Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 10


__ADS_3

Keesokan harinya, Azura merasa penasaran dengan kedatangan Lita ke rumah orang tuanya. Azura masih menyimpan nomor telepon Lita di dalam ponselnya meskipun mereka tidak berbicara sejak lama. Dia memutuskan untuk mengajak Lita bertemu di cafe favorit mereka.


Azura duduk di balkon sambil menatap kolam renang yang bersih dan indah. Dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat kepada Lita, mengajaknya untuk bertemu di cafe favorit mereka.


"Hai Lita, apa kabar? Aku rindu kamu. Ayo kita bertemu di cafe favorit kita! Aku ingin berbicara banyak denganmu."


Setelah mengirim pesan itu, Azura merasa sedikit gugup. Dia tahu bahwa pertemuan ini bisa membawa berbagai emosi dan mungkin juga pengungkapan rahasia yang sulit. Namun, dia merasa perlu untuk mendapatkan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Beberapa saat setelah mengirim pesan, ponsel Azura bergetar dengan balasan dari Lita. Hatinya berdegup cepat saat dia membuka pesan tersebut.


"Hai Azura! Aku baik-baik saja. Aku setuju untuk bertemu di cafe favorit kita. Jam berapa kita bertemu?"


Senyuman lega terukir di wajah Azura. Dia segera membalas pesan Lita.


"Hai Lita! Baiklah jika kamu setuju. Bagaimana kalau kita bertemu jam 3 sore di Cafe Delight, cafe favorit kita? Aku akan menunggumu di sana."


Azura mengirim pesan dan kemudian mengatur ponselnya di sampingnya. Dia merasakan perasaan tegang dan antusias, karena pertemuan ini bisa membawa jawaban atas banyak pertanyaan yang mengganjal di pikirannya.


Sesuai dengan rencananya, dia bersiap-siap untuk bertemu dengan Lita di cafe favorit mereka pada jam 3 sore. Azura tiba di Cafe Delight beberapa menit sebelum jam 3 sore. Dia memilih meja yang strategis, tempat dia bisa melihat pintu masuk dengan jelas. Hatinya berdegup kencang saat menunggu Lita datang.


Cafe Delight adalah tempat yang hangat dan nyaman, tersembunyi di antara jajaran gedung perkantoran yang modern. Begitu memasuki pintu kaca cafe, akan disambut oleh suasana yang ramah dan menyenangkan. Dekorasi interior didominasi oleh palet warna lembut seperti krem, cokelat, dan hijau pucat, menciptakan atmosfer yang tenang dan santai.


Dinding cafe dihiasi dengan lukisan-lukisan abstrak yang memberikan sentuhan artistik. Meja-meja kayu yang diletakkan di sekitar ruangan memberikan suasana hangat, dan kursi-kursi empuk dengan bantal-bantal berwarna cerah menambah kenyamanan. Sebuah perapian kecil berada di salah satu sudut, menciptakan suasana yang lebih hangat, terutama pada hari-hari dingin.


Penerangan dalam cafe disesuaikan agar tidak terlalu terang, memberikan nuansa yang cocok untuk bersantai atau berbincang-bincang dengan teman. Suasana cafe semakin sempurna dengan hembusan aroma kopi segar yang mengisi udara, menjadikannya tempat yang sempurna untuk pecinta kopi.


Tersedia berbagai macam meja, dari meja tunggal hingga meja yang lebih besar untuk kelompok. Di sudut cafe, terdapat rak berisi berbagai pilihan majalah dan buku untuk menghibur pengunjung yang ingin membaca sambil menikmati minuman.


Cafe Delight memiliki pilihan menu yang beragam, mulai dari kopi dan teh, camilan ringan, hingga hidangan berat. Para pelayan yang ramah dan terlatih siap membantu untuk memilih hidangan favorit. Suara musik yang lembut terdengar di latar belakang, menciptakan suasana yang nyaman dan santai.


Secara keseluruhan, Cafe Delight adalah tempat yang cocok untuk berbincang-bincang santai, pertemuan bersama teman, atau hanya menikmati waktu sendiri sambil menikmati suasana yang hangat dan menyenangkan.


Tak lama kemudian, pintu cafe terbuka dan Azura melihat Lita masuk. Lita tampak sedikit gugup, tetapi dia juga tersenyum ketika melihat Azura. Mereka saling mengangguk sebagai tanda sapaan dan Lita berjalan menuju meja di mana Azura sudah duduk.


"Hai Lita, senang sekali kita bisa bertemu," ucap Azura dengan ramah sambil tersenyum.


Mereka berpelukan layaknya sahabat yang saling merindukan. Namun di hati Azura tersimpan amarah yang besar karena mengetahui jika Lita telah mengkhianatinya di kehidupan sebelumnya.


"Hai Azura," jawab Lita, mencoba tersenyum meskipun sedikit tegang. Dia kemudian duduk di kursi di depan Azura.


"Mau minum apa?" tanya Azura, mencoba membuka percakapan dengan suasana yang santai.


"Segelas air putih, terima kasih," jawab Lita.


Azura segera memanggil pelayan dan memesan air putih untuk Lita serta teh hangat untuk dirinya sendiri. Setelah pelayan pergi, suasana mulai terasa agak canggung di antara mereka. Azura memutuskan untuk mengambil inisiatif.


"Lita, aku senang kamu mau bertemu. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin membicarakan banyak hal," ujar Azura, matanya penuh dengan harapan.


Lita mengangguk dan mengambil napas dalam-dalam. "Aku juga, Azura. Ada banyak yang ingin aku bicarakan."


Azura merasa lega mendengar itu. Setidaknya Lita juga memiliki niat untuk membicarakan segala yang telah terjadi. Mereka kemudian mulai berbincang-bincang, membuka lembaran-lembaran masa lalu yang terpendam dalam hati mereka. Walaupun ada momen-momen canggung, tetapi semakin lama mereka semakin nyaman berbicara satu sama lain.


Perlahan-lahan, rasa canggung mulai hilang di antara Azura dan Lita. Mereka membicarakan tentang keseharian masing-masing, pekerjaan, dan keluarga. Azura menceritakan tentang kehidupannya kini dengan Ravendra, sedangkan Lita enggan untuk mengungkapkan tentang seseorang yang saat ini menjadi bagian dari kehidupannya.


Lita mendengarkan dengan seksama, matanya terfokus pada Azura yang sedang berbicara. Cahaya lampu di Cafe Delight memancar di antara mereka, menciptakan atmosfer yang penuh kehangatan. Sedikit senyum menghiasi wajah Lita ketika dia merasakan kebahagiaan yang terpancar dari Azura.


"Kamu tahu, Lita," Azura berkata dengan lembut, "Seiring berjalannya waktu, aku benar-benar merasa bahagia bersama Ravendra. Awalnya, mungkin aku ragu karena perjodohan ini, tapi ternyata dia lebih dari sekadar suami yang baik. Dia teman yang mendengarkan, pendamping yang selalu ada, dan dia benar-benar mencintai aku."


Lita menatap Azura dengan tatapan penuh pengertian, bibirnya melengkung dalam senyuman tulus. "Aku senang mendengarnya, Azura. Kau layak mendapatkan kebahagiaan itu."


Lita berbohong dengan ucapannya. Dia kecewa mendengar Azura yang kini telah bahagia dengan Ravendra.


Azura mengangguk, matanya bersinar penuh syukur. "Terima kasih, Lita. Dan kamu? Bagaimana denganmu?"


Lita menggelengkan kepala dengan senyuman tipis. "Aku masih mencari, Azura. Aku belum menemukan apa yang telah kamu temukan. Tapi dengarlah, yang paling penting adalah kita bahagia dengan pilihan kita, bukan?"


Lita berbohong lagi, sebenarnya dia sudah memiliki kekasih namun dia tidak bisa mengungkapkannya pada Azura. Biarlah ini menjadi rahasia baginya dan kekasih rahasianya.


Di lain pihak, Azura menebak jika Lita tidak mau mengungkapkan siapa kekasihnya karena menurut Azura, kekasihnya saat ini adalah Leo. Mungkin alasan Lita tidak mau memberitahukan siapa kekasihnya adalah karena Lita mengetahui jika Leo menyukai Azura, begitu pun Azura. Namun itu adalah masa lalu Azura, kini Azura hanya mencintai Ravendra. Azura mengetahui rencana mereka, saat ini mereka sedang melancarkan aksinya.


Azura mengangguk, merasa senang dengan tanggapan Lita. Memang benar, saat ini dia sangat bahagia, namun jika kembali mengingat kejadian pada dirinya di kehidupan sebelumnya, sangatlah menyakitkan.


Azura sadar dengan apa yang telah dilakukannya, mengkhianati Ravendra dengan berselingkuh, mencuri aset perusahaan, dan yang paling parah yaitu membunuhnya. Benar-benar Azura yang kejam. Maka dari itu, sangatlah layak bagi Azura mendapatkan balasan setimpal dari kekasih dan juga sahabatnya yang menusuknya dari belakang.


Azura teringat pada kehidupan sebelumnya, seharusnya momen saat ini adalah momen di mana Lita membujuknya untuk mengkhianati Ravendra dengan pergi ke pelukan Leo. Saat itu jelas di dalam ingatan Azura ketika dirinya mengeluh jika dia tidak kuat lagi menjalani pernikahannya dengan Ravendra.


Azura melamun teringat kala itu...

__ADS_1


Lita duduk di samping Azura di tempat duduk yang sama seperti saat ini, wajahnya penuh kekhawatiran. "Azura, aku tahu kamu merasa terjebak dalam pernikahan ini. Kamu harus jujur pada dirimu sendiri. Apa yang kamu inginkan? Apakah ini benar-benar kebahagiaanmu?"


Azura menatap hampa ke luar cafe, ekspresinya penuh pertimbangan. "Aku tidak tahu, Lita. Pernikahan ini memang tidak seperti yang aku bayangkan. Tapi aku tidak ingin melukai kedua orang tuaku. Mereka sangat mencintaiku dengan tulus, mereka ingin aku bahagia."


Lita meraih tangan Azura dengan lembut. "Azura, kamu juga berhak mendapatkan kebahagiaanmu sendiri. Kamu tidak bisa hidup untuk orang lain selamanya. Apa yang kamu rasakan pada Leo, apakah kamu merasa hidup dan bahagia bersamanya?"


Azura menggeleng perlahan, namun ada keraguan dalam matanya. "Aku tahu aku merasa tertarik padanya, tapi aku tidak bisa pergi dari Ravendra. Aku sudah terikat janji suci pernikahan."


Lita menggenggam tangan Azura erat. "Tapi apa yang kamu inginkan, Azura? Apakah kamu ingin menjalani hidupmu dengan merasa terkurung dan tidak bahagia? Kamu punya hak untuk mencari kebahagiaanmu sendiri."


Azura merasa konflik dalam hatinya semakin dalam. "Tapi bagaimana dengan janji pernikahan, Lita? Aku tidak bisa mengkhianati Ravendra."


Lita menatap Azura dengan tulus. "Azura, saatnya kamu berbicara jujur pada dirimu sendiri. Apakah kamu benar-benar bahagia? Dan apakah kamu benar-benar bisa mengabaikan perasaanmu pada Leo?"


Azura merasa air matanya mulai menggenang. Dia merasa terjebak di persimpangan jalan yang sulit. "Aku... Aku tidak tahu, Lita. Semuanya begitu rumit."


Lita memeluk Azura dengan penuh pengertian. "Aku hanya ingin kamu menemukan kebahagiaanmu, Azura. Apapun pilihanmu nanti, aku akan mendukungmu."


Azura merasa beruntung memiliki sahabat sepenuh hati seperti Lita. Dia tahu Lita peduli padanya dan hanya ingin yang terbaik baginya. Dalam keheningan cafe saat itu, Azura memikirkan kata-kata Lita dengan hati-hati, tahu bahwa keputusan besar menanti di depannya.


Lita duduk di depan Azura dengan ekspresi yang penuh tekad. "Azura, kamu harus mendengarkan hatimu. Apa yang kamu rasakan pada Leo tidak bisa diabaikan begitu saja. Ini tentang kebahagiaanmu, bukan tentang siapa pun."


Azura merasa tekanan semakin besar. "Tapi Lita, ini tidak hanya tentang diriku. Ini juga tentang keluargaku, tentang pernikahan. Aku tidak bisa merusak semuanya."


Lita mengepalkan tangannya, mencoba meyakinkan Azura. "Azura, kamu berhak untuk mengikuti hatimu. Pernikahanmu dengan Ravendra mungkin dimulai dari janji-janji itu, tapi kini kamu juga harus memikirkan apakah itu masih membuatmu bahagia."


Azura merasa hatinya berkecamuk. Dia memang tidak mencintai Ravendra, perasaannya pada Leo lah yang begitu kuat. "Tapi bagaimana dengan Ravendra, Lita? Aku tidak bisa begitu saja melukainya, dia tidak memiliki kesalahan apa pun, dia hanya terjebak oleh perjodohan ini."


Lita mendekati Azura dan meraih tangan temannya dengan lembut. "Tidak ada yang ingin melihatmu menderita, Azura. Jika kamu benar-benar mencintai Leo, kamu harus berbicara dengan Ravendra. Dia juga harus tahu perasaanmu."


Azura merasa air matanya mulai mengalir. "Aku takut, Lita. Aku takut melukai Ravendra. Aku takut memutuskan sesuatu yang bisa merusak semuanya."


Lita tersenyum lembut. "Percayalah padaku, Azura. Terkadang, kita harus mengambil risiko untuk menemukan kebahagiaan sejati. Jangan biarkan rasa takut menghalangimu."


Azura merenung sejenak, mendengarkan kata-kata Lita dengan seksama. Dia tahu bahwa Lita benar, dia harus berani menghadapi kenyataan dan berbicara dengan Ravendra. Dalam tatapan tulus Lita, Azura merasa didukung dan mengerti bahwa keputusan ini adalah miliknya sendiri.


Dalam lamunan Azura, dia menyadari saat itu dia sangat bodoh sekali. Masuk ke dalam perangkap rencana Lita dan Leo untuk menghancurkan perusahaan Ravendra. Lita yang berpura-pura baik padanya, Leo yang berpura-pura mencintainya, semuanya sempurna.


"Azura...," Lita membuyarkan lamunan Azura.


"Ya, Lita?" Azura terkejut.


"Tidak, hanya saja aku teringat sesuatu," Azura mencoba tenang. "Oiya, mama cerita jika kamu berkunjung ke rumah mama, tumben, ada apa?"


"Oh itu, hanya kangen saja sama tante dan juga om. Aku sudah lama tidak berkunjung. Tadinya aku berharap kamu juga ada di sana, ternyata kamu tidak ada." Jelas Lita.


"Oh begitu ya, terima kasih sudah memperhatikan mereka." Azura sedikit curiga.


"Sama-sama, Azura. Aku sudah menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri." Lita tersenyum.


Mereka melanjutkan percakapan mereka dengan kehangatan, menikmati saat-saat bersama di tengah suasana yang nyaman di Cafe Delight. Namun semua itu adalah sandiwara belaka. Masing-masing memiliki rencana di balik keakraban mereka.


Saat mereka terus berbicara, waktu berjalan dengan cepat. Mereka tertawa, bahkan terkadang merasa sedih, tetapi di dalam hati mereka ada semacam kecurigaan yang mulai muncul. Akhirnya, mereka berdua merasa bahwa mereka telah menemukan ada yang berubah pada hubungan persahabatan mereka.


Lita merasa jika ini bukan seperti apa yang diharapkannya. Rencananya adalah membuat Azura mengkhianati Ravendra, namun yang Azura rasakan kini adalah cinta yang begitu besar. Lita sedang berpikir untuk menyusun rencana lainnya.


Ketika matahari mulai terbenam, mereka masih duduk di cafe tersebut, mengobrol dan tertawa. Azura merasa sudah waktunya untuk pulang karena Ravendra sebentar lagi pulang ke rumah, Lita pun menyetujui.


Setelah pertemuan mereka, Lita dan Azura pulang dengan mengendarai mobil mereka masing-masing yang sama-sama berwarna merah. Mereka sengaja memilih warna mobil yang sama agar mudah dikenali ketika berpapasan di jalan. Azura teringat ketika dirinya mengantar Lita untuk membeli mobil Honda Jazz yang sudah Lita inginkan sejak lama...


Saat itu, langit cerah dan matahari bersinar terang di atas kepala mereka. Azura dan Lita berjalan melalui showroom mobil dengan semangat yang tinggi. Lita memancarkan raut wajah yang penuh kegembiraan, seolah-olah impian yang lama diidamkan akhirnya akan menjadi kenyataan.


Lita melihat sekeliling showroom, mobil Honda dengan berbagai model dan warna menarik perhatian Lita. Pada awalnya Lita bingung untuk memilih mobil yang mana, namun akhirnya dia berhasil memutuskan untuk membeli mobil yang kini berada di hadapannya.


Lita berdiri di depan mobil Honda Jazz yang berkilauan di tengah showroom, matanya bersinar-sinar. "Azura, lihatlah! Ini mobil yang aku idam-idamkan selama ini!"


Azura tersenyum melihat reaksi sahabatnya. "Benar-benar cantik, Lita. Apakah kau yakin ini pilihan yang tepat?"


Lita mengangguk semangat. "Iya, Azura. Aku sudah meriset tentang mobil ini dan rasanya cocok dengan gaya hidupku. Aku ingin merasakan sensasi mengemudi dengan mobil ini!"


Azura mengangguk mengerti. "Baguslah. Ini adalah keputusan besar, jadi pastikan kamu tidak terburu-buru. Coba tanyakan secara detail, apa saja yang bisa kamu dapatkan, keuntungan apa saja, dan bagaimana jika ada kendala."


Lita mencoba berdiskusi dengan penjual mobil yang dari tadi mengikutinya.


Lita tersenyum, "Saya tertarik untuk membeli Honda Jazz ini. Bisakah Anda memberi saya informasi lebih lanjut tentang keuntungan yang bisa saya dapatkan dengan memilih mobil ini?"


Penjual mobil dengan senang hati menjelaskan, "Tentu, Honda Jazz adalah mobil yang sangat populer karena beberapa alasan. Pertama, ia memiliki konsumsi bahan bakar yang efisien, sehingga Anda dapat menghemat biaya bahan bakar. Selain itu, Honda Jazz memiliki ruang interior yang luas dan fleksibel, sehingga sangat nyaman untuk pengemudi dan penumpang. Selain itu, mobil ini biasanya memiliki fitur-fitur keselamatan yang baik, seperti airbag dan sistem pengereman canggih."

__ADS_1


Lita mengangguk tanda mengerti, "Bagus, terdengar menguntungkan. Tapi, bagaimana jika saya mengalami kendala setelah membeli mobil ini?"


Penjual kembali menjelaskan, "Kami memiliki layanan purna jual yang baik. Honda Jazz biasanya dilengkapi dengan garansi bawaan pabrik untuk beberapa tahun. Selain itu, kami memiliki pusat layanan resmi di berbagai lokasi, jadi jika Anda mengalami masalah teknis atau perawatan rutin, kami akan siap membantu Anda. Anda juga dapat mempertimbangkan program asuransi mobil untuk perlindungan tambahan."


Lita tersenyum, "Terima kasih atas penjelasannya. Saya akan mempertimbangkan semuanya ini sebelum membuat keputusan pembelian."


Penjual tersenyum, "Tidak masalah, Bu. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut atau ingin mencoba tes drive, beri tahu saya. Saya di sini untuk membantu Anda."


Setelah beberapa diskusi dengan penjual dan juga Azura, Lita akhirnya memutuskan untuk membeli mobil Honda Jazz merah yang sudah lama dia impikan. Dia ingin memiliki mobil dengan warna yang sama dengan mobil milik Azura. Proses pembelian pun dimulai, dengan Lita memeriksa setiap detail dan fitur mobil dengan penuh antusiasme.


Saat tiba pada saat Lita akan mengambil kunci mobilnya, wajahnya dipenuhi kebahagiaan. Dia menggenggam kunci tersebut dengan penuh bangga, seolah-olah menggenggam mimpi yang akhirnya menjadi nyata.


"Terima kasih, Azura," ucap Lita dengan tulus. "Tanpa dukunganmu, mungkin aku belum bisa melangkah untuk mewujudkan impian ini."


Azura tersenyum dan mengangguk. "Tidak perlu berterima kasih. Aku senang melihatmu begitu bahagia, Lita."


Keduanya berpelukan dengan hangat, merayakan momen spesial ini bersama. Setelah itu, mereka keluar dari showroom dengan Lita duduk di kursi pengemudi mobil barunya. Azura duduk di sampingnya, tersenyum melihat sahabatnya dengan wajah penuh kegembiraan.


Perjalanan pertama dengan mobil barunya menjadi momen yang tak terlupakan bagi Lita. Azura mengenal pasti bahwa kebahagiaan sahabatnya adalah prioritas, dan dia merasa senang bisa bersama dalam momen-momen seperti itu.


Azura penasaran dengan pilihan Lita yang memilih warna mobilnya, warna merah seperti mobil miliknya.


"Lita," Azura bicara dengan suara lembut, "ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."


Lita tersenyum ramah. "Tentu, Azura. Apa itu?"


"Kamu memilih mobil berwarna merah, sama seperti milikku, kenapa?" Azura penasaran.


Lita mengangguk, tampak tidak terlalu terkejut dengan pertanyaan itu. "Iya, memang benar. Karena kamu menyukai warna merah, jadi aku memilih mobil dengan warna yang sama denganmu."


"Kalau dipikir-pikir, kamu sering memilih sesuatu yang sama dengan milikku. Terakhir aku membeli tas merah, seminggu kemudian kamu pun ikut-ikutan membeli tas yang sama." Azura semakin heran.


"Itu karena kita memang sahabat baik. Aku harus punya apa yang kamu punya," celoteh Lita.


Azura merasa ada yang aneh pada sifat Lita, "Apa... tidak ada alasan lain?"


Lita tersenyum tipis, "Azura, warna merah memang merupakan warna favoritku, itu saja. Aku bahagia bisa menjadi sahabatmu, Azura."


Azura menatap Lita dengan antusiasme, ingin tahu apa yang dirahasiakan sahabatnya itu. Namun dengan cepat Azura menyingkirkan rasa penasarannya. Dia yakin jika sahabatnya tidak akan pernah bertindak hal aneh.


"Uhm, bagaimana perjodohanmu dengan Ravendra?" Lita tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "Maaf jika tiba-tiba aku bertanya, Azura. Tapi bagaimana perjodohanmu dengan Ravendra? Apakah kamu yakin ini adalah keputusan yang benar?"


Azura tersenyum sedikit gugup, "Perjodohan itu memang telah diatur oleh keluargaku dan juga keluarga Ravendra. Aku tahu ini adalah tradisi yang kuat dalam keluarga, tapi aku juga merasa bimbang, Lita. Aku ingin mengejar impianku dan memiliki kendali atas kehidupanku sendiri."


Lita mencoba memahami perasaan Azura, "Aku mengerti betul perasaanmu, Azura. Sangat penting untuk mengikuti hati dan mimpi kita sendiri. Mungkin kamu bisa membicarakannya dengan keluargamu, mencoba menjelaskan apa yang kamu rasakan dan cita-citamu."


Azura menghela napas, "Itu ide yang bagus, Lita. Aku akan mencoba bicara dengan keluargaku tentang hal ini. Terima kasih atas dukungannya."


Lita mengangguk, "Tentu saja, Azura. Selalu ada cara untuk mengejar apa yang kamu inginkan. Aku selalu ada untuk mendukungmu."


"Tapi, setelah dipikirkan kembali, aku tidak punya waktu untuk mendiskusikan masa depanku, cita-citaku. Surat undangan sudah disebar, baju pengantin sudah disiapkan, sepertinya aku sudah menyerah." Azura terlihat murung


Lita: "Saya bisa merasakan betapa sulitnya keputusan ini bagi kamu, Azura. Kadang-kadang, tekanan dari keluarga dan ekspektasi sosial bisa sangat kuat. Namun, ingatlah bahwa hidup ini milikmu, dan kamu berhak untuk mencari kebahagiaanmu sendiri."


Azura: "Tapi apa yang bisa saya lakukan sekarang, Lita? Semuanya sudah diatur begitu rapi."


Lita memberi semangat, "Meskipun semuanya sudah diatur, tidak ada salahnya berbicara terbuka dengan keluarga dan Ravendra. Cobalah menjelaskan perasaanmu dan impianmu. Siapa tahu, mereka mungkin akan lebih memahami situasimu daripada yang kamu kira."


Azura mencoba tersenyum, "Terima kasih, Lita. Aku akan mencoba bicara dengan mereka. Semoga semuanya bisa berjalan baik-baik saja."


Lita tersenyum, "Aku akan berdoa untukmu, Azura. Jangan ragu untuk mencari dukungan jika kamu membutuhkannya. Kita selalu memiliki pilihan dalam hidup kita."


"Terima kasih, Lita. Kamu memang sahabat baikku." Azura tersenyum bahagia mendengar dukungan sahabatnya itu.


"Tidak masalah, Azura. Aku senang bisa menjadi sahabatmu. Oiya, apa kamu tidak pernah menyelidiki masa lalu Ravendra? Mungkin tentang mantan pacarnya," Lita bertanya ragu-ragu.


"Aku tidak peduli dengan masa lalu Ravendra, Lita. Aku tidak mencintainya, aku membenci perjodohan ini," tutur Azura. "Bahkan, aku tidak akan cemburu jika dia memiliki kekasih."


Lita mengangguk kembali, "Tentu saja, Azura. Aku senang bisa menjadi sahabatmu dan mendukungmu dalam hal apapun yang kamu pilih. Mengenai masa lalu Ravendra, memang penting untuk mengenal lebih banyak tentang pasangan kita. Tapi jika kamu merasa bahwa perjodohan ini bukanlah yang kamu inginkan, maka itu adalah prioritas utama. Fokuslah pada apa yang akan membuatmu bahagia."


Azura mencoba melepaskan beban berat hidupnya, "Benar, Lita. Masa lalu Ravendra bukan lagi perhatianku saat ini. Yang terpenting adalah bagaimana aku dapat mengejar kebahagiaanku sendiri."


"Sikapmu sangat berani, Azura. Aku yakin kamu akan mengambil keputusan yang benar untuk dirimu sendiri, terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu atau rencana perjodohan tersebut." jelas Lita.


Azura tersenyum, "Terima kasih atas dukungannya, Lita. Kamu sungguh teman yang pengertian."


Lita tersenyum, "Sama-sama, Azura. Kita akan melewati ini bersama-sama."

__ADS_1


Dari ingatannya itu, Azura merasa sangat menyayangkan sifat Lita yang benar-benar berubah. Kenapa Lita bisa begitu kejam terhadapnya. Akan tetapi Azura juga merasa lega karena memiliki kesempatan untuk balas dendam pada Lita atas pengkhianatannya di masa lalu.


***


__ADS_2