Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 15


__ADS_3

Larut malam, Azura mulai bermimpi lagi tentang bagaimana dia di kehidupan sebelumnya merencanakan pengkhianatan terhadap Ravendra dengan penggelapan dana. Dia juga membocorkan rahasia keuangan perusahaan Ravendra kepada Leo. Sehingga Leo memanipulasi data dan menghasut para klien perusahaan Ravendra.


Dalam gelisah tidurnya , Azura tenggelam dalam mimpi yang membebani. Dia merasa seperti sedang terjebak di dalam ingatan kehidupan sebelumnya yang gelap dan penuh dengan pengkhianatan. Di dalam mimpinya, dia melihat dirinya duduk di ruangan yang redup, berbicara dengan Leo dengan wajah penuh intrik.


"Leo, aku punya informasi rahasia perusahaan Ravendra. Aku tahu cara membocorkannya dan merusak segalanya." Ucap Azura.


Leo terlihat senang, "Hebat! Kalau begitu, kita bisa menghasut para klien dan menyingkirkan Ravendra dari para klien. Semua klien dan asetnya akan menjadi milik kita."


"Aku punya ide, bagaimana kalau kita sebarkan fitnah tentang perusahaan Alfonsa kepada para klien. Pertama-tama, kamu harus datangi para klien satu per satu. Jelaskan pada mereka jika perusahaan Alfonsa telah melakukan penggelapan dana yang bisa merugikan bisnis." Azura menjelaskan rencananya.


"Ide bagus, Sayang." Puji Leo. "Mari kita lancarkan rencana kita."


Leo mencium kening Azura, tanda jika dia sangat senang karena rencananya berjalan lancar. "Sebentar lagi kita akan hidup bersama, kamu akan menjadi milikku seutuhnya."


Azura tersipu dengan rayuannya. "Aku sudah tidak sabar untuk menjadi istrimu."


Kali ini Leo mencium bibir merah Azura, dan Azura pun membalas ciumannya. Mereka tenggelam dalam cinta terlarang. Azura merasa sangat dicintai, dia merasakan kebahagiaan seutuhnya bersama Leo. Di dalam kantor itu, mereka melakukan hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan.


Azura terbangun dengan napas terengah-engah, berkeringat dingin karena mimpi buruknya. Dia merasa seperti dia baru saja menyaksikan pengkhianatan yang dia sendiri rencanakan. Perasaan bersalah dan rasa malu mencengkeram hatinya.


Dia masih merasa terguncang oleh mimpi itu. Di dalam mimpi tersebut, Azura merasakan kegelapan yang mendalam merasuki hatinya. Dia bangun dalam keadaan berkeringat dingin dan napas tersengal. Ingatan tentang kehidupan masa lalu yang tersembunyi begitu dalam, tentang pengkhianatan dan penggelapan dana, membuat hatinya terasa berat.


Azura memandang ke samping, melihat Ravendra yang tertidur dengan tenang di sampingnya. Dia merasa campur aduk, takut bahwa masa lalu gelapnya akan kembali menghantui kini.

__ADS_1


Perlahan, dia meninggalkan tempat tidur tanpa ingin mengganggu Ravendra. Dia berjalan ke balkon dan duduk di sana, memandang ke langit malam. Rasa cemas dan penyesalan memenuhi pikirannya. Bagaimana dia bisa melakukan hal seperti itu di kehidupan sebelumnya? Bagaimana dia bisa mengkhianati cinta dan kepercayaan Ravendra?


Azura tahu bahwa dia harus menceritakan kebenaran kepada Ravendra. Meski itu akan menyakitkan, dia merasa tidak bisa lagi menyembunyikan rahasia gelapnya. Dia tidak ingin kembali ke kehidupan sebelumnya yang penuh kebohongan dan pengkhianatan.


Keesokan harinya, setelah sarapan, Azura duduk di samping Ravendra di ruang tamu. Dia merasakan detak jantung yang cepat, tetapi dia tahu bahwa ini adalah langkah yang harus diambil.


"Sayang, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu," ujar Azura dengan suara bergetar.


Ravendra melihatnya dengan perhatian. "Apa itu, Azura?"


Azura menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Di mimpiku, aku melakukan hal-hal yang sangat buruk. Aku merencanakan pengkhianatan terhadapmu dengan penggelapan dana perusahaan. Aku juga membocorkan rahasia keuangan perusahaan kepada Leo dan membiarkan dia menghasut klien-klien perusahaan."


Ravendra terdiam, matanya memandang tajam ke arah Azura. "Apa yang kau katakan, Azura? Jangan mengatakan yang tidak-tidak, itu hanya mimpi."


Azura menggelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku sangat menyesal, Ravendra. Aku tidak tahu bagaimana bisa melakukan hal seperti itu. Aku tahu bahwa aku telah merusak kepercayaanmu dan mengkhianati cintamu."


Azura menangis dengan tulus. "Aku tahu bahwa kata-kata permintaan maaf tidak cukup. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku telah berubah. Aku tidak pernah ingin mengulangi kesalahan itu. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku dan ingin memperbaiki segala yang salah."


Ravendra memandang wajah Azura, melihat air mata dan penyesalan yang tulus di matanya. Dia merenung sejenak, kemudian meraih tangan Azura dengan lembut. "Ini adalah mimpi yang buruk untukmu, Azura. Tapi aku percaya padamu. Kamu tidak mungkin melakukan hal sejahat itu. Kamu memang sangat membenciku di awal pernikahan kita, tapi kini, aku telah melihat perubahan di dirimu. Aku senang akan hal itu."


Azura merasakan kelegaan dan harapan. Meski dia tahu bahwa proses memaafkan dan memulihkan kepercayaan akan membutuhkan waktu, dia merasa bahwa langkah pertama menuju pemulihan telah diambil.


Setelah Azura mengingat jelas apa yang dilakukannya bersama Leo, kini dia punya rencana untuk mendekati Leo demi mengambil barang bukti berupa data penggelapan dana yang perusahaan Leo lakukan. Azura berusaha bersikap baik terhadap Leo dan meminta maaf atas perlakuannya selama ini yang sudah mengabaikan dirinya.

__ADS_1


Azura merasa bahwa langkah selanjutnya adalah mendekati Leo dengan tujuan yang jelas, mengambil bukti-bukti yang diperlukan untuk membongkar penggelapan dana perusahaan. Meskipun hal ini tidak akan mudah, dia merasa memiliki kewajiban untuk memperbaiki kesalahannya dan juga melindungi perusahaan Ravendra. Dia memutuskan untuk memulai dengan mendekati Leo dengan sikap yang baik.


Azura duduk sendiri di kamarnya, memikirkan langkah pertama yang harus dia ambil dalam rencananya untuk mendekati Leo. Dia menyadari bahwa ini adalah tindakan yang berisiko dan rumit, tetapi dia merasa perlu untuk menghadapi Leo demi membongkar rencananya dan menyelamatkan perusahaan Ravendra.


Dalam pikirannya, Azura mencoba merancang strategi yang baik. Dia perlu mencari cara untuk memulai percakapan dengan Leo tanpa menarik perhatian yang mencurigakan. Dia memutuskan untuk menghubungi Leo melalui pesan singkat, memberikan kesan bahwa dia masih memiliki perasaan yang baik terhadapnya.


Azura duduk sendirian di kamarnya, memandang layar ponselnya dengan ragu. Hatinya bergejolak, terbagi antara apa yang seharusnya dan apa yang sebenarnya. Dengan perlahan, dia mengetik pesan singkat untuk Leo.


"Hai Leo, apa kabar? Lama tidak berbicara. Semoga semuanya baik-baik saja."


Setelah sejenak ragu, Azura akhirnya mengirim pesan tersebut dan menatap layar ponselnya dengan campuran perasaan. Dia tahu bahwa ini adalah langkah yang penting dalam rencananya, meskipun hatinya tetap berat.


Setelah mengirim pesan, Azura merasa gugup dan waspada. Dia tahu bahwa dia harus memainkan peran dengan baik agar Leo tidak merasa curiga dengan niatnya. Meskipun hatinya masih penuh dengan dendam atas apa yang Leo lakukan di kehidupan sebelumnya, dia memilih untuk menahan perasaan itu demi tujuan yang lebih besar.


Beberapa saat kemudian, ponsel Azura bergetar, menandakan ada balasan dari Leo. Dengan hati berdebar, dia membuka pesan tersebut dan membaca dengan seksama. Balasan dari Leo memicu berbagai emosi dalam dirinya. Dia merasakan kegelisahan dan penasaran sekaligus. Setelah mengambil napas dalam-dalam, Azura membuka pesan tersebut:


"Hai Azura, aku baik-baik saja. Senang mendengar kabarmu. Lama tidak berbicara memang. Bagaimana kehidupanmu selama ini?"


Azura merasa perutnya berdesir. Balasan Leo terasa hangat dan sopan, seakan tidak ada bekas luka masa lalu di antara mereka. Namun, dia tahu bahwa ini hanyalah permukaan dari apa yang sedang mereka permainkan. Dengan hati-hati, dia menjawab:


"Aku juga baik-baik saja. Kehidupanku berjalan lancar. Bagaimana dengan pekerjaan dan keluargamu?"


Mereka terus bertukar pesan, saling menanyakan satu sama lain tentang kehidupan dan berbagai hal. Azura merasa seperti dia bermain peran, menciptakan ilusi bahwa semuanya baik-baik saja di antara mereka. Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa ini hanyalah permulaan dari rencana yang lebih besar.

__ADS_1


Azura tahu bahwa langkah pertama ini hanya awal dari perjalanan yang panjang dan penuh tantangan. Namun, dia siap untuk menghadapi semua hal tersebut demi mengungkap rencana jahat Leo dan menyelamatkan perusahaan Ravendra.


***


__ADS_2