Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 4


__ADS_3

Di kemudian hari, Azura merasa terkejut karena Leo datang ke kamarnya. Dia tahu jika selama ini Azura tidak satu kamar dengan Ravendra. Makanya dia langsung masuk ke kamar Azura dan tanpa perasaan bersalah karena telah masuk begitu saja.


Azura tahu apa yang akan dilakukan Leo, dia tak berdaya pada waktu itu. Dia takut namun dia harus tetap tenang menghadapi situasi ini.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Azura berusaha terlihat tenang.


Leo mencoba meyakinkan Azura, "Azura, kau tahu betapa aku mencintaimu. Aku melakukan ini agar kau bisa bebas bersamaku, jauh dari perjodohan dan kewajiban sebagai istri Ravendra."


"Aku tidak akan pernah merugikan Ravendra atau hanya untuk menghindari perjodohan. Itu tidak benar! Aku tegaskan, aku sudah mencintai Ravendra," balas Azura dengan tegas.


Leo semakin frustrasi dengan penolakan Azura. "Kau bisa menjadi milikku, Azura. Kita bisa menjalani kehidupan yang bahagia bersama. Aku tahu kau juga mencintaiku."


"Aku menghargai persahabatan kita, Leo, tetapi cinta ini tidak sama dengan apa yang kurasakan untuk Ravendra. Aku mencintai Ravendra dengan tulus dan tidak akan pernah pergi darinya," tegas Azura.


Leo merasa marah dan kecewa, dia tidak bisa menerima penolakan ini. Dia merasa rencananya sudah gagal pada Ravendra dan juga Azura.


Sementara itu, di tempat lain, Ravendra dan Bima menyelesaikan perjalanan bisnis mereka dengan sukses. Mereka merasa senang karena dapat memperluas jaringan dan kesempatan untuk perusahaan.


Namun, ketika Ravendra kembali ke rumah, dia menyadari ada sesuatu yang ganjil. Didapatinya Leo memegang tangan Azura di kamar Azura hanya mereka berdua.


Ravendra terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia tak percaya jika Azura tega mengkhianati dirinya. Dia mengira Azura benar-benar mencintainya. Namun dia salah selama ini, Azura hanya mencintai Leo.


Azura yang melihat Ravendra mematung di pintu kamar, berusaha memberi pemahaman padanya. Ini semua tidak seperti yang dibayangkannya.


Azura terkejut melihat Ravendra berdiri di pintu kamar. Wajahnya penuh kebingungan dan kehancuran. Dia segera melepaskan genggaman tangan Leo dan mencoba menjelaskan situasi yang sebenarnya.


"Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya," ujar Azura dengan nada penuh penyesalan.

__ADS_1


Di saat Azura hendak menjelaskan, Leo pergi meninggalkan mereka berdua.


Ravendra masih shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Tolong jelaskan, Azura. Aku tak percaya apa yang kulihat."


"Aku... aku mencoba untuk memberitahumu sebelumnya, sayang. Leo mencintai aku, dan dia berusaha untuk meyakinkan agar aku bisa menjadi miliknya. Tapi aku menolak rencananya, aku tidak pernah mau ikut dengannya," terang Azura, tetes air mata mulai mengalir di wajahnya.


Ravendra merasa kebingungan dan marah pada saat yang bersamaan. Dia merasa dikhianati, dan cintanya pada Azura hancur berkeping-keping. Dia mengalami patah hati yang mendalam.


"Tapi apa yang kulihat di sini... kalian berdua begitu dekat," ucap Ravendra dengan suara gemetar.


"Aku minta maaf jika tindakanku salah, sayang," ujar Azura dengan penuh penyesalan. "Aku telah membiarkan perasaanku menguasai diriku waktu itu, tapi aku sadar itu tidak benar."


Ravendra merenungkan kata-kata Azura, mencoba memahami situasi yang rumit ini. Hatinya terombang-ambing antara amarah, kesedihan, dan keraguan.


"Aku butuh waktu untuk memproses semuanya," ucap Ravendra akhirnya dengan suara terguncang. "Tolong tinggalkan aku sejenak."


Akhirnya, Ravendra memutuskan untuk berbicara dengan Azura. Dia menemui Azura di taman, tempat mereka sering berdua menghabiskan waktu bersama.


"Azura, aku tahu bahwa kamu sudah mengakui kesalahan dan mencoba memperbaiki semuanya. Aku juga menyadari betapa aku mencintaimu, meski hatiku pernah hancur," ujar Ravendra dengan penuh perasaan.


Azura menatap Ravendra dengan air mata di matanya. "Aku minta maaf atas segala ketidaknyamanan yang telah kurasakan. Tapi kau harus tahu, cintaku untukmu adalah yang sejati. Leo adalah masa laluku, dan dia sudah pergi."


Ravendra menggenggam tangan Azura dengan lembut. "Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa membangun masa depan bersama dengan kejujuran dan kepercayaan. Aku memilih untuk memaafkanmu, Azura. Kita bisa memulai lagi dari awal, dengan perasaan yang lebih kuat dan saling mendukung."


Azura tersenyum bahagia, tetes air mata bahagia bergantian dengan tangis lega. Mereka berdua memeluk erat, merangkul masa depan yang belum terukir.


Leo, yang selama ini kabur akhirnya tertangkap juga. Ravendra ingin mengintrogasi dirinya, mengapa dia melakukan hal itu.

__ADS_1


Leo akhirnya ditangkap dan dibawa ke hadapan Ravendra untuk diinterogasi. Ravendra ingin tahu alasannya melakukan rencana tersebut dan mengapa dia berani memasuki kamar Azura.


"Dulu, aku merasa cemburu pada kebahagiaan yang kalian miliki, khususnya cinta Azura untukmu, Ravendra. Aku ingin dia menjadi milikku, dan itulah mengapa aku tergoda untuk melakukan hal buruk itu," akui Leo dengan suara tertekan.


Padahal, Leo merencanakan hal lain, lebih dari itu. Dia ingin menghancurkan perusahaan Ravendra dengan mendekati Azura.


Ravendra mendengarkan dengan seksama dan mencoba memahami perasaan Leo, meskipun dia tidak bisa menyetujui tindakannya yang salah.


"Cemburu adalah hal yang manusiawi, tetapi itu tidak boleh mendorong kita untuk melakukan tindakan jahat. Aku berharap kau bisa belajar dari kesalahan ini, Leo."


Ravendra yang tidak mengetahui rencana jahat Leo yang sebenarnya, terlihat polos. Dia mengira jika Leo hanya cemburu pada kebahagiaannya bersama Azura saat ini.


Berbeda dengan Ravendra yang sudah percaya dan memaafkan Azura, Bima kini lebih waspada terhadap Azura. Leo berada di dalam kamar berdua dengannya merupakan hal yang sangat mencurigakan.


Azura semakin baik terhadap Ravendra. Kini dia menawarkan untuk satu kamar dengannya. Hal itu membuat Ravendra semakin bahagia.


Sementara itu, Bima masih merasa curiga terhadap Azura meskipun Ravendra telah memaafkannya. Melihat Azura semakin baik pada Ravendra dan menawarkan untuk satu kamar dengannya, Bima merasa semakin khawatir.


Dia memutuskan untuk berbicara dengan Ravendra dalam hati-hati. "Ravendra, aku tahu kau mencintai Azura, tapi setelah apa yang terjadi, aku merasa perlu memberitahumu untuk lebih waspada."


Ravendra menatap Bima dengan heran. "Apa maksudmu, Bima?"


Bima mengungkapkan kekhawatirannya, "Aku takut Azura masih menyembunyikan sesuatu darimu. Dia sudah berubah dan lebih baik padamu, tapi itu bisa saja karena dia berusaha menyembunyikan rencana buruknya."


Ravendra terlihat ragu, tetapi dia juga mengerti bahwa Bima hanya mencoba melindunginya. "Terima kasih, Bima. Aku akan tetap waspada dan berusaha memahami perasaannya."


Beberapa minggu berlalu, Azura semakin baik dan perhatian pada Ravendra. Dia berusaha membuktikan bahwa perasaannya untuk Ravendra adalah tulus dan bahwa dia tidak punya rencana jahat lain.

__ADS_1


Ravendra merasa senang dengan perubahan Azura. Dia merasa cintanya pada Azura semakin tumbuh dan dia memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua pada pernikahan mereka.


__ADS_2