Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 23


__ADS_3

Teringat jelas di dalam ingatan Azura bagaimana bahagianya Ravendra kala itu. Dia melamar dirinya, datang bersama kakeknya dan juga Bima, membawa cincin yang begitu manis.


Ingatan tentang momen pertunangan itu merasuki pikiran Azura saat dia mengemudi pulang. Dia merenung tentang saat-saat ketika Ravendra melamarnya di hadapan orang tuanya. Kenangan itu memperlihatkan dengan jelas hati Ravendra yang hangat dan memori tentang cincin pertunangan yang manis memancarkan kebahagiaan.


Azura mengingat senyuman lembut Ravendra saat dia membuka kotak cincin, tatapan penuh cinta di matanya, dan dukungan penuh dari kakeknya dan Bima. Saat itu, semua terasa begitu sempurna baginya, namun tidak untuk Azura karena Azura tidak menginginkan perjodohan terjadi padanya.


Azura sama sekali tidak menyukai Ravendra, bahkan dia membencinya kala itu. Dia sangat menentang perjodohan dirinya dengan Ravendra.


Azura mengingat betapa sempurna momen-momen itu terlihat bagi semua orang, tetapi dalam hatinya, dia tahu bahwa itu tidak sesempurna yang terlihat.


Azura merasa dilematis karena dia tidak pernah merasakan perasaan yang sama terhadap Ravendra seperti yang dirasakan oleh Ravendra terhadapnya. Pernikahan yang diatur oleh orang tuanya, cincin pertunangan yang begitu indah, semuanya terasa seperti tekanan besar yang dia rasakan.


Memori tentang betapa terjebaknya dia dalam perjodohan yang tidak diinginkannya, betapa sulitnya dia berusaha mencintai Ravendra, semuanya itu menghantuinya. Dia merasa seperti dia harus berpura-pura dan menyakiti hati sendiri hanya untuk mempertahankan kedamaian dalam keluarga.


Namun kini, Azura menyesali semuanya. Perlakuan dirinya terhadap Ravendra di kehidupan sebelumnya, benar-benar disesalinya. Bahkan dia sangat menyesal telah berani menghilangkan nyawa kekasih hatinya.


Rasa penyesalan yang mendalam menghantui Azura saat dia melanjutkan perjalanannya. Ingatan tentang bagaimana dia memperlakukan Ravendra dengan dingin dan bahkan tega membunuh kekasih hatinya terus menghantuinya. Dia merasa penuh penyesalan atas keputusan-keputusan yang telah dia buat dalam kehidupan sebelumnya.


Teringat jelas ketika Azura meracuni Ravendra atas perintah Leo, perasaan penyesalan dan beban semakin mendalam. Ingatan tentang tindakan tragis yang telah dia lakukan dengan mengkhianati cintanya demi Leo meresap dalam pikirannya.


Setiap langkah yang dia ambil di masa lalu, dari mencuri aset perusahaan Ravendra hingga meracuninya, membunuhnya, dan bahkan memfitnahnya setelah kematiannya, meresahkan hatinya. Dia merasa terperangkap dalam lingkaran kelam pengkhianatan dan kebohongan yang sangat dia sesali.


Azura merasakan beban yang begitu berat dan menyedihkan. Dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa tega melakukan tindakan yang merusak seperti itu, bahkan jika itu atas perintah Leo. Rasa penyesalan itu mengguncang hatinya hingga ke dasar, membuatnya merenung tentang Ravendra yang telah dia khianati.

__ADS_1


Dalam hati, Azura merasa semakin tertantang untuk memperbaiki kesalahannya. Namun, dia juga tahu bahwa apa yang dilakukannya ini tidak akan pernah sepenuhnya menghapus apa yang telah dia lakukan. Dia harus hidup dengan penyesalan dan memastikan bahwa tindakan semacam itu tidak pernah terjadi lagi dalam kehidupannya saat ini.


Setiap langkah yang dia ambil saat ini, untuk mengungkap rencana jahat Leo dan melindungi perusahaan Ravendra, membuatnya semakin sadar akan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dia lakukan. Dia merasa bahwa dia telah memperlakukan Ravendra dengan tidak adil dan tidak pantas.


Dalam kesedihan dan penyesalan ini, Azura juga merasakan dorongan untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan sekarang. Dia ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan, menghargai kesempatan kedua yang dia miliki, dan membantu Ravendra melalui perjuangan mereka saat ini.


Dalam hatinya, Azura berjanji untuk terus bergerak maju dan melakukan yang terbaik. Dia tahu bahwa kehidupan sebelumnya begitu kelam, tetapi dia ingin mengubah dan menebus semua kesalahan yang telah diperbuatnya.


Di tengah perjalanan, Azura melihat kantor polisi. Tanpa berpikir panjang, dia segera menepikan mobilnya. Sebelum turun untuk melaporkan kejahatan yang telah dilakukan Leo dan memberikan barang bukti, dia dengan segera membuka laptopnya dan meng-copy data dari flashdisk. Setelah selesai, Azura turun dari mobilnya dan masuk menuju kantor polisi.


Dengan hati yang berdetak kencang, Azura mengambil langkah menuju kantor polisi. Dia merasa tegang dan gugup, tetapi dia tahu bahwa langkah ini penting untuk membongkar rencana jahat Leo dan membuktikan kebenaran. Dia telah memutuskan untuk melakukan langkah yang berani ini demi keadilan dan untuk menebus kesalahannya.


Setelah memasuki kantor polisi, Azura mendekati meja penerima laporan. Dia menjelaskan situasinya dengan hati-hati dan menyerahkan barang bukti yang telah dia ambil dari flashdisk. Petugas di meja penerima laporan mendengarkan dengan serius dan mencatat semua informasi yang Azura berikan.


Petugas Penerima Laporan, seorang pria paruh baya dengan ekspresi serius, mengangkat pandangannya saat Azura mendekat. Dia memberikan senyuman hangat, mencoba meredakan ketegangan di ruangan itu. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"


Azura menjawab dengan suara pelan, mencoba untuk tidak menunjukkan seberapa gugup dia. "Selamat pagi. Saya ingin melaporkan suatu hal yang sangat penting."


Petugas tersebut mengangguk, memberi isyarat kepada Azura untuk duduk. Dia memandang wanita muda ini dengan penuh perhatian. "Tentu, silakan duduk dan ceritakan apa yang ingin Anda laporkan."


Azura duduk, mencoba untuk menenangkan dirinya sebelum berbicara. Dia merasa beratnya tanggung jawab yang ada di pundaknya. "Saya ingin melaporkan tentang rencana penggelapan dana yang dilakukan oleh perusahaan Sentosa. Saya memiliki bukti-bukti yang bisa membuktikan hal tersebut."


Wajah petugas itu menunjukkan ketertarikan yang tulus. "Penggelapan dana? Ini adalah tuduhan serius. Bisakah Anda memberikan informasi lebih lanjut?"

__ADS_1


Azura mengangguk, mengambil napas dalam-dalam. "Saya bekerja di perusahaan Alfonsa, dan saya memiliki akses terhadap informasi internal. Saya menemukan bahwa perusahaan Sentosa sedang merencanakan penggelapan dana yang cukup besar. Mereka telah memanipulasi data dan informasi untuk menipu klien dan investor."


Petugas Penerima Laporan mengangguk perlahan, menunjukkan bahwa dia benar-benar mendengarkan. "Bagaimana Anda mengetahui tentang rencana ini?"


Azura memandang ke lantai sejenak sebelum menjawab. "Saya memiliki akses ke informasi yang seharusnya tidak saya miliki. Saya berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang cukup meyakinkan tentang rencana ini. Dan saya membawanya di flashdisk ini."


Dia mengeluarkan flashdisk dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada petugas. Flashdisk itu tampak seperti benda kecil yang tidak signifikan, tetapi berisi potensi besar untuk membuka mata banyak orang tentang kebenaran yang tersembunyi.


Petugas Penerima Laporan menerima flashdisk tersebut, memeriksanya dengan pandangan tajam. "Terima kasih, Bu Azura. Ini adalah laporan serius. Kami akan memprosesnya dengan segera dan melakukan penyelidikan lebih lanjut."


Azura merasakan beban yang ada di dadanya menjadi lebih ringan. Dia tahu bahwa langkah pertamanya telah diambil, meskipun masih banyak rintangan yang harus dia hadapi. "Terima kasih atas perhatian Anda."


Petugas tersebut mengangguk dengan penuh pengertian. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk mengusut kasus ini. Jika ada perkembangan, kami akan menghubungi Anda. Apakah Anda bisa memberikan kami informasi kontak yang bisa dihubungi?"


Azura memberikan nomor telepon dan alamat emailnya, lalu menganggukkan kepala. "Tentu saja, saya siap memberikan informasi kontak saya."


Petugas Penerima Laporan tersenyum. "Terima kasih, Bu Azura. Anda bisa pulang dan menunggu kabar dari kami."


Azura bangkit dari kursi dengan perasaan campur aduk di dadanya. Dia merasakan adrenalin masih mengalir dalam tubuhnya, tetapi juga ada harapan yang tumbuh di dalam hatinya. Dengan senyuman kecil, dia meninggalkan kantor polisi dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya, siap untuk menghadapi konsekuensi dari tindakannya dan membuka babak baru dalam hidupnya.


Setelah memberikan keterangannya, Azura merasa sedikit lega. Dia tahu bahwa langkah ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidupnya. Jika rencananya berhasil, dia bisa menyelamatkan banyak orang termasuk Ravendra dan dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2