Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 2


__ADS_3

Teringat jelas dalam benak Azura di mana dia memperlakukan Ravendra dengan seenak hati hanya karena dia dijodohkan oleh orang tuanya. Dia bersumpah tidak akan pernah mencintai Ravendra sampai kapan pun. Dari semenjak awal Azura memang tidak menyetujui perjodohan yang telah direncanakan oleh kedua keluarga.


Ya, bodohnya Azura yang telah menyia-nyiakan intan permata hanya demi sebongkah batu. Kini dia menyesal telah melakukan itu semua bahkan tega membunuh suaminya yang penyabar dan baik hati.


Ternyata pilihan orang tua tidak pernah salah, mereka mengetahui apa yang terbaik untuk anak mereka. Azura hanya telah digelapkan oleh cinta sesaat yang kini disesalinya.


Sekali lagi dia menatap dalam wajah Ravendra dalam-dalam. Hal ini membuat Ravendra salah tingkah.


"Ada apa dengan wajahku?" tanya Ravendra keheranan.


"Tidak, aku hanya ingin menatap wajah tampanmu," Jawab Azura tanpa mengalihkan pandangannya.


Seketika Bima yang sedang menyetir pun batuk tak jelas, dia keheranan dengan sikap Azura yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan sebelumnya. Yang Bima ingat, Azura sangatlah dingin pada Ravendra. Jangankan memuji, menyapa pun dia tidak pernah jika bukan Ravendra yang duluan menyapa.


"Sudah, aku malu." Wajah Ravendra memerah karena Azura terus menerus menatapnya tanpa berpaling sedikit pun.


Azura hanya tersenyum. 'Kenapa dari pertama bertemu dengannya aku tidak menyadari jika suamiku ini benar-benar tampan. Dia adalah sosok yang sempurna, aku selama ini buta.'


Setibanya di kantor, seluruh karyawan merasa aneh melihat Azura yang datang satu mobil bersama dengan Ravendra, tak biasanya. Mereka belum pernah datang ke kantor bersama, selalu saja datang dengan mobil mereka masing-masing.


Tentu saja hal ini membuat semua terheran-heran, ditambah lagi Azura yang mendadak ramah terhadap karyawan. Biasanya Azura tidak pernah menyapa karyawan, namun kali ini bahkan satpam pun ia sapa.


Hari-hari berlalu, kali ini Azura mulai merasakan perubahan dalam hatinya. Dia tak dapat lagi mengelak dari perasaan yang semakin tumbuh. Cinta, yang selama ini ia anggap sebagai kutukan, kini menjadi ujian berat baginya. Setiap kali bersama Ravendra, hatinya berdebar kencang, dan senyumnya melekat tanpa bisa ditahan.


Ravendra juga merasa keheranan dengan perubahan sikap Azura. Awalnya, dia yakin bahwa perjodohan ini tidak akan pernah berakhir bahagia, mengingat betapa dingin dan jauhnya Azura darinya. Namun, seiring berjalannya waktu, Azura menjadi semakin hangat dan perhatian padanya. Meskipun dia merasa senang, tetapi dia tidak bisa menghilangkan keraguan di hatinya.

__ADS_1


Pada suatu malam, ketika langit gelap, Azura merenung di tepi kolam. Hati dan pikirannya bergejolak. Di saat seperti inilah pikirannya mulai sibuk merencanakan apa yang akan dia lakukan. Dia ingin memperbaiki semuanya, ini adalah kesempatannya untuk menyelamatkan dirinya dan juga suaminya, Ravendra.


'Azura, cobalah untuk berpikir!' batin Azura, betapa kacau pikirannya itu.


Azura terdiam sejenak sebelum akhirnya membatin kembali. 'Aku mencintai Ravendra. Padahal, dulu aku begitu membenci perjodohan ini.'


'Namun sudah terlambat. Aku telah menyia-nyiakan waktu berharga dengan sikapku yang dulu begitu dingin. Kini, aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku padanya.'


'Mungkin aku perlu memberikan kesempatan pada diriku sendiri. Aku akan mencoba menyampaikan perasaanku pada Ravendra, siapa tahu dia merasakan hal yang sama. Kita berdua harus bicara terbuka.'


Azura menghela nafas berat. Batinnya memang benar. Dia harus memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Ravendra. Tidak ada jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi dia tidak ingin menyesali lagi karena keputusan yang dia ambil.


Keesokan harinya, Azura mencari kesempatan untuk berbicara dengan Ravendra. Dia menemui Ravendra di taman, di bawah dedaunan yang rindang.


Ravendra menoleh padanya dengan penuh perhatian. "Katakan saja, Azura."


Azura menelan ludah, mencoba menenangkan diri. "Aku... Aku ingin berterus terang. Dulu, aku benar-benar membenci perjodohan ini dan bahkan memperlakukanmu dengan buruk. Tapi seiring berjalannya waktu, perasaanku berubah. Aku mencintaimu, Ravendra."


Terdengar keheningan di antara mereka. Ravendra terlihat terkejut, namun dia tidak marah. Dia tersenyum lembut.


"Azura, aku tidak berharap kau mencintaiku dengan tulus. Tetapi aku senang kau berani mengungkapkannya sekarang," ucap Ravendra.


"Aku minta maaf atas sikapku yang dulu, Ravendra. Aku tahu aku tidak bisa mengembalikan waktu, tetapi aku ingin mencoba memperbaikinya. Aku ingin memberikan kesempatan pada perasaan ini," ujar Azura, air matanya berlinang.


Ravendra mendekati Azura dan memegang tangannya dengan lembut. "Kita tidak bisa mengubah masa lalu, Azura. Tetapi kita bisa memulai kembali dari sekarang. Aku pun telah merasakan perubahan dalam hatiku. Aku juga mencintaimu."

__ADS_1


Dalam momen penuh kebahagiaan itu, Azura dan Ravendra menyadari bahwa cinta sejati tidak pernah terlambat. Mereka memutuskan untuk menghadapi segala rintangan bersama dan membuktikan bahwa perjodohan mereka tidaklah salah.


Bima yang melihat dari kejauhan merasa heran dengan perubahan sikap Azura. 'Apa yang sedang direncanakan Azura? Apakah dia berencana menghancurkan Ravendra demi Leo?' Bima membatin dalam dirinya.


Selama ini Bima mengetahui jika Leo terus menerus mendekati Azura. Dan respon Azura pun baik terhadap diri Leo. Namun Bima tidak mengetahui hubungan Azura yang sudah terlalu jauh dengan Leo.


Sementara itu, Azura tidak menyadari bahwa Bima mencurigai rencananya. Dia memang telah dekat dengan Leo, tetapi saat ini dia bukanlah Azura yang dulu, Azura yang bodoh yang telah dibutakan oleh cinta. Pada awalnya, hubungan mereka hanyalah sebagai teman, dan Leo adalah orang yang selalu mendengarkan keluh kesah Azura tentang perasaannya terhadap Ravendra.


Leo adalah sahabat sejati bagi Azura, dan dia tahu betapa sulitnya bagi Azura untuk menjalani hidup dengan Ravendra. Leo selalu memberikan dukungan dan nasehat yang bijaksana, namun Azura tidak mengetahui rencana dibalik kebaikannya itu.


Kini, setelah Azura mengetahui niat busuk Leo, sudah saatnya bagi dia untuk membalas dendam. Sakit hatinya dipermainkan, akan dibalasnya.


Suatu hari, Azura mengajak Leo untuk bertemu di sebuah cafe. Ketika mereka sedang duduk di cafe, Azura merasa perlu memberitahukan sesuatu padanya.


"Leo, aku pernah merasa sangat bingung tentang perjodohan ini," ucap Azura dengan jujur.


"Tapi kini, hatiku sudah menemukan kedamaian dengan Ravendra. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti kamu yang selalu ada untukku."


Leo tersenyum tipis, sekaligus heran dengan perubahan sikap Azura. "Aku senang kau bahagia, Azura. Itulah yang selalu aku inginkan, melihatmu tersenyum."


Namun, rencana yang selama ini direncanakan Leo hancur setelah mendengar berita ini. Dia mencoba berpikir bagaimana caranya supaya Azura bisa berpaling padanya.


Sementara itu, Bima yang mengetahui Azura yang akan menemui Leo, membuntuti Azura dan merasa semakin waspada. Dia menyaksikan betapa dekatnya Azura dengan Leo, dan itu membuatnya curiga. Dia mendekati Ravendra dan bercerita tentang kekhawatirannya.


"Ravendra, aku tidak yakin apa yang sedang direncanakan Azura. Sepertinya dia sangat dekat dengan Leo, dan aku takut ada sesuatu yang terjadi di antara mereka."

__ADS_1


__ADS_2