
Azura meminta izin pada Ravendra pergi ke kamar untuk bersiap-siap.
"Sayang," ucap Azura dengan lembut, tersenyum pada Ravendra. "Bolehkah aku pergi ke kamar sebentar untuk bersiap-siap?"
Ravendra menjawab dengan senyuman hangat. "Tentu, Sayang. Ambillah waktu yang kau butuhkan."
Azura merasakan kelegaan sekaligus gugup. Kali ini dia ingin memberikan penampilan terbaiknya untuk suaminya. Dia mengangguk, mengucapkan terima kasih, dan berjalan menuju kamar dengan hati yang berdebar.
Azura duduk sejenak di pinggir tempat tidur, merasakan campuran perasaan dalam dirinya. Dia merasa gugup, senang, dan juga sedikit takut. Meskipun dia dan Ravendra telah menikah, setiap momen bersamanya masih memiliki arti khusus. Azura ingin membuat malam ini spesial dan penuh makna.
Dia berjalan menuju kamar mandi kemudian membuka pintunya. Dia melepaskan satu per satu baju yang menempel padanya dan bersiap untuk mandi.
Kamar mandi memancarkan kehangatan dan kenyamanan yang begitu menenangkan. Langit-langit kamar mandi dihiasi oleh lampu gantung yang memberikan cahaya lembut, menciptakan suasana yang relaks. Dinding-dindingnya dihiasi dengan ubin berwarna netral yang memberikan kesan elegan.
Di tengah kamar mandi, terdapat bathtub berukuran besar yang mengundang untuk berendam. Bathtub ini dikelilingi oleh lapisan marmer yang indah dan nyaman di pijakan kaki. Di sudut kamar mandi, terdapat shower dengan panel kaca transparan yang memisahkan area basah dan kering.
Gantungan handuk berwarna putih tergantung rapi di dekat bathtub, siap untuk digunakan setelah mandi. Rak-rak kayu diletakkan di sekitar kamar mandi, menyimpan berbagai produk perawatan kulit dan tubuh. Cermin berukuran besar dipasang di dinding, mencerminkan ruang mandi yang lapang.
Azura dengan hati-hati memutuskan untuk menghidupkan kran air hangat di dalam bathtub, menambahkan beberapa tetes minyak aromaterapi untuk memberikan sensasi relaksasi yang lebih. Kamar mandi ini tidak hanya menjadi tempat untuk membersihkan diri, tetapi juga menjadi tempat untuk merawat diri dan merenung dalam ketenangan yang menghanyutkan.
Azura tidak berlama-lama menikmati momen mandi seperti biasanya karena dia takut Ravendra menunggu terlalu lama. Dia dengan segera menyelesaikan mandinya dan mulai memikirkan untuk mencari pakaian yang bagus. Dia ingin memberikan penampilan terbaik untuk suaminya.
Azura bergegas keluar dari bathtub, air hangat masih terus mengalir di sekelilingnya. Dia mengambil handuk putih yang tergantung di gantungan dan dengan lembut menyeka air dari tubuhnya. Setetes demi tetes air menyerap ke dalam kain, dan dia merasa kesegaran setelah mandi singkatnya.
Dengan langkah cepat, Azura berjalan menuju lemari pakaian. Pintu lemari terbuka mengungkapkan berbagai pilihan busana yang berjajar rapi. Dia merenung sejenak, memilih pakaian yang sesuai dengan suasana hatinya. Akhirnya, dia memilih gaun putih dengan potongan yang elegan dan feminin. Gaun itu mampu menunjukkan keanggunan serta kecantikannya.
Sambil memakai gaun putih itu, Azura merasa getaran antara gugup dan antusiasme dalam hatinya. Dia ingin memberikan penampilan terbaiknya untuk Ravendra, mungkin sebagai ungkapan rasa cintanya yang tulus. Setelah memastikan penampilannya, dia dengan hati-hati merapikan rambutnya dan mengaplikasikan sedikit make-up yang ringan.
Saat Azura membuka brankas untuk mengambil set perhiasan yang akan dikenakannya, matanya tak sengaja jatuh pada selembar kertas yang terlipat di dalamnya. Sebuah kontrak pernikahan. Hatinya berdesir ketika dia menyadari bahwa itu adalah daftar yang mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Ravendra terhadapnya. Ini adalah hasil dari masa-masa sulit ketika dia sangat membenci perjodohannya dengan Ravendra.
Saat dia membaca isi kontrak itu, ingatan yang pernah dia pendam dalam hatinya mulai terungkap. Daftar larangan yang berisi hal-hal yang telah disepakati olehnya dan Ravendra untuk tidak dilakukan satu sama lain. Azura merasa sentimen itu kembali menghampirinya, seperti sesosok hantu dari masa lalu yang tak kunjung usai.
Azura mengingat betapa pahitnya yang dia rasakan saat menulis daftar ini bersama Ravendra. Pada saat itu, dia merasa bahwa perjodohannya adalah penjara tanpa pintu keluar, dan dia mencari cara untuk melindungi dirinya sendiri. Daftar itu berisi larangan-larangan yang sangat pribadi, seperti melarang Ravendra untuk mendekatinya dengan niat romantis, sehingga Azura memilih untuk tidur di kamar yang berbeda, kemudian melarangnya untuk membatasi kebebasan Azura, lalu melarangnya untuk mencoba mengendalikan hidup Azura, dan masih banyak lagi.
Azura duduk di ruang tamu dengan Ravendra, di depannya selembar kontrak pernikahan yang mereka tulis bersama. Waktu berlalu begitu cepat sejak saat mereka menyusun daftar kontrak ini. Banyak hal yang Azura inginkan dan yang tidak. Sebagian besar adalah memang hal-hal tentang keinginan Azura.
Ravendra melihat daftar itu dengan perasaan campur aduk. Dia tahu betul bahwa Azura sangat tidak setuju dengan perjodohannya dengannya, bahkan sampai harus menyusun kontrak semacam ini. Tetapi dalam hati, dia merasa teriris dengan fakta bahwa Azura merasa harus menyusun semua ini.
Azura menatap Ravendra dengan tatapan tajam, mencoba memberikan kesan jika dia tidak ingin bersamanya. "Ravendra, aku ingin kamu tahu bahwa ini bukan tentang aku ingin mengendalikanmu atau mengikatmu. Ini lebih tentang aku merasa takut, merasa terjebak dalam situasi yang aku tidak bisa mengendalikan."
Ravendra menatap Azura dengan penuh perhatian, berusaha memahami perasaannya. "Aku mengerti, Azura. Aku juga tidak ingin merasa kamu terkekang atau tak bahagia. Tapi aku ingin tahu, apa yang kamu rasakan sekarang? Apakah kamu merasa perlu semua larangan ini?"
Azura menghela napas ringan, mencoba menggambarkan perasaannya dengan jujur. "Beberapa dari daftar itu mungkin terasa terlalu berlebihan sekarang. Tapi ada beberapa yang masih menjadi keprihatinanku. Aku takut untuk memberikan diriku sepenuhnya, Ravendra. Aku takut untuk kehilangan diriku dalam hubungan ini."
Ravendra memandang matanya dengan tulus. "Azura, kamu harus percaya padaku bahwa aku tidak ingin mengubah siapa dirimu. Aku mencintaimu apa adanya. Aku ingin kita membangun hubungan yang kuat dan saling mendukung."
Azura tersenyum namun dipaksakan. "Aku tahu kamu ingin yang terbaik untuk kita. Tapi aku kira tidak ada cara lain untuk kita merasa aman dan bahagia jika tanpa ikatan kontrak ini."
Ravendra menatap Azura dengan lembut. "Mungkin kita bisa merubah beberapa poin, menyesuaikannya dengan kondisi kita sekarang. Yang penting, kita perlu membangun saling kepercayaan dan komunikasi."
Azura menegaskan. "Terserah, tapi aku ingin poin-poin yang aku ajukan tetap seperti itu. Aku tidak akan berubah, apa pun yang terjadi. AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCINTAIMU."
Ravendra tersenyum lembut. "Baiklah, Azura. Namun, aku berjanji aku akan terus bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaanmu dan membuatmu bahagia."
Azura tersenyum sinis. "Tidak mungkin, aku tidak akan membiarkan dirimu mendekatiku apalagi mendapatkan hatiku."
Setelah sepakat, mereka menandatangani kontrak tersebut. Azura sangat senang dengan keputusannya. Mulai saat ini, Ravendra tidak akan mencampuri urusannya. Bagi Ravendra, hal ini bukanlah masalah besar karena dia yakin suatu saat Azura akan mengerti perasaannya.
__ADS_1
Keduanya merasa bahwa momen ini adalah titik awal dalam hubungan mereka. Ravendra akan membuka pintu untuk lebih banyak komunikasi, kepercayaan, dan pemahaman. Namun berbeda dengan Azura dengan sifat keras kepalanya yang tidak ingin Ravendra mendekati dirinya.
Azura tersadar dari lamunannya, kini, saat dia membaca daftar itu lagi, dia merasa bahwa banyak hal telah berubah. Meskipun pada awalnya dia mungkin membuat kontrak ini sebagai bentuk perlindungan diri, hubungan mereka telah tumbuh menjadi lebih dalam dan lebih intim dari yang pernah mereka bayangkan. Perasaan cinta dan pengertian antara mereka telah mengatasi batasan-batasan yang pernah mereka buat.
Azura merasa campuran antara kebingungan dan nostalgia. Apakah daftar ini masih relevan? Apakah dia masih merasa perlu untuk membatasi Ravendra dalam hal-hal ini? Dia tahu bahwa dia harus berbicara dengan Ravendra tentang hal ini. Mereka harus membahas apakah daftar ini masih perlu ada, atau apakah sudah saatnya mereka melepaskannya dan membangun kepercayaan yang lebih dalam di antara mereka.
Dengan tersenyum, Azura melihat poin-poin isi dari kontrak pernikahan yang dibuatnya dulu. Dia sadar jika dulu dia begitu egois. Dan dia pun sadar jika Ravendra begitu sabar menghadapi dirinya. Dilihatnya lagi isi kontrak tersebut...
Kontrak Pernikahan
Pasal 1: Batasan Interaksi Fisik
Aku, Azura, dengan ini menyatakan bahwa aku sangat tidak ingin Ravendra mendekati diriku dengan cara yang merujuk pada hubungan romantis atau seksual. Aku ingin menjaga jarak fisik antara kita untuk menjaga kenyamanan dan perasaan keamananku.
Pasal 2: Kamar Tidur Terpisah
Kami akan tidur di kamar tidur yang berbeda. Aku ingin menjaga privasi dan ruang pribadiku agar tetap terjaga, tanpa adanya tekanan untuk berbagi ranjang.
Pasal 3: Batasan Kontrol dan Pengawasan
Ravendra diharapkan untuk tidak mencoba mengendalikan atau membatasi kegiatan atau interaksi sosialku. Aku ingin memiliki kebebasan untuk menjalani kehidupan dan hubungan dengan orang lain tanpa merasa terkekang.
Pasal 4: Komunikasi Terbuka
Kami sepakat untuk menjaga komunikasi terbuka mengenai perasaan kami masing-masing. Aku ingin merasa bahwa pendapatku dihargai dan didengar, dan Ravendra diharapkan untuk mendengarku tanpa merasa tersinggung.
Pasal 5: Kebebasan Keputusan
Aku memiliki hak untuk membuat keputusan pribadi yang berkaitan dengan hidupku, termasuk karier, teman-teman, dan aktivitas sosial. Ravendra diharapkan untuk menghormati keputusan-keputusanku tanpa campur tangan.
Ravendra diharapkan untuk menjaga kepercayaan dan privasiku dengan baik. Aku ingin merasa aman untuk berbagi perasaan dan pikiranku tanpa takut akan pengkhianatan atau pengungkapan pribadi tanpa izin.
Pasal 7: Penghormatan dan Kehormatan
Ravendra diharapkan untuk menghormatiku sebagai individu yang memiliki hak dan keinginan sendiri. Aku ingin dihargai sebagai pasangan dan manusia yang setara, tanpa adanya perlakuan yang merendahkan atau merugikan.
Pasal 8: Pencarian Kebahagiaan
Kami berdua memiliki hak untuk mencari kebahagiaan dan kesejahteraan kami masing-masing. Aku ingin Ravendra mendukungku dalam mencapai tujuan dan impian pribadiku, sebagaimana aku akan mendukungnya juga.
Dengan ini, kami menyatakan komitmen untuk membangun hubungan yang sehat, penuh kepercayaan, dan rasa saling menghormati. Kami sepakat untuk terus memperkuat hubungan ini dengan komunikasi dan pengertian.
Azura Ravendra
Dengan perasaan yang terusik, Azura melipat kembali kertas kontrak pernikahan itu dan kembali menaruhnya di dalam brankas. Dia tahu bahwa ini adalah pertanyaan yang harus mereka jawab bersama, sebagai pasangan yang telah melewati begitu banyak hal bersama. Dia harus mencari saat yang tepat untuk membicarakannya, tanpa beban masa lalu yang terus menghantui.
Azura bergegas keluar dari kamar, membawa aura segar dan percaya diri dengan penampilannya yang anggun. Dia merasa siap untuk bertemu Ravendra, memberikan momen yang berharga dalam kebersamaan mereka.
Ketika Azura turun ke ruang keluarga, dia melihat Ravendra duduk dengan santai di sofa, sambil memegang sebuah majalah. Wajahnya yang tampan dan senyum hangat membuat hati Azura berdebar lebih cepat. Ravendra mendongak ketika mendengar langkah kaki Azura, dan matanya segera terpaku pada penampilan cantik istrinya.
"Kamu terlihat luar biasa," kata Ravendra dengan senyuman tulus. Suaranya mengalun penuh kekaguman.
Azura merasa tersipu, tapi senyumnya tak bisa dia tahan. "Terima kasih, sayang. Aku ingin memberikan penampilan terbaik untukmu," jawabnya dengan lembut.
Ravendra berdiri dan menghampiri Azura. Dia meraih tangan Azura dan membawanya ke bibirnya, memberikan ciuman lembut di punggung tangan istrinya. "Kamu selalu cantik, Azura. Apa pun yang kamu kenakan, hatiku tetap tersihir."
Azura merasa hangat dalam pelukan Ravendra. Dia merasakan getaran kebahagiaan dan cinta yang begitu dalam. Setelah melepaskan pelukan, mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Azura merasa beruntung memiliki Ravendra, suami yang selalu mendukungnya dan memberinya cinta yang tulus.
__ADS_1
Malam itu, Azura dan Ravendra duduk di dalam mobil Mitsubishi Pajero Sport putih milik Ravendra menuju restoran steak favorit mereka. Udara malam terasa sejuk, namun kehangatan di antara mereka seperti membentuk lapisan pelindung yang mengusir dingin.
Azura memandang keluar jendela mobil, melihat lampu-lampu kota yang bersinar cerah. Rasanya seperti waktu telah melambat saat dia berada di samping Ravendra. Dia merasa beruntung memiliki pria seperti Ravendra yang selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
Ravendra tersenyum pada Azura, merasakan kerinduan yang sama. "Apa kamu rindu menikmati steak terlezat di kota ini?" tanyanya sambil mengedipkan mata.
Azura membalas senyumnya. "Tentu saja. Tidak sabar rasanya untuk merasakan lezatnya steak di restoran ini."
Setelah beberapa menit, mobil mereka tiba di depan restoran. Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk, dijemput oleh aroma harum daging panggang yang menggoda selera. Restoran itu penuh dengan suasana yang nyaman dan elegan.
Pelayan mengantar mereka ke meja yang telah disiapkan. Azura dan Ravendra duduk berhadapan, senyum tak henti-hentinya terukir di wajah mereka. Mereka membuka menu dan memilih beragam pilihan steak yang tersedia.
Sambil menunggu pesanan datang, Azura memandangi sekeliling restoran dengan pandangan yang penuh nostalgia. Suasana restoran yang begitu akrab membuatnya teringat pada kunjungan sebelumnya bersama Ravendra. Tidak ada yang berubah semenjak terakhir kali mereka datang ke sini. Setiap sudut, setiap ornamen, semuanya masih sama seperti dalam ingatannya.
Dia tersenyum sendiri, merenung tentang betapa banyak perjalanan yang telah mereka lalui sejak pertama kali datang ke restoran ini. Dari pernikahan mereka yang awalnya penuh keraguan, hingga saat ini di mana mereka telah melewati begitu banyak cobaan dan mengukir kenangan indah bersama.
Saat Azura duduk di restoran tersebut, kenangan dari kehidupan sebelumnya tiba-tiba datang membanjiri pikirannya. Dia teringat bagaimana dia pernah datang ke restoran ini bersama Leo, saat itu dia sudah menikah dengan Ravendra. Kenangan itu tiba begitu tiba-tiba, seakan-akan membawa dia kembali ke masa lalu yang penuh dengan perasaan dan emosi yang pernah dia alami.
Mata Azura merayap ke sudut-sudut restoran dan masih terlihat sama seperti di dalam ingatannya. Dia ingat bagaimana dia dan Leo duduk di meja yang sama, senyuman saling tukar dan tatapan yang penuh arti. Saat itu, mereka begitu mesra sampai-sampai dia benar-benar melupakan kenyataan bahwa dia sudah menikah dengan Ravendra.
Saat itu, dunia Azura hanya terisi oleh kebahagiaan bersama Leo. Mereka tertawa, mereka bercanda, dan mereka bahkan menikmati makan malam mereka dengan penuh kedekatan. Semua itu terasa begitu nyata dalam ingatan Azura, meskipun sekarang dia duduk di restoran yang sama dengan Ravendra.
Perasaan campuran antara nostalgia dan rasa bersalah menyelimuti hati Azura. Dia merenung tentang bagaimana dia bisa begitu mendalam bersama Leo pada masa lalu, bahkan sampai melupakan tanggung jawabnya sebagai istri Ravendra. Tapi saat ini, dia sadar betapa pentingnya dia untuk fokus pada kehidupan yang dia jalani sekarang, bersama Ravendra.
Azura mengalihkan pandangannya dari sudut-sudut restoran yang pernah menjadi saksi perasaannya bersama Leo. Dia melihat Ravendra di hadapannya, pria yang sekarang menjadi suaminya dan cintanya. Dalam matanya, dia menemukan dukungan dan pengertian yang tak ternilai. Meskipun kenangan masa lalu mungkin tetap ada, Azura tahu bahwa dia telah menemukan cinta yang lebih dalam dan lebih bermakna dalam hidupnya sekarang.
Ravendra menyadari bahwa Azura tengah terdiam dalam pemikirannya. Dia meraih tangan Azura dengan lembut di atas meja dan berkata dengan lembut, "Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Azura tersadar dari lamunannya dan tersenyum pada Ravendra. "Hanya merenung tentang perjalanan kita bersama, tentang semua momen yang telah kita bagikan."
Ravendra merasakan hangatnya tangan Azura dalam genggaman tangannya. "Ya, banyak hal yang telah kita lalui. Tapi yang paling penting, kita selalu bersama dan saling mendukung."
Azura mengangguk, matanya berbinar-binar saat pandangan mereka bertemu. "Benar. Dan aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku."
Ravendra tersenyum lebih lebar, tatapannya penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. "Aku akan selalu berada di sampingmu, Azura. Kita menghadapi segala hal bersama-sama."
Ketika pesanan akhirnya datang, mereka berdua merasa seperti waktu telah berhenti sejenak, memungkinkan mereka menikmati momen kebersamaan yang sederhana namun berarti. Dalam suasana yang penuh kasih, mereka menghargai hubungan mereka yang semakin kuat, tak tergoyahkan oleh waktu atau cobaan.
Mereka menikmati bukan hanya kelezatan hidangan, tetapi juga momen cinta yang terus berkembang di antara mereka. Di bawah cahaya lampu restoran yang lembut, mereka merasakan kebahagiaan yang tumbuh lebih dalam, seperti api yang menyala di antara mereka.
Malam itu diwarnai dengan keakraban dan canda tawa di meja makan. Mereka berdua menikmati hidangan lezat dan saling berbagi cerita tentang hari mereka. Setiap detik waktu terasa begitu berharga, mengukir kenangan manis yang akan mereka simpan dalam ingatan mereka.
Dalam suasana cahaya lembut dari lampion-lampion di sekitar restoran, Azura merasa seperti dalam dongeng indah. Kehangatan dan cinta yang mereka bagi bersama membuat momen ini sempurna. Dan saat mereka merenung satu sama lain dengan mata penuh kasih, mereka tahu bahwa mereka telah menemukan arti sejati dari kebersamaan dalam setiap detail kehidupan mereka.
Mereka keluar dari restoran dengan perasaan kenyang dan senyum bahagia di wajah masing-masing. Udara malam yang sejuk menemani mereka dalam perjalanan pulang. Azura merasa puas dengan malam ini, merasa begitu dekat dengan Ravendra dan merasakan cinta yang semakin dalam di antara mereka.
Mereka naik ke dalam mobil Ravendra, duduk berdampingan dalam keheningan yang nyaman. Meskipun tidak banyak kata yang diucapkan, tatapan dan senyuman mereka sudah cukup untuk saling menyampaikan perasaan yang mendalam.
Saat mobil bergerak menuju rumah, Azura menarik napas dalam-dalam dan memandangi pemandangan malam di luar jendela. Cahaya lampu jalan, gemerlap bintang di langit, semuanya terasa begitu indah dan tenang.
Ravendra merasa kehangatan tangan Azura yang berada di sebelahnya, dan dia meraihnya dengan lembut. Dia memandang wajah Azura, tersenyum penuh arti. "Terima kasih atas malam yang indah, Azura."
Azura merasa hatinya meleleh mendengar kata-kata itu. Dia meraih tangan Ravendra dan memberikan ciuman singkat di punggung tangan itu. "Aku juga berterima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia."
Kedua mata mereka saling bertemu, penuh dengan perasaan sayang dan kedekatan. Tidak perlu banyak kata untuk menyampaikan betapa pentingnya satu sama lain dalam hidup mereka. Saat mobil memasuki halaman rumah, mereka merasakan getaran bahagia dan damai, tahu bahwa rumah adalah tempat di mana mereka selalu bisa pulang dan merasa dicintai.
Dengan hati yang penuh bahagia, mereka bersama-sama memasuki rumah yang mereka bangun bersama, siap menghadapi setiap detik yang akan datang dalam perjalanan hidup mereka.
__ADS_1