
Bab 20: Rumah Leo
Selama beberapa minggu berikutnya, perjalanan Azura untuk berpura-pura bersikap baik kepada Leo terus berlan
jut. Dalam hatinya, dia merasakan beban yang berat, tetapi dia tahu bahwa akhirnya, kebenaran akan terungkap dan perusahaan Ravendra akan terlindungi dari ancaman kehancuran.
Pada suatu hari, Leo mengajak Azura ke rumahnya. Leo merasa bosan dengan masakan di luar rumah. Leo mau memamerkan kelihaiannya dalam memasak pada Azura. Azura merasa keberatan, namun demi tujuannya, dia menuruti keinginan Leo.
Leo berkata sambil tersenyum. "Hey, Azura. Bagaimana kalau hari ini kita tidak makan di luar? Aku ingin mengajakmu ke rumahku dan memasakkan makanan untukmu."
Azura menjawab agak ragu. "Oh, Leo. Aku menghargai tawaranmu, tapi sejujurnya aku tidak ingin merepotkanmu."
Leo bersikeras. "Tidak usah khawatir, Azura. Aku suka memasak dan aku yakin kamu akan menyukai masakanku. Selain itu, aku merasa bosan dengan makanan di luar, jadi ini kesempatan bagus untuk mencoba masakan buatan sendiri."
Azura berpikir sejenak. "Baiklah, kalau begitu. Tapi hanya jika aku bisa membantu juga. Aku tidak ingin duduk diam sambil menonton."
Leo tersenyum lebar. "Tentu saja! Aku akan senang memiliki asisten pribadi dalam memasak. Mari kita pergi ke rumahku dan lihat apa yang bisa kita masak bersama."
Mereka pun berangkat menuju rumah Leo dengan menumpangi mobil Toyota Fortuner hitam milik Leo. Dengan perasaan tidak menentu, Azura tetap memainkan perannya. Dia tahu bahwa tujuan Leo adalah untuk membuatnya semakin terikat dengan dirinya, tetapi pada saat yang sama, dia juga tidak ingin menunjukkan kecurigaannya.
Saat mereka tiba di rumah Leo, Azura merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Rumah Leo terletak di pinggiran kota yang tenang dan eksklusif. Dikelilingi oleh taman yang indah dan pepohonan hijau, rumahnya memancarkan aura elegan namun ramah. Dari luar, rumah ini memiliki gaya arsitektur modern dengan sentuhan klasik yang terlihat dari desain atap bergaya mansard dan jendela besar yang terhias dengan bingkai klasik.
Halaman depan rumah dihiasi dengan berbagai macam tanaman hias dan bunga yang ditempatkan dengan cermat di sekitar jalan masuk yang dilapisi batu. Taman tersebut memberikan nuansa segar dan alami saat tamu memasuki rumahnya. Ada sebuah patio di depan pintu utama yang dihiasi dengan furnitur kayu berwarna hangat, menciptakan suasana yang nyaman untuk bersantai di luar.
Saat masuk ke dalam rumah, suasana interior yang klasik dan mewah langsung terasa. Lantai kayu cokelat gelap memberikan sentuhan elegan di seluruh area. Ruang tamu yang luas dilengkapi dengan sofa berwarna netral, meja kopi dengan desain artistik, dan lukisan-lukisan seni di dinding. Penerangan yang lembut dari lampu gantung kristal memberikan kesan mewah dan anggun.
Ruang makan terpisah dengan ruang tamu namun tetap terbuka, dengan meja makan besar yang dikelilingi oleh kursi empuk. Pemandangan ke taman di luar memberikan suasana yang nyaman saat makan. Dapur yang terletak di sisi ruang makan memiliki peralatan modern dan desain yang terorganisir dengan baik.
Terdapat tangga yang mengarah ke lantai atas, di mana terdapat kamar-kamar tidur pribadi. Rumah ini menggabungkan kemewahan dengan kenyamanan, menciptakan tempat yang cocok bagi Leo sebagai tempat tinggal. Setiap detailnya terlihat dipikirkan dengan baik, dari desain interior yang klasik hingga taman yang rapi. Meskipun Azura datang ke rumah ini dengan maksud tertentu, dia tidak bisa tidak mengakui keindahan dan kenyamanannya yang nyata.
"Selamat datang, Azura. Aku senang kamu bisa datang ke rumahku," sambut Leo sambil mengulurkan tangannya.
Azura mengikuti senyumnya, mencoba menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. "Terima kasih, Leo. Aku penasaran dengan keahlian memasakmu."
Leo membawanya masuk ke dalam dapurnya, dan Azura merasa suasana rumah Leo sangat berbeda dari rumahnya sendiri. Leo terlihat begitu antusias mempersiapkan makanan di dapur. Dia memakai apron dan bergerak lincah di sekitar kompor, sesekali melemparkan senyuman kepada Azura.
Leo mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas dan rak, sambil memberikan penjelasan tentang rencana memasaknya.
Leo menjelaskan. "Kamu tahu, Azura, masakan ini sebenarnya cukup sederhana. Kita akan membuat hidangan pasta dan steak dengan saus spesial yang sudah aku ciptakan sendiri."
Azura penasaran dan tersenyum tipis. "Saus spesial?"
Leo mencicipi saus. "Ya, aku memang memiliki sedikit bakat dalam hal memasak. Ini adalah saus rahasia milikku yang bisa mengubah pasta biasa menjadi hidangan istimewa."
Azura tertawa. "Baguslah, Leo. Aku penasaran bagaimana rasanya nanti."
Sambil bersama-sama mengolah bahan-bahan, mereka saling berbincang dan tertawa. Leo memamerkan keterampilannya dalam memasak, sedangkan Azura mencoba membantu sebisa mungkin, meskipun terkadang terasa canggung dan kaku.
Azura berkata sambil mengaduk saus. "Ini pertama kalinya aku memasak bersama seseorang di dapur orang lain, Leo. Biasanya aku lebih suka masak di rumahku atau rumah Mama."
__ADS_1
Leo tersenyum lembut. "Aku senang kamu mau memasak denganku. Siapa tahu kita bisa membuat momen yang menyenangkan bersama."
Setelah mereka selesai memasak, meja pun terhidang dengan hidangan pasta yang menggoda. Mereka duduk berdua di meja makan, dan Azura mencicipi hidangan tersebut.
Azura terkejut. "Leo, ini enak sekali! Sausnya benar-benar spesial."
Leo tersenyum puas. "Aku senang kamu suka. Aku selalu mencoba memberikan yang terbaik dalam segala hal."
Leo kemudian dengan penuh kebanggaan menyajikan steak di atas piring, senyumnya terpancar begitu cerah. "Ini untukmu, Azura. Aku tahu bahwa steak adalah makanan favoritmu."
Azura melihat hidangan di depannya, dan harus mengakui bahwa steak itu terlihat begitu menggiurkan. Dia mencoba menunjukkan senyum tulus, meskipun hatinya terombang-ambing antara tugasnya yang begitu berat dan kenikmatan kuliner yang ada di depannya.
"Terima kasih, Leo. Ini terlihat luar biasa," kata Azura dengan suara lembut.
Leo duduk di seberang meja dan memotong steaknya dengan penuh keahlian. Dia menyajikannya pada Azura, lalu Azura mengambil gigitan pertama. Matanya berbinar saat melihat reaksi Azura setelah mencicipinya.
Azura mencicipi steak itu dengan hati-hati, merasakan tekstur dan cita rasa yang begitu lezat. Dia tidak bisa menyangkal betapa enaknya makanan itu, dan Leo memang memiliki keahlian yang luar biasa dalam memasak.
"Bagaimana rasanya?" tanya Leo dengan ekspresi penuh harap.
Azura tersenyum dan mengangguk. "Ini luar biasa, Leo. Kamu benar-benar hebat dalam memasak."
Leo tersenyum puas, dan suasana canggung di antara mereka mulai mereda. Mereka mulai berbicara tentang berbagai hal, termasuk lagu-lagu dan film-film favorit. Azura mencoba untuk menunjukkan sikap yang ramah dan akrab, meskipun dalam hatinya dia masih merasa gelisah.
Leo mengambil tegukan kopi dari cangkirnya dan tersenyum pada Azura. "Jadi, Azura, apa film favoritmu saat ini?" tanyanya dengan nada santai.
Azura mencoba untuk menjawab dengan nada yang sama, meskipun hatinya masih berdebar. "Hmm, sebenarnya akhir-akhir ini ada banyak film yang aku suka. Tapi jika harus memilih satu, mungkin aku akan memilih film drama romantis."
Mereka terus berbicara tentang berbagai film yang mereka sukai, menciptakan suasana yang lebih santai di antara mereka. Azura berusaha untuk tidak memikirkan rencana besar yang sedang dia lakukan terhadap Leo, dan lebih fokus pada percakapan yang sedang berlangsung.
Leo mendengarkan dengan antusias dan terlibat dalam percakapan. Dia terlihat begitu bersemangat saat berbicara tentang film-film favoritnya, dan Azura merasa bahwa dia semakin dekat dengan Leo. Meskipun dia tahu bahwa ini semua adalah bagian dari rencana, dia tidak merasa bingung oleh perasaan yang mulai muncul.
Saat mereka terus berbicara, Azura berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari rencana besar yang akan dia ungkap nanti. Dia mencoba untuk menikmati saat ini, meskipun hatinya masih penuh dengan pertimbangan dan kekhawatiran.
Leo melanjutkan dengan bercerita tentang beberapa konser musik yang pernah dia hadiri, dan Azura mencoba untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia merasa bahwa semakin lama dia berbicara dengan Leo, semakin sulit baginya untuk berpura-pura dan menyembunyikan niatnya.
Namun, Azura juga tahu bahwa ini adalah langkah yang perlu dia ambil untuk menghadapi Leo dan membongkar rencananya. Dalam hatinya, dia berjanji untuk tetap kuat dan melanjutkan rencananya sampai akhir.
Ketika makan siang selesai, mereka menghabiskan waktu lebih lama di sofa ruang keluarga. Azura mencoba untuk memperdalam perbincangan mereka, mencari tahu tentang apa yang ada di pikiran Leo dan berusaha membongkar informasi yang bisa berguna bagi rencananya.
Namun, semakin lama mereka berbicara, semakin Azura merasa bahwa dia harus tetap berpegang pada rencananya. Leo memang terampil dalam membuat dirinya terlihat seperti pria yang berubah, tetapi Azura tahu bahwa tujuannya masih sama.
Leo mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih serius. "Azura, aku merasa senang bahwa kita bisa berbicara seperti ini lagi. Aku merasa kita bisa menjadi seperti dulu lagi."
Azura menyesap minumannya, mencoba menjaga sikapnya yang ramah. "Ya, Leo. Aku juga merasa begitu."
Leo mendekatkan dirinya pada Azura, mencoba mengambil tangan Azura. "Azura, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku tahu aku sudah banyak melakukan kesalahan di masa lalu. Aku menyadari bahwa kamu pasti marah padaku, tapi aku ingin meminta maaf. Aku ingin kita kembali seperti dulu, seperti teman yang baik."
Azura merasa dadanya berdesir, tetapi dia menahan diri agar tidak terlihat terlalu terkejut. Dia memutuskan untuk tetap memainkan perannya dengan baik. "Leo, aku tahu bahwa kita punya banyak kenangan bersama. Tapi kamu juga tahu bahwa banyak hal telah terjadi di antara kita. Aku hanya berharap kita bisa berdamai dan melupakan masa lalu."
__ADS_1
Leo meraih tangan Azura dengan penuh perasaan. "Aku ingin kita bisa lebih dari sekadar berdamai, Azura. Aku ingin kita kembali bersama."
Saat Leo semakin mendekat, Azura merasakan hembusan angin dingin di kulitnya, seakan membawa kenangan dari masa lalu. Matanya terpejam sejenak, dan dia terbawa dalam kilas balik yang tiba-tiba datang. Dia merasakan dirinya kembali ke saat-saat yang sangat berbeda, di kehidupan sebelumnya.
Ingatan Azura membawanya kembali ke ruang yang gelap, di mana sentuhan Leo menyentuhnya dengan lembut dan bibir Leo mendekap bibirnya dalam kelembutan. Seolah-olah dia terjebak dalam keadaan di mana cinta dan hasrat begitu terjalin dengan kuat di antara mereka.
Azura merasakan ketegangan dalam tubuhnya, mengingat bagaimana dia merasakan kekuatan tarikan antara mereka. Ingatannya seperti meluncur ke dalam momen-momen penuh nafsu, di mana Leo menyentuh setiap lekuk tubuhnya dengan begitu intim. Ketika dia menciuminya, Azura merasakan denyutan perasaan yang amat dalam.
Azura tiba-tiba merasa detak jantungnya berdegup lebih cepat ketika ingatan tentang kehidupan sebelumnya semakin jelas memenuhi pikirannya. Dia teringat bagaimana Leo membawanya ke dalam kamar yang penuh dengan ketegangan dan keinginan yang sulit diabaikan.
Ingatan itu terasa nyata, seolah-olah dia kembali mengalami momen itu. Mata Azura berkaca-kaca saat dia mengingat bagaimana dirinya dibawa masuk ke dalam kamar Leo. Di dalam kamar yang mewah itu, dia merasakan bagaimana atmosfer berubah menjadi semakin intens.
Saat itu, Leo menggenggam tangannya dengan erat, membuatnya merasa terjebak dalam kenyataan yang tak terelakkan. Suasana di dalam kamar seakan penuh dengan energi yang menggelora, mengingatkannya akan pengalaman masa lalu yang begitu rumit.
Tangan Leo merayap dengan lembut di punggung tangannya, seperti aliran listrik yang menggetarkan kulitnya. Mata Leo memandanginya dengan hasrat yang tak tersembunyi, dan Azura merasa hatinya berdebar-debar tak terkendali. Begitu banyak emosi yang datang seiring dengan ingatan itu, seperti perasaan yang bercampur aduk antara keinginan, ketakutan, dan penyesalan.
Namun, kali ini, Azura tahu bahwa dia berada dalam kendali. Ingatan itu mungkin bisa memengaruhi perasaannya sejenak, tetapi dia tak akan membiarkan dirinya terjebak dalam perasaan yang salah. Dia harus tetap fokus pada misinya, membongkar rencana jahat Leo dan melindungi perusahaan, Ravendra, serta dirinya sendiri.
Dengan tekad yang teguh, Azura kembali ke momen sekarang. Dia merasa tangannya masih bergetar, tetapi dia berusaha untuk menjaga penampilannya yang tenang. Dia tidak akan membiarkan dirinya terjebak lagi dalam jaring emosi yang merusak rencananya.
Kini, Azura melihat dirinya duduk di sofa tempat mereka berada sama persis seperti di kehidupan sebelumnya. Leo berada di dekatnya, menciptakan kemesraan yang seakan tak terelakkan. Azura merasakan kebimbangan antara keinginan dan keragu-raguan.
Azura tahu bahwa dia harus bertindak, dia harus menjalankan rencananya untuk membalas dendam dan membongkar kejahatan yang dilakukan Leo. Dia harus tetap fokus pada tujuannya.
Azura merasa tangannya masih gemetar. Dia tersadar bahwa dia harus menjaga keseimbangan antara berpura-pura dan tujuan sebenarnya. Meskipun ingatan masa lalu menghantuinya, dia tahu bahwa dia harus tetap teguh dalam rencananya.
Azura merasa dadanya semakin berat mendengar kata-kata Leo. Dia tahu bahwa Leo masih memilikinya sebagai target, dan dia harus tetap berpegang pada rencananya. "Leo, aku... aku perlu lebih banyak waktu untuk memikirkannya. Kita tidak perlu terburu-buru."
Leo mengangguk, meskipun terlihat agak kecewa. "Tentu, Azura. Aku akan memberimu waktu yang kamu butuhkan."
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di rumah Leo, Azura akhirnya berpamitan untuk pulang. Dia tahu bahwa rencananya semakin rumit dengan setiap pertemuan ini, tetapi dia harus terus bermain perannya dengan baik. Saat dia meninggalkan rumah Leo, dia merasa campuran antara berat hati dan harapan. Harapan bahwa segala sesuatunya akan berakhir dengan baik dan kebenaran akan terungkap.
Tepat ketika Azura akan membelokkan mobilnya ke arah jalan menuju rumahnya, dia berpapasan dengan mobil yang begitu familiar di matanya. Semakin jelas dengan melihat plat nomor yang melekat di mobil Honda Jazz merah itu. Azura penasaran, dia berbalik arah dan mengikuti mobil itu.
Azura mengikuti mobil tersebut, dan ternyata benar dugaannya, mobil tersebut berhenti di rumah Leo. Azura menepikan mobilnya, menjaga jarak supaya tidak terlihat. Dia semakin penasaran dengan apa yang dia lihat, dan akhirnya seorang wanita muda seumuran dengan dirinya turun dari mobil.
Tidak bisa dipercaya namun inilah fakta yang ada di hadapannya. Azura menyaksikan bagaimana Lita, sahabat baiknya, memeluk dan mencium Leo begitu mesra. Begitu pun dengan Leo, dia memeluk erat dan membalas ciuman Lita dengan penuh gairah.
Ternyata, seperti inilah pengkhianatan yang mereka lakukan di belakang Azura selama ini di kehidupan sebelumnya. Kini Azura mengetahui semuanya, namun perasaannya saat ini sudah berbeda. Tidak ada cemburu, tidak ada sakit hati, yang ada hanyalah kemarahan untuk membalas dendam. Apa yang mereka rencanakan, tidak akan terulang kembali.
Azura pulang dengan perasaan kesal, bukan karena melihat mereka bermesraan, namun karena Lita begitu mudah mengkhianatinya. Bahkan Lita berani dan tega menghabisi nyawanya. Lita yang begitu baik pun berubah setelah termakan rayuan cintanya Leo. Leo memang benar-benar jahat.
Sesampainya di rumah, Azura terkejut karena Ravendra ternyata sedang menunggunya. Dia lupa, jika hari ini dia dan Ravendra harus pergi ke rumah kakeknya, Pak Doni, untuk makan malam bersama.
Azura memandang Ravendra dengan rasa kaget yang tidak bisa disembunyikan di matanya. Dia merasa bersalah karena lupa tentang rencana mereka untuk pergi ke rumah kakeknya, Pak Doni. Meski dia terkejut, dia mencoba tersenyum dan mendekati Ravendra.
"Maafkan aku, Sayang," ujarnya dengan suara lembut, tetapi kegelisahan masih terbaca di wajahnya. "Aku lupa tentang rencana kita."
Ravendra tersenyum, wajahnya terpancar penuh pengertian. "Tidak apa-apa, Azura. Mungkin kamu punya urusan yang membuatmu terlupa, aku mengerti."
__ADS_1
Azura merasa lega mendengar kata-kata Ravendra. Dia tahu Ravendra adalah pria yang pengertian dan sabar. Namun, hati Azura masih terganggu oleh apa yang baru saja dia saksikan di rumah Leo. Dia ingin mengutarakan apa yang dia lihat pada Ravendra, tetapi dia juga takut bagaimana Ravendra akan bereaksi.
***