
Setelah beberapa minggu, Azura berhasil mendapatkan bukti lebih lanjut tentang rencana jahat Leo. Dia menemukan dokumen-dokumen yang mengindikasikan transaksi ilegal yang melibatkan perusahaan mereka. Dia juga mendapatkan rekaman percakapan yang mengkonfirmasi niat jahat Leo.
Bersama-sama dengan tim keamanan dan tim hukum, mereka menyusun rencana untuk menghadapi Leo. Mereka memutuskan untuk mengungkap rencana jahatnya. Mereka akan menggunakan bukti-bukti yang mereka kumpulkan sebagai senjata untuk membongkar semua yang telah Leo rencanakan.
Dengan bukti-bukti yang mereka kumpulkan dan rencana yang telah tersusun matang, Azura, Ravendra, tim keamanan, dan tim hukum memutuskan untuk menghadapi Leo secara terbuka. Mereka tahu bahwa mereka harus menentukan waktu yang tepat untuk membongkar rencana jahat yang telah dia rencanakan.
Mereka juga merencanakan pertemuan khusus dengan Pak Doni, kakek Ravendra, yang juga merupakan CEO di perusahaan Alfonsa di mana Ravendra juga memiliki peran yang penting. Pertemuan ini akan menjadi momen penting dalam mengungkap rencana Leo dan mengambil tindakan yang diperlukan.
Pertemuan dimulai di ruang rapat perusahaan Alfonsa. Azura, Ravendra, tim keamanan, dan tim hukum hadir bersama dengan Pak Doni. Mereka menunjukkan bukti-bukti yang mereka miliki kepada Pak Doni, menjelaskan rencana jahat Leo yang mengancam perusahaan Ravendra.
Matahari sudah mulai tenggelam di cakrawala, meninggalkan jejak jingga dan ungu di langit kota yang sibuk. Di dalam ruang rapat perusahaan Alfonsa, suasana tegang seakan tertangkap di udara. Meja panjang di tengah ruangan terhampar dengan rapi, dan kursi-kursi di sekitarnya kosong menunggu kedatangan mereka.
Azura duduk dengan tegap di sebelah Ravendra. Dia merasakan detak jantungnya yang cepat. Di seberang mereka, Pak Doni duduk dengan penuh otoritas, wajahnya yang keriput menunjukkan berbagai pengalaman hidup.
Tim keamanan dan tim hukum yang dipimpin oleh Bima juga hadir, siap untuk membantu mengungkap rencana jahat Leo dan melindungi perusahaan dari ancamannya.
Pak Doni menatap mereka dengan tajam, "Baiklah, mari kita mulai. Saya ingin mendengar apa yang kalian miliki."
Ravendra mengambil napas dalam-dalam, "Kami telah mengumpulkan bukti-bukti yang mengindikasikan bahwa Leo telah merencanakan untuk menghancurkan perusahaan ini. Dia memiliki rencana untuk mencuri aset-aset penting dan bahkan menghasut klien kita untuk beralih ke perusahaan Sentosa.
Pak Doni mengangkat alisnya, "Dan bukti apa yang kalian miliki?"
Bima mengambil kata, "Kami memiliki data-data dan dokumen yang menunjukkan percakapan dan rencana-rencana Leo. Ini adalah potongan-potongan puzzle yang mengungkap rencana jahatnya."
Pak Doni mengangguk perlahan, "Saya lihat ini adalah tuduhan serius. Apakah semua ini sudah diverifikasi?"
"Belum, Kakek. Ini semua baru pengumpulan bukti berdasarkan apa yang kita miliki dan kita duga. Semua bukti yang kita miliki mengindikasi bahwa Leo sedang berupaya untuk menghancurkan perusahaan Alfonsa." Azura menjelaskan.
__ADS_1
Pak Doni mendengarkan dengan serius, wajahnya yang keriput bertambah mengerut ketika menyadari hal jahat yang dilakukan oleh Leo. "Ini adalah hal yang sangat serius terhadap perusahaan kita," kata Pak Doni dengan suara bergetar.
Ravendra menambahkan, "Kakek, kami ingin mengambil tindakan segera untuk menghentikan rencana jahat Leo dan melindungi perusahaan kita."
Azura pun ikut memberikan pendapat, "Kakek, izinkan kami mengadakan rapat dengan para klien. Setahu kami, Leo melakukan cara yang licik dengan menghasut para klien dan ingin mengambilnya dari kita."
"Benar, Kek." Ravendra setuju. "Apalagi, perusahaan Wijaya yang juga perusahaan orang tuanya Azura, merupakan klien kita. Kita tidak bisa diam saja sampai semuanya hancur dan hilang kepercayaan pada perusahaan kita."
"Saya setuju, Sayang. Jangan sampai orang tuaku menjadi korban dan hilang kepercayaan. Aku takut, mereka bukan hanya akan menarik diri dari perusahaan saja, tapi juga aku takut mereka tidak akan membiarkan kita hidup bersama." Tambah Azura.
Pak Doni menyetujui rencana yang telah mereka susun. Bersama-sama, mereka mengatur langkah-langkah berikutnya, termasuk menghadapi Leo secara langsung dan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang jika diperlukan.
"Baiklah, Kakek menyetujui rencana kalian. Kakek serahkan segalanya kepada Ravendra dan juga Azura. Pesan Kakek, hati-hati terhadap apa yang akan kalian lakukan. Rencanakan dengan baik, semoga semua lancar. Amin." Pak Doni mengakhiri rapat.
Di kemudian hari, Azura dan Ravendra mengadakan rapat penting dengan para klien termasuk perusahaan Wijaya yang merupakan perusahaan orang tuanya Azura. Mereka membahas tentang rencana perusahaan Sentosa yang akan menghasut mereka sehingga mereka beralih ke perusahaan Sentosa dan meninggalkan perusahaan Alfonsa.
Azura dan Ravendra duduk di ujung meja, dengan Azura memandang wajah-wajah yang hadir dengan perasaan tegang. Dia tahu bahwa apa yang akan mereka ungkapkan dalam rapat ini akan memiliki dampak besar, terutama bagi perusahaan mereka.
Setelah sambutan awal, Ravendra memberi pengantar tentang tujuan rapat ini. "Saudara-saudara sekalian, terima kasih telah hadir di rapat ini. Kami memiliki berita penting yang ingin kami bagikan kepada kalian semua."
Semua mata terfokus pada mereka, menanti berita apa yang akan diungkapkan oleh Azura dan Ravendra.
Azura mengambil kata, "Kami memiliki informasi yang menunjukkan bahwa perusahaan Sentosa berencana untuk menghasut dan mengalihkan kalian, para klien kami, dari perusahaan kami, Alfonsa. Kami menghargai kerja sama yang telah terjalin selama ini dan ingin memastikan bahwa informasi ini mencapai kalian."
Suasana ruangan menjadi tegang. Para eksekutif dan pemimpin perusahaan saling pandang, tampaknya mereka sedang memproses informasi yang mereka terima.
Salah satu dari perusahaan yang hadir, perusahaan Wijaya, mengangkat tangan dan diberikan kesempatan berbicara. "Apakah ini benar, bahwa perusahaan Sentosa berusaha untuk merekrut kami? Bagaimana Anda bisa yakin akan hal ini?"
__ADS_1
Ravendra menjawab dengan tegas, "Kami memiliki bukti yang kuat yang menunjukkan rencana ini. Kami ingin transparan dan memberi tahu kalian semua tentang apa yang sedang terjadi di industri ini. Kami juga ingin mendengar pandangan dan keputusan kalian terkait situasi ini."
Diskusi pun dimulai. Para klien membahas berbagai aspek situasi ini, bertukar pandangan tentang rencana perusahaan Sentosa dan dampaknya terhadap perusahaan mereka masing-masing. Beberapa di antara mereka merasa khawatir dengan rencana ini, sedangkan yang lain mengutarakan ketidakpercayaan dan ingin memastikan kebenaran dari informasi yang diungkapkan oleh Azura dan Ravendra.
Azura dan Ravendra dengan sabar menjawab pertanyaan dan memberikan klarifikasi yang diperlukan. Mereka juga menegaskan kembali tekad mereka untuk terus bekerja sama dengan para klien dan menjaga hubungan yang sudah terjalin.
Setelah berdiskusi cukup lama, para klien akhirnya memutuskan untuk tetap berada di perusahaan Alfonsa. Mereka merasa bahwa transparansi dan kejujuran yang ditunjukkan oleh Azura dan Ravendra menguatkan keyakinan mereka terhadap perusahaan.
Rapat itu berakhir dengan suasana yang lebih ringan, dan banyak klien menyatakan apresiasi mereka terhadap Azura dan Ravendra karena telah membagikan informasi penting ini kepada mereka. Azura merasa lega bahwa langkah yang mereka ambil telah berhasil dan bahwa perusahaan mereka tetap mendapat dukungan dari para klien.
Setelah rapat berakhir, Azura dan Ravendra merasa bahwa mereka telah mengatasi ujian ini bersama-sama. Mereka melihat ke depan dengan optimisme dan tekad untuk terus membangun perusahaan mereka dan menghadapi tantangan yang datang dengan integritas dan keberanian.
Azura tidak menyia-nyiakan waktu pertemuan dengan ayahnya sebagai pelepas rindu. Azura memang jarang pulang untuk menemui kedua orang tuanya dikarenakan kesibukannya, tapi sesekali dia menghubungi mereka melalui telepon.
"Papa, apa kabar?" Azura memeluk Pak Raka. "Bagaimana dengan Mama? Azura sangat merindukan kalian."
"Kabar baik, Azura." Pak Raka membalas pelukannya. "Mama titip pesan juga, Azura cepat pulang tengok Mama, Mama rindu katanya."
"Jangan khawatir, Pa. Saya dan Azura akan pergi menengok Anda akhir pekan ini. Saya akan mengantar Azura." Ravendra yang dari tadi melihat Azura melepas rindu kepada ayahnya, merasa bersalah karena belum juga mengantar istrinya untuk bertemu kedua orang tuanya.
"Terimakasih, Sayang." Azura tersenyum.
"Baiklah, Papa harus pergi. Hari ini ada meeting perusahaan. Sampai jumpa nanti." Pak Raka pamit pulang.
"Sampai jumpa nanti, Pa. Hati-hati di jalan." Balas Azura.
Ravendra dan Azura pun pulang ke rumah dengan perasaan lega karena kini para klien sudah mempercayai mereka. Perusahaan Alfonsa saat ini aman, namun rencana Leo tidak berhenti di sana. Masih banyak rencananya untuk menghancurkan perusahaan Alfonsa.
__ADS_1
***