. Entah kenapa malam ini ia memasak banyak. Padahal ia hanya sendiri.


Saat sedang asyik menggoreng tempe, tiba-tiba Anin mendengar suara dari arah ruang tamu.


"Masa ada orang sih? Tapi perasaan tadi udah aku kunci deh? Apa jangan-jangan ada maling?"


Anin mengambil sendok pengaduk dari kayu dan berjalan mengendap-ngendap..


Satu...dua...tiga....Prakkkk


"Awas kamu maling...!!! Beraninya kamu masuk ke sini..!! Lewat mana kamu HAH...." Anin langsung menghajar sosok yang disangka maling. Anin tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung menghajar dengan kekuatan bela diri yang dulu sempat ia pelajari waktu sekolah.


"Anin stop...!!!!" Teriak Delano akhirnya.


Anin yang masih sibuk memukul sosok yang disangka maling itu seketika berhenti saat mendengar suara Delano. Anin langsung menjatuhkan sendok yang ia pegang sedari tadi saat Delano membalikkan badannya ke hadapan Anin. Tampak sosok Delano dengan wajah yang sudah lebam karena pukulan Anin bukan pukulan biasa.


"Delan? Ka-kamu ngapain ada disini? Sejak kapan?"


"Ya tidurlah. Aku disini sejak habis nganterin kamu tadi."


"Hah?"


Delano tak menjawab, ia kembali duduk di sofa. Anin pun akhirnya ikut duduk disamping Delano.


"Maafin aku. Aku kan nggak tahu kalau kamu ada disini."


"Aku sudah bilang dari awal Anin, tidak ada yang bisa masuk kesini kecuali Aku."


"Maaf ya. Aku obatin luka kamu ya.." ucap Anin dan hanya dibalas anggukan oleh Delano. Anin segera ke kamarnya dan mengambil P3K, tak lupa ia membawakan segelas air untuk Delano.

__ADS_1


"Ini kamu minum dulu. Aku izin obatin luka kamu ya."


Anin langsung mengobati luka yang diperbuat olehnya sendiri. Kasian Delano. Wajah tampannya ketutup sementara guys wkwkwk.


"Anin..? Aku boleh ngasih info nggak ke kamu?"


"Info apa?"


"Aku tiga tahun lebih tua dari kamu loh."


"Terus itu informasinya?"


"Maksud aku masa kamu manggil aku dengan nama langsung, nggak ada embel-embel sayang gitu."


Plakkk..


Anin langsung memukul lengan Delano. Dan Anin menghentikan kegiatan mengobati luka Delano.


"Okelah, kalau sekarang kata sayangnya belum boleh, kakak juga boleh. Ntar tambahin aja kakak sayang."


"Mau makan kak?" tanya Anin.


"Ciee langsung manggil kak, nanti ubah jadi sayang ya."


"Kak udah deh.. Ayo makan dulu." ucap Anin dan berlalu ke arah dapur.


Anin sibuk menyiapkan makan malam di meja makan. Setelah semua siap, ia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Delano.


"Ini kamu semua yang masak?" Tanya Delano.


"Iya kak. Siapa lagi yang mau masak kalau bukan aku, disinikan nggak ada pembantu."

__ADS_1


"Kamu mau aku cariin pembantu?"


"Nggak perlu kak, aku lebih suka sendiri sih. Dan aku lebih suka ngerjain pekerjaan rumah aku sendiri."


Keduanya menikmati makanan yang terhidang malam ini. Anin tak sengaja menoleh ke arah Delano, ia begitu lahap makannya. Anin seketika tersenyum melihat Delano makan begitu lahap."


"Ahhh enak Anin.. Mama aku harus coba sih ini masakan kamu." ucap Delano.


Delano saking lahapnya, ia nambah hingga dua kali. Syukurnya semua masakan Anin hari ini ludes habis. Anin langsung membereskan meja makan dan mencuci piring. Delano ia entah kemana. Setelah makan ia mengambil beberapa cemilan dan dua minuman dingin.


Setelah selesai membereskan cucian piring, tiba-tiba Delano datang menghampiri Anin.


"Kamu belum ngantuk kan? Ngobrol di balkon yuk..!Pinta Delano.


Kini keduanya sama-sama sudah berada di balkon unit apartemen. Menatap bintang-bintang yang bersinar di malam hari ini, menemani kedua insan yang masih sibuk berdiam diri dan saling beradu dengan pikiran masing-masing.


"Kak masih sakit nggak itu lukanya?" Tanya Anin tiba-tiba


"Udah agak mendingan." balas Delano


"Syukurlah."


"Anin, aku boleh mengatakan sesuatu padamu?"


"Iya kak."


"Waktu pertama kali menyukaimu, ada perasaan bahagia dalam diri ini. Aku juga tidak mengerti sama sekali bagaimana bisa perasaan ini hadir. Dan malam ini di saksikan oleh bintang-bintang, aku ingin kembali menyatakan sesuatu padamu. Aku mencintaimu Anin."


"Kalau boleh jujur juga, seiring berjalannya waktu, semakin kesini aku pun kadang merasa aneh pada diri ini kak. Tapi ada sesuatu yang membuat aku begitu takut untuk mencintai seseorang. Trauma dan rasa sakit masih membekas di lubuk hati aku yang paling dalam. Maka dari itu, aku jarang bisa menerima orang yang menyatakan perasaannya padaku."


"Maksud kamu trauma, apa itu trauma papa kamu?"

__ADS_1


Anin hanya menganggukan kepala, lagian Delano sudah menyaksikan sendiri gimana papa Anin dalam berbuat. Melihat aura ketakutan dari wajah Anin, membuat Delano segera meraih tangan Anin dan menggenggamnya. Anin seketika merasa bahwa ada sebuah ketulusan dan cinta untuknya dari Delano.


****


__ADS_2