Tentara Dan Cintaku

Tentara Dan Cintaku
Hanya Milik Abang


__ADS_3

Alana masuk ke kamar mandi dengan hati yang dag..dig..dug.. masih tidak menyangka kalau hari ini sudah menjadi istri seorang kapten yaitu kapten Hardhan dengan semua pesona yang dimiliki lelaki itu.


“Dimana abang?” (Gumam dalam hati Alana)


- -


Malam semakin larut, angin malam dan hujan diluar menemani mereka berdua didalam rumah tersebut. Alana yang berdiri di depan jendela berkaca dikamarnya sambil memandang air hujan yang turun malam itu, Alana yang sudah berganti baju dan rambutnya tergerai indah. Wajahnya terlihat tersenyum tipis merenungi perjalanan hidupnya hingga titik yang sekarang. Alana masih berdiri diam didepan jendela, ketika ia merasakan Hardhan memeluknya dari belakang dan mendekapnya erat.


“Kamu ngapain dek?” Tanya Hardhan.


“Enggak ada, hanya sedikit memikirkan yang sudah aku alami selama ini bang. Aku bisa dikatakan beruntung ya bang, ada abang yang masih mau nerima aku seperti ini. Tapi apa aku pantas untuk itu bang?” Ucap Alana sendu sambil melihat ke luar jendela.


“Pantas tidaknya hanya abang yang tau dek, jangan banyak memikirkan hal itu lagi. Abang memilihmu karena pribadimu dek dan abang sudah jatuh hati saat pertama bertemu denganmu” kata Hardhan sambil membalikkan tubuh Alana kehadapannya.


Mereka berdua saling menatap, Hardhan menyelipkan rambut Alana ke telinga kanannya.


“Abang tak pernah membayangkan hari ini akan benar-benar terwujud. Akhirnya abang bisa memiliki ibu hebat si kecil Excel, cantik dan wanita sholehah, baik hati. Aku tak percaya ini.” Kata Hardhan jujur sambil memegang leher Alana pelan dengan kedua tangannya.


“Namamu benar-benar sesuai dengan dirimu. Alana berarti cantik, itulah kamu secantik namanya dan rupanya. Kenapa abang begitu jatuh hati padamu” kata Hardhan.

__ADS_1


Alana menatap kearah Hardhan dengan memeluk pinggangnya pelan.


“Aku pun tak percaya, laki-laki baik hati didepanku ini benar-benar menjadi teman hidupku.” Kata Alana.


Hardhan tersenyum lalu mencium dahi Alana


“Aku mencintaimu Alana” ucap lirih Hardhan dengan sungguh-sungguh.


“Apakah kamu sungguh mencintaiku atau hanya karena memikirkan Excel selama ini memanggilku Daddy?” Tanya Hardhan sambil menunduk menatap Alana.


Alana tak menjawab tapi tiga jari kanannya perlahan menunjuk satu demi satu. Pertama jari telunjuk, lalu jari tengah dan terakhir jari manisnya. Membentuk tiga jari ke arah Hardhan dan menaruhnya di dada Hardhan.


Ciuman lama penuh perasaan satu sama lain hingga Alana kehabisan oksigen. Terlepas pagutan bibir. Hardhan menatap Alana penuh arti.


“Aku mencintaimu sangat mencintaimu Alana. Kamu hanya milik abang” kata Hardhan.


Perlahan tangan kiri Hardhan memegang tirai jendela disampingnya. Ditutupnya tirai jendela itu pelan. Bayangan Hardhan membopong Alana ke ranjangnya.


“Abang belum pernah melakukannya, tapi jangan bilang Hardhan kalau tidak bisa membahagiakan istri abang tercinta” senyum Hardhan menghilangkan gugupnya. Degub jantung yang sudah naik turun melihat Alana.

__ADS_1


Hardhan menatap Alana intens tangan yang mulai membelai rambut, hidung, pipi dan bibir Alana dengan lembut.



“Bang, Alana dulu gak sering melakukan hal itu. Alana sedikit takut” sesalnya sedih Alana.


Hardhan pun menerka dan ikut merasakan sedih. Mungkin dulu Alana tidak sebahagia itu dengan Andre.


“Kamu punya abang sekarang. Menikah itu untuk saling melengkapi dan berbagi. Jangan ingat masa lalumu, sekarang adalah waktumu bersama abang. Ini nyonya Hardhan Pratama. Berlakulah seperti itu. Kamu membawa nama abang tinggalkan cerita lamamu.” Kata Hardhan tegas.


Hardhan mengecup bibir Alana dengan sayang. Alana pun menerimanya tanpa beban.


“Abang menginginkan dirimu malam ini dek” ucap Hardhan dengan suara parau.


“Lakukanlah bang, Alana milik abang sepenuhnya” jawab lirih Alana.


Hardhan pun melanjutkan aksi tertundanya dengan hujan derasnya malam hari diluar sana mengiringi sepasang pengantin baru itu.


__ADS_1


__ADS_2