
Setibanya di rumah, Ravendra ternyata sudah tiba terlebih dahulu. Dia sedang duduk di ruang keluarga menunggu Azura. Dia penasaran, kemudian dia menanyakan kegiatan Azura hari ini.
Ravendra mendongak saat pintu rumah terbuka, mengungkap sosok Azura yang memasuki rumah dengan senyuman lembut. Dia bangkit dari kursinya dan mendekati Azura dengan hangat.
"Azura, bagaimana harimu?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Azura melemparkan senyumnya pada Ravendra, berusaha menenangkan hatinya yang masih dipenuhi dengan percakapan bersama Lita tadi. "Hari ini sangat baik, Sayang. Aku bertemu dengan Lita, sahabat lama, dan kami menghabiskan waktu di cafe. Kamu masih ingat Lita?"
Ravendra seperti berusaha mengingat Lita di dalam ingatannya. Dia terlihat sedikit lupa, kemudian Azura mengingatkan kejadian pada saat pesta makan malam pernikahan mereka. Lita mengenalkan diri pada Ravendra jika dia adalah sahabat baiknya.
Ravendra memandang Azura dengan sedikit kebingungan ketika dia mulai mengingatkan tentang pesta makan malam pernikahan mereka. Azura mencoba menceritakan momen itu.
"Ingat, Sayang? Di pesta makan malam pernikahan kita, Lita datang mengenalkan diri sebagai sahabat baikku. Kau bilang kau senang bisa kenal dengan semua orang yang dekat denganku," ucap Azura sambil tersenyum manis.
Ravendra mengangguk perlahan, wajahnya tampak sedikit terbuka oleh kenangan itu. "Ah, ya. Sekarang aku ingat. Lita, sahabat baikmu. Dia sepertinya sangat bersemangat pada waktu itu."
Azura mencoba untuk tidak memperlihatkan bahwa kenangan tentang Lita masih membuatnya merasa gelisah. Dia ingin memberikan kesan bahwa semuanya baik-baik saja di antara mereka berdua, meskipun di dalam hatinya ada rahasia yang belum terungkap.
Azura penasaran dengan apa yang Ravendra dan Lita bicarakan saat itu, mereka terlihat akrab meskipun mereka baru saja bertemu. Kini dia memiliki kesempatan untuk menanyakan hal itu pada Ravendra.
Saat momen yang tepat tiba, Azura memutuskan untuk mengajukan pertanyaan yang sudah lama mengganjal hatinya. Mereka duduk bersama di ruang keluarga, suasana yang santai membuat Azura merasa nyaman untuk mengutarakan ingatannya.
"Sayang, boleh aku bertanya tentang sesuatu?" tanya Azura dengan wajah polos, namun hatinya berdebar-debar.
Ravendra tersenyum ramah. "Tentu saja, Azura. Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Azura menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Saat pesta makan malam pernikahan kita, aku melihat kamu dan Lita berbicara dengan begitu akrab. Apa yang kalian bicarakan?"
Ravendra mengernyitkan dahi sejenak, seolah mencoba mengingat kembali momen itu. "Oh, itu. Kami hanya berbincang-bincang tentang beberapa topik umum, seperti hobi dan minat Lita. Kami juga membicarakan tentang pekerjaan dan bagaimana aku merencanakan masa depan bersamamu."
Meskipun jawaban Ravendra terdengar masuk akal, Azura merasa ada sesuatu yang disembunyikannya. Namun, dia memutuskan untuk tidak mendalami pertanyaannya lebih jauh. "Ah, begitu ya. Aku hanya penasaran saja. Terima kasih sudah menjawabnya."
Ravendra tersenyum lembut. "Tidak perlu terlalu khawatir tentang itu, Sayang. Yang penting, kita berdua bahagia bersama sekarang."
Azura masih penasaran karena saat itu dia melihat Lita seperti sedang kesal terhadap Ravendra. Pada saat itu dia tidak begitu mempermasalahkan karena dia tidak peduli dengan siapa pun yang berbicara pada Ravendra. Namun setelah diingat-ingat dengan jelas, kini dia merasa penasaran.
Penasaran yang Azura rasakan semakin membuat hatinya tidak tenang. Meskipun dia telah mendapatkan jawaban dari Ravendra, tetap saja ada keraguan yang mengganggu pikirannya. Dia merasa ada yang tidak sesuai dengan respons Ravendra, terutama karena ekspresi Lita yang terlihat kesal.
Azura masih merenungkan tentang peristiwa itu. Dia merasa bahwa jawaban Ravendra tidak sepenuhnya memuaskan rasa ingin tahunya. Meskipun dia tidak ingin mengambil risiko dalam hubungannya dengan Ravendra, keingintahuannya semakin mendesak.
Azura teringat kala itu di pesta makan malam pernikahan dirinya bersama Ravendra. Pesta makan malam pernikahan mereka berlangsung dalam nuansa mewah di ruang balai besar di dalam hotel bintang lima. Ruangan tersebut dihiasi dengan penuh kemewahan, cahaya lampu gantung kristal yang gemerlap, dan meja-meja putih yang panjang dengan taplak meja sutra.
Tamu-tamu yang hadir memakai pakaian resmi, gaun malam untuk wanita dan jas yang elegan untuk pria. Mereka berjejer di sekitar meja panjang yang telah disiapkan dengan perlahan-lahan, sambil menikmati minuman ringan dan makanan pembuka yang disajikan oleh pelayan-pelayan berpakaian serba putih.
Di latar belakang, sebuah panggung besar dipersiapkan untuk pertunjukan musik live. Sebuah grup band dengan musisi-musisi berbakat menghibur para tamu dengan lagu-lagu romantis yang memadukan melodi indah dan lirik puitis.
Tepat di tengah ruangan, meja utama diletakkan untuk Azura dan Ravendra. Meja ini dihiasi dengan bunga-bunga segar dan lilin-lilin wangi yang menciptakan atmosfer yang lebih intim. Mereka berdua duduk di sana, tersenyum dan berbicara dengan tamu-tamu yang datang mengucapkan selamat.
Menu makan malamnya terdiri dari hidangan-hidangan gourmet yang lezat, mulai dari hidangan pembuka yang ringan hingga hidangan penutup yang manis. Sommelier hotel juga menyajikan berbagai pilihan anggur terbaik untuk melengkapi hidangan makan malam yang elegan.
Dalam suasana yang penuh gemerlap dan romantis, pesta makan malam pernikahan Azura dan Ravendra menjadi kenangan yang membahagiakan dan tak terlupakan bagi Ravendra dan semua tamu yang hadir, namun tidak untuk Azura. Azura dengan senyuman terpaksanya berusaha untuk terlihat bahagia.
Azura tampil memukau dalam gaun pengantin yang dirancang khusus oleh desainer terkenal. Gaunnya terbuat dari satin putih murni yang mengalir mulus hingga ke lantai. Gaun ini memiliki potongan A-line yang mengikuti lekuk tubuhnya dengan elegan. Bagian belakang gaunnya dihiasi dengan renda berwarna putih dengan motif bunga yang indah, memberikan sentuhan romantis.
Dengan sejumput payet dan manik yang bersinar di sepanjang gaunnya, Azura tampak begitu mempesona. Gaun ini memiliki kerah V yang rendah, memberikan sentuhan keanggunan, dan lengan panjang yang terbuat dari tulle tipis dengan aplikasi renda yang sama.
Untuk aksesori, Azura memakai mahkota cantik dengan berlian dan veil panjang yang mengalir indah dari mahkotanya. Dia juga mengenakan kalung dan anting-anting berlian yang indah, hadiah dari Ravendra sebagai simbol cintanya.
Sementara itu, Ravendra tampil sangat tampan dalam jas malam yang elegan. Jasnya berwarna hitam, terbuat dari bahan berkualitas tinggi dengan potongan yang sempurna. Kemeja putih dengan manset berlapis memberikan sentuhan klasik, dan dia mengenakan dasi kupu-kupu hitam yang cocok dengan jasnya.
Rambutnya disisir rapi dan wajahnya bersinar dengan senyuman bahagia saat dia berdiri di samping Azura. Dia juga mengenakan pin mawar putih di kerah jasnya sebagai simbol cinta dan pernikahan mereka.
Kedua mempelai tersebut benar-benar terlihat seperti pasangan yang serasi dan mempesona dalam pakaian pernikahan mereka, menciptakan penampilan yang tak terlupakan di hari istimewa mereka.
Bu Dewi, ibu Azura, mengenakan gaun malam yang elegan dengan warna biru tua yang cocok dengan suasana pernikahan. Gaunnya terbuat dari satin dengan potongan A-line yang memberikan tampilan anggun. Gaun tersebut memiliki detail renda di bagian bahu dan pergelangan tangan, menambahkan sentuhan feminin. Ia memadukannya dengan kalung berlian dan anting-anting yang memberikan kilauan mewah. Rambutnya diurai panjang dengan gaya yang sederhana, dan wajahnya memancarkan kebahagiaan saat melihat putrinya menikah.
Pak Raka, ayah Azura, tampil dengan jas hitam yang sangat rapi. Jasnya cocok dengan gaya klasik, dan dia mengenakan dasi sutra yang cocok dengan warna gaun Bu Dewi. Ia terlihat gagah dalam jasnya, dengan senyuman bangga saat melihat Azura memasuki ruangan sebagai pengantin.
Pak Doni, kakek Ravendra, adalah seorang pria tua yang tetap terlihat elegan. Ia mengenakan jas hitam dengan dasi yang cocok, menunjukkan rasa hormatnya terhadap pernikahan cucunya. Meskipun usianya sudah lanjut, ia tetap memiliki sikap yang tenang dan bijaksana, memberikan dukungan dan berkatnya untuk Azura dan Ravendra.
Ketiganya membentuk keluarga yang harmonis dan penuh kasih, memberikan dukungan dan kebahagiaan pada momen istimewa pernikahan Azura dan Ravendra.
Di pesta tersebut hadir pula Leo. Dia tampil memukau dengan penampilannya yang gagah dan tampan. Dia mengenakan jas malam berwarna hitam yang sempurna dipadukan dengan kemeja putih yang elegan. Jasnya memiliki potongan yang pas, menunjukkan gaya yang modern dan stylish.
Dasinya, meskipun hitam, memiliki pola yang sedikit berbeda, memberikan sentuhan keunikan pada penampilannya. Rambutnya disisir rapi dan wajahnya bersinar dengan percaya diri saat ia berdiri di antara tamu-tamu pesta pernikahan.
Leo juga membawa aura kepercayaan diri dan kehangatan dalam suasana pernikahan tersebut. Penampilannya yang memesona dan sikapnya yang ramah membuatnya menjadi salah satu tamu yang sangat dinantikan dan disambut dengan hangat oleh semua orang di pesta.
Lita tiba dengan penampilan yang sangat memesona, meskipun agak terlambat karena urusan yang harus dikerjakannya. Dia mengenakan gaun malam berwarna merah menyala yang sangat seksi. Gaunnya memiliki potongan tubuh yang ketat yang menonjolkan lengkungan tubuhnya yang indah.
Dengan belahan dada rendah dan punggung terbuka, gaun Lita memanggil perhatian semua mata yang hadir di pesta. Rambutnya diatur dengan indah, dan make-upnya sangat berkilauan, menambah kesan glamor pada penampilannya.
Lita menarik perhatian dari para tamu pria yang tak bisa menghindari pandangan terpesona pada penampilannya yang menggoda. Meskipun penampilannya sangat menarik, Lita adalah seorang wanita yang percaya diri dan tahu bagaimana menjalani diri dengan anggun.
Kehadirannya yang menggoda di pesta pernikahan tersebut menambah elemen kejutan dan ketegangan dalam suasana yang sejatinya penuh dengan kebahagiaan.
Lita dengan senyuman tulus menghampiri Azura dan Ravendra setelah tiba di pesta makan malam pernikahan. Dia memberi selamat kepada mereka dengan penuh keramahan, "Selamat, Azura dan Ravendra! Semoga kalian berdua selalu bahagia dalam perjalanan indah ini."
Sambutan hangat dari Lita menyiratkan bahwa dia benar-benar ingin yang terbaik untuk pasangan ini di hari istimewa mereka. Azura dan Ravendra menghargai ucapan selamatnya, dan suasana pesta semakin hangat dengan kehadiran Lita yang mendukung.
Di saat para tamu menyantap makan malam dan menikmati alunan musik, Ravendra mengajak Azura berkeliling untuk menyapa para tamu. Namun Azura menolaknya dengan alasan lelah. Pada akhirnya, Ravendra pergi sendiri menemui para tamu undangan.
Ravendra menghormati keputusan Azura yang ingin beristirahat, meskipun dia sedikit kecewa karena tidak bisa berkeliling bersama. Dengan senyuman, dia menjelaskan pada Azura bahwa dia akan segera kembali setelah berbicara dengan tamu-tamu undangan.
Ravendra tersenyum, "Azura, aku mengerti jika kamu ingin istirahat sebentar. Aku akan segera kembali setelah berbicara dengan tamu-tamu undangan, ya?"
Azura membalas dengan nada cuek, "Baiklah, lakukan apa yang kamu mau."
Ravendra merasa ada ketegangan, "Azura, apa ada yang mengganggu kamu? Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Azura menjawab singkat, "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Ravendra."
Ravendra merasa khawatir, "Baiklah, kalau begitu. Aku akan segera kembali."
Azura tidak menjawab, hanya mengangguk sekilas.
Ravendra merasa ada ketegangan di antara mereka, tetapi dia memilih untuk menghormati keputusan Azura dan pergi menyapa para tamu undangan. Azura tetap bersikap cuek, dan merasa ingin pestanya cepat-cepat selesai.
Ravendra dengan ramah berjalan dari satu meja ke meja lainnya, menyapa para tamu undangan dengan senyum hangat dan ramah. Dia berbicara dengan keluarga dekat, teman-teman lama, dan bahkan para klien yang hadir dalam pesta pernikahan tersebut.
__ADS_1
Saat berbicara dengan para klien, Ravendra tidak hanya membicarakan bisnis, tetapi juga menciptakan momen yang santai dan penuh tawa. Dia sangat menghargai kehadiran mereka dalam pernikahannya, dan hal ini menciptakan ikatan yang lebih kuat antara mereka di luar urusan bisnis.
Ravendra berusaha memberikan perhatian yang setara kepada semua tamu, memastikan bahwa mereka merasa diterima dan dihargai dalam momen istimewa ini. Semua itu menjadi bagian dari pengalaman pesta makan malam pernikahan yang tak terlupakan bagi semua yang hadir.
Ravendra pun berjalan sendiri untuk menyapa para tamu. Dia dengan ramah mendengarkan cerita dan ucapan selamat dari mereka, menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri pada kerabat dan teman-teman mereka yang hadir di pernikahan tersebut.
Sementara Azura menikmati sendiri waktu istirahatnya, dia melihat Ravendra menyapa para tamu undangan dari meja ke meja. Hingga akhirnya tiba di meja tempat di mana Lita duduk.
Lita tersenyum pada Ravendra, begitu pun Ravendra, dia membalas senyuman Lita. Ravendra berbincang-bincang sedikit lebih lama dibandingkan dengan para tamu undangan lainnya. Dan pada saat itu Azura melihat hal yang tidak biasanya, wajah Lita terlihat kesal setelah Ravendra berbicara. Azura tidak dapat mengetahui apa yang mereka bicarakan karena jauh dari tempat duduknya, namun dirinya pada akhirnya tidak menghiraukannya.
Kini, Azura teringat kembali peristiwa itu. Akhirnya, Azura memutuskan untuk menanyakannya lagi dengan Ravendra. Mereka masih duduk bersama di sofa, suasana senja yang tenang membuat Azura merasa cukup nyaman untuk bertanya.
"Sayang," ucap Azura perlahan, "aku tahu aku mungkin terdengar agak aneh, tapi aku masih penasaran dengan percakapanmu dan Lita saat itu."
Ravendra menatapnya dengan ekspresi penuh perhatian. "Apa yang membuatmu masih terus memikirkan hal itu?"
Azura menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum menjawab, "Aku melihat Lita terlihat kesal saat itu. Rasanya jawabanmu tidak sepenuhnya menjelaskan situasi itu. Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?"
Ravendra menghela napas dalam-dalam, seolah mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan itu. "Baiklah, aku akan jujur. Saat itu Lita memang sempat mengungkapkan beberapa kekhawatiran tentang pernikahan kita. Dia ingin tahu apakah aku benar-benar mencintaimu atau hanya terjebak dalam perjodohan ini."
Azura merasa dadanya terasa berat mendengar pengakuan itu. "Lalu, apa yang kamu jawab?"
Ravendra memegang tangan Azura dengan lembut. "Aku mengatakan padanya bahwa aku memang awalnya ragu, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa koneksi yang lebih dalam denganmu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik bersamamu."
Azura merenung sejenak, memproses kata-kata Ravendra. Meskipun masih ada keraguan dalam hatinya, dia merasa lega setidaknya mendengar penjelasan itu. "Aku mengerti," kata Azura akhirnya. "Terima kasih sudah jujur dengan aku."
Ravendra tersenyum. "Kamu tahu bahwa kamu bisa selalu bertanya tentang apapun, bukan? Aku ingin kita bisa membangun kepercayaan yang kokoh di antara kita."
Meskipun masih ada sebagian keraguan yang ada dalam pikiran Azura, dia merasa lebih dekat dengan Ravendra setelah percakapan itu. Dia berharap dengan waktu, semua keraguan dan ketidakpastian itu bisa mereda, dan mereka bisa memiliki hubungan yang lebih kuat dan tulus.
Sejujurnya Azura tidak puas dengan jawaban Ravendra. Sepertinya ada hal yang Ravendra dan Lita tutup-tutupi darinya. Dilihat dari ekspresi Lita saat itu, sangat jelas jika raut wajah Lita menggambarkan rasa kecewa dan kesal. Namun, Azura berusaha untuk melupakan hal itu karena kini dia sudah bahagia bersama Ravendra.
Azura tidak ingin membebani Ravendra dengan pertanyaannya yang tidak penting. Dia teringat ketika dirinya begitu cuek dan bersikap kejam pada Ravendra di hari pertama dirinya memasuki rumah Ravendra.
Kala itu, Azura memasuki rumah yang akan menjadi rumah barunya setelah pernikahannya dengan Ravendra. Ia tidak bisa menyembunyikan ketidaknyamanannya saat melihat Ravendra yang ada di sana.
Ravendra tersenyum, "Selamat datang, Azura. Mari masuk."
Azura hanya mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa. Matanya menatap sekeliling dengan dingin, tanpa ada senyum di bibirnya. Seakan-akan rumah ini adalah tempat yang asing baginya.
Ravendra mencoba memulai percakapan, "Bagaimana perjalananmu ke sini?"
Azura menjawab singkat, "Baik."
Suasana hening pun kembali mengisi ruangan. Azura sibuk menjelajahi ruangan tanpa sepatah kata pun. Sikapnya yang cuek dan dingin menciptakan ketegangan di antara mereka, dan entah bagaimana, mereka harus menemukan cara untuk meredakannya.
Azura akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan keinginannya untuk memiliki kamar sendiri kepada Ravendra, meskipun dengan nada dingin yang khas.
Azura bersikap cuek, "Aku ingin memiliki kamar sendiri."
Ravendra merasa agak terkejut oleh permintaan itu, tetapi dia mencoba mengakomodasi keinginan Azura, "Tentu, Azura. Kamu bisa memiliki kamar yang kamu inginkan."
Azura hanya mengangguk, tanpa kata-kata lebih lanjut. Ia tidak ingin berdebat lebih lanjut, tetapi satu hal yang pasti, ia merasa bahwa memiliki ruang pribadi adalah suatu keharusan untuk menjaga jarak dengan Ravendra, setidaknya pada awal pernikahan mereka.
Ravendra membawa Azura ke kamar mewah di lantai dua, yang seharusnya menjadi kamar pengantin pada malam pertama mereka. Kamar itu dipenuhi dengan nuansa romantis, bunga-bunga segar, dan suasana yang begitu intim.
Azura hanya melihat sekeliling tanpa banyak ekspresi. Ini mungkin adalah kamar yang sangat indah, tetapi bagi Azura, semuanya terasa begitu tidak nyaman.
Ravendra mengangguk dengan setuju, "Tentu, Azura. Jika kamu membutuhkan sesuatu, cukup beri tahu aku."
Azura memasuki kamar dengan hati-hati, mencoba untuk merasakan kenyamanannya di tempat yang begitu asing baginya, tetapi hatinya tetap berat.
Kamar pengantin itu adalah surga bagi pengantin baru yang saling mencintai, namun tidak untuk Azura. Terletak di lantai dua dengan pintu kayu yang berukir dengan cantik. Begitu pintu dibuka, mata Azura dihujani dengan kemewahan dan keanggunan.
Warna-warna lembut dan klasik mendominasi dekorasi kamar itu. Dindingnya dilapisi dengan kain sutra putih bersih yang mengalir lembut, menciptakan nuansa kesucian dan kemurnian. Dari langit-langit tergantung gantungan lampu kristal yang memancarkan cahaya gemerlap yang menambah sentuhan kemewahan.
Pada sisi kamar, terdapat jendela-jendela besar yang terbuka lebar, memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam dan memberikan pandangan indah ke luar, di mana taman yang dirawat dengan apik membentang. Di dekat jendela, terdapat meja yang dihiasi dengan bunga-bunga segar yang harum.
Tempat tidur adalah pusat perhatian kamar. Itu adalah tempat tidur yang besar, dengan selimut sutra dan bantal-bantal empuk yang memanggil untuk beristirahat. Dinding di belakang tempat tidur dihiasi dengan panel kayu yang elegan, dengan lukisan seni yang indah.
Kamar mandi pribadi yang terpisah dengan ubin marmer. Aromanya yang segar dan kelembapan yang menyegarkan mengundang untuk waktu santai.
Meskipun semua kemewahan itu ada di depan mata, Azura merasa dirinya seperti seorang asing di dalamnya. Kamar ini mungkin mewah, tetapi kenyataannya, hatinya sangat sedih.
Azura bersiap-siap untuk mandi, membersihkan dirinya dari keringat dan debu yang menempel pada tubuhnya. Azura memasuki kamar mandi, membiarkan air hangat mengalir di tangannya. Di dalam kamar mandi yang mewah itu, ia merasa sedikit lebih tenang.
Ia melepaskan gaun pernikahan yang membuatnya merasa terkekang sepanjang hari itu. Satu persatu, pakaian itu terjatuh ke lantai, mengungkapkan kulitnya yang lelah setelah pernikahan yang melelahkan. Azura membiarkan air mengalir melalui rambut panjangnya yang terurai, merasa keringat dan debu yang menempel pada tubuhnya hilang satu per satu.
Sentuhan air hangat itu memijat otot-otot yang tegang, dan Azura merasakan ketegangan dalam dirinya sedikit meredakan. Ia merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri di bawah pancuran mandi ini, di dalam keintiman kamar mandi yang mewah ini.
Setelah selesai mandi, Azura merasa lebih segar dan siap untuk berpakaian. Dengan sehelai handuk putih yang menempel padanya, dia menuju lemari pakaian untuk mengambil baju tidur yang telah disiapkan untuk pengantin baru.
Namun, seketika saja dia dikagetkan oleh pintu yang tiba-tiba saja terbuka...
"RAVENDRA, mau apa kau ke sini?" ucap Azura dengan nada tegas, mencoba menutupi ketidaknyamanannya.
Azura sangat kaget dengan kemunculan Ravendra yang secara tiba-tiba. Kini Ravendra berada tepat di depan Azura, terpaku oleh keindahan tubuh Azura yang hanya berbalut handuk yang sangat minim.
Ravendra, yang juga terkejut, berusaha menjelaskan, "Maaf, Azura, aku hanya ingin tahu apakah kamu baik-baik saja."
Namun, pandangan mereka bertemu, dan Ravendra terpaku oleh kecantikan dan keindahan tubuh Azura yang hanya terbalut oleh handuk putih tipis. Mata mereka bertautan, dan suasana di kamar itu menjadi semakin tegang. Azura merasa terpapar dan rentan dalam situasi ini.
Situasi yang semakin tegang membuat Azura semakin tak nyaman. Dia merasa dirinya terjebak dalam keterlibatan yang tidak diinginkannya. Dengan cepat, dia berusaha untuk merapatkan handuknya dan mempertahankan sejumput privasinya.
Azura dengan tegas mengucapkan, "Ravendra, ini adalah kamar pribadi milikku. Kamu harus menghormati privasiku."
Ravendra segera menyadari kesalahannya, tersadar. Wajahnya memerah akibat kebingungan dan rasa malu.
Tatapan mereka terus berlangsung, intens dan penuh ketegangan. Keduanya terdiam, tidak bisa mengalihkan pandangan mereka satu sama lain. Di antara mereka, ada perasaan yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Dalam detik-detik yang terasa seperti berjam-jam, Azura merasa berdebar-debar. Tatapan itu seolah-olah menyentuh jiwanya, menciptakan hubungan yang aneh di antara mereka, meskipun pernikahan mereka hanya baru berlangsung sehari.
Ravendra menatap kulit mulus Azura, ada keinginan dalam dirinya untuk menyentuh tubuhnya. Ravendra masih terpaku pada keindahan tubuh Azura yang hanya ditutupi oleh sehelai handuk tipis. Keinginan untuk menyentuhnya melintas dalam pikirannya, tetapi ia tahu betul bahwa ini bukan saat yang tepat.
Azura merasa tidak nyaman dengan tatapan Ravendra, namun entah mengapa, dirinya menyukai sensasi perasaan yang memacu adrenalinnya. Dan kini, Azura menikmatinya.
Dengan susah payah, Ravendra mencoba mengendalikan diri, menutup mata sebentar seolah berusaha mengusir pikiran-pikiran yang tidak pantas. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri karena berpikiran demikian dalam situasi yang sangat tidak tepat.
Setelah sejenak yang terasa seperti keabadian, Ravendra mengalihkan pandangannya, mencoba untuk mengabaikan dorongan yang tidak pantas ini dan menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh. Dia akhirnya menelan ludah dan berusaha untuk mengalihkan perhatian. "Maafkan aku, Azura. Aku tidak bermaksud mengganggumu."
__ADS_1
Azura mengangguk singkat, walaupun ia merasa bingung, tercengang, dan juga merasakan sensasi luar biasa oleh momen yang baru saja terjadi.
"Maafkan aku, Azura. Hal ini tidak akan terulang lagi," ucap Ravendra sambil berbalik pergi dari kamar itu dengan cepat.
Azura menunggu sampai pintu tertutup sebelum bernafas lega. Dia merasa kesal namun menyenangkan dengan insiden tersebut. Dalam hatinya, ia masih merasa sangat tidak nyaman dengan situasi perjodohan ini.
"Azura..." panggil Ravendra membuyarkan lamunan Azura.
Ravendra merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam ekspresi Azura.
"Apakah semuanya baik-baik saja, Azura? Kamu terlihat agak... banyak pikiran. Dan... bukannya Lita bersekongkol dengan Leo, kenapa kamu malah menemuinya?"
Azura menjelaskan pada Ravendra. "Iya, Sayang, ada sesuatu yang ingin aku ketahui. Apa maksud Lita menemui orang tuaku dan aku juga ingin tahu rencananya."
Ravendra berusaha santai, mengambil tempat duduknya di sofa. "Lalu, apa jawabannya?"
"Dia hanya rindu orang tuaku, begitu katanya. Tapi aku curiga dengan apa yang sedang dia rencanakan. Mudah-mudahan orang tuaku tidak mereka libatkan dalam rencana penghancuran perusahaan, cukup kita saja."
"Semoga, Azura. Kita berharap yang terbaik." Ravendra merasakan kekhawatiran Azura.
Azura merasa lega mendengar respons Ravendra yang penuh pengertian. "Terima kasih, Sayang. Aku tahu ini tidak mudah."
Ravendra tersenyum lembut dan meraih tangan Azura dengan lembut. "Kita akan menghadapi ini bersama, Azura. Kita akan mencari solusi yang terbaik untuk kita berdua."
Azura merasa beban di hatinya sedikit berkurang. Dalam tatapan hangat Ravendra, dia merasakan kepastian bahwa meskipun tantangan ini berat, mereka akan menghadapinya bersama-sama.
Kini Ravendra yang merasa penasaran, bagaimana Lita bisa bersekongkol dengan Leo. Setahu dirinya, Leo menyukai Azura tapi kenapa kini dia malah bersama Lita dan mengkhianati Azura.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak Ravendra semakin mengganggu pikirannya. Dia tidak bisa menghilangkan keraguan dan kebingungannya terkait situasi antara Lita, Leo, dan Azura. Setiap kali dia mencoba untuk fokus pada pekerjaan atau momen-momen bahagia bersama Azura, pikirannya selalu kembali pada misteri ini.
Ravendra merasa bahwa dia harus mencari jawaban yang lebih jelas. Dia merasa berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi, terutama karena keterlibatan Lita yang merupakan sahabat Azura. Dia merasa bahwa sudah waktunya untuk mengungkapkan keraguan dan kebingungannya kepada Azura. Dia merasa bahwa mereka berdua perlu membicarakan masalah ini dengan jujur, tanpa ada rahasia yang tersembunyi.
Ravendra mengambil napas dalam-dalam sebelum mengucapkan kata-katanya dengan lembut, "Azura, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan juga padamu. Aku ingin tahu tentang hubunganmu dengan Lita dan Leo."
Azura terkejut oleh pertanyaan itu, tetapi dia merasa bahwa saatnya telah tiba untuk mengungkapkan segalanya. Dia menjawab dengan jujur, "Sayang, aku tahu ini adalah momen yang sulit, tapi aku ingin memberitahumu semuanya."
Dia menceritakan tentang masa lalunya dengan Leo, bagaimana mereka memiliki hubungan yang dekat, dan bagaimana Leo merasa memiliki perasaan terhadapnya. Azura juga menjelaskan tentang saat-saat ketika dia merasa tertekan dan ingin mencari dukungan, yang akhirnya membawanya kembali bersama Leo.
Dengan hati yang bergetar, Azura memutuskan untuk berbicara terbuka kepada Ravendra tentang masa lalunya dengan Leo. Dia ingin memberikan gambaran lengkap kepada Ravendra, sekaligus menjelaskan perasaan dan pertimbangannya saat itu.
"Dulu, Sayang," Azura memulai dengan suara lembut, "aku memiliki hubungan yang dekat dengan Leo. Kami adalah teman baik dan sering berbagi segala hal. Namun, pada suatu titik, Leo mulai menunjukkan perasaan lebih dari sekadar persahabatan."
Dia mengenang bagaimana Leo perlahan-lahan membuka hatinya dan mengungkapkan perasaannya terhadapnya. Bagaimana dia merasakan rasa nyaman dan kebahagiaan dalam kehadiran Leo, terutama saat Azura merasa tertekan oleh berbagai hal.
"Ada saat-saat ketika aku merasa tertekan dan bingung, Sayang," kata Azura dengan isak. "Aku merasa kesepian dan ingin mencari dukungan. Leo ada di sana untukku, dia mendengarkan dan memberiku perhatian yang aku butuhkan pada saat itu."
Azura hanyut dalam lamunannya. Dia teringat dirinya sedang bersama Leo kala itu...
Azura duduk di cafe favoritnya, suasana cafe ini adalah perpaduan antara kehangatan dan ketenangan. Dinding-dindingnya dicat dengan warna-warna netral yang memberikan kesan yang tenang dan damai. Lampu-lampu gantung bercahaya lembut di langit-langit menciptakan cahaya yang menyenangkan di sepanjang ruangan.
Meja-meja kayu dengan kursi-kursi empuk tersusun rapi di sepanjang lantai, menciptakan suasana yang ramai tetapi tetap nyaman. Setiap meja dihiasi dengan vas bunga segar yang menambah sentuhan keindahan.
Aroma kopi segar dan aroma makanan yang lezat mengisi udara, mengundang selera semua yang hadir. Barista dengan seragam yang rapi sibuk mempersiapkan kopi dan minuman lainnya di balik meja kopi yang bersih.
Di sudut-sudut, ada beberapa tamu yang asyik membaca buku, bekerja di laptop, atau berbicara dalam kelompok-kelompok kecil. Musik instrumental yang lembut mengalir di latar belakang, menciptakan suasana yang pas untuk percakapan dan refleksi.
Suasana cafe ini adalah tempat yang sempurna untuk menghabiskan waktu santai, berbicara dengan teman, atau sekadar merenung sambil menikmati secangkir kopi. Setiap sudut cafe memiliki cerita tersendiri, dan banyak kenangan yang tercipta di antara meja-meja yang penuh karakter ini.
Wajah Azura tampak cemas. Dia tahu bahwa saatnya telah tiba untuk berbicara dengan Leo, sahabatnya yang selalu mendengarkan dan memberinya dukungan. Leo datang dengan senyuman hangat, duduk di depan Azura, dan bertanya dengan penuh perhatian, "Ada apa, Azura? Kau terlihat khawatir."
Azura menggigit bibirnya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. "Leo, aku perlu bicara tentang sesuatu yang sangat berat bagiku."
Leo mengangguk lembut. "Tentu, Azura. Apa yang ingin kau ceritakan?"
Azura menatap Leo dengan ekspresi campuran cemas dan takut. "Leo, aku... Aku sedang dijodohkan dengan Ravendra, orang yang belum aku kenal dengan baik. Aku merasa tertekan dengan semua ini. Aku merasa sepertinya aku tidak punya pilihan dan dipaksa untuk menikah."
Leo mengerutkan kening, tatapannya penuh empati. "Azura, bagaimana perasaanmu tentang perjodohan ini?"
Azura menghela napas dalam-dalam, mencoba untuk mengungkapkan perasaannya dengan jujur. "Aku merasa bingung, Leo. Aku tahu bahwa keluargaku hanya ingin yang terbaik untukku, tapi aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Aku takut bahwa aku tidak akan bahagia dalam pernikahan ini."
Leo meraih tangan Azura dengan lembut, memberikan dukungan dengan kontak fisik. "Azura, kau tahu aku selalu mendukungmu, kan? Jika ini membuatmu merasa terjebak, apakah ada cara untuk berbicara dengan keluargamu? Apakah ada peluang untuk mengutarakan perasaanmu?"
Azura mengangguk perlahan, air matanya hampir jatuh. "Aku belum tahu, Leo. Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasaanku. Aku takut merasa terjebak dalam sesuatu yang membuatku tidak bahagia."
Leo menggenggam tangan Azura dengan lebih erat. "Azura, kau tahu bahwa kebahagiaanmu adalah yang terpenting. Aku tahu kau adalah wanita yang kuat dan tangguh. Jika kau perlu sesuatu, aku ada di sini untukmu. Kita akan mencari solusi bersama."
Azura menatap Leo dengan mata penuh harap. "Terima kasih, Leo. Aku sungguh sangat beruntung memiliki sahabat baik sepertimu."
Leo tersenyum tulus. "Kita akan melewati ini bersama, Azura. Ingatlah bahwa aku akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi."
Saat itu, meskipun hati Azura masih penuh dengan kekhawatiran, dia merasa lega karena dapat berbicara dengan Leo. Dia tahu bahwa dia memiliki seseorang yang bisa mendengarkan dan memberinya dukungan tanpa syarat. Dalam pelukan pertemanan mereka, Azura merasa bahwa ada harapan dan kekuatan untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Namun kini, Azura sungguh menyesal karena di balik kebaikannya, Leo sedang merencanakan sesuatu. Bahkan, dia tega melakukan apa pun demi tujuannya.
Azura tersadar dari lamunannya dan menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Sayang, aku ingin kau tahu bahwa selama masa laluku dengan Leo, aku tidak pernah benar-benar mencintainya seperti aku mencintaimu. Hubunganku dengan Leo terasa lebih seperti persahabatan yang dalam, meskipun aku pernah membayangkan masa depan bersamanya."
Dia memandang mata Ravendra dengan tulus, mencoba menyampaikan perasaannya dengan jujur. "Ketika kita dipertemukan dan akhirnya menikah, aku tahu bahwa aku telah menyakiti perasaan Leo, meskipun dia tidak mengungkapkan nya. Leo adalah yang sahabat terbaik bagiku setelah Lita, dan aku ingin tetap bersama mereka kala itu."
Ravendra mendengarkan dengan penuh perhatian, merasakan intensitas emosi dalam kata-kata Azura. Dia merasa lega mendengar pengakuan Azura bahwa mereka hanya sebatas sahabat.
Namun, Ravendra tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Masa lalu kelam yang dirasakan Azura di kehidupan sebelumnya. Pahitnya kehidupan yang dia alami, bagaimana dirinya dikhianati oleh mereka setelah apa yang dia lakukan pada Ravendra. Azura sangat menyesali semuanya.
"Azura," ucap Ravendra sambil menggenggam tangan Azura dengan lembut, "aku menghargai kejujuranmu dan keberanianmu untuk berbicara terbuka. Masa lalu adalah bagian dari kita, tapi yang lebih penting adalah masa depan yang ingin kita bangun bersama. Aku bersyukur bahwa kau memilih untuk bersamaku, dan aku akan selalu berada di sampingmu."
Azura tersenyum lembut, merasa lega bahwa dia dan Ravendra bisa melewati titik ini dalam hubungan mereka. Percakapan ini membuktikan bahwa komunikasi dan kejujuran adalah kunci dalam menjaga ikatan mereka tetap kuat. Dengan tangan mereka saling berpegangan, mereka merasakan kehangatan cinta dan harapan untuk masa depan yang indah.
"Terima kasih, Sayang," lanjut Azura dengan tulus, "aku hanya ingin kau tahu bahwa meskipun aku pernah memiliki masa lalu dengan Leo, hatiku selalu menjadi milikmu. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, dan aku tidak pernah ingin mengkhianati atau menyakitimu."
Ravendra mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami perasaan Azura. Meskipun ada kebingungan dan rasa takut di hatinya, dia merasa lega karena Azura bersedia membuka hatinya sepenuhnya.
"Terima kasih telah berbicara terbuka padaku, Azura," ucap Ravendra dengan lembut. "Aku ingin kita bisa melewati ini bersama dan membangun masa depan yang lebih baik."
Azura tersenyum lega. "Terima kasih telah memahamiku, Sayang. Aku ingin kita bersama-sama menghadapi semua rintangan dan memperkuat hubungan kita."
Percakapan ini membuat Ravendra dan Azura lebih saling memahami satu sama lain dan membangun hubungan yang lebih kuat antara mereka. Meskipun tantangan mungkin masih ada di depan, mereka bersama-sama menunjukkan kesiapan untuk menghadapinya dengan saling percaya dan mendukung.
"Oiya, Sayang. Mau makan malam apa?" Azura sadar jika dirinya belum makan karena tadi di cafe hanya pesan air teh saja.
"Bagaimana kalau kita makan di luar?" Ravendra menawarkan. Dia mengerti jika Azura kelihatan sangat lelah jika harus memasak.
__ADS_1
"Ah suamiku ini sungguh pengertian. Baiklah aku mau mengganti baju dulu, tunggu sebentar." Azura sangat senang memiliki suami yang sangat pengertian.
***