
"Azura, aku percaya padamu dan aku ingin memberikan kesempatan baru untuk kita. Aku mencintaimu, dan aku ingin menjalani kehidupan ini bersamamu dengan penuh kasih dan kepercayaan," ucap Ravendra dengan tulus.
Azura menatap Ravendra dengan air mata bahagia. "Terima kasih, sayang. Aku berjanji bahwa cintaku padamu adalah yang sejati, dan aku tidak akan pernah menyakiti hatimu lagi."
Mereka berdua memeluk erat, menghapus semua keraguan dan kesalahpahaman di antara mereka. Cinta mereka semakin kuat, dan mereka berdua berjanji untuk saling mendukung dan menghargai satu sama lain.
Saat ini mereka sudah satu kamar. Hal canggung kembali meliputi mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka bersama dalam satu ruangan dengan tempat tidur yang sama.
Seperti layaknya pengantin baru, mereka bingung apa yang harus mereka lakukan untuk pertama kalinya. Mereka duduk di ujung tempat tidur, menatap ke lantai, tidak tahu harus berkata apa atau melakukan apa.
Azura merasa gugup dan ragu, dia tidak ingin membuat Ravendra merasa terpaksa atau tidak nyaman. "Sayang, aku... aku ingin kau tahu bahwa ini semua adalah pilihan kita bersama. Jika kau merasa tidak siap atau terpaksa, aku mengerti," ujar Azura dengan suara lembut.
Ravendra mengangguk, "Aku juga menghargai pilihan kita bersama, Azura. Tapi, jujur, aku merasa canggung dan gugup."
Azura tersenyum, merasa lega bahwa Ravendra juga merasakan hal yang sama. "Kita bisa melupakan ekspektasi orang lain, dan mengambil waktu untuk mengenal satu sama lain lebih baik, sayang. Kita tidak perlu terburu-buru dalam hal ini."
Ravendra merasa terharu oleh sikap Azura yang penuh pengertian. "Terima kasih, Azura. Aku sangat beruntung memilikimu sebagai istriku."
Mereka berdua mulai berbicara lebih banyak tentang perasaan dan harapan mereka satu sama lain. Dalam suasana yang penuh kejujuran, mereka saling melepaskan tekanan dan cemas yang mereka rasakan. Keduanya menyadari bahwa cinta dan hubungan yang baik adalah tentang menghargai satu sama lain, memberikan dukungan, dan tumbuh bersama sebagai pasangan.
__ADS_1
Malam itu, mereka tidur dengan tenang, tanpa ada tekanan untuk melakukan apapun yang mereka tidak siapkan. Mereka memutuskan untuk mengambil waktu dan langkah demi langkah, membangun hubungan yang lebih dalam dan saling memahami.
Hari-hari berlalu, dan Azura dan Ravendra semakin dekat satu sama lain. Mereka berdua berbicara banyak tentang masa lalu, impian, dan harapan untuk masa depan mereka. Bersama-sama, mereka menemukan kenyamanan dalam kehadiran satu sama lain dan merasa nyaman dalam membuka hati.
Namun, sesekali Azura bermimpi buruk tentang kehidupan sebelumnya di mana dia membunuh Ravendra demi bersama Leo dan akhirnya Leo mengkhianatinya memilih berhubungan dengan Lita, sahabat baiknya. Dan pada akhirnya, mereka membunuh dirinya. Akan tetapi semua itu lenyap ketika dia tidur bersama Ravendra.
Azura juga sering terbangun dari mimpi buruknya dengan keringat dingin di wajahnya. Dia merasa bersalah atas apa yang pernah dia lakukan di kehidupan sebelumnya, dan berharap itu adalah hanya khayalan. Dia merasa beruntung memiliki kesempatan kedua bersama Ravendra, tetapi rasa bersalahnya kadang-kadang membuatnya cemas.
Suatu malam, setelah terbangun dari mimpi buruknya, Azura merenung dalam kegelapan kamar. Ravendra merasa sesuatu yang tidak beres dan memutuskan untuk mendekatinya dengan lembut.
"Azura, apa yang sedang kau pikirkan? Kau terlihat cemas," ucap Ravendra dengan penuh perhatian.
Azura menatap Ravendra dengan mata penuh cinta dan kejujuran. "Aku merasa bersalah atas apa yang pernah aku mimpikan, sayang. Itu hanya mimpi namun terasa nyata, tapi tetap saja, aku merasa terbebani oleh perasaan bersalah."
Ravendra yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mencoba menenangkan Azura.
Azura merasa terharu oleh kata-kata Ravendra. "Terima kasih, sayang. Aku sangat beruntung memiliki suami seperti kau yang selalu mengerti dan mendukungku."
Ravendra mencium kening Azura dengan lembut. "Kita saling mendukung dan mencintai satu sama lain, Azura. Semua masa lalu dan mimpi buruk itu tidak penting, yang penting adalah masa depan kita bersama."
__ADS_1
Dengan dukungan Ravendra, Azura mulai merasa lebih percaya diri dan tidak lagi khawatir tentang mimpi buruknya. Mereka berdua berjanji untuk saling mendukung dan mengatasi segala rintangan bersama.
Kini tiba saatnya bagi Azura untuk membuka kedok Leo dan Lita. Dia berpesan pada Ravendra untuk mempercayai pada apa yang akan dilakukannya. Dia merencanakan banyak hal, apa saja yang harus dilakukan dan membuktikan bahwa Leo dan Lita merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan perusahaan Ravendra.
Azura merasa sudah saatnya untuk mengungkapkan kebenaran tentang Leo dan Lita kepada Ravendra. Dia merasa bahwa ini adalah tindakan yang harus dia ambil untuk melindungi perusahaan Ravendra dari ancaman mereka.
"Sayang, aku punya rencana untuk mengungkapkan kebenaran tentang Leo dan Lita. Aku mohon percayalah padaku, ini adalah langkah yang harus kita ambil," ujar Azura pada Ravendra dengan tegas.
Ravendra melihat Azura dengan kebingungan, tetapi dia bisa merasakan kejujuran dan ketegasan di mata istrinya. "Aku akan mendukungmu, Azura. Katakan padaku apa yang harus kita lakukan."
Azura menguraikan rencananya dengan hati-hati. Mereka akan menggunakan bukti yang ada untuk mengungkapkan kebusukan Leo dan Lita kepada publik dan perusahaan. Azura merencanakan pertemuan dengan semua staf penting, untuk membicarakan kecurigaan mereka tentang rencana jahat yang sedang dirancang oleh Leo dan Lita.
Ravendra sangat mendukung rencana Azura, dan mereka bekerja sama dengan teliti dalam mengumpulkan bukti dan mengatur strategi mereka. Mereka berusaha menjaga rencana ini tetap rahasia dari Leo dan Lita, sehingga mereka bisa mengejutkan mereka dengan kebenaran yang terungkap.
Hari pertemuan tiba, dan Azura berbicara dengan penuh keyakinan di hadapan seluruh staf penting perusahaan. Dia mengungkapkan kecurigaan mereka tentang Leo dan Lita yang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan perusahaan.
"Saya dan Ravendra telah melakukan penyelidikan mendalam dan menemukan bukti bahwa Leo dan Lita memiliki rencana jahat untuk merusak perusahaan ini," kata Azura dengan suara tegas.
Azura menampilkan bukti yang mereka kumpulkan dengan hati-hati. Semua staf terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Azura dan Ravendra. Mereka tidak pernah menduga bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi di balik semua itu.
__ADS_1
Bima, yang awalnya ragu terhadap Azura, sekarang merasa bersalah karena pernah meragukan kejujuran wanita itu. Dia menyatakan dukungannya kepada Azura dan Ravendra.
"Saya ingin meminta maaf atas ketidakpercayaan saya sebelumnya. Ternyata, Azura benar tentang kecurigaan kami selama ini," ucap Bima dengan suara rendah.