
Terik matahari tampak menyinari kamar putri Stella. Dengan mata yang masih tertutup dan tangan meraba-raba samping tempat tidurnya.
“Dimana ponselku?” gumam Putri Stella mencari ponsel di samping tempat tidurnya, tapi tidak menemukannya.
“Mimpi yang sangat indah hidup di keluarga bangsawan ha...ha...,” ucapnya dengan mata yang masih tertutup.
Sedangkan di samping tempat tidur, Annie sedang memperhatikan Putri Stella.
“Anda sudah bangun Tuan Putri Stella?” Terdengar suara dari tempat tidurku.
Perlahan Stella membuka matanya, terkejut melihat Annie ada di sebelahnya, jadi yang kemarin itu bukan mimpi! Apa aku benar-benar ada di keluarga kerajaan?!
Annie memintaku untuk mandi, aku berpikir apa mereka semua akan memandikanku lagi?
Bukankah aku tuan Putri? seharusnya aku bisa memerintahkan mereka bukan?
“Annie! mulai sekarang aku akan mandi sendiri. Tidak masalah bukan? “ tanyaku menatap wajah Annie.
“Tapi...,"
“Tidak ada tapi-tapian!” Aku menyela omongan Annie, aku tidak bisa tubuh telanjangku terus-terusan terekspose.
“Huftt....” Helaan nafas berat Annie terdengar jelas.
“Baiklah, Anda boleh mandi sendiri.” Ucap Annie dengan wajah lemasnya.
Annie adalah kepala pelayan sekaligus pengurus Putri Stella. Annie sudah bersama Putri Stella selama 10 tahun. Ayah Annie adalah seorang kepercayaan Raja, dan Annie sebagai anaknya bertugas menemani dan mengurus Putri Stella.
Di meja makan seluruh keluarga telah hadir. Putri Stella yang baru saja turun pun langsung bergabung di meja makan.
“Putri Claire, Grand Duke Edward memintamu untuk datang ke istananya. Dia mengatakan ada pemberontak yang menyebar desas-desus tentang buruknya pengurusan dalam kerajaan kita," Maharaja yang membuka suara.
“Iya ayahanda, Putri juga mendengar, kemarin Pangeran Philip menyebutkan juga tentang itu, sahut Putri Claire dengan tangan yang sedang mengambil makanan.
“Tapi siapa yang berani berbuat keji seperti itu?” Ibunda ratu menimpali.
“Baginda juga tidak tahu wahai ratu, selama ini, baginda sudah berusaha melakukan pekerjaan sebagai Raja dengan sebaik mungkin!”
Ruang makan terlihat tampak tegang.
“Apakah keluarga Raja menyinggung seseorang?” Aku memberanikan diri untuk bertanya, aku tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang tertinggal dalam pergosipan dunia bangsawan.
“Apa maksudmu, Putri Stella?”Putri Claire melirik kearah ku.
“Ya, bisa saja orang itu menyimpan dendam pada keluarga kita, karena kita sudah menyinggungnya,” jawab ku dengan mengunyah beberapa makanan yang ada di meja makan.
Semua orang terdiam, berpikir apa yang di katakan Putri Stella mungkin ada benarnya juga. Ayahanda tampak khawatir, tatapannya terlihat gelisah. Putri Claire berusaha menenangkan ayahandanya, mengatakan bahwa dia akan mencari tahu siapa dalang di balik ini semua?
__ADS_1
Putri Stella tidak begitu mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Dia tidak terlalu paham tentang Kerajaan Istana.
Tapi, putri Stella ingin melihat dunia bangsawan seperti apa? Apakah seperti yang ada di buku-buku atau film yang biasa dia tonton.
“Maaf, Ibunda ratu, Ayahanda raja. Boleh kah aku meminta ijin untuk berkeliling keluar istana?” aku berhati-hati dalam ucapanku, aku takut mereka tidak akan mengizinkanku.
Semua orang menatap wajahku. Aku bertanya-tanya apakah salah jika aku meminta ijin keluar? Kenapa semua orang seperti terkejut.
Tidak lama kemudian wajah terkejut mereka berubah menjadi senyuman yang sangat ramah.
“Tentu saja.” Ibunda ratu tersenyum manis padaku.
Wajah semua orang seperti memberitahuku bahwa mereka mengijinkanku.
“Pergilah dengan Annie,” sambung Raja.
“Baik ayahanda, terima kasih.” Aku menatap mata ayahanda senang, seraya menundukan kepala sebagai ucapan terima kasih.
Terlihat putri Stella berjalan bersama Annie, berkeliling di wilayah kerajaan. Hari ini, para rakyat sedang mengadakan festival jajanan Ibukota Kerajaan.
Orang-orang tampak ramai dengan wajah yang penuh ceria. Para orang tua yang berjualan, anak-anak yang berlarian, semua tampak bahagia.
Di ujung jalan, ada seorang anak kecil yang sedang di rundung oleh anak-anak lainnya.
Putri Stella segera menghampirinya.
Anak kecil itu hendak di pukul oleh anak yang umurnya lebih besar darinya.
“Jangan lakukan ini, kau akan menyakitinya,” ucap Putri Stella seraya menurunkan tangan anak remaja yang di pegangnya.
Anak remaja yang melihat Putri Stella pun ketakutan. Dan segera meminta maaf, lalu berlari dengan cepat meninggalkan Putri Stella bersama anak kecil.
“Ha! Ada apa dengan mereka? Apa aku terlihat menakutkan Annie?“ tanya putri Stella pada Annie yang sedang memperhatikan anak remaja yang berlari menjauh dari tempatnya. Annie hanya menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa Annie juga tidak mengerti.
Tanpa mereka sadari, dari atas restoran ada seorang Pangeran yang sedang memperhatikannya.
“Heii! Anak kecil, apakah kau baik-baik saja?” tanya Stella dengan berjongkok di depan anak kecil itu.
“S-saya baik-baik saja tuan Putri, maafkan saya tuan Putri,” ucap anak kecil dengan wajah yang ketakutan dan bersujud di depan Putri Stella.
“E-eehh ... apa yang kau lakukan? Berhenti bersujud dan berdirilah!”
Dengan hati-hati anak kecil itu pun berdiri. Putri Stella memberitahunya bahwa dia tidak perlu takut, Putri Stella tidak akan menyakitinya
“Annie, berikan makanan yang tadi kita beli di seberang jalan!” perintah Stella.
“Tapi tuan Putri, makanan ini yang terakhir. Tidak ada yang jual lagi disini semua sudah habis,” jawab Annie.
__ADS_1
“Tidak masalah, kita bisa beli makanan yang lain.”
Annie pun segera memberikan makanan di plastik yang sedari tadi Annie bawa.
“Pergilah makan makanan ini!” Putri Stella mengelus lembut pundak anak kecil itu.
Anak kecil itu berterima kasih pada kebaikan Putri Stella, lalu segera pergi meninggalkan Putri Stella dan Annie.
Putri Stella yang melihat kepergian anak kecil itu merasa bahagia karena bisa membantunya.
“Aahhh! Aku lapar, apa yang harus kita makan Annie?” Stella melirik Annie manja.
“Di sana ada restoran enak tuan Putri,” jawab Annie dengan menunjuk ke aras restoran yang bertingkat 2.
Tuan putri Stella dan Annie pun memasuki restoran.
“Annie mari ke atas, aku ingin makan sambil mencari udara segar,” ajak tuan Putri melihat ke arah atas restoran.
Annie menyuruh Putri Stella ke atas lebih dulu, karena Annie akan memesankan makanan untuknya terlebih dahulu. Lalu baru ia akan menyusul.
“Oke! Aku tunggu di atas Annie,” bisik Putri Stella, sedangkan di dalam ruangan semua orang diam-diam memperhatikan tingkah laku Putri Stella.
Putri Stella sedang duduk di meja dekat dengan jendela yang terbuka lebar.
Tiba-tiba seorang wanita menghampiri nya.
“Haii putri Stella, sudah lama sekali saya tidak melihat Anda!” ucap seorang Putri dengan wajah yang seperti sudah lama mengenalnya.
Putri Stella kebingungan, dia siapa? Apakah aku mengenalnya?
“Apa aku mengenalmu?” tanya Putri Stella ragu-ragu.
“Waahh! Bukankah itu keterlaluan, tuan Putri tidak mengenali saya,” ucap wanita itu dengan wajah liciknya.
“Sudahlah putri Diana, Anda tidak usah mengganggunya.” Terdengar suara lelaki di belakang tempat dudukku. Ketika aku menoleh ke belakang. Ternyata pangeran Philip sedang makan bersama wanita yang ada di depan ku.
“Aahh laki-laki itu lagi, buang-buang waktuku saja,” lirihku dengan suara yang sangat pelan.
“Maafkan aku tuan Putri,” ucap wanita yang ada di depan ku.
Aku hanya terdiam mengabaikan semua yang di katakan oleh Putri Diana. Bagiku, itu merusak pendengaranku saja.
“Saya tidak sengaja makan dengan tunangan Anda,” ucap Putri Diana dengan senyuman tipis di bibirnya, mencoba untuk membuat Putri Stella cemburu.
”Tidak masalah, makanlah! Siapa yang peduli dengan kalian berdua,” ucapnya dengan tersenyum miring dan menggeleng-gelengkan kepala. Cihh! Mengapa aku harus cemburu!?
”Jika kau tidak ada keperluan lagi, pergilah! Kau menghalangi pemandangan mataku,"
__ADS_1
Putri Diana terkejut dengan sifat Putri Stella yang tiba-tiba berubah. Selama ini dia tahu, bahwa Putri Stella sangat lemah, Putri Stella selalu mengalah dan merasa cemburu jika melihat Putri Diana dengan sang Pangeran.
Tapi siapa sangka reaksi Putri Stella membuatnya terkejut.