Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 7


__ADS_3

Azura keluar dari kamarnya dengan langkah pasti, mengenakan pakaian hitam putih yang begitu elegan dan cocok untuk suasana pagi hari. Gaun tersebut melengkapi sosoknya yang anggun, menampilkan sisi keanggunan dan kepercayaan dirinya.


Saat matanya bertemu dengan Ravendra, dia merasa hatinya berdegup lebih cepat. Ravendra berdiri di ruang tamu dengan pakaian kemeja dan jas yang sesuai, memancarkan pesona dan kharisma yang tak terbantahkan. Wajahnya yang tampan dan berwibawa seolah-olah menghipnotis Azura, membuatnya merasa terpesona.


"Sudah siap?" tanya Ravendra dengan senyum hangat yang membuat hati Azura meleleh.


Azura mengangguk, mencoba menenangkan diri agar tidak terlalu terpengaruh oleh kehadiran Ravendra. "Iya, sudah siap. Kita bisa sarapan sekarang?"


Ravendra mengangguk sambil menawarkan lengannya untuk Azura. "Tentu saja, ayo!"


Keduanya berjalan berdampingan menuju ruang makan, menciptakan suasana yang penuh ketenangan dan keakraban. Azura merasa bahagia bisa bersama dengan Ravendra dalam momen-momen seperti ini. Perjuangan mereka untuk sampai di tahap ini sangatlah berliku, mereka berdua sepertinya sudah berhasil melewati masa sulit tersebut.


Sarapan berlangsung dengan suasana yang hangat, mereka berdua saling berbagi cerita dan candaan ringan. Azura tak bisa tidak tersenyum melihat bagaimana Ravendra begitu penuh perhatian terhadapnya. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Ravendra membuat hati Azura semakin meyakini bahwa dia telah memilih dengan tepat.


Di dalam hati, Azura bersyukur atas hadirnya Ravendra dalam hidupnya. Meskipun awalnya pernikahan mereka diwarnai oleh keraguan, namun saat ini Azura merasa semakin nyaman dan akrab dengan Ravendra. Dengan setiap senyuman dan tatapannya, Ravendra mengingatkan Azura bahwa cinta bisa tumbuh dari waktu ke waktu, meskipun awalnya tidak sempurna.


Menu sarapan kali ini berbeda dari biasanya, yang biasanya roti dengan telur mata sapi atau dengan selai, kini mereka makan nasi goreng spesial yaitu nasi goreng steak, khusus permintaan Azura.


Menu sarapan yang berbeda kali ini memberikan sentuhan khusus pada pagi mereka. Azura dan Ravendra duduk di meja makan, menikmati hidangan nasi goreng steak yang diatur dengan indah di atas piring.


Nasi goreng yang lezat ini memberikan rasa yang berbeda untuk memulai hari mereka. Rasa rempah-rempah dan cita rasa daging steak yang gurih menciptakan perpaduan yang sempurna. Mereka berdua menikmati setiap suapan, sambil berbicara tentang rencana mereka untuk hari ini.


Suasana pagi itu penuh dengan aroma makanan yang menggugah selera dan tawa ringan mereka. Sarapan yang berbeda ini adalah cara yang sempurna untuk merayakan kebersamaan mereka dan menghadapi hari yang baru dengan semangat dan kebahagiaan.


Kemarin Azura meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan dengan menu nasi goreng spesial, dia memiliki alasan tersendiri. Nasi goreng spesial ini adalah menu yang biasa dibuat oleh ibunya setiap pagi, dan Azura merasa rindu akan rasa dan kenangan yang terkait dengannya.


Sarapan itu bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang menghubungkan dirinya dengan kenangan bersama keluarganya. Rasa nasi goreng spesial ini membawa kembali ingatan manis tentang pagi-pagi di rumah dengan ibunya.


Ravendra memahami pentingnya sarapan ini bagi Azura, dan mereka berdua menikmati hidangan tersebut dengan penuh rasa syukur.


"Makan yang lahap, Azura." Ravendra tersenyum senang melihat istrinya menikmati sarapannya.


Azura tersenyum, "Tentu, Sayang. Pagi ini rasanya begitu spesial dengan nasi goreng ini, seperti yang mama selalu buat."


Ravendra menyambut senyum Azura, "Ya, memang istimewa. Aku senang bisa berbagi pagi ini bersamamu."


Azura mengangguk setuju, "Aku juga, Sayang. Ini seperti menghadirkan sepotong kecil rumah dalam sarapan kita."


Ravendra mengambil segelas jus jeruk, "Ada rencana apa hari ini, Azura?"


Azura mengambil sesuap nasi goreng kemudian menguyahnya sebentar, "Ada beberapa tempat yang ingin aku kunjungi. Mau ikut?"


Ravendra tersenyum, "Ide bagus. Aku siap mengikuti petualanganmu, Azura. Mungkin kita bisa mencari restoran di pinggir kota terbaik untuk makan malam nanti, bagaimana?"


Azura tersenyum, "Benar, Sayang. Aku yakin kita akan menemukan tempat yang luar biasa."


Setelah sarapan selesai, Ravendra menawarkan untuk membersihkan meja, sementara Azura mengucapkan terima kasih dan berjalan ke arah jendela. Dari sana, dia memandang keluar dan merenung sejenak. Dia merasa beruntung memiliki Ravendra di sisinya, dan dia berharap bahwa masa depan mereka akan penuh dengan kebahagiaan dan cinta yang semakin berkembang.

__ADS_1


Setelah membereskan meja, Azura dan Ravendra duduk bersama di ruang keluarga rumah mereka. Mereka memiliki diskusi serius tentang rencana untuk mengungkap rencana jahat Leo yang mengancam perusahaan Ravendra.


"Azura, kita perlu mengumpulkan bukti yang kuat untuk membuktikan rencana jahat Leo. Kita tidak boleh hanya berbicara tanpa bukti konkret," kata Ravendra dengan serius.


Azura mengangguk setuju. "Kau benar, Sayang. Kita harus memiliki bukti yang cukup kuat agar tidak ada yang bisa meragukan niat kita. Leo adalah orang licik, kita harus pintar dalam menghadapinya."


Ravendra menyentuh tangan Azura dengan penuh keyakinan. "Kita akan melakukannya bersama-sama, Azura. Aku tahu kau memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk mengungkap rencana jahat Leo."


Mereka lalu mulai merencanakan strategi. Mereka memutuskan untuk menyelidiki lebih dalam tentang aktivitas Leo, mencari bukti yang berhubungan dengan rencana penghancuran perusahaan. Azura akan mencoba mencari cara agar dia bisa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.


"Kau harus waspada, Azura." Ravendra mengingatkan.


Azura mengangguk serius. "Aku akan berhati-hati, sayang. Kita harus mencari celah untuk mengungkap rencana jahatnya."


Selama beberapa minggu, Azura mulai menyelidiki dengan cermat. Dia berusaha mengetahui lebih banyak tentang rencana-rencana yang Leo punya.


Pada suatu hari, Azura berhasil mendapatkan informasi penting dari salah seorang karyawan perusahaan Leo. Dia menemukan bukti dalam bentuk percakapan yang mengindikasikan rencana jahat Leo untuk menghancurkan perusahaan Ravendra.


Azura memutuskan untuk bertindak diam-diam dan menyelidiki lebih lanjut tentang rencana jahat Leo. Dia tahu bahwa salah satu cara untuk mendapatkan informasi adalah dengan berada di tempat-tempat yang mungkin sering dikunjungi oleh orang-orang terdekat Leo.


Cafe dekat perusahaan Leo menjadi targetnya. Dengan pakaian yang tidak mencolok, Azura pergi ke cafe tersebut pada salah satu pagi. Dia memesan secangkir kopi dan duduk di sudut yang tidak terlalu mencolok, berusaha untuk tidak menarik perhatian.


Saat dia duduk di sana, dia mendengarkan obrolan di sekitarnya dengan seksama. Dia mencoba untuk mencari tahu apakah ada yang membicarakan rencana-rencana jahat Leo. Dia berharap ada informasi yang bisa dia tangkap.


Tak lama kemudian, dia menangkap pembicaraan antara dua karyawan yang duduk di meja sebelahnya. Mereka terlihat santai, tidak sadar bahwa Azura sedang mendengarkan.


"Benarkah? Apa yang dia rencanakan?" tanya yang lain dengan penasaran.


"Katanya dia punya sumber daya yang bisa dia gunakan untuk merusak reputasi perusahaan Alfonsa. Dia ingin memanfaatkan situasi ini untuk mengambil alih klien-klien mereka," jelas karyawan pertama dengan nada gelap.


Azura merasa hatinya berdetak kencang. Dia berhasil mendengar informasi berharga ini. Rencana Leo untuk menjatuhkan perusahaan Ravendra ternyata lebih rumit dan berbahaya dari yang dia duga.


Setelah karyawan-karyawan itu pergi, Azura segera mengambil ponselnya dan mencatat semua informasi yang dia dengar. Dia merasa gugup dan tegang, tapi juga bersemangat karena dia tahu bahwa ini adalah langkah pertama dalam mengungkap rencana jahat Leo.


Setelah meninggalkan cafe, Azura segera menghubungi Ravendra dan membagikan informasi yang dia dapatkan. Mereka merasa bahwa mereka memiliki petunjuk yang penting dan harus segera merencanakan langkah berikutnya.


Azura dan Ravendra memahami bahwa mereka harus menghadapi rencana jahat Leo dengan hati-hati dan cerdas. Mereka menyusun strategi yang matang, bekerja sama dengan tim keamanan perusahaan, dan mengumpulkan bukti yang lebih kuat untuk mengungkap rencana jahat Leo.


Pertama-tama, mereka mengumpulkan semua informasi yang sudah mereka peroleh sebelumnya. Mereka memeriksa setiap detail dan mencoba menghubungkan titik-titik yang ada. Setelah itu, mereka berbicara dengan tim keamanan perusahaan untuk mendapatkan pandangan profesional tentang situasi ini.


Tim keamanan perusahaan membantu dalam mengidentifikasi area-area yang rentan dan memberikan saran tentang langkah-langkah yang perlu diambil. Mereka merencanakan pengintaian terhadap aktivitas Leo dan menjaga agar tidak ada yang mencurigakan perhatian mereka.


Sementara itu, Azura mendekati beberapa karyawan yang mungkin tahu lebih banyak tentang rencana Leo. Dia membangun hubungan dengan mereka secara hati-hati, membangun kepercayaan, dan mencoba merayu informasi lebih lanjut. Beberapa dari mereka mungkin merasa tidak nyaman atau khawatir, tetapi Azura berhasil membuat mereka merasa bahwa mereka bisa percaya padanya.


Ravendra juga bekerja sama dengan tim hukum perusahaan untuk memastikan bahwa mereka memiliki bukti yang cukup kuat untuk menghadapi Leo secara hukum. Mereka mempersiapkan diri untuk kemungkinan proses hukum yang akan mengikuti jika rencana mereka berhasil.


Azura terkejut dengan ingatan yang datang tiba-tiba tentang kehidupan sebelumnya. Dia merenung dalam kegelapan kamar, memikirkan segala perasaan campur aduk yang muncul.

__ADS_1


Azura teringat saat dia duduk di sebuah cafe bersama Leo. Saat itu, Leo dengan licik mencoba mempengaruhi Azura dengan rayuannya yang manis.


"Kau tahu, Azura, aset perusahaan Ravendra itu seperti permata yang berkilau. Jika kita bisa mendapatkannya, kita bisa hidup dalam kebahagiaan," goda Leo dengan senyuman tipis di bibirnya.


Azura merasa canggung pada awalnya, "Tapi itu tidak benar, Leo. Aku tidak bisa melakukan hal itu, aku tahu aku tidak mencintai Ravendra tapi itu akan merugikan Ravendra dan perusahaannya."


Leo mendekati Azura, mencoba membuatnya luluh dengan sentuhan tangannya. "Tapi, sayang, kita bisa memiliki segalanya. Kau dan aku bersama, bisa hidup dalam kemewahan tanpa batas. Apa artinya sebuah perusahaan jika tidak ada cinta di dalamnya? Kau dan aku, kita bisa memiliki segalanya."


Azura merasa tergoda oleh rayuan Leo, tetapi dia juga merasa tidak nyaman dengan permintaan yang diajukan. "Tapi itu salah, Leo. Ravendra sangat mencintai perusahaannya dan dia mencintai aku. Aku tidak bisa melakukan hal yang buruk padanya."


Leo merasa frustasi dengan sikap bimbang Azura. Dia mencoba lagi, kali ini dengan penuh penekanan emosi, "Sayang, kau tahu jika aku sangat mencintaimu."


Azura merasa bingung. Dia mencintai Leo, dan godaan Leo membuat hatinya goyah. Dia merasa terdorong oleh keinginan untuk memberikan segalanya pada Leo, tetapi dia juga tahu bahwa cara yang ditawarkan Leo adalah cara yang salah.


Pada akhirnya, Azura luluh dan menyetujui keinginan Leo. "Baiklah, Leo. Aku akan mencoba untuk melakukannya karena aku mencintaimu."


Leo menunjukkan ekspresi senang, dia menghibur Azura dengan kata-kata manis lagi. "Baiklah, sayang. Aku sangat mencintaimu, aku akan bersamamu selamanya. Mari kita rencanakan semuanya!"


Azura tersenyum dan tersipu oleh kata-kata rayuan gombalnya Leo. "Baik, apa yang harus aku lakukan?"


"Aku akan merencanakan semuanya dengan rapi. Kamu tunggu saja aba-aba dariku, Sayang." Leo tersenyum dan mengecup punggung tangan Azura.


Azura teringat betapa kejamnya rencana Leo untuk menghancurkan perusahaan Ravendra. Dia telah terlibat dalam rencana busuk itu.


Leo telah merencanakan berbagai cara untuk mencuri aset penting perusahaan Ravendra, yang bisa menyebabkan kehancuran bagi perusahaan itu. Dia menyuruh Azura untuk membantu melaksanakan rencana busuknya dengan harapan bahwa Azura akan tertarik dengan janji-janji yang ditawarkan.


Azura merasa kesal dan marah pada dirinya sendiri karena tertipu oleh rayuan cinta palsu Leo. Dia teringat bagaimana Leo berhasil membujuknya untuk mengambil aset penting perusahaan Ravendra, yang kemudian menyebabkan perusahaan itu mengalami kehancuran.


"Dulu, aku begitu bodoh dan terlena oleh cinta palsu Leo. Dia memanfaatkan perasaanku dan memanipulasi diriku," gumam Azura dengan perasaan kesal.


"Dulu, aku sangat tergoda oleh cinta palsu Leo dan membantu dia merusak perusahaan Ravendra," bisik Azura pada dirinya sendiri.


Ravendra yang tidur di sampingnya merasakan kegelisahan Azura. Dia membalikkan badannya dan memeluk Azura dengan lembut. "Ada yang mengganggu pikiranmu, Azura?"


Azura menatap mata lembut Ravendra dengan perasaan cemas. "Aku... aku teringat tentang mimpiku, tentang perbuatan burukku dan bagaimana aku membantu Leo merusak perusahaanmu."


Ravendra mendengarkan dengan penuh perhatian dan pengertian. "Jangan dipikirkan, Azura. Itu hanya mimpi. Aku mencintaimu, dan aku tahu kau telah berubah menjadi orang yang lebih baik."


Azura meneteskan air mata membatin dalam dirinya. 'Aku merasa sangat bersalah, Ravendra. Kau memberikan kesempatan padaku untuk membantu Leo, dan aku begitu jahat telah menyalahgunakan kebaikanmu.'


Ravendra mengecup lembut kening Azura. "Sudahlah, Azura. Jangan menangis."


Azura merasa lega dengan dukungan dan pengertian Ravendra. Dia bersyukur memiliki suami yang selalu mendukungnya, bahkan dalam saat-saat sulit seperti ini.


Mereka berdua berbicara lama tentang mimpi-mimpi buruk Azura yang tak lain adalah kehidupan sebelumnya. Ravendra memberikan kekuatan dan keyakinan kepada Azura, memberitahunya bahwa itu hanyalah mimpi, bukan penentu masa depan mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2