Takdir Yang Berbicara

Takdir Yang Berbicara
Bab 3


__ADS_3

Ravendra memandang Bima dengan serius. "Aku mempercayai Azura, Bima. Dia adalah istriku, dan aku tahu dia mencintaiku. Jangan sampai rasa cemburu dan kecurigaan merusak hubungan kita."


Bima mengangguk, namun hatinya masih gelisah. Dia merasa ada sesuatu yang harus diungkapkan, tetapi dia tidak ingin mencampuri urusan pribadi Azura dan Ravendra.


Beberapa hari kemudian, Leo mulai melakukan aksi untuk mendekati Azura kembali. Dia berharap Azura akan jatuh ke pelukannya kali ini.


Leo meminta Azura untuk bertemu di cafe tempat biasa mereka bertemu.


"Mengapa kau tampak begitu serius, Azura?" tanya Leo.


"Leo, aku ingin kau tahu bahwa kau adalah sahabat terbaikku, dan aku berharap hubungan kita tetap kuat," ujar Azura.


Leo tersenyum pahit. "Aku selalu ingin yang terbaik untukmu, Azura. Kau bahagia dengan Ravendra adalah hal terpenting bagiku, bahkan jika itu berarti aku harus menahan perasaanku sendiri."


Mendengar itu, Azura sudah mengetahui apa yang telah direncanakan Leo. Di saat keterpurukannya akan perjodohannya, di sanalah Leo mulai masuk menyatakan cintanya. Dan Azura pun terbutakan oleh cinta dan rayuannya.


"Leo, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku benar-benar tidak menyadari perasaanmu selama ini," ujar Azura.


Leo mulai mencari kata-kata yang tepat untuk diungkapkan. "Jangan khawatirkan aku, Azura. Aku akan baik-baik saja. Tetapi kau harus tahu, aku selalu mencintaimu."


Di dalam pikiran Leo, seharusnya Azura saat ini luluh dengan ungkapannya. Kata-kata cinta bagi seorang wanita, seharusnya menjadi hal yang sangat luar biasa.


Namun, Azura yang telah mengetahui apa yang terjadi padanya di masa depan, menolak dengan tegas bahwa dia tidak bisa menerima rasa cinta Leo.


"Maafkan aku, Leo. Aku benar-benar telah mencintai suamiku, Ravendra. Lebih baik, mulai saat ini kita tidak usah bertemu lagi. Terimakasih atas perhatian, saran, nasihatmu selama ini. Sampai tinggal!" tegas Azura.


Azura pergi meninggalkan Leo sendiri di cafe dengan perasaan lega, seharusnya inilah yang dia lakukan dulu. Bukannya jatuh ke dalam pelukannya dan termakan rayuan gombalnya.


Sementara itu, Bima yang diam-diam mengintip dari kejauhan, akhirnya menyadari bahwa Azura tidak merencanakan apa pun terhadap Ravendra dengan bantuan Leo. Dia melihat sendiri apa yang telah dilakukan Azura pada Leo.


Setelah itu, Bima memutuskan untuk mengambil sikap bijaksana. Dia percaya pada cinta Azura dan Ravendra, dan dia menyadari bahwa Azura hanya sebatas teman dengan Leo.

__ADS_1


Hari-hari berlalu, dan Azura dan Ravendra semakin bahagia bersama. Azura telah merencanakan berbagai kegiatan bersama Ravendra demi menebus kesalahannya.


Banyak hal yang ingin Azura lakukan layaknya pasangan yang baru pacaran karena dia menyadari bahwa selama ini yang dia lakukan hanyalah menyakiti hati Ravendra.


Azura memutuskan untuk mengubah pendekatannya terhadap hubungan mereka. Dia berusaha menjadi istri yang lebih perhatian, penyayang, dan mendukung Ravendra sepenuh hati. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama, berjalan-jalan di taman, menonton film di bioskop, dan berbicara tentang impian-impian mereka di masa depan.


"Sayang, bagaimana jika kita makan malam di luar? Sebelum kamu pergi melakukan perjalanan bisnis panjangmu nanti, setidaknya kita makan malam dulu bersama di luar," ajak Azura pada Ravendra.


Ravendra sedikit terkejut dengan panggilan sayang, ini adalah pertama kalinya Azura memanggil dirinya dengan sebutan sayang.


"Baik, sayang. Mau makan di mana?" Ravendra tersenyum.


"Bagaimana jika di restoran steak yang baru buka itu?" Azura menyarankan.


"Baiklah," Jawab Ravendra.


Malam pun tiba, Ravendra terkagum dan tidak bisa berkata-kata, Azura berdandan begitu cantik. Dia mengenakan gaun merah dengan belahan sampai paha, dan juga memperlihatkan bahu yang begitu mulus. Tak pernah selama ini dia berdandan begitu cantik selain pada saat pernikahannya.


"Terimakasih, sayang." Senyum Azura.


Mereka makan malam di restoran steak seperti yang mereka rencanakan. Kebahagiaan menyelimuti mereka saat ini.


Sudah satu jam mereka bercengkrama di restoran. Sudah saatnya untuk pulang.


"Sudah kenyang, sayang?" Kali ini Ravendra yang inisiatif memanggil Azura dengan sebutan sayang duluan.


Azura tersipu malu. "Iya, sayang. Ayo pulang!"


Mereka pulang ke rumah yang mereka tempati dengan menaiki mobil Ravendra. Kali ini Bima tidak ikut karena makan malam saat ini merupakan momen romantis Azura dan Ravendra.


Setibanya di rumah, Ravendra memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Suasana menjadi kaku tak biasanya. Sesekali Ravendra menahan degup kencang jantungnya yang berdebar karena terus menerus kagum pada kecantikan Azura.

__ADS_1


Ravendra membukakan pintu mobil untuk Azura, dan Azura turun memperlihatkan pahanya yang mulus. Ravendra semakin tersipu melihat itu, normal bagi seorang laki-laki yang mencintai wanita cantik apalagi dia sudah sah menjadi istrinya. Tapi, tidak ada keberanian untuk melakukan lebih.


Namun saat itu, jiwanya bergejolak hebat. Rasa inginnya sudah tidak bisa terbendung lagi. Ravendra menatap dalam Azura, tangannya menarik tubuh Azura mendekat padanya dan tanpa berpikir panjang dia menempelkan bibirnya pada bibir mungil Azura.


Rasanya manis, Ravendra ******* bibir Azura dan Azura pun membalasnya. Malam ini, kebahagiaan hanya milik mereka berdua.


Ravendra tersenyum. "I love you."


"I love you too," balas Azura dengan senyuman.


Mereka masuk ke rumah, namun ke kamar masing-masing. Ya, meskipun mereka sudah sah sebagai suami istri dan juga saling mencintai, namun mereka belum memutuskan untuk satu kamar.


Namun, meskipun demikian, kini hubungan mereka mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Dan mereka sangat bahagia.


Azura juga belajar untuk lebih mengenal Ravendra dengan mendengarkan cerita-cerita masa kecil dan mimpi-mimpi besar yang pernah dia miliki. Dalam proses ini, mereka semakin merasa saling terhubung dan memahami satu sama lain dengan lebih baik.


Ravendra pun merespons perubahan Azura dengan penuh kegembiraan. Dia menyambut kembali kehangatan dan cinta dari sang istri dengan tangan terbuka. Mereka berdua benar-benar menikmati setiap momen bersama, dan cinta mereka semakin berkembang dengan indahnya.


Hari untuk perjalanan bisnis pun tiba. Ravendra akan ditemani Bima untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota selama tiga hari. Mereka berkemas mempersiapkan apa saja yang harus mereka bawa.


"Sudah siap semuanya? Hati-hati, jangan sampai ada yang tertinggal." Azura begitu perhatian.


"Sudah, sayang. Terimakasih atas perhatiannya." Ravendra memeluk Azura.


"Hati-hati di jalan, hubungi aku jika sudah sampai." Azura memeluk erat Ravendra.


"Baik, sayangku." Ravendra melepas pelukannya.


Ravendra dan Bima berangkat untuk perjalanan bisnis yang selalu dilakukannya secara berkala. Baik itu berupa meeting perusahaan atau sekedar konsultasi customer.


Di samping itu, Leo yang mengetahui Ravendra sedang pergi melakukan perjalanan bisnis, dia berusaha menghubungi Azura dan memaksanya untuk bertemu. Namun Azura terus menerus menolak ajakan Leo, karena Azura sudah mengetahui rencana jahat Leo yang ingin menghancurkan perusahaan Ravendra melalui dirinya.

__ADS_1


__ADS_2