Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 1


__ADS_3

Terbaring lemah tubuh seorang wanita di atas ranjang besar, dengan nuansa kamar mewah.


Ceklek.


Senyuman langsung merekah diwajah dan mata perlahan membuka kala telinga mendengar suara pintu terbuka.


"Leo," lirih Azura lemah. Entah kenapa tubuhnya kini melemah dan mudah sakit.


Senyuman Azura hilang tergantikan oleh rasa bingung, karena melihat Lita, Sahabat baiknya yang berdiri tepat di samping Leo. Tidak biasanya, Sahabat baiknya itu berkunjung tanpa mengabari.


"Hai, Sahabat!" seru Lita dengan senyuman yang tampak berbeda bagi Azura.


"Kamu, kenapa ke sini?" tanya Azura pelan.


Lita tersenyum. "Tentu saja, karena kamu meminta kejelasan hubungan pada Leo."


Dahi Azura berkerut, ia sama sekali tidak mengerti apa yang Sahabatnya itu katakan.


"Maksudnya? Pun, itu bukankah bukan urusan kamu."


Lita terkekeh. "Oh, kamu pasti belum tau ya? Tidak apa-apa, aku yang memberitahu padanya kan Sayang?" tanya Lita, namun memanggil Sayang saat menatap Leo.


"Sayang?" Azura menatap Leo. Mencoba mencari tau apa yang terjadi. Dan berharap, Kekasihnya itu memberikan penjelasan atau bahkan membantah saat panggilan itu keluar dari mulut Lita.


"Azura, apa kamu pikir Leo benar-benar mencintai kamu?"


Azura semakin tidak mengerti. Pusing dikepalanya pun semakin terasa sakit.


"Jangan berpura-pura bodoh Azura! Leo hanya memanfaatkan kamu!"


Deg!


Jantung Azura langsung berdebar-debar, ia sungguh terkejut dengan apa yang Lita katakan. Menatap Leo yang menatapnya dingin. Padahal ia hanya membutuhkan penjelasan dari laki-laki itu.


"Yang dikatakan Lita benar! Aku tidak pernah mencintai kamu, aku hanya memanfaatkan kamu!"


Lita tertawa puas. "Azura, aku sungguh kasihan padamu! Kamu bahkan tega membunuh Ravendra untuk mendapatkan posisi sebagai Istri dari Leo? Tapi sayang sekali, Leo tidak ditakdirkan untukmu! Kamu pantasnya dengan Ravendra, dan kalian berdua cocok berada di dalam neraka!"


"Leo, kamu lupa dengan janji-janji kita? Aku bahkan udah melenyapkan Ravendra."


"Aku tidak pernah menyuruh kamu untuk melenyapkannya, Azura! Kamu melakukan itu sendiri!"

__ADS_1


Azura tersadar, benar. Dan memang benar. Ia melayangkan nyawa Ravendra tanpa suruhan dari Leo. Semua atas naluri dan apa yang laki-laki itu katakan padanya, sebagai ketakutan. Sehingga Azura mengambil langkah sendiri.


"Jadi, semua janji kamu itu bohong? Ingat Leo, aku yang udah bantu kamu! Aku memiliki bukti-bukti kejahatan kamu!"


Leo dan Lita sama-sama tertawa terbahak-bahak. Lita memanggil pelayan yang membawa nampan dengan gelas berisi air berwarna hijau pekat.


"Berikan itu padanya!" perintah Lita yang langsung dilaksanakan oleh pelayan itu.


Dengan panik Azura ingin memberontak, tapi tubuhnya terlalu lemah dan dengan mudah begitu saja terkalahkan.


"Apa ini, uhuk uhuk! Hah!"


"Itu, oh, itu hanya obat yang selama ini diberikan padamu! Tentunya, obat yang akan membuat kamu semakin cepat sampai pada Ravendra!"


Azura merasa lidahnya sudah tidak dapat digerakkan lagi, bahkan seluruh tubuhnya terasa lumpuh. Azura sadar, yang selama ini ia lakukan salah. Semua hanya karena cinta. Ia dibutakan oleh cinta.


'Aku salah! Dan aku tidak memiliki hak untuk marah pada mereka, akulah yang buta! Jika diberikan kesempatan, aku gak akan mengulangi kesalahan ini! Aku akan memanfaatkan kesempatan itu dengan baik! Dan menebus kesalahan yang aku perbuat pada Ravendra!'


Gelap.


Yang Azura rasakan hanyalah kehampaan. Hingga ia terbangun dengan perasaan terkejut.


Azura panik, namun seketika tersadar. Memperhatikan sekeliling, ia sadar bahwa saat ini dirinya berada di kamar. Ingatan sebelum-sebelumnya, mulai muncul dikepalanya.


Azura segera berdiri. Ia melihat dirinya dicermin. Sungguh pemandangan yang begitu memanjakan matanya. Tubuh tinggi semampai dengan wajah cantik chubby. Mengingat bahwa ia berubah menjadi begitu kurus saat racun mulai melumpuhkannya secara perlahan berbulan-bulan, itu adalah hal yang memuakkan.


Azura mendudukkan dirinya di tepian ranjang. Menghembuskan nafas penuh kelegaan. Semua seperti mimpi. Dan ia, akan memulai hidupnya layaknya semua adalah hal baru.


"Aku pasti, akan mengembalikan semuanya dengan baik!" Bahkan, jika pun saat ini. Kehidupannya yang kembali hanya mimpi, Azura akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat Leo dan Lita hidup dengan tidak tenang. Dan Azura juga ingin, memberikan Ravendra kehidupan yang baik.


***


Azura berjalan menuruni tangga dengan pakaian formal jas. Ia segera menuju meja makan. Di sana sudah ada Ravendra. Ya, diapun tadi melihat ada Bima saat melintasi ruang tengah.


"Hai!" sapa Azura dengan semangat.


"Hai!" sapa balik Ravendra dengan tersenyum.


Azura tersipu sendiri. Kenapa dulu ia begitu bodoh, tidak menyadari bahwa Suaminya ini mirip pangeran tampan. Bahkan senyuman tipisnya pun mampu meluluhlantakkan hatinya.


'Aduh, kamu bodoh sekali dulu Azura!' batin Azura merutuki dirinya sendiri. Entah apa keuntungan yang bisa ia dapatkan dari Leo kecuali hanyalah pernikahan impian yang pada akhirnya pun juga tidak ia dapatkan.

__ADS_1


"Azura!"


"Eh, iya?"


"Maaf, saya tidak bermaksud mengagetkanmu."


"Ha? Kenapa formal banget?"


"Maaf?"


Azura dan Ravendra saling tatap dengan kebingungan yang sama.


"Kenapa pake 'saya'? Lu gue juga boleh!" saran Azura.


"Bukannya kamu yang meminta ya." Ravendra bingung dengan apa yang saat ini terjadi. Seperti Azura berubah dalam satu malam. Tapi, apa itu mungkin?


"Emm, ya, kita sedang tidak membahas siapa yang menyuruh. Tapi, bisakah kita bicara dengan santai saja?" pinta Azura.


"Maaf, tentu," jawab Ravendra lalu melanjutkan sarapannya.


'Ah, Azura! Kamu punya Suami yang tampan, baik, bahkan bicara dengan lembut padamu, malah milih domba tapi harimau!'


"Oh ya, apakah aku boleh ikut ke kantor?" tanya Azura membuat Ravendra bingung.


"Kenapa diam? Apakah tidak boleh?"


"Eh, tentu saja boleh. Kamu juga tidak perlu meminta izin padaku!"


"Apa? Mana boleh seperti itu! Itukan perusahaanmu, jadi tentu saja aku harus meminta izin!"


"Baiklah."


Ravendra tersenyum tipis. Hari ini, Azura bahkan berinisiatif untuk berbicara padanya banyak sekali pagi ini. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, jangankan untuk mengajak dirinya berbicara banyak, saat diajak bicara oleh Ravendra pun Azura hanya melirik sinis atau menjawab sedikit dengan ketus.


Azura berdiri segera saat Ravendra berdiri. "Ada apa? Kamu bisa melanjutkan makan."


Azura menggeleng. "Tidak, ayo berangkat."


Ravendra kaget, berangkat bersama? Jangankan bersama, Azura bahkan selalu menolak dan mengatakan tidak sudi berada di dalam satu mobil bersamanya.


"Satu mobil? Bersamaku?"

__ADS_1


Azura mengangguk. "Tentu saja!"


'Hehehe, bagaimana mungkin ia tidak bingung jika ini memang pertama kali kami berbicara begitu banyak dan berada dalam satu mobil yang sama!' batin Azura. Ia tentu ingat tentang kehidupan sebelumnya. Maka dari itu, ia mencoba memperbaiki.


__ADS_2