
“Senang hari ini dek?” Tanya Hardhan setelah keluar dari bioskop. Sebenarnya Hardhan ingin menonton film genre action tapi bumil satu ini malah ingin genre romantis. Baginya tidak apa-apa yang penting Alana bisa tersenyum bahagia.
“Senang sekali abang. Terima kasih banyak ya bang!” Kata Alana sembari tersenyum manis sambil memegang lengan Hardhan tanpa sadar. Hardhan membiarkan hal ini mengalir begitu aja terjadi padanya.
Tak lama saat mereka berdua jalan, ada tumpahan air dilantai yang mereka tak sadari. Alana terpeleset dan merasakan kesakitan diperutnya.
“Bang.. perut Alana kenapa tiba-tiba sakit sekali. Bang.. itu..” ucap Alana sambil terisak
Hardhan yang syok melihatnya, dan memegang Alana
“Astafirllahu.. dek. Mana yang sakit. Ya allah..” Ucap Hardhan yang ketakutan dengan situasi yang terjadi
Hardhan menggendong ala bridal style dan membawanya kedalam mobil untuk langsung menuju rumah sakit.
“Tahan ya dek, sebentar lagi kita sampai kerumah sakit” ucap sendu Hardhan
“Ya allah.., selamatkan anak hamba yang tak berdosa ini. Lindungi ibu dan anak disamping hamba” gumam Hardhan dalam hati
Kurang lebih 15 menit mereka berdua sampai di rumah sakit. hardhan menggendong Alana dan membawa menuju IGD.
“Toloong... dokter selamatkan istri saya” teriak Hardhan (anggap aja bhs.inggris)
__ADS_1
Hardhan yang panik dan kebingungan dia ketakutan dengan apa yang dialami Alana saat ini dia pun tanpa sadar mengucap ‘istri saya’.
- -
“Tolong masuk saja tuan, temani istri tuan!! Kata perawat disana
Terdengar teriakan Alana yang merasa sangat kesakitan pada perutnya dia merasakan akan proses persalinannya.
“Ah,baiklah suster” Hardhan memutuskan masuk kedalam ruangan.
Disana detak jantung Hardhan berdegup kencang, merasa haru dan takjub serta rasa bersalah bercampur menjadi satu. Hardhan menggengam erat tangan Alana, lalu mengecup sayang kening Alana tanpa mempedulikan status mereka saat ini. Baginya Alana saat ini sangat membutuhkan dukungan entah setelah ini Alana akan memakinya, dia akan menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada yang penting ‘anaknya’ lahir selamat.
Sengaja atau tidak Hardhan melihat bayi mungil itu keluar melihat dunia yang dinantikannya.
“Alhamdulillah.. jagoan daddy..” Hardhan menghujani ciuman wajah Alana penuh rasa syukur dan haru.
Tangisan bayi meramaikan ruangan bersalin itu, Hardhan masih terus menemani Alana yang masih ditangani tenaga medis.
Hardhan menerima bayi mungil san menggendongnya dan hendak mengadzani. Suara alunan merdu adzan mengalun ditelinga bayi mungil Alana. Tangisan Alana pecah, mengapa disaat seperti ini harus Hardhan yang melakukannya.
“Dek, nama bayi mungil ini siapa?” Tanya Hardhan
__ADS_1
“Alana belum kepikiran nama untuknya bang, abang saja yang memberikan nama” pinta Alana
“Excel Putra Pratama, jagoan daddy..” ucap tegas Hardhan
Alana yang melihat Hardhan mendekap bayi mungilnya merasa haru dan miris, seharusnya saat ini bang Andre yang berada disitu menggendong anaknya.
“Bang.. anakmu sudah lahir. Harusnya bang Andre yang berada disamping Alana” gumam Alana dalam hati.
- -
Satu tahun berlalu
Bayi mungilnya kini beranjak semakin besar, dan sudah pandai berjalan meskipun tertatih. Mengoceh tak jelas tapi sangat menenangkan hati Hardhan. Setiap Hardhan pulang kerja, Hardhan akan selalu menghampiri si Excel dan menggendongnya.
“Jagoan daddy, kita jalan-jalan yuk! Sama mama beli mainan” ajak Hardhan.
“Mainan Excel sudah banyak bang, abang jangan terlalu memanjakannya!”Alana menaruh kopi diatas meja untuk Hardhan.
“Enggak apa-apa sayang, abang senang kok” ucap Hardhan.
Tak tau bagaimana hubungan mereka saat ini yang jelas berjalannya waktu membuat mereka semakin dekat.
__ADS_1