
Azura memandang foto pernikahannya bersama Ravendra di dalam kamar. Dia teringat kala itu penuh dengan pergolakan batin untuk mengatakan 'aku akan mencoba' meskipun dia sangat membenci perjodohan itu.
Dalam ingatannya, Azura merasakan hatinya begitu rumit kala itu...
Cahaya senja masuk pelan melalui jendela kamar, mewarnai ruangan dengan nuansa hangat. Di sudut ruangan, Azura duduk di tepi tempat tidurnya, memandang ke hamparan langit di luar. Dalam keremangan cahaya senja, matanya terlihat penuh pemikiran.
"Haruskah aku menerimanya?" gumam Azura pada dirinya sendiri. Dia merenungi lamaran yang telah diberikan oleh Ravendra, pria yang dijodohkan dengannya. Perasaannya campur aduk, di antara rasa terikat oleh kewajiban keluarga dan hasrat untuk menentukan jalannya sendiri.
Dia meraba cincin di jari manisnya, menelusuri permata yang menghiasi cincin tersebut. Di dalam dirinya, dia tahu bahwa Ravendra adalah pria yang baik, pekerja keras, dan penuh dedikasi pada keluarga dan perusahaannya. Tapi apakah itu cukup? Apakah dia bisa hidup bersama pria ini untuk sisa hidupnya?
Teringat saat di mana Ravendra melamar dirinya tergambar jelas di ingatannya. Tatapan penuh cinta yang datang darinya, senyum lembut yang mencoba memberikan kenyamanan pada hatinya yang bergejolak. Tidak ada yang bisa dipungkiri, dia melihat sejumput harapan di mata Ravendra, harapan bahwa dia akan menerimanya.
Namun, Azura merasa terjebak dalam persimpangan takdir. Dia ingin bebas memilih cintanya sendiri, mengejar mimpi dan kebahagiaannya. Tapi di sisi lain, ada tanggung jawab yang melekat pada keluarganya, pada perusahaan mereka, dan pada nama baik mereka. Dia merasa seperti terjebak dalam jaring laba-laba yang rumit, tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan.
Saat itu, jendela di kamarnya terbuka perlahan, membawa hembusan angin sejuk dan aroma bunga dari taman. Azura merenung, seolah-olah mencari jawaban di dalam dirinya sendiri. Dia tahu keputusan itu tak bisa diambil dengan gegabah. Dan sementara dia merenungi nasibnya, langit senja berubah menjadi malam, memberikan waktu yang cukup baginya untuk merapikan pikiran dan emosinya sebelum akhirnya menghadapi realitas yang ada di hadapannya.
Dengan langkah lembut, Ibunya memasuki kamar Azura. Wajahnya dipenuhi oleh kehangatan, mata lembutnya memancarkan kebijaksanaan dan pengertian. Dia tahu bahwa putrinya sedang berada dalam pergolakan batin yang dalam.
"Nak, bolehkah Mama duduk di sini?" tanya Ibunya dengan lembut, suaranya merangkai kata-kata dengan penuh perhatian.
Azura mengangguk pelan, memberi izin kepada Ibunya untuk duduk di sampingnya. Dia bisa merasakan kehadiran Ibunya sebagai pelukan hangat yang memberikan kenyamanan.
"Nak, mama tahu kamu sedang menghadapi banyak pikiran," ujar Ibunya dengan nada lembut. "Berceritalah, mungkin Mama bisa memberikan sedikit ketenangan."
Azura menatap wajah Ibunya dengan cemas, berusaha menahan air mata yang ingin meluncur. Dia merasakan kelembutan tangan Ibunya yang menyentuh pipinya dengan penuh cinta.
"Aku... Aku bingung, Ma," ucap Azura perlahan. "Aku tahu Ravendra adalah pria baik. Tapi hatiku terasa terbelah. Aku ingin mengejar mimpiku, menemukan cinta sendiri. Tapi ada tanggung jawab besar yang kurasakan. Aku takut jika aku membuat keputusan yang salah."
Ibunya menggenggam tangan Azura dengan lembut. Matanya yang bijak menunjukkan pengertian mendalam. "Nak, hidup adalah tentang keputusan. Setiap langkah yang kita ambil pasti akan membawa konsekuensi. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan dengan pasti. Tapi yang penting, apapun keputusanmu, kamu harus yakin bahwa itu adalah pilihan yang benar untukmu."
Azura merenung, kata-kata Ibunya meresap ke dalam hatinya. Dia menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri. "Tapi Ma, aku takut mengecewakan semua orang. Aku takut jika keputusanku membuat kesedihan bagi mereka."
Ibunya tersenyum lembut, tangan yang masih memegang tangan Azura memberikan dukungan hangat. "Nak, kadang-kadang kita tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain merespon keputusan kita. Tetapi mereka yang mencintaimu akan mengerti dan mendukungmu, tidak peduli apa pun yang kamu pilih."
Mereka duduk dalam keheningan sejenak, merenungkan kata-kata yang telah mereka bagikan. Azura merasa beban di hatinya sedikit mereda. Ibunya telah memberinya pandangan yang lebih luas tentang hidup dan keputusan-keputusan yang harus diambil.
"Nak, kamu tahu bahwa mama selalu mendukungmu, bukan?" Ibunya berkata dengan lembut. "Apapun yang kamu pilih, mama akan selalu ada untukmu. Kau adalah anakku yang kuat dan pemberani."
Air mata Azura jatuh perlahan, tetapi kali ini bukan lagi karena kebingungan atau kecemasan. Ini adalah air mata yang lahir dari kelegaan dan rasa dicintai. Dia memeluk Ibunya erat-erat, merasakan cinta yang tulus dan tanpa syarat.
Dalam pelukan Ibunya, Azura merasa mendapat kekuatan baru. Dia tahu bahwa apa pun yang akan dia pilih, dia akan menghadapinya dengan kepala tegak dan hati yang jernih. Kehidupannya mungkin rumit dan terkadang tak terduga, tetapi dia tahu bahwa di sampingnya, ada orang-orang yang akan selalu mendukung dan mencintainya.
Dalam kegelapan kamar, suara dering telepon pada ponsel Azura memecah keheningan. Azura memandang layar dengan sedikit kantuk, kemudian mengangkat telepon dengan hati-hati.
"Halo?" Azura menjawab pelan.
"Hey, Azura... Apa kabar?" suara lembut Lita terdengar dari seberang telepon.
Azura tersenyum getir. "Hai, Lita. Aku baik-baik saja."
Namun, dalam hati Azura, beban yang dia rasakan begitu berat. Dia merasa seperti sedang terjepit di antara pilihan-pilihan sulit yang harus diambil.
Lita merasa adanya ketidakpastian dalam suara Azura. "Aku tahu, kamu tidak baik-baik saja. Ayo, kamu bisa bercerita padaku tentang apa pun?"
Azura menghela nafas. Dia tahu bahwa Lita adalah teman yang selalu mendengarkan dan peduli padanya. "Lita, sejujurnya... Aku merasa sangat bingung dan khawatir."
Lita mendengarkan dengan saksama, memberi Azura ruang untuk berbicara.
"Aku dihadapkan pada keputusan besar dalam hidupku," Azura meneruskan dengan lirih. "Aku harus memilih antara mencintai seseorang dengan tulus atau memenuhi kewajiban yang telah diatur oleh keluarga."
Lita mengerti bahwa Azura merujuk pada pilihan antara Ravendra dan Leo. "Aku tahu ini sulit, Azura. Tapi yang terpenting adalah mendengarkan suara hatimu sendiri. Apa yang membuatmu bahagia dan siapa yang membuatmu merasa nyaman."
Azura menggigit bibirnya, merenungkan kata-kata Lita. "Aku tahu, Lita. Tapi terkadang, cinta dan kewajiban saling bertentangan."
"Jika itu cinta yang sejati, dia akan mengerti dan mendukungmu," Lita berbicara dengan penuh keyakinan. "Tapi kamu harus percaya pada dirimu sendiri, Azura. Kamu adalah satu-satunya yang tahu apa yang kamu butuhkan."
Azura merasa sedikit lebih ringan mendengar nasihat Lita. Dia tahu bahwa Lita selalu ada di sisinya, mendukung dan memahaminya tanpa syarat.
"Makasih, Lita. Aku benar-benar beruntung punya kamu sebagai sahabat."
"Kamu tahu, kita selalu saling mendukung, Azura. Apapun yang kamu pilih, aku akan mendukungmu."
"Baiklah, kita bicara lagi besok. Selamat malam, Lita."
"Malam, Azura."
Azura menutup sambungan telepon dari Lita. Setelah berbicara dengan Lita, Azura merasa sedikit lebih tenang. Meskipun keputusan yang harus diambil tetap berat, dia merasa memiliki dukungan dari sahabatnya yang selalu ada untuknya. Dalam ketidakpastian ini, dia tahu bahwa ada seseorang yang peduli padanya dan siap mendengarkan, tanpa menghakimi.
Dengan hati yang masih penuh pertimbangan, Azura memutuskan untuk fokus pada rutinitas harian yang biasa. Dia mengenakan baju kerja dengan rapi, mencerminkan profesionalisme yang selalu dia tunjukkan di perusahaan Wijaya. Meskipun hatinya masih terombang-ambing antara pilihan-pilihan yang rumit, dia berusaha untuk tidak membiarkan perasaannya memengaruhi pekerjaannya.
__ADS_1
Azura berdiri di depan cermin, memastikan setiap detail penampilannya sudah tertata sempurna. Dia meluruskan kancing baju dan menyempurnakan rambutnya. Meskipun hatinya bergejolak, dia ingin memberikan penampilan terbaik untuk pekerjaannya.
Setelah selesai, Azura mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar kamarnya. Udara segar pagi menyambutnya, seolah memberikan semangat baru untuk menghadapi hari yang akan datang. Dia menghela nafas panjang, berusaha mengumpulkan pikiran dan fokus untuk hari ini.
Dengan senyuman hangat di wajahnya, Azura melangkah ke ruang makan di mana ibu dan ayahnya sudah duduk, sedang menikmati sarapan pagi. Aroma makanan yang lezat tercium di udara, menciptakan suasana yang nyaman dan akrab di ruangan itu.
"Selamat pagi, Ma, Pa," sapa Azura dengan ramah, duduk di kursi yang kosong di sebelah ibunya.
"Selamat pagi, Nak," jawab ibunya, Bu Dewi, dengan senyuman penuh kasih.
Pak Raka, ayah Azura, mengangguk tanda menyambut. "Selamat pagi, Azura. Bagaimana hari kamu?"
"Hari ini baik, Pa," jawab Azura sembari tersenyum. "Sudah siap untuk menghadapi hari yang baru."
Ibunya tersenyum bangga. "Tentu saja, Nak. Kamu selalu memberikan yang terbaik."
Azura pun mulai mengambil makanan dari piring-piring yang sudah tersedia di meja. Mereka mengobrol santai, berbicara tentang berbagai hal yang terjadi di pekerjaan, keluarga, dan rencana ke depan. Meskipun dalam hati Azura ada beban yang sedang dia pikul, tapi dia berusaha menunjukkan semangat dan keceriaan di hadapan orang tuanya.
"Bagaimana dengan rencana akhir pekan ini, Nak?" tanya Pak Raka sambil mengambil gigitan sarapan.
"Belum terlalu pasti, Pa," jawab Azura. "Mungkin akan ada beberapa rapat yang perlu aku ikuti. Hari ini pun aku akan ada rapat dengan salah satu perusahaan, tapi aku lupa menanyakan ke sekretaris dari perusahaan mana. Mereka mau menawarkan bisnis, hanya itu yang aku tahu."
Ibunya mengangguk mengerti. "Tidak apa-apa, Nak. Tetap lakukan yang terbaik."
Perbincangan santai terus berlanjut di antara mereka. Azura merasa nyaman dan hangat dalam kebersamaan keluarga. Ini adalah momen yang dia hargai, di mana dia bisa melupakan sejenak semua urusan yang rumit dan hanya menikmati momen berharga bersama orang-orang yang dia cintai.
Setelah sarapan selesai, Azura membereskan piringnya dan mengucapkan terima kasih kepada ibunya atas sarapannya. Dia merasa beruntung memiliki keluarga yang selalu mendukungnya dalam segala hal. Dengan hati yang penuh rasa syukur, Azura bersiap untuk melanjutkan hari dengan semangat dan tekad yang baru.
Azura memasuki mobilnya, Toyota Yaris merah kesayangannya, dengan kunci di tangan. Udara pagi yang segar menyambutnya saat dia memulai mesin mobil. Suara mesin yang bergetar dengan lembut mengisi ruang kecil di dalam mobil. Azura memutar stang kemudi dan mengarahkan mobilnya ke jalan raya yang sudah tampak ramai.
Sinar matahari perlahan mulai menerangi langit, menciptakan semburat warna oranye keemasan di ufuk timur. Azura menatap lalu lintas yang padat, menyesuaikan laju mobilnya dengan irama kecepatan yang terkadang bergerak lambat, terutama di persimpangan-persimpangan besar.
Dalam perjalanan, dia mengamati sekitarnya dengan cermat. Bangunan-bangunan perkantoran dan toko-toko mulai membuka usaha mereka, sementara pejalan kaki berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat kerja mereka. Ia juga memperhatikan rona kota yang ramai dengan warna-warni bendera dan iklan yang terpampang di sepanjang jalan.
Mobil-mobil di sekitarnya bergerak maju perlahan dalam kepadatan lalu lintas, membentuk aliran yang tak henti-hentinya. Azura menyusuri jalanan yang familier, terbiasa dengan rute perjalanannya menuju perusahaan Wijaya. Meskipun lalu lintas macet adalah bagian dari rutinitas pagi, dia tidak merasa terlalu terganggu. Ia memiliki musik yang mengalun lembut dari radio mobilnya untuk menemani perjalanan tersebut.
Sementara di jalan, Azura membiarkan pikirannya melayang pada berbagai hal. Rencana kerja untuk hari ini, pertemuan dengan klien, dan segala aktivitas yang sudah diatur dalam jadwalnya. Meskipun ada banyak hal yang harus dihadapi, Azura merasa semangat dan siap untuk menghadapi hari dengan penuh semangat.
Setelah beberapa waktu, Azura akhirnya mencapai perusahaan Wijaya. Dia berhenti di depan gedung besar yang sudah tidak asing baginya. Meskipun pagi ini adalah pagi yang biasa, dia tahu bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk meraih prestasi dan memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya. Dengan senyuman di wajahnya, Azura mengambil tasnya dan keluar dari mobil, siap untuk memulai hari yang penuh potensi dan peluang di depannya.
Azura merasa adanya kekuatan dari dalam dirinya yang mendorongnya untuk tetap berjalan maju. Di dalam perusahaan, dia terlibat dalam berbagai pertemuan, presentasi, dan diskusi. Kehadirannya yang energik dan kompeten selalu menjadi inspirasi bagi rekan-rekan kerjanya.
Azura tahu bahwa keputusan itu akhirnya harus diambil, tapi hari ini dia akan menghadapi pekerjaannya dengan sepenuh hati. Meskipun hatinya masih penuh pertimbangan, dia berkomitmen untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya, sesuai dengan sikap profesionalisme yang selalu dia pegang teguh.
Azura berjalan dengan langkah mantap menuju lift, melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Ia merasa seakan waktu berjalan lebih cepat saat dia berjalan menuju tempat kerja, berusaha untuk tidak terlambat. Saat ia memasuki lift, pandangannya tertuju pada tombol-tombol angka lantai yang akan dia tuju. Tanpa disadari, dia merasakan ada kehadiran yang memasuki lift bersama dengannya.
Saat dia berbalik, pandangannya langsung bertemu dengan Ravendra. Wajahnya yang tampan dan karismatik seakan menghipnotis siapa pun yang melihatnya. Azura tidak bisa menghindari perasaan kagum yang tiba-tiba muncul meskipun dia berusaha untuk tidak terlalu terpengaruh oleh pesonanya.
Ravendra, dengan penuh keyakinan, memasuki lift dan berdiri di samping Azura. Ada kecanggungan yang terasa di udara, tetapi Ravendra tetap memancarkan aura percaya diri yang sulit diabaikan. Pintu lift mulai tertutup dan mereka berdua tinggal dalam keheningan yang sedikit kaku.
Pandangan Azura terus menatap ke depan, mencoba untuk tidak terlalu terlihat terganggu. Namun, dia merasa bahwa mata Ravendra mengamati dirinya dengan seksama. Dia mencoba untuk tidak menunjukkan bahwa dia terpengaruh oleh kehadiran Ravendra, meskipun dalam hati kecilnya ada keragu-raguan.
Tiba-tiba, suasana canggung itu dipecahkan oleh Ravendra dengan senyuman hangatnya. "Hari ini adalah presentasi bisnis antara perusahaan Wijaya dan Alfonsa, bukan?"
Azura mengangguk dengan pelan, mencoba untuk menjaga ekspresinya tetap netral. "Iya, benar. Kami sudah lama menjalin kerja sama dengan Alfonsa."
Ravendra mengangguk, masih dengan senyuman yang ramah. "Saya yakin pertemuan ini akan berjalan lancar. Perusahaan Alfonsa sangat menghargai kerja sama dengan Wijaya."
Azura hanya bisa merespons dengan senyuman tipis, berusaha untuk tidak terlalu terpancing oleh ucapan Ravendra. Meskipun dia mencoba untuk bersikap cuek, namun ada bagian dalam dirinya yang masih terasa berdebar-debar.
Lift berhenti di lantai yang mereka tuju dan pintunya terbuka. Keduanya keluar dengan langkah hati-hati, memasuki lorong menuju ruangan presentasi. Azura mencoba untuk mengendalikan perasaannya, tetapi ada getaran kecil di dalam dirinya. Meskipun begitu, dia tetap fokus pada tugasnya dan berharap pertemuan ini akan berjalan dengan baik.
Dalam hatinya, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap profesional dan tidak terlalu membiarkan pengaruh Ravendra mengganggu konsentrasi dan tugasnya hari ini.
Mereka memasuki ruang rapat yang terang benderang, dihiasi dengan meja bundar besar yang dilengkapi dengan layar presentasi. Ravendra dengan sigap mengambil tempat di depan, menyusun berkas-berkas presentasinya. Azura mengikuti dengan langkah hati-hati, duduk di kursi yang telah ditentukan untuknya.
Ruang rapat terasa terisi dengan suasana yang serius, seperti biasanya dalam pertemuan bisnis. Ravendra memandang setiap orang di ruangan dengan tatapan percaya diri yang tak tergoyahkan. Kemudian, dia mulai berbicara dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan.
"Selamat pagi semua. Kami sangat senang bisa berkumpul di sini hari ini untuk membahas potensi kerja sama antara perusahaan Wijaya dan Alfonsa," ucap Ravendra dengan suara jelas.
Azura mendengarkan dengan penuh perhatian saat Ravendra menjelaskan visi dan misi kedua perusahaan. Dia merasa terkesan dengan kemampuan berbicara Ravendra yang mampu memikat pendengarnya. Pada saat yang sama, dia mencoba untuk tetap fokus pada presentasi dan tidak terlalu terpancing oleh kehadiran Ravendra.
Ravendra melanjutkan presentasinya dengan memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana kedua perusahaan bisa saling melengkapi. Dia menjelaskan potensi keuntungan dari kerja sama ini, serta bagaimana hal itu dapat menghasilkan produk dan layanan yang lebih baik bagi pelanggan.
Azura merasa sedikit lega saat perhatiannya benar-benar tertuju pada isi presentasi, mengabaikan kecanggungan dan perasaan aneh yang sebelumnya muncul saat mereka berdua berada di dalam lift. Dia mendengarkan dengan seksama, mencatat poin-poin penting yang diberikan Ravendra.
Setelah presentasi selesai, Ravendra melanjutkan dengan membuka sesi tanya jawab. Para peserta pertemuan mulai mengajukan pertanyaan, dan Ravendra dengan tangkas memberikan jawaban-jawaban yang tepat. Azura merasa kagum dengan kemampuan Ravendra dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan penuh keyakinan.
Saat presentasi dan sesi tanya jawab berakhir, suasana ruangan terasa lebih santai. Para peserta mulai berbincang-bincang dan berinteraksi satu sama lain. Azura merasa sedikit lebih rileks, meskipun dia masih merasa ada perasaan aneh yang menghantui di balik pikirannya.
__ADS_1
Ketika Ravendra menyapa para peserta dan berbicara dengan beberapa orang, Azura memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan ruangan rapat dengan hati-hati. Dia merasa perlu sejenak untuk mendapatkan napas segar dan menghilangkan perasaan canggung yang masih mengendap di dalam dirinya.
Pak Raka baru saja datang karena harus mengurusi klien di perusahaan lain. Dia mengajak Azura dan Ravendra untuk makan siang di sebuah restoran. Mereka setuju dengan ajakan Pak Raka.
Restoran yang mereka pilih memiliki nuansa yang nyaman dan elegan. Cahaya alami masuk melalui jendela-jendela besar, menciptakan suasana yang hangat di dala okm ruangan. Meja makan yang terhiasi dengan penuh keindahan sudah menanti mereka, menampilkan berbagai pilihan hidangan lezat.
Pak Raka memandu Azura dan Ravendra menuju meja yang telah disediakan. Dia tersenyum ramah sambil memberikan salam pada beberapa kenalan yang juga sedang makan di restoran ini.
"Silakan duduk, Azura, Ravendra," kata Pak Raka dengan senyum lembut, menunjuk pada dua kursi yang tersedia di samping meja makan.
Ravendra dengan santun segera merespons, "Terima kasih, Pak Raka." Dia dengan lembut mempersilakan Azura untuk duduk terlebih dahulu.
Namun, Azura tampaknya memiliki rencana sendiri. Dengan senyum tipis, dia justru memilih kursi yang berseberangan dengan kursi yang ditunjuk oleh Ravendra. Ada sedikit keisengan dalam mata Azura, seakan dia ingin menyebutkan bahwa dia tidak akan selalu menuruti apa yang Ravendra lakukan.
Ravendra sedikit terkejut dengan reaksi Azura, tapi dia segera menyesuaikan diri dan duduk di kursi yang telah dipilihnya. Dia tidak memperlihatkan ekspresi yang aneh, melainkan tetap tersenyum dan tampak mengikuti alur.
Pak Raka hanya tersenyum melihat interaksi mereka, seolah-olah dia bisa merasakan dinamika yang ada di antara mereka. Setelah mereka semua duduk, mereka mulai memilih hidangan dan berbincang-bincang ringan tentang bisnis, kegiatan sehari-hari, serta topik lain yang terasa nyaman untuk dibicarakan.
Makan siang berlangsung dengan suasana yang harmonis. Tidak terlihat ketegangan atau canggung di antara mereka. Meskipun Azura dan Ravendra mungkin memiliki perasaan yang rumit di dalam hati masing-masing, di meja makan ini mereka mencoba untuk menunjukkan keramahan dan sikap profesional yang sama.
Saat mereka berjalan keluar dari restoran, mata Azura tiba-tiba tertuju pada mobilnya dan berdiri dengan penuh kesedihan. Ban mobil kempis, dan tanda-tanda ada benda tajam yang menusuknya dengan jelas terlihat. Dia merasakan frustrasi dan kebingungan tiba-tiba, berusaha untuk mengingat apakah ia membawa ban cadangan atau tidak. Namun, tampaknya hari ini adalah hari ketidakberuntungan bagi Azura karena ban cadangan juga tertinggal di rumah.
Pak Raka memperhatikan wajah bingung Azura dan mendekat, "Ada apa, Azura?"
"Duh, Pa. Ban mobil Azura kempis, dan Azura tidak membawa ban cadangan," Azura menjawab dengan sedikit kesal.
Pak Raka mengangguk paham, "Hmm, sepertinya ini memang bukan hari yang baik untuk mobilmu, Nak."
"Azura bingung harus bagaimana, Pa. Azura ingin sekali cepat-cepat pulang," ucap Azura dengan nada kesal.
Ravendra yang mendengar percakapan mereka ikut berbicara, "Kalau begitu, mengapa tidak pulang bersama-sama? Saya juga akan menuju arah yang sama."
Azura menatap Ravendra, menolak dengan kasar, "Tidak mau!"
Pak Raka membujuk, "Azura, ini kesempatan bagus. Kamu bisa ikut dengan Ravendra. Mobil kamu nanti akan Papa urus. Papa ada rapat penting lagi dan harus segera ke sana."
Meskipun masih ada rasa enggan, Azura akhirnya dengan terpaksa mengangguk setuju. Dia tidak ingin merepotkan ayahnya lebih lanjut dan sudah cukup terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya hari ini. Mereka bergerak menuju mobil Mitsubishi Pajero Sport putih milik Ravendra, dan perjalanan pulang mereka pun dimulai.
Di dalam mobil, suasana terasa agak canggung. Azura terdiam tidak berbicara sepatah kata pun. Ravendra memandang Azura yang tampak sedang terdiam seperti berbicara dalam pikiran sendiri. Dia merasa ingin membuat suasana lebih nyaman, maka dengan inisiatif dia menghidupkan radio. Tiba-tiba, melodi dari lagu favorit Azura mengalun, lagu I'm with You yang dinyanyikan oleh Avril Lavigne terdengar nyaman di pendengaran Azura.
I'm listening but there's no sound
(Aku mendengarkan namun tak ada suara)
...
Trying to figure out this life
(Mencoba mencari tahu tentang hidup ini)
Mendengar kata-kata rumit pada lirik lagu yang mengalun membuat Azura teringat dengan perjodohan mereka. Mata Azura menyapu pandangannya ke luar jendela. Dia memikirkan banyak hal, kenapa lagu ini begitu cocok dengan keadaannya saat ini. Semua menjadi berantakan, rumit, dan susah untuk dipahami.
"Maaf jika perjodohan ini membuatmu tidak nyaman," ucap Ravendra dengan suara lembut, seolah merasakan perasaan Azura. "Aku tahu bahwa ini adalah hal yang berat untuk dipahami dan diterima. Namun, aku ingin membuktikan bahwa pernikahan kita bukan sekadar takdir yang terjalani tanpa rasa. Aku ingin membangun sesuatu yang lebih dari itu, Azura."
Azura menggigit bibirnya, mencoba menahan emosinya. Di dalam hatinya, dia merasa berbaur antara penghargaan atas tekad Ravendra dan kebingungan tentang perasaannya sendiri. Dia merasa terhormat karena Ravendra mendedikasikan dirinya untuk menjalani pernikahan ini, tetapi pada saat yang sama, perasaan cinta yang belum sepenuhnya tumbuh membuatnya merasa ragu.
Ravendra melanjutkan, "Aku tidak ingin memaksamu merasakan apa pun. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak menyangkal bahwa ada tantangan dalam pernikahan ini. Tapi aku ingin mencobanya, menghormati permintaan terakhir ibuku, dan memberikanmu kesempatan untuk mengenaliku dengan lebih dalam."
Azura akhirnya menatap Ravendra, matanya mencari-cari tanda-tanda kejujuran dalam kata-katanya. Walaupun dia masih merasa ragu dan terombang-ambing dalam perasaannya, dia mulai merasakan kehangatan dan kejujuran dari apa yang diucapkan Ravendra. Dia merasa ada kemungkinan untuk membangun sesuatu di antara mereka, meskipun semuanya terasa begitu rumit.
Dengan suara lembut, Azura menjawab, "Aku akan mencoba, Ravendra. Tapi, Aku tidak akan berusaha membuka hati dan memberikan kesempatan untuk rasa cinta pada pernikahan ini. Aku hanya menghormati alasanmu dan juga mendiang ibumu. Semoga kita bisa menemukan jalan bersama."
Ravendra tersenyum penuh pengertian dan tulus. Meskipun ada tantangan besar yang harus mereka hadapi, dia merasa lega karena Azura setidaknya memberinya peluang untuk membuktikan diri dan membangun sesuatu yang lebih berarti. Dia tahu jika hati Azura masih penuh pertanyaan, dan juga dia tahu jika Azura masih membenci perjodohan ini.
Saat lagu-lagu silih berganti di dalam mobil Ravendra, Azura duduk di sampingnya dengan pandangan kosong. Meskipun ia terlihat menikmati musik, pikirannya sebenarnya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang mendalam tentang hidupnya dan perjodohan yang dia jalani.
Azura merenung tentang apakah dia bisa benar-benar bahagia dengan perjodohan ini. Kebimbangan dan keraguan tentang masa depannya dengan Ravendra menghantuinya. Dia bertanya-tanya apakah ada ruang untuk cinta sejati dalam pernikahan yang diatur seperti ini atau apakah dia akan terjebak dalam kebahagiaan semu.
Pertanyaan-pertanyaan ini menggoyahkan hatinya, dan Azura merasa perlu mencari jawaban. Saat lagu-lagu terus mengalun di dalam mobil, dia menyadari bahwa hidupnya adalah perjalanan yang panjang, dan dia harus menentukan arah yang benar baginya sendiri.
Pikiran-pikiran ini menciptakan ketidakpastian dalam perjalanannya, dan Azura tahu bahwa dia harus mencari kejelasan dan kebahagiaan yang sebenarnya, meskipun perjalanan itu mungkin akan sulit.
Azura tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara mobil Ravendra yang memasuki halaman rumah. Kini dia merasa beruntung dan bahagia telah mengenal Ravendra. Senyuman tipis terukir di wajahnya, kehadiran Ravendra adalah pengingat akan bagaimana kehadirannya telah mengubah hidupnya.
Azura merasa beruntung dan bahagia telah mengenal Ravendra. Dia menyadari bahwa meskipun ada banyak pertanyaan dan keraguan dalam hubungan mereka sebelumnya, kini dia merasakan kebahagiaan dan dukungan yang mereka bagikan satu sama lain. Mereka adalah pasangan yang memiliki kesempatan untuk membangun kebahagiaan bersama.
Dalam momen itu, saat Ravendra mendekat, Azura merasa bahwa dia memiliki sekutu, sahabat, dan pasangan yang siap berjuang bersamanya dalam perjalanan hidup mereka. Mereka mungkin memiliki rintangan dan tantangan, tetapi mereka juga memiliki cinta dan komitmen satu sama lain yang kuat.
***
__ADS_1