Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 19


__ADS_3

Malam itu, Azura berbaring di atas tempat tidurnya, merenung tentang semua yang telah terjadi. Dia merasa semakin sulit untuk terus menyembunyikan rencananya dari Ravendra. Namun, dia tahu bahwa dia harus tetap berpegang pada tujuannya yang lebih besar yaitu melindungi perusahaan Ravendra dan mengungkap rencana jahat Leo. Meskipun hatinya berat, Azura bersumpah untuk terus maju tanpa menghiraukan rasa cemasnya.


Karena rasa cemasnya akibat sudah membohongi Ravendra, Azura bermimpi buruk lagi tentang kehidupan sebelumnya. Kali ini dia bermimpi tentang bagaimana dia berusaha menyingkirkan Ravendra supaya Ravendra lenyap untuk selamanya. Dengan begitu, dia bisa menikah dan hidup bersama dengan Leo.


Dalam mimpi buruk yang menghantuinya, Azura merasakan gelombang rasa cemas yang tak terkendali. Dia terhanyut dalam skenario yang kelam, melihat dirinya dalam kehidupan sebelumnya dengan keinginan yang gelap.


Azura merasa terjebak dalam konspirasi sendiri. Dia merencanakan tindakan yang tidak bermoral untuk menyingkirkan Ravendra dari kehidupannya. Wajahnya yang penuh dengan ekspresi kebingungan dan ketakutan mencerminkan perasaan antara dorongan buruk dan pertentangan batin.


Azura mencoba berbagai cara untuk membuat Ravendra menghilang, dengan tipu daya dan pengkhianatan yang lebih dalam. Kini dia semakin berani, merencanakan untuk menghilangkan nyawa Ravendra dengan meracuninya.


Ketika itu Azura berpura-pura baik pada Ravendra dengan menawarkan segelas air. Ravendra sedikit terkejut dengan perlakuan baik Azura yang tiba-tiba. Namun Ravendra berbaik sangka, pikirnya mungkin Azura mau berubah dengan bersikap baik padanya.


Ravendra menerima segelas air yang ditawarkan oleh Azura dengan senyum tipis di wajahnya. Ada kebingungan yang terpancar dari ekspresinya, tetapi dia memilih untuk memberi Azura keuntungan keraguan. Azura berdiri di dekatnya dengan tampilan sopan, namun ada keragu-raguan dalam tatapannya. Mereka berdua seperti berada dalam momen yang rapuh, saat keheningan di antara mereka hampir dapat dirasakan.


"Terima kasih," kata Ravendra dengan nada yang ramah, mencoba untuk membuka percakapan. "Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"


Azura menatap Ravendra, seolah berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan suara lembut, "Ravendra, mungkin ini saat yang tepat untuk kita membicarakan beberapa hal. Aku tahu bahwa kita sudah menikah dan aku ingin mencoba memberikan yang terbaik dalam pernikahan ini."


Ravendra mengangguk perlahan, masih dengan ekspresi yang penuh tanda tanya. "Aku mendengarkanmu. Apa yang ingin kamu katakan?"


Azura menelan ludahnya, merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Dia merasa berdebar-debar menghadapi Ravendra yang tidak mengetahui jika air minum yang diberikan olehnya telah diteteskan racun yang mematikan.


Azura mencoba bersikap santai, "Ravendra, aku tahu bahwa awalnya aku memiliki perasaan yang rumit terkait pernikahan ini. Namun, aku ingin memberikan peluang pada hubungan kita. Aku ingin mencoba bersikap lebih baik dan mendukungmu, seperti pasangan yang seharusnya."


Ravendra mendengarkan dengan serius, masih mencoba memproses kata-kata Azura. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan di balik perkataan Azura, tetapi dia tidak yakin apa itu.


"Aku mengerti bahwa mungkin ini terdengar tiba-tiba," lanjut Azura, "tapi aku benar-benar ingin mencoba. Tapi aku juga ingin kamu tahu, aku punya beberapa kekhawatiran dan perasaan yang perlu diungkapkan. Aku ingin kita bisa berbicara terbuka dan jujur."


Ravendra merenung sejenak, kemudian mengangguk perlahan. "Baiklah, Azura. Aku setuju. Aku ingin kita bisa memperbaiki hubungan ini dan berbicara tentang apa pun yang kamu ingin sampaikan."


Azura merasa lega mendengar jawaban Ravendra. Dia tahu bahwa langkah ini tidak akan mudah, tetapi setidaknya ada harapan di hadapannya. Dia tersenyum ringan, "Terima kasih, Ravendra. Aku harap kita bisa melalui ini bersama."


Ravendra membalas senyuman itu, menciptakan sedikit cahaya di antara mereka. "Aku juga berharap begitu, Azura. Kita bisa saling mendukung dan memahami."


Ravendra mulai merasa tenang dan memancarkan raut bahagia di wajahnya. Sambil tersenyum pada Azura, dia mulai meminum air di dalam gelas pemberian Azura yang telah ditetesi racun. Azura pun membalas senyuman, namun senyuman Azura adalah senyuman keberhasilan rencananya.


Azura dengan waspada memperhatikan setiap gerakan Ravendra. Dia memerhatikan bagaimana Ravendra minum air dari gelas dengan hati-hati, dan sejenak berhenti, kemudian meminumnya lagi sampai habis. Namun, saat Ravendra tampaknya terlihat baik-baik saja setelah meminumnya, Azura merasa sedikit gelisah.


Azura berusaha untuk tetap tenang dan bersikap wajar. Hatinya berdebar-debar karena keberhasilan rencananya, tetapi dia tidak ingin menunjukkan tanda-tanda apa pun. Azura merasa yakin bahwa racun yang telah dia masukkan ke dalam gelas telah bekerja.


Ravendra tiba-tiba merasakan sensasi aneh di perutnya. Ravendra merasakan dorongan sakit yang hebat. Sensasi itu membuatnya merasa terpukul dan hampir membuatnya tersungkur. Dia merasa mual yang tak tertahankan dan akhirnya, tanpa bisa menahannya lagi, dia muntah dengan hebat, dan cairan merah tua yang tidak wajar keluar dari mulutnya.


Azura langsung berpura-pura panik dan terkejut. Dia berlari mendekati Ravendra, memainkan perannya dengan sangat baik. Dia tampak seperti sangat khawatir dan meminta bantuan dengan menelepon rumah sakit. Dia berteriak kepada pihak rumah sakit untuk memanggil tim medis, meminta mereka segera datang untuk membantu Ravendra.


Azura berusaha keras memainkan perannya, berpura-pura khawatir. Dia seolah-olah mencoba memberikan pertolongan pertama pada Ravendra, sambil sesekali menundukkan kepala dan mengusap mata yang dibasahi oleh air mata palsu. Dia merasa degup jantungnya semakin cepat, tetapi dia tahu bahwa ini adalah bagian dari rencananya.


"Ravendra, tolong bertahan!" ujarnya dengan suara bergetar, sambil terus memegang tangan Ravendra dengan erat. "Tim medis akan datang segera. Kamu harus tetap kuat!"


Ravendra tampak benar-benar lemah, namun matanya tetap mencoba menemukan wajah Azura. Dengan susah payah, dia mengucapkan kata-kata yang penuh perasaan. "Azura... aku sangat mencintaimu. Aku... beruntung... dipertemukan dengan wanita secantik dan sebaik dirimu..."


Air mata semakin mengalir deras dari mata Azura saat dia terus berakting. Dia mencoba untuk membalas kata-kata Ravendra dengan tangisan yang lebih kuat, seolah-olah dia benar-benar takut kehilangan suaminya. Di dalam hatinya, dia merasa kombinasi antara emosi yang rumit, antara bermain peran dan perasaan bersalah.


Namun, tiba-tiba, tangan Ravendra yang dia pegang menjadi kendor, dan Azura bisa merasakan napasnya melemah. Matanya perlahan-lahan tertutup, dan Azura merasakan getaran yang berhenti dari tangan Ravendra. Dia menundukkan kepalanya, mencoba untuk mengendalikan perasaan campur aduk yang ada di dalam hatinya.


Ketika tim medis tiba, mereka segera berusaha melakukan tindakan penyelamatan. Namun, setelah beberapa saat berjuang, mereka mengangguk dengan sedih dan mengumumkan bahwa mereka tidak bisa menyelamatkan Ravendra. Azura berpura-pura histeris, melepaskan tangis dan rasa kehilangan yang dalam. Dia terlihat sangat putus asa dan hancur.


Di tengah kekacauan itu, tidak ada yang curiga bahwa ini adalah hasil dari rencana Azura yang jahat. Dia melanjutkan bermain perannya dengan baik, sambil memastikan bahwa dia tidak membiarkan ekspresi kepuasan atau kemenangan sedikit pun terpancar dari wajahnya. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa ini adalah akhir dari rencananya, dan bahwa dia harus terus bermain peran untuk menjaga rahasia gelapnya.


Azura terus memainkan perannya dengan baik, bahkan ketika tim medis menyarankan untuk melakukan otopsi sebagai prosedur standar. Dia menggertakkan giginya dan dengan berusaha menahan perasaan panik, dia berkata, "Tidak, tolong jangan lakukan otopsi. Keluarga kami ingin memberikan penghormatan terakhir dengan cara yang tenang."


Tim medis akhirnya menghormati permintaannya, dan Azura segera mengatur pemakaman Ravendra. Dia memastikan bahwa pemakaman diadakan dengan megah dan penuh kehormatan. Keluarga, karyawan, dan para klien perusahaan Alfonsa hadir dengan tulus mengenang sosok Ravendra. Azura terus berperan sebagai janda yang berduka dan penuh kepedihan, merasakan beban peran yang semakin berat.


Upacara pemakaman Ravendra diadakan dengan suasana yang sangat hening dan khidmat. Langit tampak mendung, memberikan sentuhan dramatis pada suasana yang penuh duka. Orang-orang berkumpul di pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir pada sosok Ravendra.


Lokasi pemakaman dipenuhi dengan karangan bunga dan bunga-bunga segar yang diletakkan dengan rapi di sekitar peti jenazah. Tampak juga berbagai layanan khusus seperti layanan musik yang menambah suasana haru. Keheningan hanya terputus oleh bunyi-bunyi gemericik air dan angin sepoi-sepoi yang berhembus perlahan.


Pendeta yang mengenakan jubah berdiri di dekat peti jenazah, memimpin doa-doa dan penghormatan terakhir. Keluarga Ravendra, termasuk Azura yang memakai pakaian serba hitam, tampak hanyut dalam kesedihan. Dia menahan tangisnya, mencoba untuk tetap tegar di tengah situasi yang sulit.


Para karyawan perusahaan Alfonsa hadir pula, mengenakan pakaian seragam yang juga berwarna hitam. Wajah-wajah mereka penuh dengan ekspresi duka, mengingat peran penting yang dimainkan Ravendra dalam perusahaan dan kehidupan mereka.


Tiba-tiba, hujan mulai turun perlahan, seakan memberikan air mata alam kepada sang pemakaman. Beberapa orang melipat payung, sementara yang lain hanya merelakan diri mereka basah dalam hujan, seolah ikut berduka atas kepergian Ravendra.


Pada akhir upacara, saat peti jenazah hendak diturunkan ke dalam liang lahat, suasana semakin haru. Azura dan keluarga berjalan pelan-pelan mendekati liang lahat, dan saat itu Azura menangis seolah-olah tangisannya tak bisa lagi ditahan. Dia seperti merasa sesak dalam dadanya, dan orang-orang pun telah tertipu oleh sandiwaranya.


Mereka memberikan penghormatan terakhir, Azura melangkah maju bersama ibunya dan ayahnya. Mata mereka dipenuhi air mata, tetapi mereka berusaha tegar. Ketika Azura berdiri di depan makam, dia tidak merasa ada keraguan dan penyesalan sedikit pun.


Setelah ibunya dan ayahnya memberikan penghormatan, Azura berlutut di samping makam Ravendra. Dia terlihat merasa sedih dan terluka, ibunya dan ayahnya mendekatinya. Mereka merangkul Azura dengan penuh kasih sayang. Meskipun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka bisa merasakan bahwa Azura sedang melalui saat-saat yang sulit. Dengan tatapan yang penuh kehangatan, mereka memberikan dukungan dan ketenangan pada putri mereka.


"Sabarlah, Nak. Ini adalah ujian yang berat, tetapi kau pasti bisa melewatinya. Kita harus tetap kuat bersama," kata ibunya dengan suara lembut.


"Azura, apa pun yang kau alami, ingatlah bahwa kami selalu di sini untukmu," tambah ayahnya, dengan tangan yang penuh kelembutan mengusap punggung Azura.


Azura merasa kehangatan dalam pelukan orang tuanya. Meskipun hatinya terbelah oleh rahasia yang dia simpan, dia merasakan dukungan dan cinta yang tak tergoyahkan dari keluarganya.


Saat peti jenazah diletakkan ke dalam liang lahat, suara doa dan doa terakhir terdengar, mengiringi prosesi penguburan. Hujan yang semakin deras tampak seperti penutup dari sebuah babak dalam hidup yang kini telah berakhir. Semua orang pergi meninggalkan tempat di mana Ravendra telah dikubur, mereka berpamitan pada Azura.


Leo dan Lita juga berada di sana, memberikan belasungkawa mereka kepada Azura. Leo berbicara dengan penuh simpati dan memberikan dukungan palsu. Lita mengikuti alur permainan Azura dengan baik, memainkan perannya sebagai sahabat yang setia dan juga bersedih atas kematian Ravendra.


Setelah upacara pemakaman selesai, Azura, Leo, dan Lita kembali ke kediaman Azura. Mereka merayakan "keberhasilan" mereka dengan sebuah pesta kecil di rumah. Mereka menikmati makanan dan minuman, seolah-olah mereka merayakan pencapaian yang besar.


Azura merasa adrenalin masih mengalir dalam tubuhnya. Di tengah tawa dan canda, dia terus berusaha mengabaikan rasa bersalah dan perasaan takut yang menghantuinya. Dia merasa terjerat dalam permainan yang semakin rumit dan berbahaya. Namun, dia tahu bahwa dia harus terus mempertahankan perannya, tidak peduli seberapa sulit itu.


Azura tiba-tiba memeluk Leo, namun Leo merasa sedikit canggung karena Lita menatapnya dengan tatapan tidak suka. Leo melepas pelukan Azura dengan alasan takut jika ada orang yang melihat mereka berpelukan. Leo takut jika orang-orang menjadi curiga jika melihat dirinya berpelukan setelah melangsungkan upacara pemakaman.

__ADS_1


Azura merasa bingung ketika Leo melepas pelukannya. Dia bisa merasakan ketidaknyamanan ketika Leo menciptakan jarak antara mereka.


"Kenapa, Sayang?" Azura dibuat bingung oleh perlakuan Leo yang tak biasa. Karena baru kali ini Leo melepas pelukannya.


"Jangan sekarang, Sayang. Bagaimana jika ada orang yang melihat kita berpelukan? Aku tidak ingin nama baikmu tercoreng karena perlakuan kita. Sabar ya, Sayang." Leo menjelaskan.


"Baiklah." Azura menuruti perkataan Leo.


Azura berharap hubungan dengan Leo bisa lebih intim setelah kepergian Ravendra, ternyata segala sesuatu tidak semudah yang dia bayangkan.


"Sayang, sejujurnya apa yang telah kamu lakukan itu, terlampau jauh. Aku hanya ingin menjatuhkan perusahaan Ravendra saja, tidak perlu sampai menyingkirkannya." tutur Leo.


"Tapi, Sayang. Aku melakukan ini semua demi kamu, demi kita." Azura mengutarakan alasannya.


Leo melihat Azura dengan sorot mata yang penuh perasaan campur aduk. Dia mengangguk perlahan dan menjawab dengan suara berat, "Aku mengerti, Sayang. Tapi kamu harus tahu, apa yang kamu lakukan ini sudah sangat melampaui batas."


Azura menatap mata Leo dengan tulus, mencoba untuk memancarkan keyakinan yang dia miliki dalam perannya. "Sayang, kamu tahu tujuan kita. Aku ingin kita bisa bersama tanpa batasan, tanpa rahasia. Dan itulah mengapa aku harus yakin bahwa tak ada yang bisa menghalangi kita. Termasuk Ravendra."


Leo menggeleng perlahan. "Tapi Sayang, apa yang kita lakukan ini bisa membahayakan banyak orang, termasuk dirimu sendiri."


Azura memegang tangan Leo dengan lembut, mencoba untuk menyampaikan apa yang ada di hatinya. "Sayang, aku sudah sampai pada titik di mana aku tak bisa lagi mengendalikan perasaanku. Aku ingin kita bebas, tanpa harus merasa takut dan bersalah. Dan untuk itu, kita perlu mengakhiri semua ini dengan tuntas."


Leo mengangguk setuju. Dia meraih tangan Azura dengan erat, mencoba untuk mencari kepastian dalam tatapan matanya. "Baiklah, Sayang. Aku akan mendukungmu dalam apa pun keputusanmu. Tapi kita harus tahu risiko yang akan kita hadapi."


Azura tersenyum dengan tulus, merasa seolah beban besar telah diangkat dari pundaknya. "Terima kasih, Sayang. Aku tahu ini bukan hal yang mudah, tapi kita akan menyelesaikannya bersama."


Ketiganya pun melanjutkan perayaan mereka, namun kali ini dengan perasaan lebih tenang. Azura merasa perlahan-lahan dia bisa mendekati titik di mana rencananya akan mencapai akhirnya, di mana dia bisa menjalani hidup bersama Leo tanpa batasan dan rahasia yang menghantuinya. Namun, dia juga menyadari bahwa permainan berbahaya ini masih jauh dari berakhir.


Kekhawatiran Azura saat ini adalah takut ada yang menyelidiki kematian Ravendra yang tak wajar. Apalagi jika harus berhadapan dengan Bima, karena Bima tahu betul jika Ravendra baik-baik saja beberapa jam sebelum mereka berpisah. Untuk menutupi hal itu, Azura menyarankan pada Leo untuk segera menyebarkan berita palsu tentang penggelapan dana yang dilakukan Ravendra, sehingga nama Ravendra menjadi buruk di mata para klien dan juga perusahaan.


Dengan peristiwa tersebut Leo akan mendapat dua keuntungan, pertama dia mendapatkan para klien, dan kedua dia bisa memiliki perusahaan Alfonsa karena nilai sahamnya yang turun drastis. Kemudian Leo bisa melancarkan aksinya dengan berpura-pura membantu perusahaan Alfonsa dari kehancuran dengan membelinya.


Leo mendengarkan usulan Azura dengan ekspresi yang serius. Meskipun rencana tersebut terdengar licik dan jahat, Leo tidak bisa menyangkal bahwa ini bisa menjadi peluang besar baginya. Dia memang telah merencanakan hal ini dengan mempertimbangkan segala sudut pandang dan konsekuensi yang mungkin terjadi.


Setelah beberapa saat berpikir, Leo akhirnya mengangguk. "Tersedia banyak peluang dalam situasi ini, Sayang. Meskipun rencana ini terdengar berbahaya, aku mengakui bahwa ini bisa menjadi cara yang efektif untuk mencapai tujuan kita. Namun, kita perlu berhati-hati dan merencanakannya dengan matang."


Azura mengangguk tanda setuju, merasa lega jika rencananya dapat diterima. Namun, dia juga merasa semakin terjebak dalam lingkaran kebohongan dan manipulasi yang semakin rumit.


"Kita hanya perlu melakukan riset lebih dalam terkait perusahaan Alfonsa," Leo melanjutkan. "Kita harus mengumpulkan data yang kuat untuk mendukung berita palsu yang akan kita sebarkan. Jika rencana ini berhasil, kita yakin kita bisa mendapatkan keuntungan besar."


Azura mengangguk lagi, merasa perasaannya terbagi antara euforia dan rasa bersalah. Dia tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah, tetapi kepentingannya yang kuat untuk bersama Leo dan mengakhiri perjodohannya dengan Ravendra membuatnya memilih jalan ini.


Dengan rencana yang mereka sepakati, Azura dan Leo mulai merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Mereka menyusun strategi untuk mengumpulkan data, menyebarkan berita palsu, dan merancang cara agar perusahaan Alfonsa benar-benar mengalami kerugian yang signifikan.


Dengan cermat dan hati-hati, Leo melaksanakan rencananya. Dia mengatur berita palsu tentang dugaan penggelapan dana oleh Ravendra dan keterlibatan perusahaan Alfonsa dalam tindakan tersebut. Berita tersebut diarahkan kepada media dan juga diunggah di platform-platform daring yang strategis.


Berita palsu ini menyebar dengan cepat, dan perusahaan Alfonsa mulai mengalami goncangan. Sahamnya jatuh dengan drastis, dan citra Ravendra sebagai seorang pengusaha sukses dan jujur pun tercoreng. Para karyawan dan klien perusahaan Alfonsa merasa bingung dan khawatir akan masa depan perusahaan.


Sementara itu, Leo berperan seperti penolong yang datang dengan tawaran menyelamatkan perusahaan Alfonsa. Dia muncul dalam konferensi pers dengan wajah serius dan penuh rasa simpati. Leo mengumumkan bahwa dia akan membeli perusahaan Alfonsa untuk mencegah kehancurannya. Tindakan ini, tentu saja, mendapatkan perhatian dan dukungan dari banyak pihak.


Sementara itu, Azura berada dalam situasi yang rumit. Dia terlibat dalam manipulasi besar-besaran ini dan melihat dampaknya pada Pak Doni, karyawan, dan klien. Sifat aslinya yang baik-baik semakin terhimpit oleh beban berat rahasia yang dia simpan. Meskipun tujuannya adalah untuk bebas bersama Leo, hatinya terasa semakin terjebak.


Leo dan Azura terus menjalankan rencana mereka, membangun citra Leo sebagai penyelamat perusahaan Alfonsa. Namun, semakin jauh rencana berjalan, semakin sulit bagi Azura untuk merasa lega dengan apa yang dia lakukan. Dia merasa bertanggung jawab atas kerugian dan penderitaan orang-orang di sekitarnya, termasuk Ravendra yang tak berdosa.


Tidak hanya itu, Azura juga merasa konflik batin yang mendalam karena dia menyadari bahwa dia semakin terlibat dengan Leo. Perasaannya terhadap Leo semakin kuat, tetapi dia juga merasa bersalah karena menyembunyikan semua ini dari orang-orang yang dia cintai.


Ketika akhirnya perusahaan Alfonsa benar-benar menjadi milik Leo, Azura menyadari bahwa dia telah memasuki dunia yang berbahaya dan rumit. Dia berada dalam pusaran kebohongan dan manipulasi, dan dia harus menghadapi akibat-akibat dari tindakan-tindakan yang dia ambil. Tidak ada jalan kembali, dan Azura harus menghadapi masa depan yang rumit bersama Leo, dengan segala konsekuensi yang mengikutinya.


Setelah berbagai peristiwa yang melibatkan mereka berdua, Azura merasa sudah waktunya untuk mengklarifikasi hubungannya dengan Leo. Dia merasakan getaran perasaan yang kuat terhadap Leo, dan dia ingin tahu apakah Leo merasakan hal yang sama. Mereka duduk bersama di sebuah cafe, suasana cukup tenang dan romantis untuk membicarakan hal-hal serius.


Azura menatap Leo dengan mata penuh harap. "Sayang, aku merasa kita sudah melalui begitu banyak hal bersama. Aku tahu hubungan kita tidak biasa, tetapi aku ingin tahu apa yang sebenarnya ada di antara kita."


Leo tampak sedikit tidak nyaman, tetapi dia membalas pandangan Azura. "Sayang, kau tahu bahwa aku peduli padamu. Kita memiliki hubungan yang rumit, dan aku menghargai semua momen yang sudah kita lewati bersama."


Azura merasa ada ketidakpastian dalam kata-kata Leo. "Tapi, Sayang, aku ingin tahu apakah kita bisa melangkah lebih jauh. Aku ingin tahu apakah kau bisa melihat masa depan bersamaku, apakah kau bisa membayangkan kita…"


Leo dengan cepat memotong kalimat Azura. "Sayang, aku takut aku belum siap untuk membicarakan hal ini. Kau tahu aku memiliki tanggung jawab besar atas perusahaan yang baru saja aku ambil alih, dan aku perlu fokus pada itu."


Azura merasa hatinya berdegup kencang. Dia merasa kecewa dan bingung dengan respons Leo. "Tapi, Sayang, aku pikir kita sudah melewati begitu banyak hal. Apakah kau tidak ingin mengambil langkah lebih serius bersamaku?"


Leo meraih tangan Azura dengan lembut. "Sayang, bukan itu masalahnya. Aku hanya perlu waktu. Aku ingin memastikan semuanya berjalan baik di perusahaanku sebelum aku memikirkan hal-hal lain."


Azura menggelengkan kepala dengan sedikit kesedihan dalam matanya. "Aku hanya ingin tahu kepastian, Sayang. Aku tahu kita punya ikatan kuat, tetapi aku ingin kita melangkah lebih maju ke jenjang pernikahan, aku ingin menjadi istrimu."


Leo merasa bersalah dan mencoba meyakinkan Azura. "Sayang, aku tak ingin kehilanganmu. Aku hanya perlu waktu untuk mengatur segalanya dengan baik. Kita masih bisa bersama, tetapi aku perlu fokus pada pekerjaanku sekarang."


Meskipun hatinya masih bergejolak, Azura merasa dia perlu memberi Leo waktu. Dia mengerti bahwa bisnis Leo adalah prioritas utamanya, dan dia tidak ingin menjadi beban baginya. Namun, dia juga tahu bahwa dia tidak boleh menunda perasaannya terlalu lama.


Dalam hati, Azura berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan memberi waktu pada Leo, tetapi juga akan menjaga kebahagiaannya. Dia berharap suatu hari nanti, Leo bisa mengatasi ketakutannya dan memberikan jawaban yang dia harapkan.


Sebagai bukti begitu besar rasa cintanya, Leo datang ke rumah Azura. Azura dengan senang hati menyambut Leo di depan pintu, senyum hangat terukir di wajahnya. Namun, sebelum dia bisa berkata apa-apa, Leo dengan lembut menariknya dalam pelukan. Pandangan mata mereka bertemu, begitu intens dan penuh dengan perasaan yang tidak terucapkan.


Tidak ada kata-kata yang terlontar, hanya getaran emosi yang mengalir antara mereka. Leo merasakan denyut hati Azura, sementara Azura merasakan detak jantung Leo yang cepat. Leo perlahan membawa wajahnya mendekat, menyentuh bibir Azura dengan lembut.


Azura merasa seperti melayang, setiap sentuhan bibir Leo menyiratkan begitu banyak perasaan yang dia ingin dengar. Leo menciumnya dengan lembut, tetapi juga penuh dengan rasa cinta yang dalam. Mereka terjebak dalam momen ini, melupakan segala ketidakpastian dan kebingungan yang ada.


Leo merasakan getaran tangan Azura yang merangkulnya erat-erat. Dia bisa merasakan betapa Azura membalas ciumannya dengan penuh gairah. Leo ingin meluapkan perasaannya, meyakinkan Azura bahwa dia juga merasakan hal yang sama, bahkan jika dia masih belum bisa mengatakannya dengan kata-kata.


Setelah beberapa saat, Leo perlahan melepaskan ciuman mereka, tetapi masih memeluk Azura erat-erat. Dia menatap mata Azura dengan intensitas yang sulit digambarkan. Tidak ada kata yang perlu diucapkan, perasaan mereka berbicara sendiri.


Azura merasa hangat dan penuh cinta di dalam pelukan Leo. Meskipun tidak ada kata-kata yang diucapkan, dia bisa merasakan betapa besar perasaan Leo padanya. Leo tidak perlu mengucapkan kata "aku mencintaimu" untuk membuat Azura merasakan getaran itu.


Mereka berdua menghabiskan waktu bersama dalam diam, merasakan kehadiran satu sama lain dengan penuh cinta. Ini adalah momen yang mereka perlukan untuk memperkuat ikatan mereka, menunjukkan bahwa perasaan ini adalah nyata dan tulus.

__ADS_1


Ketika Leo akhirnya merenggangkan pelukan mereka, dia menatap Azura dengan senyum hangat. Azura merasakan ketenangan dalam hatinya, dia tahu bahwa ini adalah awal dari suatu hal yang lebih dalam dan nyata.


Leo berkata dengan lembut, "Aku mungkin belum bisa mengatakannya dengan kata-kata, Sayang, tapi aku berjanji bahwa aku akan selalu ada untukmu. Aku ingin melangkah lebih jauh bersamamu."


Azura merasakan tanggapan dari hati Leo, dan dia tahu bahwa saat ini, kata-kata tidak lagi diperlukan. Mereka sudah mengungkapkan perasaan mereka dengan perlakuan, dengan cara yang lebih mendalam dan tulus. Dan dengan senyum yang penuh arti, Azura hanya berkata, "Aku tahu, Sayang. Aku tahu."


"Sayang, mau ke kamar?" Leo menggoda Azura. "Aku akan membuatmu merasakan kebahagiaan."


Azura tersipu malu namun dia mengangguk tanda menginginkan lebih dari sekedar bercumbu dan berciuman. Leo menggenggam tangan Azura menuju kamarnya, kemudian menutup pintu dan mulai melakukan kenikmatan terlarang.


Leo mulai menciumi Azura, membuka kancing bajunya satu per satu. Ditanggalkannya semua pakaian yang menempel pada Azura hingga tidak ada sehelai benang pun yang menghalangi tubuh indah Azura. Dia membuat Azura begitu bergairah dengan tatapan menggodanya.


Azura tidak kuat menahan gairahnya, ditanggalkannya semua pakaian Leo hingga hanya tersisa ****** ***** yang masih menempel pada Leo. Tatapan mereka saling bertemu dan akhirnya mereka saling menikmati tubuh indah yang menempel pada mereka di atas ranjang besar milik Azura.


Ini bukan yang pertama kalinya Azura merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Leo. Namun, apa yang dirasakannya saat ini benar-benar membuatnya menginginkan Leo seutuhnya.


Azura terkulai lemas, Leo benar-benar membuatnya melayang dan tak berdaya. Leo menatap Azura, merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya.


"Sayang, mau minum? Kamu terlihat lemas dan kelelahan." Leo menawarkan minum pada Azura sebagai bentuk rasa perhatian.


"Iya, Sayang. Aku haus sekali, tolong ambilkan segelas air dingin." Azura yang kepayahan tak kuat untuk bangun, apalagi kalau harus turun ke dapur untuk mengambil air minum.


"Baiklah, Sayang. Aku ambilkan ya, kamu istirahat saja dulu... untuk ronde kedua." Leo berbisik mesra di telinga Azura.


Azura tersenyum malu tapi mau. Dia sangat bahagia dengan perlakuan Leo padanya yang selalu memberikan kenikmatan dan kebahagiaan tak terhingga. Leo benar-benar mengerti bagaimana memperlakukan seorang wanita.


Leo pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Hari ini kebetulan pelayan yang biasa bekerja di rumah Azura sedang pulang kampung, jadi Leo bisa dengan leluasa pergi ke dapur hanya dengan mengenakan ****** ********.


Tidak perlu menunggu lama, Leo kembali ke kamar Azura dengan segelas air di tangannya. Dengan senyuman menggoda, Leo memberikan gelas yang berisikan air dingin ke tangan Azura.


Azura bangun untuk mengambil air dengan sebelah tangan, sebelah tangannya lagi memegangi selimut tipis yang menutupi dadanya. Dia meminum air yang diberikan oleh Leo sampai habis tak bersisa. Rupanya Azura sangat kehausan.


Leo mengambil gelas kosong dari tangan Azura. Disimpannya gelas tersebut di meja yang di atasnya terdapat lampu tidur berbentuk kincir angin.


"Sayang, aku mau mandi dulu ya. Badanku lengket, penuh dengan keringat." Leo memegang pipi Azura dengan lembut.


Azura mengangguk lemas, namun tetap tersenyum karena membayangkan dirinya akan menikmati kebersamaan lagi bersama Leo.


Leo pergi menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Terdengar oleh Azura air yang mengalir, namun setelah itu Azura tidak dapat mengingat lagi apa yang terjadi.


Beberapa jam kemudian, Azura mendapati dirinya masih terkulai lemas di atas ranjangnya. Namun dia tidak melihat Leo di kamarnya. Kemudian dia melihat secarik kertas memo yang bertuliskan sebuah pesan,


Sayang, kamu terlihat sangat lelah. Setelah aku selesai mandi, aku melihatmu tertidur lelap. Aku tidak berani membangunkanmu. Istirahatlah, aku sudah menyiapkan air minum untukmu. Jangan lupa untuk diminum. I love you.


Azura tersenyum setelah membaca pesan dari Leo. Dia sangat bahagia melihat kata cinta pada pesan yang ditulis oleh Leo. Azura meminum air yang telah disediakan, dan berpikir jika Leo benar-benar sangat perhatian padanya.


Keesokan harinya, Azura masih merasa lemas. Dia belum bisa bangun dari tempat tidurnya. Dia tidak merasa lapar namun begitu haus. Azura mencoba untuk menghubungi Leo.


Azura mengambil ponselnya di atas meja. Dengan susah payah dia berusaha untuk meraih ponselnya dan mencari nama Leo di dalam ponselnya. Dia lalu menekan tombol telepon.


"Halo, Sayang." Azura menyapa Leo terlebih dahulu.


"Halo, Sayang. Bagaimana keadaanmu?" Leo menjawab sambungan telepon dari Azura.


"Sayang, aku lemas sekali. Tolong bantu aku!" Azura meminta tolong pada Leo.


"Sayang, sepertinya aku tidak bisa. Aku ada rapat penting hari ini. Bagaimana kalau aku kirim pelayan pengganti untuk sementara sampai pelayanmu kembali?" Leo menawarkan.


"Terserah kamu, Sayang. Badanku lemas sekali, aku bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidurku." suara Azura mulai melemah.


"Baiklah, Sayang. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantar pelayan pengganti ke rumahmu. Istirahatlah!" Leo menutup sambungan telepon.


Tak lama kemudian, seorang wanita muda datang bersama seorang wanita paruh baya, ternyata dia adalah sekretarisnya Leo. "Bu, Anda baik-baik saja?"


"Hai, terima kasih sudah datang. Aku haus sekali, bisa tolong ambilkan minum?" pinta Azura.


"Bi, tolong bantu Bu Azura bangun dan berpakaian. Saya akan ke dapur untuk mengambil air minum." suruh sekretarisnya Leo pada pelayan pengganti.


"Baik, Bu." jawab pelayan pengganti.


Sekretarisnya Leo pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Hanya selang beberapa saat kemudian, dia datang dengan segelas air putih dan diminumkannya pada Azura.


"Terima kasih, sudah mau membantu." Azura tersenyum namun masih lemah.


"Tidak masalah, Bu Azura. Saya senang membantu, dan ini juga memang kewajiban saya sebagai sekretaris Pak Leo. Saya harus siap dengan semua perintah Pak Leo." tutur sekretarisnya Leo.


Azura telah berpakaian dibantu oleh pelayan pengganti, namun dia belum kuat untuk bangun.


"Bu Azura, maafkan saya. Saya tidak bisa menemani Anda lebih lama. Saya ada pekerjaan di kantor." sekretarisnya Leo pamit pada Azura.


"Iya, saya mengerti. Hati-hati di jalan." ucap Azura.


Tubuh Azura dari hari ke hari semakin melemah. Dia selalu merasa haus dan meminta pelayan pengganti untuk selalu membawakannya air minum untuknya.


Azura mendengar suara mobil yang diparkirkan, dia mengenal suara mobil itu, mobil Toyota Fortuner milik Leo. Hati Azura merasa senang ketika mendengar suara langkah Leo menuju kamarnya. Namun...


"Tidaaak...!" Azura terbangun dari mimpi buruknya, mimpi yang terasa begitu nyata. Air mata membasahi pipinya, bukan karena dia teringat kejadian selanjutnya pada mimpinya, namun dia menangis karena menyesal telah tega membunuh Ravendra.


Dia sungguh sangat menyesal, bahkan di saat-saat terakhirnya, Ravendra mengatakan sungguh mencintainya dan beruntung memilikinya.


Air mata Azura mengalir tak tertahan dan membatin. 'Azura bodoh, bodoh sekali! Ravendra yang begitu tulus mencintamu, malah kau sia-siakan. Apa yang ada dipikiranmu, Azura?'


Ketika Azura terbangun dari mimpi buruknya, dia merasakan hembusan udara yang dingin dan mengalihkan pandangannya ke sekitar kamarnya yang nyaman. Dia menghela napas lega, berusaha mengusir bayangan gelap dan merugikan idari pikirannya, dan memfokuskan diri pada kenyataan di hadapannya.

__ADS_1


Dia sungguh beruntung telah diberikan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya. Kali ini, dia tidak akan menyia-nyiakan cinta tulus suaminya, Ravendra. Dia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.


__ADS_2