Tentara Dan Cintaku

Tentara Dan Cintaku
Pertemuan


__ADS_3

Enam bulan kemudian..


Cewek cantik berbalut celana jeans dan kaos serta jaket hitam menambah kesan anggun nya sambil berpegangan tangan anak kecil berjalan keluar dari bandara..


“Abang..” teriak Alana


Hardhan yang merasa dipanggil, menoleh kebelakang dan melihat sosok wanita yang sudah dirindukan enam bulan belakangan ini.


“Alana rindu bang..” ucap Alana sambil berjalan dan memeluk Hardhan.


“Iya, abang juga rindu Alana. Mana kesayangan si kecil abang” ucap Hardhan


“Daddy..” ucap Excel dengan lirih


“Duh.. anak daddy makin gembul sekarang” Hardhan sambil menggendong Excel.


“Ayo pulang, abang sudah menyiapkan rumah buatmu dek dan Excel”


“Bang.. enggak perlu sampai repot begini” ucap Alana


“Abang enggak merasa direpotin, ini semua buat anak kesayangan abang” jawab Hardhan dengan tegas


Mereka pun berjalan masuk kedalam mobil yang sudah dibawa sama Hardhan. Hardhan membawanya ke sebuah rumah dengan 2 lantai yang letaknya tak jauh dari batalyon.


“Sudah sampai dirumah, ayo masuk dan istirahat kalian” ucap Hardhan


“Dek.., weekend abang ada kegiatan jalan santai di taman kota. Ikut temenin abang bawa sekalian si kecil” pinta Hardhan


“Iya bang..”


- -

__ADS_1


Minggu pagi Hardhan membawa Alana dan Excel mengikuti kegiatan jalan santai di taman kota. Sebenarnya isi hatinya takut kalau bakal ada Andre berada ditempat yang sama itu tapi pikirannya dia tepis. Hardhan pun paham akan kondisi yang sedang terjadi selama ini cepat atau lambat pasti Andre bakal tau keberadaan Alana dan segalanya.


Alana sedang membeli minuman sedangkan Hardhan sedang mengajak Excel jalan. Disana ada pertunjukkan badut, si kecil Excel yang melihatnya pun ikut senang dan tertawa. Tak jauh dari keberadaan mereka berdua Andre melintas dibelakang Hardhan dan melihat anak kecil yang sedang berada dalam gendongan Hardhan. Anak itu pun menoleh ke arahnya, Andre mengajak bercanda Excel yang merentangkan tangan seakan ingin ikut dengannya.


Hardhan yang merasa ada gerakan digendongannya pun menoleh kebelakang.


“Anakmu tampan sekali. Apa Ini anak kapten Hardhan dengan Alana?” Tanya Andre dengan menguatkan batinnya.


Belum sempat Hardhan ingin menjawabnya, ada panggilan khusus.


“Aku tinggal dulu ya. Titip Excel!! Kata Hardhan cepat sambil menjawab gengaman teleponnya.


Tak seperti biasanya.. kali ini si kecil Excel tidak menangis dalam gendongan Andre. Biasanya Kalau Hardhan meninggalkannya dia sudah menangis.


“Pa..pa” ucapan pertama yang Andre dengan di bibir Excel. Untuk pertama kali itu juga perasaan Andre begitu nyeri. Sakitnya terasa bagai hantaman batu keras.


“Panggil sekali lagi nak!!” Pinta Andre. Dia sangat menginginkan mendengar suara itu.


Andre yang mendengarnya terdiam dan langsung menhujamin ciuman ke wajah si kecil Excel sambil menahan tangisnya.


“Abang!!” Suara bariton Alana. Hatinya ikut sakit melihat apa yang ada dihadapannya saat ini. Wajah Andre mengingatkan pengkhiatannya. Tangannya masih menenten kantong berisi makanan yang dibelinya.


Alana langsung paksa mengambil Excel dari gendongan Andre.


“Jangan pernah sentuh anak Alana bang!!” Ketus Alana. Si kecil Excel menangis keras tak ingin lepas dari gendongan Andre. Tangisannya sampai menusuk dada Andre.


“Maaf kapten Hardhan menitipkan anak kamu sama abang” kata Andre


“Sebegitu bencinya dek, kamu dengan abang” gumam Andre dalam hatinya.


Tak lama Hardhan sudah tiba disana. Hardhan yang melihat situasi tegang dari Alana dan Andre.

__ADS_1


“Kenapa dek?” Tanya Hardhan cemas melihat wajah pucat Alana.


“Kenapa abang titipkan Excel dengan dia. Alana enggak suka dan Alana enggak mau melihat dia lagi bang!” Alana berlinang air mata memukul lengan Hardhan.


“Maaf Dek.. abang salah. Kita pulang saja ya!” Ajak Hardhan. Hardhan mengambil alih Excel dari Alana, dia melirik ke arah Andre. Ada perasaan tidak enak juga dalam hatinya.


- -


“Kenapa abang kasih Excel ke bang Andre?” Kesal Alana sambil menidurkan si kecil Excel di kamar lalu menutup pintu kamar.


“Maaf dek.. mungkin abang salah. Tapi Andre berhak tau siapa itu Excel dek” kata Hardhan.


“Alana belum siap bang, Alana belum bisa melupakan kejadian buruk itu” jawab sendu Alana


“Iya abang tau dek.. jangan nodai hatimu dengan rasa benci yang dalam. Itu akan membuat hatimu semakin sakit. Nanti abang tanyakan ke Andre apa status jelasmu di kedinasan. Kita juga enggak bisa gini terus, enggak baik dek. Abang bukan pria yang setiap saat bisa menahan perasaan setiap saat berdekatan sama kamu. Abang takut berbuat dosa semakin jauh” jelas Hardhan.


Hubungan tanpa status, berjalan begitu saja membuat Hardhan terjebak didalamnya. Dosa yang seharusnya bisa dihindarinya malah semakin memupuk dalam hingga benihnya sudah tumbuh muncul ke permukaan. Alana menatap lekat mata Hardhan.


“Abang yang salah karena memilih mencintaimu”


Masih terpaku Alana dengan rasa terkejutnya..


.


.


.


.


Excel Putra Pratama

__ADS_1



__ADS_2