
Azura bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakeknya Ravendra, Pak Doni. Ini bukan pertama kalinya dia pergi ke rumah Pak Doni, mereka secara rutin selalu mengunjungi rumah kakeknya Ravendra itu. Azura teringat ketika pertama kali berkunjung ke rumah Pak Doni, dia sangat terpukau oleh rumahnya yang sangat indah.
Rumah Pak Doni merupakan sebuah bangunan yang megah dan anggun, mencerminkan kemewahan dan keberhasilan pemiliknya. Terletak di tengah-tengah lingkungan yang tenang dan eksklusif, rumah ini dikelilingi oleh taman yang indah dengan berbagai macam tanaman dan bunga yang berwarna-warni. Pohon-pohon besar menghiasi halaman, memberikan kesan sejuk dan teduh.
Fasad rumah terbuat dari batu bata dengan sentuhan dekorasi klasik yang menambah keanggunan. Pintu masuk utama yang besar, dihiasi dengan ukiran halus, memberi kesan ramah dan mengundang. Jendela-jendela besar dengan bingkai kayu menjadikan rumah ini terang benderang oleh cahaya matahari.
Di dalam, ruangan-ruangan besar dan lapang dirancang dengan elegan. Ruang tamu yang luas dihiasi dengan furnitur mewah dan aksesori artistik, menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman bagi tamu-tamu yang datang. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan indah yang memberikan sentuhan artistik pada ruangan.
Ruang makan dengan meja panjang dan kursi-kursi mewah terletak bersebelahan dengan ruang tamu. Dihiasi dengan porselen dan peralatan makan yang cantik, ruangan ini menjadi tempat yang sempurna untuk mengadakan pertemuan bisnis atau makan malam bersama keluarga.
Tak kalah menarik adalah ruang perpustakaan yang penuh dengan rak-rak kayu yang diisi dengan berbagai macam buku. Jendela-jendela besar memungkinkan cahaya alami masuk, menciptakan suasana yang cocok untuk membaca dan beristirahat.
Di luar rumah, terdapat kolam renang dengan air yang jernih dan bersih, dikelilingi oleh area berjemur yang dilengkapi dengan kursi-kursi berjemur yang nyaman. Pemandangan taman yang hijau dan indah membuat suasana semakin tenang dan menyegarkan.
Secara keseluruhan, rumah Pak Doni adalah tempat yang menggabungkan kemewahan dengan kehangatan. Setiap sudutnya mencerminkan kepribadian pemiliknya yang sukses dan penuh gairah.
Kala itu Azura sangat tidak ingin pergi, namun Ravendra memohon demi kakeknya. Jika bukan mereka, siapa lagi yang akan mengunjungi kakeknya.
Azura merasa dilema. Meskipun dia sebenarnya tidak ingin pergi, namun permohonan Ravendra untuk mengunjungi kakeknya membuatnya merasa terpanggil. Kakek Ravendra merupakan sosok yang sangat dihormati oleh Ravendra, dan Azura tahu betapa pentingnya kedekatan Ravendra dengan kakeknya.
Ravendra melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Azura. Dengan ragu-ragu dia mengetuk pintu kamar Azura.
"Azura, bisa bicara sebentar?" Ravendra berbicara di balik pintu.
Azura membuka pintu dengan malas. Dia muncul hanya dengan mengenakan tank top dan rok mini, menunjukan tubuh indahnya. Rambutnya terurai menampilkan wajah cantik meski tanpa make-up.
"Ada apa? Mengganggu saja!"
"Maaf mengganggu waktu istirahat mu, tapi aku ingin bicara sebentar. Ini penting sekali." Ravendra tersihir dengan kemolekan tubuhnya dengan balutan pakaian serba mini.
"Cepat bicara, aku mau tidur siang." kesal Azura.
Ravendra memohon dengan lembut. "Azura, tolonglah temani aku untuk pergi mengunjungi kakek sore ini. Dia sudah tua, dan dia sangat menunggu-nunggu kehadiran kita. Aku yakin dia akan sangat senang dengan melihatmu di sana."
Azura berpikir sejenak. "Tapi, aku sebenarnya merencanakan hari ini untuk bersantai di rumah. Aku ingin beristirahat."
Ravendra memohon penuh harap. "Aku tahu, Azura. Tapi ini sungguh penting bagiku. Kakekku adalah orang yang selalu mendukungku, dan aku ingin kamu berbagi momen spesial ini bersamaku."
Azura merasa bingung. Di satu sisi, dia ingin meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, namun di sisi lain, dia tahu betapa berartinya momen ini bagi Ravendra. Dia melihat mata Ravendra yang penuh harap, dan akhirnya dia mengalah.
Azura menghela napas. "Baiklah, Ravendra. Kita pergi mengunjungi kakekmu."
Ravendra tersenyum bahagia. "Terima kasih, Azura. Aku tahu ini mungkin bukan hal yang kamu ingin lakukan, tapi aku sangat berterima kasih."
Meskipun Azura merasa agak ragu, dia berusaha untuk mengesampingkan perasaannya dan memutuskan untuk mendampingi Ravendra mengunjungi kakeknya. Baginya, momen-momen seperti ini adalah momen yang membosankan, terlebih lagi jika harus pergi bersama Ravendra. Namun, Azura menghormati kakek Ravendra, maka dari itu dia dengan terpaksa menemani Ravendra.
Sore pun tiba, Azura bersiap-siap. Meskipun dia tidak ingin pergi, dia tetap harus memberikan penampilan terbaiknya. Untuk itu dia berdandan dengan sangat cantik dan mengenakan gaun terbaiknya.
Dia memakai gaun hitam elegan namun tetap sopan. Tas putih kecil dan sepatu high heels putih cantik menambah kecantikannya. Mata Ravendra tak berkedip dibuatnya. Ravendra tersenyum pada Azura, namun Azura tidak membalas senyumannya. Azura masih tetap cuek padanya.
Ravendra membukakan pintu mobil Mitsubishi Pajero Sport putih miliknya untuk Azura. Azura pun duduk di kursi penumpang, ia duduk di sebelah Ravendra.
Ini adalah kedua kalinya mereka duduk bersama di mobil milik Ravendra. Pertama kalinya Azura duduk di sebelah Ravendra yaitu ketika ban mobil Toyota Yaris merah miliknya kempis terkena benda tajam.
Selama perjalanan, Azura tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya duduk memandangi pemandangan indah jalan di sore hari. Matahari mulai terbenam menunjukkan kilau indah senja, namun tak seindah hati Azura saat itu.
Azura belum menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, rencana masa depannya hancur. Dia ingin melanjutkan sekolah di luar negeri, mengunjungi berbagai negara yang indah dengan seseorang yang ia cintai, bukannya menikah dengan orang yang tidak ia kenal di usianya yang masih muda.
Ravendra menghidupkan musik untuk mencairkan suasana. Kali ini dia tidak menghidupkan radio, melainkan lagu favoritnya. Dia sangat menyukai lagu-lagu yang dibawakan oleh grup Dewa 19, dan kebetulan lagu yang diputar saat itu adalah lagu Risalah Hati. Mereka mendengar lagu tersebut dalam kecanggungan...
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Azura melirik pada Ravendra. "Apa maksudnya?"
"Maaf, aku tidak sengaja memutar lagu ini. Kebetulan saja, dari semua lagu favoritku, yang diputar malah yang ini." Ravendra menjelaskan sekaligus tersenyum bahagia karena lirik lagunya benar-benar mengena pada Azura.
"Ganti lagunya, jangan lagu-lagu grup itu. Aku tidak suka!" pinta Azura.
"Baiklah, kamu suka lagu Avril Lavigne kan, mau aku putarkan lagunya?" Ravendra menawarkan.
"Tidak usah, aku putarkan sendiri dari ponselku. Nyalakan saja Bluetooth mobilnya!" pinta Azura.
Azura mencari lagu favoritnya yang lain di daftar lagu yang sudah ia simpan. Kali ini bukan lagu dari Avril Lavigne tapi lagu favoritnya yang lain yang mewakili perasaannya saat ini.
__ADS_1
Ravendra menyalakan Bluetooth mobil dan menekan tombol Pair. Azura pun menekan tombol Pair sebagai tanda menyambungkan. Lalu Azura menekan tombol Play pada ponselnya, dan lagu pun mengalun...
Don't come any closer
(Jangan mendekat)
Don't try to change my mind
(Jangan mencoba merubah pikiranku)
Ternyata yang diputar oleh Azura adalah lagu Love In The Dark yang dinyanyikan oleh Adele. Itu memang lagu favorit Azura, namun kini lagu itu menjadi lagu yang mewakili perasaannya. Dia dengan sengaja memutar lagu itu supaya Ravendra tahu isi hatinya.
Ravendra memandang Azura, 'Apa maksudmu, Azura?' Ravendra membatin. Dia merasa jika Azura sangat tertekan oleh pernikahan ini. Sepertinya Azura ingin pergi menjauh darinya. Jika bukan karena keluarganya, mungkin Azura sudah pergi dari dirinya.
"Maaf... Azura. Aku tidak bisa membuatmu bahagia." lirih Ravendra.
"Bukan salahmu. Ini adalah keinginan keluarga kita, kita tidak bisa berbuat apa pun."
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu bahagia? Tolong katakan padaku."
"Tidak perlu melakukan apa pun. Jaga jarak saja denganku, dan lakukan saja semua yang ada di dalam kontrak pernikahan kita."
"Baiklah. Tapi jika ada sesuatu yang kamu inginkan, katakan saja. Aku akan mencoba dan berusaha melakukannya."
"Aku rasa kamu tidak akan bisa."
"Apa itu? Boleh aku tahu?"
"Aku ingin bercerai. Apa kau bisa mengabulkannya?"
"Maaf, Azura. Untuk yang satu itu, aku tidak bisa. Kita hidup satu kali, mati satu kali, dan menikah pun satu kali."
"Prinsip yang aneh. Jadi, jika istrimu meninggal, kau tidak akan menikah lagi?"
"Aku menikah denganmu karena cinta, bukan hanya karena perjodohan. Aku telah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Jika seandainya kamu meninggal, mungkin aku tidak akan menikah lagi."
"So sweet. Tapi sayang sekali, aku tak bisa melakukan apa yang kamu lakukan. Karena aku tidak akan pernah mencintaimu."
"Tidak apa-apa, Azura. Aku akan bersabar." Ravendra tersenyum.
Buah kesabaran Ravendra telah Ravendra rasakan saat ini, di kehidupan Azura yang kedua. Azura kini menyadari cinta tulus yang telah diberikan Ravendra. Keyakinan Ravendra akan cintanya telah membuahkan hasil.
***
Azura telah siap dengan penampilannya yang selalu memikat hati Ravendra. Ravendra tersihir oleh kecantikan Azura yang memakai baju merah dan sepatu high heels putih favoritnya. Tas hitam mungil menyempurnakan penampilan Azura malam ini.
"Kamu cantik sekali, Azura." puji Ravendra.
"Kamu juga begitu tampan, Sayang."
"Ayo kita pergi, kakek sudah menunggu. Dari tadi beliau menelepon, jangan lupa katanya untuk datang malam ini."
"Baiklah, Sayang. Aku sudah siap. Ayo kita berangkat."
Seperti biasa, mereka berdua berjalan menuju mobil Mitsubishi Pajero Sport putih milik Ravendra. Sudah menjadi kebiasaan Ravendra untuk membukakan pintu mobil untuk Azura. Dan kemudian dia duduk di kursi pengemudi di sebelah Azura.
Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya ke rumah kakeknya, kini mereka tampak kompak dan bahagia. Sepanjang perjalanan menuju rumah kakeknya, mereka saling berpegangan tangan. Sesekali Ravendra harus melepaskan genggaman Azura untuk melakukan perpindahan gigi.
"Kamu masih ingat lagu yang kamu putar dulu? Love In The Dark yang dinyanyikan oleh Adele." Ravendra mengingatkan Azura.
"Tentu saja, Sayang. Aku sangat jahat waktu. Terlalu kejam padamu sampai-sampai mengatakan jika aku ingin bercerai. Maafkan aku, Sayang."
"Tidak apa-apa, Sayang. Itu adalah bumbu kehidupan, aku bersabar untuk mendapatkanmu. Dan kini, aku memilikimu." Ravendra tersenyum.
Keduanya berpegangan semakin erat. Memang benar, dengan bersabar maka kau akan mendapatkan yang terbaik.
"Oiya, Sayang. Saat ini aku sedang menyukai drama Korea, meskipun terlambat menontonnya karena ini drama yang sudah agak lama, aku tetap menyukainya." celoteh Azura.
"Apa judulnya?" Ravendra penasaran.
"Goblin." Azura tersenyum.
"Apa itu tentang superhero?" Ravendra semakin penasaran. "Setahu aku, Goblin itu... seperti di film Spiderman."
"Bukaaannn, Sayang." Azura tertawa mendengar perkataan Ravendra.
__ADS_1
"Jadi apa? Atau mungkin Goblin yang seperti di film Harry Potter?"
Azura menghela napas, menyerah. "Sudah, sudah. Bukan keduanya, Goblin yang satu ini sangat tampan."
"Lho, kok ada Goblin yang tampan. Setahuku semua Goblin itu jelek. Tapi, tampan mana aku dengan dia?" goda Ravendra.
"Jelas lebih tampan kamu, Sayang."
"Terima kasih." Ravendra tersenyum.
"Oiya, semua soundtrack lagu drama ini, aku sangat suka. Mau dengar?"
"Tentu!"
Azura menghidupkan Bluetooth mobil dan mulai menyambungkan. Kali ini tidak perlu menyandingkan lagi karena sudah dilakukan sebelumnya. Kemudian Azura memutar lagunya...
chueoksoge naega salji anhdorok
It’s a beautiful life
Ravendra hanya mengerti kata-kata dalam bahasa Inggris. Selain itu, dia tidak mengerti sama sekali.
"Azura, apa judul lagunya?"
"Beautiful, penyanyinya itu Crush." jawab Azura.
"Sejujurnya, aku tidak mengerti bahasa Korea. Tapi lagunya sangat enak didengar. Boleh aku tahu apa artinya?"
"Tentu saja, Sayang. Aku akan membacakan terjemahan yang bahasa Koreanya saja ya, karena aku yakin kamu pasti mengerti yang bahasa Inggrisnya. Masa lulusan Harvard tidak mengerti bahasa Inggris." Azura setengah tertawa.
"Iyaaa." Ravendra tersenyum.
"Nah, ini dia terjemahannya, It’s a beautiful life, aku akan berada di sisimu, aku akan berdiri di sampingmu, apabila aku berada di langit yang sama denganmu, meski hanya bernapas sendirian aku sudah bahagia, aku berada dalam kenanganmu, tinggal lah di sisiku, aku akan selalu melindungimu, bersandarlah padaku, air mataku, senyumanmu, maka kita bisa bersama-sama, aku sangat mencintaimu , aku tak ingin kehilanganmu kenangan yang menyerupai dirimu, mengikatkannya padaku, kenanganmu, ingatanmu, sebuah hidup yang amat sengsara, hari-hari yang amat sengsara, aku tak bisa mengalahkan kesedihan, hidup dan hari yang sangat sengsara, jadi jangan tinggalkan aku, maka aku tak hanya akan tinggal dalam ingatanmu, It`s a beautiful life." Azura membacakan terjemahan lagu tersebut.
Ravendra menatap Azura penuh cinta. Ternyata kini Azura telah membuka hatinya untuknya. Lagu ini, kini mewakili perasaannya. Ravendra sangat bahagia saat ini.
Ravendra mencium punggung tangan Azura. Menatapnya dengan tatapan cinta. "It's a beautiful life, I love you, Azura."
Azura tersenyum bahagia, "I love you too, Sayang."
Mereka akhirnya tiba di rumah kakeknya Ravendra. Perjalanan mereka sangat tenang, dan Azura merasa sangat bahagia. Sesampainya di rumah Pak Doni, suasana hangat dan akrab seolah menyambut mereka. Pak Doni dengan ramah menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, cucuku," sapa Pak Doni sambil tersenyum lebar. "Dan juga, Azura. Apa kabar kalian?"
"Kami baik-baik saja, Kek," jawab Azura sambil tersenyum. Namun, matanya masih mencari tanda-tanda bagaimana dia bisa mengutarakan apa yang dia saksikan tanpa mengganggu suasana.
Mereka bercakap-cakap dengan Pak Doni, mengenang kenangan-kenangan lama. Azura mencoba memfokuskan pikirannya pada obrolan, tetapi ingatan tentang Leo dan Lita tetap mengganggunya. Jika dirinya adalah Azura yang dulu, sudah pasti Lita dan Leo dilabraknya saat itu juga.
Saat makan malam tiba, mereka duduk bersama di ruang makan yang nyaman. Azura melihat wajah pelayan setia keluarga Alfonsa, dengan senyum lembut di wajahnya. Dia ingat cerita Ravendra bagaimana pelayan tersebut telah mengabdi di keluarga mereka sejak dia masih kecil.
Namun, pikiran Azura kembali teralihkan saat dia melihat gambar-gambar keluarga yang terpajang di dinding ruang makan. Foto pernikahannya dengan Ravendra, saat-saat bahagia yang mereka lewati bersama. Dia memandang wajah Ravendra di foto itu, merasakan perasaan yang sulit diungkapkan.
Melihat foto pernikahan mereka yang terpajang dengan indah, Azura merasakan campuran perasaan yang mendalam. Wajah bahagia Ravendra yang terpancar jelas dari gambar itu membuat hatinya terenyuh. Dia teringat saat-saat mereka berdua berdiri di altar, tangan mereka saling berpegangan erat, dan mata mereka penuh dengan rasa harap.
Dalam diam, Azura mengenang perjalanan mereka bersama. Awalnya, dia hanya merasa terjebak dalam perjodohan yang tidak diinginkan. Namun, perlahan-lahan, dia merasakan perubahan dalam hubungan mereka. Ravendra begitu sabar dan perhatian, mencoba mengenali dirinya, memahami keinginannya, dan bahkan mendukungnya saat dia berusaha memperbaiki kesalahan masa lalunya.
Ravendra selalu hadir ketika dia membutuhkan seseorang untuk berbicara, untuk berbagi cerita dan ketidakpastiannya. Dia memberi dukungan tanpa syarat, menghapus rasa takut dan keraguan yang dulu selalu menghantuinya. Dan seiring berjalannya waktu, cinta itu tumbuh di antara mereka, bertransformasi dari ikatan yang semula hanya terikat oleh perjodohan menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Namun, di saat yang sama, Azura juga merasa menyesal. Menyesal karena baru sekarang dia menyadari betapa besar dan tulusnya perasaan Ravendra padanya. Dia merasa bersalah karena selama ini dia terlalu sibuk dengan ego dan dibutakan oleh cinta semu, hingga mengabaikan perasaan yang sebenarnya ada di antara mereka.
Sekarang, dia ingin memberikan yang terbaik untuk Ravendra. Dia ingin mengungkapkan perasaannya yang tulus, membalas cinta dan perhatian yang selama ini diberikan oleh Ravendra. Namun, dia juga sadar bahwa rencana mereka untuk menghadapi Leo dan membongkar rencananya adalah prioritas utama. Baru setelah itu, dia bisa dengan tulus mengakui perasaannya pada Ravendra, tanpa ada beban masa lalu yang menghambat.
Dengan pandangan lembut, Azura merenungkan foto pernikahan mereka. Wajah bahagia Ravendra mengajaknya untuk melangkah maju, untuk menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan.
Setelah makan malam yang penuh kehangatan dan percakapan yang memperkuat hubungan mereka, Azura dan Ravendra merasa saatnya untuk pamit pulang. Mereka berdiri di depan pintu rumah, sambil berpelukan dan mengucapkan terima kasih atas makan malamnya.
Ravendra tersenyum hangat pada kakeknya, merasa bersyukur masih diberikan waktu untuk bersama. "Terima kasih banyak atas makan malamnya, Kek. Kami sangat menghargainya."
Pak Doni menjawab dengan senyuman ramah, "Kakek senang bisa makan malam denganmu, Nak. Azura, kamu harus tahu jika Ravendra benar-benar merasa beruntung memilikimu."
Ravendra tersipu malu, "Ya, Kakek, kami betapa bahagia saat ini. Semoga kami berdua selalu diberkahi dalam perjalanan hidup kami."
Azura merasa haru mendengar ucapan Ravendra dan Pak Doni. Dia merasakan kebahagiaan yang tulus atas dukungan yang mereka berikan. "Terima kasih, Kek. Kami akan segera pamit pulang. Sampai jumpa di lain waktu."
Setelah berpamitan, Azura dan Ravendra meninggalkan rumah Pak Doni. Mereka berjalan menuju mobil dengan langkah ringan dan senyum yang saling berbagi. Dalam perjalanan pulang, mereka berbicara tentang pengalaman hari ini.
__ADS_1
Ketika mobil melaju di tengah malam yang tenang, Azura dan Ravendra merasakan kedekatan yang semakin kuat di antara mereka. Meskipun masih ada banyak rintangan yang harus dihadapi, mereka tahu bahwa bersama-sama, mereka mampu mengatasi semua hal tersebut. Dengan tangan mereka saling berpegangan, mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan penuh keyakinan dan cinta yang tumbuh di antara mereka.
***