
Ravendra dan Azura sedang duduk bersama di tepi pantai, menikmati hembusan angin laut yang lembut. Cahaya bulan purnama menyinari malam mereka yang tenang. Namun, kabar dari Bima yang serius segera mengubah suasana menjadi tegang.
Tiba-tiba ponsel Ravendra bergetar di atas meja. Dia mengangkatnya dan melihat panggilan masuk dari Bima. Ravendra memberi isyarat kepada Azura dengan senyuman lalu menjawab panggilan tersebut.
"Bima, apa yang terjadi?" tanya Ravendra dengan khawatir melalui ponselnya.
Bima menghela napas dan memberanikan diri untuk berbicara melalui ponsel miliknya. "Ravendra, ada kabar yang aku rasa harus aku sampaikan. Perusahaan Sentosa, perusahaan yang sedang kita awasi, saat ini sedang diperiksa oleh pihak berwajib."
Ravendra merasakan keanehan. "Diperiksa? Mengenai apa?"
Bima menarik napas dalam-dalam. "Mereka sedang diselidiki atas kasus penggelapan dana dan penipuan. Pihak berwajib menduga ada aktivitas yang mencurigakan terkait dengan transaksi keuangan mereka."
Ravendra mengernyitkan kening. "Tapi, kita belum melaporkan apa pun tentang Leo pada pihak berwajib. Bagaimana ini bisa terjadi?"
Bima menjawab dengan hati-hati, "Saya pikir, Ravendra, ada kemungkinan bahwa ada pihak lain yang telah melaporkan atau menyampaikan informasi ini kepada pihak berwajib. Yang jelas, perusahaan Sentosa sedang dalam sorotan."
Ravendra merasa sangat bingung. "Kita harus bertindak cepat. Bima, apakah kita memiliki cukup bukti untuk mendukung tuduhan ini?"
Bima mengangguk. "Ya, Ravendra. Tim keamanan kita telah mengumpulkan bukti-bukti yang cukup kuat terkait transaksi-transaksi yang mencurigakan di perusahaan Sentosa. Kita bisa memberikan dukungan pada pihak berwajib."
"Baiklah kalau begitu, aku tunggu perkembangan beritanya. Terima kasih, Bima." Ravendra menutup sambungan telepon dari Bima.
Azura merasa penasaran dan menanyakan apa yang terjadi. "Apa yang terjadi, Sayang?"
Ravendra meletakkan ponselnya dan duduk di samping Azura. Dia menggenggam tangan Azura dengan lembut, mencoba memberikan rasa tenang padanya. "Ternyata perusahaan Sentosa sedang diperiksa oleh pihak berwajib terkait kasus penggelapan dana dan penipuan."
Azura tentu saja tidak terkejut mendengar kabar tersebut. "Syukurlah jika akhirnya perusahaan Sentosa diperiksa pihak berwajib."
Ravendra menghela nafas. "Benar, tapi masalahnya aku belum melaporkannya. Sepertinya ada pihak lain yang melaporkan mereka terlebih dahulu. Aku tidak tahu siapa, tapi ini cukup mengejutkan."
__ADS_1
Azura menggigit bibirnya, terlihat gemas. "Kira-kira siapa ya?"
Ravendra menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, Azura. Tapi kita perlu tetap waspada dan memantau perkembangan situasi ini."
Azura merasa senang mendengar berita ini, dan sudah saatnya memberitahu Ravendra siapa sosok misterius di balik semua ini.
Mereka berdua duduk di teras vila yang mereka tempati di pulau Olhuveli. Angin lembut bertiup dan suara ombak yang menghantam pantai mengisi udara. Azura mengambil nafas dalam-dalam, merasa saat yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran.
"Sayang, apa kamu penasaran siapa sosok misterius yang sudah melaporkan mereka ke pihak berwajib?" Azura sedikit menggoda Ravendra.
Ravendra merenung sejenak dan merasa aneh dengan sikap Azura. "Ada apa, Azura? Apa kamu merahasiakan sesuatu dariku?"
Azura mengangguk. Dia merasa senang menggoda Ravendra yang selalu serius menghadapi situasi sulit seperti ini. "Makanya, percaya pada istrimu ini, kamu sih main marah saja."
"Ada apa? Kapan aku marah?" Ravendra penasaran.
Ravendra merasa tidak percaya sekaligus malu karena dia telah menuduh Azura. Ravendra tersenyum lembut. Dia meraih wajah Azura dan memberikan ciuman singkat di keningnya. "Maafkan aku, Azura."
"Tidak perlu, Sayang. Aku tahu jika kamu marah hanya karena kamu sangat menyayangiku dan takut kehilanganku."
Ravendra mengangguk dan meraih wajah Azura dengan lembut. "Azura, sebagai permintaan maafku, aku ingin memberikan sesuatu yang akan membuatmu bahagia."
Azura menatap Ravendra dengan rasa penasaran. "Apa itu, Sayang?"
Ravendra tersenyum misterius. "Tunggu saja, kamu akan tahu nanti."
Malam itu, dalam dekapan cinta di bawah cahaya bintang dan bulan, Azura dan Ravendra merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Mereka mengerti bahwa mereka berdua adalah pasangan yang tak terpisahkan, siap untuk menghadapi segala tantangan dan rintangan bersama-sama.
Kedua pasangan kini saling berpegangan tangan, merasa kuat dalam kedekatan dan kepercayaan yang mereka miliki satu sama lain. Terlepas dari situasi yang sulit, mereka tahu bahwa bersama-sama, mereka dapat mengatasi segala tantangan yang datang dalam perjalanan mereka.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu yang tak terlupakan di Pulau Olhuveli, Azura dan Ravendra akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dengan hati yang penuh kenangan indah. Pagi yang cerah menyambut mereka saat mereka meninggalkan pulau surga itu, sambil membawa semua pengalaman dan momen indah yang mereka alami selama di Maladewa.
Penerbangan mereka dari Bandar Udara Internasional Ibrahim Nasir di Malé kembali menuju Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta berjalan dengan mulus. Saat pesawat melewati langit biru dan awan putih, Azura dan Ravendra duduk berdampingan, saling memandang dengan senyum hangat. Mereka berbicara tentang segala hal yang mereka alami di Maladewa, merenungkan setiap momen yang membuat perjalanan itu begitu berarti.
Ketika pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, mereka merasakan kehangatan udara tropis yang khas. Setelah berjalan melewati imigrasi dan pengambilan bagasi, mereka berjalan keluar terminal dengan perasaan bahagia.
Di luar bandara, mereka disambut oleh Bima yang sudah menunggu kepulangan mereka. Senyum bahagia dan pelukan hangat Bima menyambut Azura dan Ravendra.
Perjalanan kembali pulang dari bandara menuju rumah memberikan mereka waktu untuk merenung dan berbicara tentang apa yang akan datang. Mereka merasa bahwa pengalaman di Maladewa telah menguatkan ikatan mereka dan membawa mereka lebih dekat satu sama lain. Setiap matahari terbenam yang mereka lihat di pulau surga itu membawa harapan baru untuk masa depan yang penuh cinta dan petualangan.
Sampai di rumah, mereka meletakkan koper mereka di lantai dan duduk di sofa dengan senyum bahagia di wajah. Mereka mengobrol tentang bagaimana mereka akan menjalani hidup setelah kembali, bagaimana impian mereka akan menjadi kenyataan, dan bagaimana mereka akan menjaga api cinta tetap menyala.
Dengan perasaan yang mendalam dan bahagia, Azura dan Ravendra menyadari bahwa perjalanan mereka ke Pulau Olhuveli di Maladewa telah memberi mereka lebih dari sekadar bulan madu. Namun, petualangan yang membawa mereka lebih dekat satu sama lain, menginspirasi mereka untuk merayakan setiap momen, dan menghadapi masa depan bersama dengan keyakinan penuh dan cinta yang tak tergoyahkan.
Azura dan Ravendra sudah kembali ke rumah. Bulan madu mereka berakhir, namun masalah yang mereka hadapi belum sepenuhnya berakhir. Kabar mengenai diperiksanya perusahaan Sentosa merupakan kabar baik. Azura merasa sedikit lega meskipun belum sepenuhnya karena Leo masih belum ditetapkan sebagai tersangka.
"Bagaimana dengan perkembangan kasus perusahaan Sentosa?" tanya Azura.
"Masih dalam penyelidikan, Leo belum ditetapkan sebagai tersangka." jawab Ravendra.
"Apakah ada bukti yang kurang?"
"Tidak tahu, Azura. Mungkin ada sesuatu yang harus mereka pastikan terlebih dahulu. Kamu jangan khawatir, kita serahkan saja semua pada pihak berwajib."
"Kamu benar, Sayang." Azura mencoba untuk tenang.
'Hanya saja aku takut Leo melakukan hal yang tidak kita inginkan. Aku takut Leo melakukan hal yang lebih jahat dibandingkan dengan apa yang dilakukannya di kehidupan sebelumnya. Tapi aku yakin, Leo tidak akan sejahat itu, aku begitu mengenal Leo sebelumnya.' batin Azura.
***
__ADS_1