Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 4


__ADS_3

Pov Arabella (Ibu Anin)


Perkenalkan namaku Arabella bisa dipanggil Ibu Bella. Beberapa tahun yang lalu sekitar 24 tahun yang lalu, aku bertemu dengan Mas Danu. Awalnya aku masih seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang sibuk-sibuknya dengan dunia skripsi.


Awal pertemuanku dengan Mas Danu tidak disengaja, kami tak sengaja bertemu di salah satu Bank yang ada dikota xx waktu itu. Mas Danu katanya seorang karyawan. Tapi kata Mas Danu diawal ia melihatku ia berniat untuk kenal lebih dekat. Aku sebenarnya terus menolak dan menolak tapi mas Danu selalu mengejarku.


Hingga ia memberanikan diri untuk melamarku. Ia datang kerumah orang tuaku dan menyampaikan niat baiknya. Dan hal ini membuat ia ditolak mentah-mentah oleh semua saudara dan kakak-kakakku.


Setelah aku telah menyelesaikan pendidikan ku, dia kembali datang dan melamarku. Tapi entah kenapa kali ini aku menerima lamarannya dan kami menikah. Setahun pernikahan kami Allah memberikan kami seorang putri yang cantik yakni Anindya Putri Deranda Maheswara. Menginjak usia pernikahan kami yang ketiga tahun disitulah mas Danu mulai berubah. Hingga akhirnya diusia pernikahan kami yang sudah memasuki 21 tahun.


Untungnya aku mempunyai seorang putri yang hebat dan kuat. Seorang Anin, hanya dia yang kumiliki saat ini. Tapi kali ini aku sebagai Ibunya, aku harus memikirkan masa depan anakku.


Lamunanku tiba-tiba buyar karena mendengar panggilan dari putriku.


"Bu..." ucap Anin


"Ibu mikirin apa sih? Dari tadi loh Anin manggil."

__ADS_1


"Nggak papa nak, ayo kita makan dulu."


Aku tidak ingin Anin mengetahui kerisauanku. Sudah cukup selama ini Anin menyaksikan drama pertengaran yang disebabkan oleh orang tuanya.


"Habis makan ibu mau ngobrol sama kamu, kita bahas tentang kuliah kamu ya nak" ucapku saat disela-sela makan. Kuliat wajah anakku, sepertinya ia bahagia setelah aku mengucapkan kata itu. Mungkin ia sudah punya pilihan. Biarlah nanti dibahas saja.


Pov Author


Selepas makan, Anin menyusul ibunya yang sudah lebih dulu menuju ruang tengah. Tak lupa Anin membawa beberapa cemilan dan dua minuman dingin. Tak lupa juga brosur yang ia dapat kemaren. Anin memilih mengambil jurusan Hukum Keluarga selain biaya kuliahnya yang murah, Anin juga sempat browsing di internet materi selama perkuliahan di jurusan itu dan sepertinya menarik bagi Anin.


"Bu, ini Anin tadi bikin minuman dingin." ucap Anin lalu Ibu Anin segera menoleh karena putrinya sudah datang.


Sebelum ngobrol dimulai, Anin lebih dulu memberikan kertas brosur ke hadapan Ibunya.


"Bu, ini brosur salah satu kampus yang kemaren Anin datengin."


"Kamu tertarik kuliah disana nak?"

__ADS_1


"Sepertinya begitu bu. Anin juga sudah ada pilihan jurusan."


"oh ya? Jurusan apa nak?"


"Itu bu, jurusan hukum keluarga." balas Anin sembari menunjuk ke brosur tadi.


"Kamu yakin sayang?"


"Iya bu, semoga ini memang yang terbaik untuk Anin. Kalau menurut Ibu gimana?" Tanya Anin lagi biar gimanapun semua keputusan ada ditangan Ibunya.


"Ya sudah kamu daftar saja, kalau memang kamu maunya jurusan itu boleh."


"Beneran bu?" ucap Anin. Kali ini ia benar-benar bahagia.


Ibunya hanya tersenyum sebagai jawaban bahwa benar. Anin yang paham ia langsung memeluk Ibunya.


"Anin harus janji ya sama Ibu, kuliah nanti baik-baik, jangan macam-macam, jangan lupakan shalat, jaga kesehatan."

__ADS_1


"Iya bu.. Ibu ini kayak anaknya mau pergi besok. Daftarnya aja masih lama. Anin masih punya waktu sekitar 3 bulan bareng-bareng sama Ibu." ucap Anin tak lupa pelukannya belum dilepas.


Ibu Anin mengelus lembut kepala putrinya. Ia sangat berharap ada kebahagiaan yang akan di dapat oleh putrinya suatu hari nanti.


__ADS_2