Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 9


__ADS_3

Akhir pekan tiba dengan semburat kehangatan matahari yang menyapa, menciptakan suasana yang nyaman. Di ruang keluarga, Ravendra berdiri dengan penuh antusiasme, menunggu saat Azura akan muncul.


Ketika pintu kamar terbuka, Azura muncul dengan senyuman cerah di wajahnya. Dia mengenakan gaun sederhana namun cantik, menciptakan kesan yang manis dan anggun. Pandangan mereka bertemu, dan dalam tatapannya, Ravendra terlihat bahagia.


Ravendra mengulurkan tangan, "Azura, kamu terlihat sangat cantik hari ini."


Azura merona, "Terima kasih, Sayang. Kamu juga terlihat tampan seperti biasanya."


Tangan mereka bertaut dalam kehangatan, menciptakan ikatan yang mengalir dari tatapan mata mereka.


Ravendra tersenyum, "Siap untuk bertemu orang tuamu?"


Azura mengangguk, "Tentu saja, aku telah menantikannya. Ayo, kita berangkat."


Mereka berdua berjalan menuju mobil yang sudah siap menanti di halaman. Perjalanan mereka menuju rumah keluarga Wijaya penuh dengan percakapan ringan dan candaan yang mengisi udara dengan keceriaan.


Mobil melaju dengan tenang di jalan yang tidak begitu ramai. Azura dan Ravendra duduk bersebelahan di dalamnya, matahari senja menciptakan nuansa hangat di sekitar mereka. Mereka terlihat begitu akrab, seperti dua sahabat yang telah mengenal satu sama lain sejak lama.


"Kau tahu, sebenarnya aku sangat merindukan kedua orang tuaku," ujar Azura sambil tersenyum pada Ravendra.


Ravendra membalas senyumannya, "Aku tahu, karena itu aku mengajakmu untuk bertemu mereka."


Azura mengangguk, "Terima kasih, Sayang. Aku merasa bahagia sekali saat ini."


Ravendra tersenyum lembut, "Aku juga bahagia jika kamu bahagia, Azura."


"Sungguh, aku sangat bersyukur memilikimu di sampingku," kata Azura dengan tulus, matanya memandang Ravendra penuh kasih.


Ravendra meraih tangan Azura dan menggenggamnya dengan lembut. "Dan aku pun bersyukur memiliki kamu, Azura. Kita bersama-sama menghadapi berbagai hal, dan aku tidak akan pernah merubahnya."


Mereka melanjutkan perjalanan dengan perasaan hangat. Percakapan mereka sungguh menyenangkan, seolah-olah mereka adalah pasangan yang telah hidup bersama selama bertahun-tahun. Ada canda dan tawa di antara mereka, serta pandangan penuh makna yang saling bertautan.


"Jadi, apa yang akan kamu ceritakan pada keluarga tentang Leo?" tanya Ravendra, mencoba untuk mengalihkan perhatian Azura dari lamunan.


Azura merenung sejenak, "Aku akan memberitahu mereka yang sebenarnya. Aku yakin mereka akan mendukung langkahku untuk mengungkap rencana jahat Leo."


Ravendra mengangguk, "Aku percaya pada kamu, Azura. Kita akan menghadapinya bersama-sama."


Saat mobil melaju menuju rumah keluarga Wijaya, Azura dan Ravendra merasa semakin dekat. Mereka tahu bahwa tantangan-tantangan masih menanti di depan, namun dengan cinta dan dukungan yang mereka miliki satu sama lain, mereka yakin dapat mengatasi semua rintangan itu. Perjalanan ini menjadi awal dari perjuangan bersama mereka, menuju masa depan yang penuh harapan.


Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Azura sangat bahagia, akhirnya bisa bertemu dengan kedua orang tuanya setelah sekian lama tidak berjumpa.


Rumah keluarga Wijaya terletak di sebuah lingkungan perumahan yang tenang dan bergaya. Dikelilingi oleh taman hijau yang rapi dan pepohonan yang memberikan nuansa alami, rumah ini mencerminkan kesederhanaan yang elegan dalam desainnya. Dari luar, rumah keluarga Wijaya memiliki gaya arsitektur tradisional dengan sentuhan modern yang terlihat dari detail-detail yang dipilih dengan cermat.


Halaman depan rumah dihiasi dengan bunga-bunga warna-warni dan tanaman hias yang terjaga dengan baik. Jalan masuk yang beraspal mengarah ke garasi dan pintu utama rumah. Teras di depan rumah memberikan suasana yang ramah dan nyaman, dengan furnitur kayu yang mengundang untuk bersantai di luar.


Pintu terbuka, dan di ambang pintu, tampak sepasang mata yang tajam dan cerdas. Orang tua Azura, pasangan Wijaya, berdiri di sana dengan senyuman hangat.


Bu Dewi tersenyum, "Selamat datang, Azura, Ravendra. Kami sangat senang kalian berdua datang."


Azura tak kuasa menahan rindu untuk memeluk ibunya, "Azura sangat merindukanmu, Ma. Kami juga senang bisa berkunjung."


Pak Raka mengangguk, "Mari masuk, jangan biarkan mereka berdiri di depan pintu."


Saat memasuki rumah, suasana interior yang hangat dan menyambut langsung terasa. Lantai ubin dengan motif tradisional memberikan sentuhan khas dan menghubungkan berbagai ruangan dengan harmonis. Ruang keluarga yang luas memiliki sofa-selubung, karpet berwarna hangat, dan rak buku dengan berbagai koleksi yang menambah kehangatan ruangan. Penerangan yang lembut dari lampu gantung menciptakan suasana yang nyaman.


Ruang makan yang terbuka terhubung dengan dapur yang luas. Meja makan kayu dengan kursi berlapis kain memberikan nuansa santai dan akrab. Dapur yang berdesain tradisional modern dilengkapi dengan peralatan modern dan ruang penyimpanan yang efisien.


Tangga kayu yang indah mengarah ke lantai atas, di mana terdapat kamar-kamar tidur pribadi termasuk kamar Azura. Rumah keluarga Wijaya adalah contoh harmoni antara tradisi dan modernitas. Desainnya yang sederhana namun elegan menciptakan lingkungan yang nyaman dan hangat bagi keluarga. Azura merasa familiar dan nyaman di rumah ini, terutama karena inilah tempat dia tumbuh besar dan berkumpul bersama keluarga.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan hangat disambut oleh suasana keluarga yang ramah. Di dalam, terasa aroma masakan yang menggugah selera.


Ravendra tersenyum, "Aroma masakan tercium sangat menggugah selera."


Bu Dewi tertawa, "Ah bisa saja menantuku ini, kamu akan tahu rasanya sebentar lagi. Silakan duduk."


Mereka berempat duduk di ruang keluarga yang nyaman, mengobrol semakin hangat. Azura begitu senang melihat foto-foto pernikahan dirinya dengan Ravendra yang terbingkai indah di dinding. Namun terlihat jelas jika senyuman Azura kala itu benar-benar terpaksa, tidak ada kebahagiaan sedikit pun terpancar di wajahnya. 'Azura yang bodoh,' batin Azura.


Senyuman Azura di dalam foto-foto pernikahan yang terpajang di dinding rumah keluarga Wijaya terlihat begitu indah, namun juga menyimpan banyak cerita di baliknya. Di antara gambar-gambar itu, ada satu foto yang khusus menarik perhatian Azura. Foto itu menggambarkan momen mereka berdua berdiri di depan altar, di bawah naungan langit yang cerah. Tangan mereka saling berpegangan erat, cincin pernikahan bersinar di jari mereka.


Namun, saat Azura merenung pada foto itu, dia bisa merasakan ketidakbahagiaan yang tersembunyi di balik senyumnya. Walaupun terlihat cantik dan penuh harapan, dia mengingat bahwa saat itu dia merasa terjebak dalam keputusan yang tidak dia inginkan. Senyuman itu seakan-akan adalah penampilan yang harus dia pertahankan, bahkan jika hatinya merasa hancur.


Melihat foto-foto pernikahan itu membuat Azura teringat akan perjalanan hidupnya yang rumit. Dia memandang gambar itu dengan mata penuh emosi campur aduk antara rasa penyesalan, harapan yang terengah-engah, dan beban yang terlalu berat. Momen itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang tak terlupakan, mengingatkannya akan tantangan dan perubahan yang dia alami.


Namun, di tengah semua perasaan tersebut, Azura juga menyadari bahwa pernikahan dengan Ravendra membawa dampak positif dalam hidupnya. Meskipun awalnya dijalani dengan keraguan, perlahan-lahan Azura merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Dia menghargai upaya Ravendra untuk membuat pernikahan mereka bahagia, dan dia tahu bahwa dia memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan itu.


Sambil terus memandang foto-foto pernikahan yang terbingkai, Azura merenungkan tentang bagaimana dia bisa menciptakan kebahagiaan yang tulus dan membangun hubungan yang kuat dengan Ravendra. Dia mengerti bahwa ada beban berat yang harus dia tanggung, terutama dalam menghadapi Leo dan mengungkap rencana jahatnya. Namun, dia juga menyadari bahwa dia tidak sendirian, Ravendra dan orang-orang yang peduli padanya ada di sisinya.


Dengan pandangan tetap fokus pada foto-foto tersebut, Azura merasa bahwa dia telah berubah sejak saat itu. Dia tahu bahwa senyuman yang dia tunjukkan mungkin tidak benar-benar mencerminkan kebahagiaan pada saat itu, tetapi sekarang dia memiliki kesempatan untuk membuat senyuman itu menjadi nyata, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk hubungan pernikahannya.


Di saat Azura asyik memandangi foto-foto pernikahannya, Pak Raka dan Ravendra mulai mencairkan suasana dengan obrolan santai tentang perusahaan.


Pak Raka tersenyum pada Ravendra, "Bagaimana dengan bisnismu belakangan ini?"


Ravendra bercerita, "Kami sedang mengembangkan proyek baru yang cukup menjanjikan. Semoga saja semuanya berjalan lancar."


"Mudah-mudahan tidak ada rintangan yang begitu signifikan bisnis kali ini." Pak Raka menyemangati. "Ravendra, kami senang Azura memiliki seseorang sepertimu di sisinya. Kamu membuatnya bahagia."


Ravendra mengangguk tulus, "Terima kasih, Pa. Saya akan selalu berusaha membuatnya bahagia."


Azura merasa hatinya berbunga-bunga mendengar kata-kata itu. Saat itu, di antara tawa dan cerita-cerita ringan, terjalinlah sebuah hubungan yang begitu dekat di antara mereka. Perasaan hangat menghampiri Azura, seolah-olah membawanya pada sebuah babak baru dalam hidupnya yang penuh dengan cinta dan kedamaian.


Percakapan terus mengalir, mengisi ruangan dengan keceriaan dan kedekatan. Azura melihat bahwa perhatian dan kehangatan yang diberikan oleh orang tuanya pada Ravendra tidak lain adalah buah dari tekad dan perjuangan mereka bersama.


Di saat sedang duduk bersama di ruang keluarga, Bu Dewi melihat Azura yang sedang memandang jauh. Wajah Azura terlihat begitu serius, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.


Bu Dewi pun tidak tahan melihat putrinya seperti itu. "Nak, ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanyanya dengan nada lembut, mencoba untuk membuka obrolan.


Azura tersentak dari lamunannya dan menoleh pada Bu Dewi. Dia mencoba tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak, Ma. Hanya sedikit banyak pekerjaan di kantor yang menguras pikiran."


Namun, Bu Dewi tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dalam di balik kata-kata putrinya. Dia merasa ada yang tak beres. "Azura, Mama tahu kalau ada sesuatu yang kamu pendam. Apakah kamu ingin bercerita tentang hal itu pada Mama?"

__ADS_1


Azura menghela nafas panjang, lalu dia memutuskan untuk menceritakan apa yang sedang terjadi. Dia bercerita tentang rencana jahat Leo, bagaimana Leo mencoba mendekati para klien perusahaan Ravendra, dan semua bukti yang telah mereka kumpulkan bersama tim keamanan dan tim hukum.


Bu Dewi terkejut mendengar cerita tersebut. Dia merasa sangat tidak percaya bahwa Leo bisa melakukan sesuatu yang sejahat itu. "Tapi, Azura, kenapa dia mau melakukan hal seperti itu?"


Azura menggelengkan kepala, ekspresinya penuh dengan rasa penyesalan. "Azura juga tidak tahu pasti, Ma. Mungkin karena dia ingin menghancurkan perusahaan Ravendra dan mengambil alih segalanya."


Bu Dewi memandang putrinya dengan pandangan penuh keprihatinan. "Tetapi kenapa dia mau melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri? Dia tahu bahwa Ravendra adalah suamimu."


Azura mengangguk perlahan. "Azura pikir ini adalah balas dendamnya, Ma. Dia merasa bahwa Azura mencuri perhatian dan hati Ravendra, dan ini adalah caranya untuk melukai kami."


Bu Dewi merasa sangat terkejut dan kecewa. Dia tidak pernah menyangka bahwa Leo bisa begitu jahat. "Azura, apakah Ravendra tahu tentang ini?"


Azura menganggukkan kepala. "Sudah, Ma. Azura sudah memberitahunya."


Bu Dewi menggenggam tangan Azura dengan lembut. "Baguslah, Nak. Kamu sudah memberitahunya. Ini adalah masalah besar yang melibatkan perusahaan dan reputasi keluarga."


Azura menatap tajam mata ibunya, merasa dilema. "Tapi, Ma, ada beberapa hal yang tidak bisa Azura ceritakan."


Bu Dewi tersenyum lembut. "Azura, jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan memahami dan mendukungmu dalam situasi ini. Jujurlah padanya, karena hanya dengan kejujuran kita bisa menghadapi masalah ini bersama-sama."


Azura merenung sejenak, merenungkan kata-kata ibunya. Dia tahu bahwa ibunya benar. Kejujuran adalah kunci dalam hubungan mereka. Namun ibunya tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Dirinya bukanlah Azura yang dulu, Azura yang bodoh dan termakan rayuan cinta Leo. Azura yang dulu sudah mati, Azura saat ini adalah Azura yang siap untuk membalas dendam dan memperbaiki semua kesalahannya di kehidupan sebelumnya.


Dengan menggenggam tangan ibunya, Azura tersenyum. "Terima kasih, Ma. Azura akan berusaha berbicara dengan Ravendra tentang semuanya."


Bu Dewi tersenyum puas, merasa bangga pada putrinya yang semakin matang dalam menghadapi masalah. "Itu dia, sayang. Percayalah pada hubunganmu dan pada Ravendra. Kalian berdua bisa menghadapi ini bersama-sama."


Azura mengangguk, namun merasa telah membohongi ibunya. Akan tetapi dia merasa yakin bahwa dia dan Ravendra bisa mengatasi masalah ini, asalkan mereka tetap bersama dan berkomunikasi dengan baik.


Azura tersenyum dan bermanja dengan bersandar pada ibunya layaknya anak kecil. Dia merasa kembali seperti seorang anak kecil yang berada di samping ibunya. Dia tersenyum lebar dan tanpa ragu, bersandar dengan penuh kenyamanan pada bahu ibunya. Rasa hangat dan kasih sayang terpancar dari setiap tatapan dan senyuman yang mereka berdua bagikan.


Ibunya mengajak Azura ke dapur untuk ikut memasak hidangan makan malam. Azura sangat senang karena terakhir kali dirinya memasak bersama ibunya adalah ketika beberapa hari sebelum dia dilamar oleh Ravendra. Menu kali ini adalah masakan nusantara. Meskipun Azura sangat menyukai steak, masakan nusantara tetap menjadi favoritnya juga.


Di dalam dapur yang hangat, Azura merasa nostalgia menyelimuti dirinya. Ia mengikuti ibunya dengan senyuman bahagia, mengingat saat-saat indah ketika mereka berdua sering memasak bersama. Ini adalah momen yang ia rindukan sejak awal pernikahannya dengan Ravendra.


"Ingat dulu, Ma?" tanya Azura dengan penuh keceriaan. "Kita sering memasak bersama seperti ini."


Bu Dewi mengangguk, senyumnya hangat. "Tentu saja, Nak. Itu adalah saat-saat yang sangat berharga bagi kita."


Mereka berdua mulai membantu asisten rumah tangga merapikan bahan-bahan yang sudah disiapkan di atas meja dapur. Sayur-sayuran segar, rempah-rempah harum, dan bumbu-bumbu khas nusantara. Azura merasa sangat antusias bisa memasak lagi bersama ibunya.


"Ma, aku merasa senang seperti dulu lagi," ujar Azura sambil memandang sayuran di tangannya.


Bu Dewi tersenyum lembut, "Mama juga merasa sama, Nak. Kamu tahu, waktu berjalan begitu cepat."


Azura mengangguk setuju. Dia merasa seperti waktu telah membawanya kembali ke saat-saat penuh keceriaan di dapur ini, tanpa beban dan keraguan yang melingkupinya sekarang.


Sementara itu, Ravendra duduk di ruang keluarga rumah keluarga Wijaya, bersama dengan ayah Azura, Bapak Raka. Mereka berdua masih mengobrol percakapan santai, membicarakan berbagai hal mulai dari pekerjaan hingga hobi.


"Ravendra, apa kamu punya rencana lain untuk perusahaanmu sekarang?" tanya Pak Raka dengan penuh ketertarikan.


Ravendra mengangguk, "Ya, Pa. Saya merasa bersyukur bisa mengembangkan perusahaan ini dengan membuka cabang baru. Namun yang paling penting, saya mendapatkan Azura."


Ravendra mengangguk penuh pengertian. Dia merasa bertanggung jawab untuk membuat Azura bahagia.


Kembali ke dapur, Azura dan ibunya sedang memasak hidangan nusantara yang lezat. Warna-warni makanan dan aroma harum mengisi ruangan. Azura merasa bangga bisa memasak untuk keluarganya.


"Semuanya terlihat lezat, Ma," ujar Azura dengan antusias.


Ketika sedang memasak, tiba-tiba Bu Dewi teringat sesuatu.


"Oh iya Azura, kamu tahu kalau minggu lalu Lita datang ke rumah?" Bu Dewi mendadak ingat sesuatu.


Azura terkejut, "Benarkah, Ma? Lita datang ke sini?"


Bu Dewi mengangguk, "Iya, dia datang untuk sekadar bertamu. Kalian sudah lama tidak bertemu, jadi dia ingin menyapa."


Azura berusaha tersenyum, tetapi di dalam hatinya, ada keraguan yang berkecamuk. Kenangan di kehidupan sebelumnya masih begitu jelas menghantui pikirannya. Dia ingat bagaimana Lita mengkhianatinya dan menjadi bagian dari rencana jahat Leo.


Azura berbicara hati-hati, "Tentu, Ma. Aku senang Lita datang. Kami memang sudah lama tidak bertemu. Hanya saja, kenapa ke sini, bukan ke rumah Ravendra."


Bu Dewi mencoba menjelaskan, "Lita mengira jika kamu ada di sini, bukan di rumah Ravendra. Dia hanya bilang, dia bersyukur jika kamu baik-baik saja."


Azura kini mengerti, "Oh begitu."


Bu Dewi menatap Azura dengan penuh perhatian, "Kamu baik-baik saja, Nak?"


Azura tersenyum dipaksakan, "Aku baik, Ma. Jangan khawatir."


Bu Dewi tersenyum lega, "Baiklah, kalau begitu."


Namun, meskipun mencoba tersenyum, perasaan keraguan dan kecurigaan tetap terus menghantui Azura. Dia tahu bahwa dia harus berhati-hati, terutama ketika menyangkut Lita. Setelah perbincangan dengan Bu Dewi selesai, dia berjalan masuk ke dalam kamar dirinya yang dulu dengan perasaan campur aduk. Apakah Lita benar-benar telah berubah, ataukah ada sesuatu yang terjadi di balik kedatangannya?


'Apa yang diinginkan Lita dari kedua orang tuaku? Apakah karena Leo menyuruhnya? Apalagi yang Leo rencanakan selain dari menghancurkan perusahaan Ravendra?' Batin Azura penuh dengan pertanyaan.


Azura meminta izin untuk pergi ke kamar karena merasa tiba-tiba kurang enak badan. Namun yang sebenarnya, Azura merasa syok mendengar kabar jika Lita datang ke rumah orang tuanya.


Azura berbaring di kasur miliknya dulu. Dia mengenang keakraban dirinya bersama dengan Lita. Di kamarnya, dia bersama Lita sering menghabiskan waktu bersama. Dan kadang-kadang mereka mengobrol sampai larut malam. Lita adalah sahabat yang mengetahui semua rahasia Azura. Lita mengetahui jika Azura tidak menginginkan perjodohannya dengan Ravendra terjadi dan berharap bisa hidup bersama dengan Leo.


Azura mengingat kembali kenangan ketika dirinya mencurahkan isi hatinya kepada Lita pada suatu malam. Dia menangis ketika mengetahui dirinya akan dijodohkan dengan Ravendra.


Azura teringat di dalam kamar yang tenang, dia berbaring di kasurnya, membiarkan air mata mengalir membasahi bantalnya yang putih bersih. Dia mengenang momen yang dia bagikan dengan Lita.


Azura mengelus bantal dengan lembut dan bergumam, "Saat itu... Aku merasa begitu terpuruk, dan Lita adalah satu-satunya yang tahu perasaanku. Pada malam itu, Lita adalah tempat bagiku untuk melepaskan semua ketidakpastian dan kecemasan yang aku rasakan."


Azura teringat obrolan mereka kala itu...


"Aku akan dijodohkan dengan Ravendra!" Azura menangis tersedu-sedu, "Mereka akan datang minggu depan untuk melangsungkan acara pertunangan, apa yang harus aku lakukan?"


"Aku menyerahkan semua keputusan padamu, Azura. Kamu mau menerimanya atau menolaknya, keputusan ada di tanganmu." Lita memberinya pilihan.


"Aku bingung, Lita. Aku tidak mencintai Ravendra, tapi di satu sisi aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku." Tutur Azura. "Aku harus bagaimana?"

__ADS_1


"Tenang, Azura. Kamu bisa bicara baik-baik dengan orang tuamu, kamu bisa mengatakan jika kamu saat ini menyukai Leo, bukan Ravendra." Lita mencoba untuk memberi solusi.


"Aku tidak bisa, Lita. Orang tuaku pasti akan marah jika tiba-tiba aku mengatakan bahwa aku ingin hidup bersama dengan Leo. Perjodohan ini sudah mereka rencanakan sejak lama." Lirih Azura, "Rasanya aku ingin pergi jauh, meninggalkan semuanya!"


Lita memeluk Azura erat, "Azura, aku ada di sini untukmu. Kita akan melewati ini bersama-sama."


Azura tersenyum sambil menangis, "Terima kasih, Lita. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."


Lita membelai punggung Azura, "Jangan khawatir, aku akan tetap mendukungmu. Apa pun keputusanmu, itu adalah yang terbaik."


Azura mengeringkan air matanya, "Aku sangat beruntung memiliki sahabat sebaik dirimu, Lita."


Lita telah mendengarkan keluhan Azura, memberinya dukungan tanpa syarat. Namun, saat itu Azura tidak tahu bahwa di balik kepercayaan dan keakraban mereka, ada rencana jahat Leo dan Lita yang begitu menyedihkan.


Azura menghela nafas dan bergumam, "Aku harus berhati-hati, terutama setelah apa yang terjadi padaku dan Ravendra. Aku tidak ingin hal itu terulang kembali."


Dengan pikiran yang penuh dengan kenangan pahit, Azura merasa lelah dan akhirnya tertidur, membiarkan mimpi-mimpi menghampirinya dalam tidurnya yang tenang.


Satu jam berlalu, saat makan malam tiba, Bu Dewi menyuruh Ravendra untuk membangunkan Azura. Ravendra dengan segera naik ke lantai atas di mana kamar Azura berada. Dia tidak pernah masuk ke kamar Azura sebelumnya. Setelah menikah, Azura langsung di bawa ke rumah Ravendra.


Ravendra membuka pintu kamar dengan perlahan, takut jika dirinya membuat Azura kaget. Ini adalah pertama kalinya Ravendra masuk ke kamar Azura. Tidak seperti biasanya, Ravendra gugup dan jantungnya berdetak begitu kencang. Seperti inikah rasanya memasuki kamar seseorang yang dicintai?


Ravendra merasa dadanya berdebar saat dia memasuki kamar Azura. Kamarnya rapi layaknya kamar seorang gadis. Azura memang bisa dikatakan masih gadis karena sampai saat ini Ravendra belum juga menyentuhnya. Selama ini mereka hanya tidur bersama di ranjang yang sama tanpa melakukan hubungan layaknya suami istri. Ravendra tidak berani sebelum Azura mengizinkan dirinya untuk menyentuhnya.


Ravendra menghela nafas perlahan, "Azura..."


Dia berjalan mendekati tempat tidur, dan dengan lembut dia menyentuh pundak Azura yang masih terlelap.


Ravendra berbicara dengan lembut, "Azura... Sayang, sudah waktunya makan malam."


Azura terbangun perlahan, "Hm? Oh, Sayang... Maafkan aku, aku agak terlelap."


Ravendra tersenyum, "Tidak apa-apa, Sayang. Ayo, kita makan malam bersama-sama."


Azura mengangguk dan tersenyum lembut. Dia merasakan kehangatan dalam kehadiran Ravendra, dan itu membuat hatinya merasa tenang.


Di kamar yang penuh dengan cahaya lembut, Azura dan Ravendra duduk di kasur begitu dekat, tatapan mereka bertaut dengan intensitas yang mengungkapkan lebih dari apa yang bisa diucapkan oleh kata-kata. Semua keraguan dan rintangan yang pernah mereka lewati kini sirna dalam kehangatan cinta yang makin mendalam.


Azura merasakan hatinya bergetar saat Ravendra mendekatinya dengan lembut. Pandangan mereka saling bertemu, seperti ada bahasa tersendiri yang mereka pahami. Dengan lembut, Ravendra mengangkat tangan dan menyentuh pipi Azura, mengalirkan rasa cintanya melalui sentuhan itu.


"Sayang..." suara lembut Azura bergema di antara mereka, menciptakan dentingan yang menyejukkan di ruangan itu.


Ravendra menghela nafas perlahan, mengalihkan perhatiannya pada bibir merah lembut Azura. Begitu dekat, namun masih ada jarak yang harus ditempuh. Dia meraih pinggang Azura dan menariknya lebih dekat, hingga nafas mereka hampir menyatu, dan dengan hati-hati, bibirnya menyentuh bibir Azura.


Ciuman itu seperti menggambarkan seluruh perasaan yang mereka simpan begitu lama. Begitu lembut dan penuh makna, seperti kata-kata yang tak terucapkan. Mereka merasakan getaran dalam detak jantung satu sama lain, sesuatu yang tak tergambarkan dengan kata-kata.


Azura merasakan tangan Ravendra mengelus punggungnya dengan lembut, sementara tangannya sendiri meraih pundaknya dengan kelembutan. Mereka menyatu dalam momen itu, di bawah cahaya yang lembut dan musik hati yang berdentum dalam diri mereka.


Ketika ciuman itu akhirnya merenggang, kedua pasangan itu masih terpaku pada pandangan mata satu sama lain. Hati-hati mereka melepaskan genggaman, namun tetap merasakan kehangatan yang berasal dari ciuman itu.


Dengan tatapan penuh arti, Ravendra berkata, "Azura, aku mencintaimu dengan segenap hatiku."


Senyum bahagia terukir di bibir Azura, "Aku juga mencintaimu, Sayang."


Tangan mereka masih berpegangan erat, menandakan awal dari babak baru dalam hubungan mereka. Meskipun perjalanan menuju cinta ini penuh dengan rintangan, mereka tahu bahwa bersama mereka bisa menghadapi masa depan yang penuh kebahagiaan dan cinta yang tak tergoyahkan.


Azura dan Ravendra keluar dari kamar dengan perasaan yang campur aduk. Mereka merasa sedikit kikuk setelah ciuman itu, seperti pasangan baru yang baru saja merasakan ciuman pertama. Tapi di balik semua itu, ada rasa bahagia yang tidak bisa mereka sembunyikan.


Mereka berjalan bersama menuju ruang makan, tangan mereka saling menggenggam menandakan jika mereka adalah pasangan yang romantis, saling mendukung, dan bahagia.


Dengan senyuman di bibir mereka, mereka melanjutkan makan malam bersama. Meja makan dipenuhi dengan hidangan lezat yang sebagian masakan telah dimasak oleh Azura. Mereka berempat berbagi cerita dan tawa, menciptakan suasana yang hangat dan berharga.


Suasana di ruang makan menjadi semakin akrab ketika Azura, Ravendra, Pak Raka, dan Bu Dewi duduk bersama di sekitar meja makan yang indah dihiasi dengan segala jenis hidangan lezat. Lampu-lampu lembut dan lilin-lilin menambah kehangatan suasana malam itu.


Pak Raka, yang duduk di sebelah Azura, memuji dengan senyuman lebar, "Azura, ini masakanmu sungguh luar biasa. Aku bisa merasakan betapa banyak cinta yang kamu tuangkan ke dalam setiap hidangan ini."


Bu Dewi menambahkan, "Benar sekali, sayang. Kamu sungguh memiliki bakat dalam memasak. Setiap suapan benar-benar menggugah selera."


Azura tersenyum dan merasa sangat bahagia melihat kedua orang tuanya menikmati masakannya. Tatapan kebanggaan di mata mereka membuatnya merasa begitu puas.


Sambil tersenyum, Ravendra mengangguk setuju. "Saya setuju sepenuhnya. Masakan Azura benar-benar istimewa."


Azura merasa hangat mendengar pujian dari Ravendra. Dia berbalik ke arah Ravendra dan memandangnya dengan cinta. "Terima kasih, Sayang. Aku senang kamu menyukainya."


Pak Raka kemudian berkomentar dengan senyuman lelucon, "Ravendra, kamu harus tahu, sekarang kamu punya istri yang tidak hanya cantik, tetapi juga pandai masak. Kamu sangat beruntung."


Semua orang tertawa, dan suasana semakin meriah. Makan malam bersama ini bukan hanya tentang hidangan lezat, tetapi juga tentang momen berharga yang mereka bagikan bersama. Di bawah cahaya lampu kristal, mereka merasakan kebahagiaan dan kedekatan yang semakin erat di antara mereka.


Setelah makan malam, mereka izin pamit pulang. Bu Dewi memaksa menawarkan kepada mereka untuk menginap. Rasanya sepi tanpa mereka di rumah sebesar dan semegah itu. Namun Azura menolak dengan sopan karena Ravendra ingin pulang ke rumah. Dan mereka pun tidak bisa memaksa.


Malam mulai menyelimuti langit ketika Azura dan Ravendra akan kembali ke mobil mereka yang terparkir di halaman depan rumah keluarga Wijaya. Langkah mereka terhenti sejenak, diliputi dengan perasaan berat karena harus berpisah dari orang tua Azura.


Azura memeluk kedua orang tuanya, "Sampai jumpa, Ma, Pa. Terima kasih sudah menerima kami dengan hangat."


Ibu Dewi tersenyum lembut, "Kami senang bisa bertemu denganmu, Nak. Jangan ragu untuk datang kapan saja."


Pak Raka merangkul Azura dengan penuh kasih, "Tetaplah bahagia, Azura."


Azura merasa ingin menangis namun terhalang di tenggorokannya, dia berusaha menahan emosinya. Dia merasa sedih untuk berpisah, namun juga merasa hangat dan dicintai oleh keluarganya.


Ravendra memegang pundak Azura dengan lembut, "Kita akan segera bertemu lagi, Ma, Pa."


Dalam perasaan yang campur aduk, mereka pun berjalan menuju mobil. Begitu mereka duduk di dalam mobil, Azura tidak bisa menahan lagi tangisnya.


Azura merasa air mata mengalir, "Rasanya selalu sulit untuk berpisah dari mereka."


Ravendra merangkul Azura dengan lembut, "Aku tahu, Sayang. Tapi kita akan memiliki banyak kesempatan untuk bertemu lagi."


Matahari terbenam semakin menjauh di cakrawala saat mobil mereka meninggalkan rumah keluarga Wijaya. Meskipun sedih karena berpisah, Azura merasa hangat dalam dekapan Ravendra. Kehadirannya memberikan dukungan dan cinta yang mengatasi kerinduan dan perpisahan. Dan dalam setiap kilometer yang mereka tempuh, Azura tahu bahwa dia tidak sendirian dalam perjalanan ini.


***

__ADS_1


__ADS_2