Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 22


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, kini hubungan Azura dan Leo semakin dekat, Azura mulai merasa bahwa saatnya telah tiba untuk mencari bukti yang dia butuhkan. Dia mencari kesempatan yang tepat untuk mengakses data-data perusahaan Leo tanpa diketahui. Dia mencari ide bagaimana mendapatkan akses ke komputer Leo dan menyalin beberapa dokumen yang dianggapnya penting tanpa sepengetahuan Leo.


Azura mengetahui jika Leo sedang ada rapat penting bersama klien. Dia menggunakan kesempatan ini untuk mengambil data dari komputer Leo. Azura meminta izin pada sekretaris untuk masuk ke kantor Leo dengan alasan sudah ada janji untuk bertemu dengannya hari ini.


Dengan hati yang berdegup kencang, Azura memanfaatkan kesempatan saat Leo berada dalam rapat penting bersama kliennya. Dia tahu bahwa ini mungkin adalah waktu terbaik untuk mengambil data yang dia butuhkan tanpa terdeteksi.


Dia pergi ke kantor Leo, dan dengan perasaan cemas, dia mendekati meja sekretarisnya. "Permisi, maaf mengganggu. Saya memiliki janji dengan Leo hari ini. Apakah saya bisa masuk?"


Sekretaris mengangguk, "Tentu saja, Bu Azura. Pak Leo masih ada rapat. Silakan masuk."


Azura masuk ke dalam kantor Leo dengan hati-hati, menjaga agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dia merasa tegang karena tahu bahwa dia harus bekerja cepat dan hati-hati agar tidak tertangkap basah.


Dia melangkah menuju komputer Leo dan mulai beraksi. Dengan cepat, dia mencari data-data yang dia butuhkan, termasuk bukti penggelapan dana dan rencana jahat perusahaan Sentosa. Dia berusaha untuk tidak membuat jejak yang mencurigakan, tetapi tetap berfokus pada tugasnya.


"Untungnya aku sudah tahu password komputer ini. Leo memang sembrono, membiarkan aku melihat dia menekan password komputer." Gumam Azura.


Beberapa menit kemudian, Azura berhasil menyalin data yang diperlukan ke dalam flashdisk. Dia merasa lega karena berhasil menyelesaikan tugas ini tanpa terdeteksi. Namun, hatinya masih berat karena dia tahu bahwa ini adalah tindakan yang penuh risiko.


Setelah selesai, Azura mengembalikan segalanya seperti semula dan duduk manis di sofa tempat duduk para tamu. Dia merasa perasaan campur aduk, antara keberhasilan tugasnya dan beban yang dia rasakan.


Azura duduk dengan tenang, berusaha menjaga penampilannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia tahu bahwa sekarang adalah saat yang krusial untuk tetap menjaga ketenangan dan tidak menarik perhatian.


Tiba-tiba, sekretaris Leo datang dengan segelas minuman. "Maaf mengganggu, Bu Azura. Silakan diminum."


Azura tersenyum dan mengangguk, menerima minuman tersebut dengan ramah. "Terima kasih, Mbak."


Saat sekretaris pergi, Azura merasa perasaan cemas kembali. Dia tahu bahwa tindakannya harus segera dilakukan dengan hati-hati. Dia merasa tertekan, tetapi dia juga tahu bahwa ini adalah bagian dari rencana yang telah dia susun.


Azura dengan hati-hati membuka tasnya dan memasukkan flashdisk yang berisi bukti yang telah dia ambil dari komputer Leo. Dia memasukkannya dengan cepat, takut jika tiba-tiba Leo masuk dan memergokinya menggenggam flashdisk.


Dan ternyata benar seperti dugaan Azura, Leo datang tepat ketika Azura memasukkan flashdisk ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Hai, Azura. Sudah lama menunggu?" Sapa Leo.


"Ti-tidak, Leo. Aku baru saja datang." Azura berusaha tenang meski tetap terlihat gugup.


"Kamu baik-baik saja? Kamu terlihat pucat, apa Ravendra melakukan hal buruk lagi padamu?" Leo berusaha menjadi seseorang yang pengertian.


"Tidak, hanya saja aku rindu kamu." Azura kehabisan ide.


'Ya ampun Azura, kenapa harus kata rindu yang terucap. Leo pasti jadi berpikir yang tidak-tidak.' Batin Azura.


"Benarkah? Aku juga rindu kamu." Leo tersenyum dan meraih tangan Azura. Dia menggenggam tangan Azura dan mengelus punggung tangannya.


Saat ini Azura tidak bisa berbuat apa-apa, dia berusaha tersenyum meski hatinya sangat sakit. Ingin rasanya dia melepas genggamannya, namun dia ingat jika dia sedang bersandiwara demi membalas dendam.


Leo semakin berani dengan membelai lembut pipi Azura. Dia juga berusaha untuk mencium bibir merah Azura. Leo semakin mendekat ke tubuh Azura dan berusaha menempelkan bibirnya ke bibir Azura yang mungil.


Azura merasa hatinya hampir berhenti berdetak saat Leo semakin dekat. Dia merasa terjebak di antara dua pilihan yang sulit yaitu membiarkan Leo melakukan apa yang dia mau demi memperoleh informasi atau menghadapi situasi ini dengan jujur.


Sambil tetap berusaha mempertahankan senyuman yang terpaksa, Azura mencoba untuk menjaga jarak fisik antara mereka. Dia menyilangkan tangan di depan dadanya, seolah-olah secara tidak sengaja menghentikan gerakan Leo. Dia mencoba untuk menghindari Leo dengan berdiri dan membalikkan tubuhnya namun...


Leo memeluknya dengan erat, dan ciuman lembut di lehernya mengirimkan getaran yang menggelitikkan. Azura memejamkan matanya, membiarkan sensasi itu merambat perlahan dalam dirinya. Ada kilatan kenangan di baliknya, kilatan-kilatan yang membuatnya ingin membebaskan diri dan memberikan dirinya pada perasaan yang begitu kuat.


Namun, dia harus tetap pada jalurnya. Azura membebaskan diri dari pelukan Leo dengan lembut, senyum tipis di bibirnya saat dia berbalik menghadapnya. Dia memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi sekarang hanyalah sebatas ilusi, dan realitas yang lebih besar dan lebih penting menanti di depannya.


"Leo, aku menghargai waktu kita bersama," ucap Azura dengan nada lembut, mencoba menenangkan ketegangan. "Tapi aku saat ini tidak bisa."


Leo tersenyum dengan senyum licik yang selalu menghantui wajahnya, namun Azura tidak terkecoh. Dia tahu bahwa di balik senyum itu ada ambisi gelap yang harus diungkapkan dan dihentikan. Dengan tekad bulat, dia menatap mata Leo dengan keberanian yang semakin kuat.


Dia tak akan membiarkan dirinya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya lagi. Kali ini, dia akan mengambil kendali atas hidupnya sendiri dan menghentikan rencana jahatnya.


"Maaf, Leo," katanya dengan suara lembut, berusaha untuk menghindari sentuhan lebih lanjut. "Aku merasa sedikit lelah hari ini. Mungkin kita bisa melanjutkannya lain waktu."

__ADS_1


Leo yang masih menggenggam tangan Azura lagi-lagi tampak agak kecewa, tetapi dia merespons dengan penuh pengertian. "Tentu saja, Azura. Kesehatanmu lebih penting. Aku mengerti."


Dia melepaskan genggamannya dan mundur beberapa langkah. Azura merasa lega bahwa dia berhasil menghindari situasi yang lebih rumit. Dia merasa bahwa dia berhasil melewati ujian ini, dan dia juga merasa senang melihat bagaimana Leo percaya pada sandiwara yang dia lakukan.


Azura tahu bahwa permainan ini semakin berbahaya dan semakin sulit untuk mempertahankan sandiwara yang dia lakukan. Azura tahu bahwa rencana ini tidak mudah, tetapi dia harus tetap pada rencananya untuk melindungi perusahaan Ravendra dan mengungkap rencana jahat Leo.


Azura pamit pulang pada Leo. Leo yang ingin terlihat perhatian pun menawarkan diri untuk mengantarnya namun ditolak oleh Azura.


"Izinkan aku mengantarmu pulang, Azura." Leo menawarkan diri.


Azura memberikan senyuman tipis pada Leo. "Terima kasih atas tawarannya, Leo. Tapi sebenarnya aku membawa mobil sendiri hari ini. Aku akan pulang sendiri."


Lagi-lagi Leo nampak agak kecewa, tetapi dia mencoba untuk tetap ramah. "Baiklah, kalau begitu. Pastikan kamu pulang dengan aman ya."


"Tentu saja, terima kasih atas perhatianmu, Leo." Jawab Azura sambil mengangguk.


Mereka berdua berdiri di depan gedung kantor, seolah-olah berada dalam situasi yang normal. Namun, di balik senyuman dan kata-kata sopan, Azura tahu bahwa kebenaran yang dia sembunyikan masih ada di antara mereka.


Azura tidak mengetahui jika Bima ternyata selama ini sudah membuntuti dirinya. Bima yang dari semenjak awal curiga dengan tingkah laku yang tidak biasa dari Azura, berhasil membuntuti Azura. Kini Bima menaruh curiga pada Azura dan mulai untuk tidak lagi percaya padanya.


Ketika Azura memasuki mobilnya dan pergi, dia merasa campuran emosi yang rumit. Di satu sisi, dia merasa berhasil menghindari situasi yang lebih rumit dengan Leo. Di sisi lain, dia merasa sedih dan penuh penyesalan karena dia harus memainkan peran yang begitu rumit dan sulit. Apalagi dia merahasiakan semua ini dari Ravendra, hal itu membuatnya semakin sedih.


Namun, Azura tidak boleh menyerah. Dia tahu bahwa tujuannya adalah melindungi perusahaan dan mengungkap kebenaran. Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa semua ini adalah bagian dari rencana yang telah dia susun, meskipun hatinya terasa berat.


Kembali di dalam mobil, dia melihat foto Ravendra di dashboard mobilnya. Senyuman lembut terukir di wajahnya ketika dia merenung tentang tekad dan dukungan Ravendra. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangan ini.


Azura mengendarai mobilnya pulang, berusaha untuk tetap fokus pada tujuan akhir. Dia merasa bahwa dia telah menjalani hari yang berat, tetapi dia juga merasa bahwa dia semakin mendekati saat di mana kebenaran akan terungkap.


Dengan perasaan campur aduk, dia teringat bagaimana tadi Leo berusaha mencium bibirnya. Di kehidupan sebelumnya, dia tidak berusaha untuk menolak, namun sebaliknya dia menikmati ciuman yang dilakukannya bersama Leo.


Di kantor Leo, Azura telah melakukan hal yang terlarang bersama Leo karena dia telah mengkhianati Ravendra. Azura melakukan semua itu atas nama cinta, cintanya pada Leo telah membutakan segalanya.

__ADS_1


Kini, Azura menyesali semuanya. Dia menangis dan memohon supaya Ravendra mau mengampuni semua kesalahannya di kehidupan sebelumnya. Dia merasa kotor dan tidak layak berada di sisi Ravendra, disayangi olehnya bahkan dicintainya.


***


__ADS_2