Tentara Dan Cintaku

Tentara Dan Cintaku
Tragedi Si kecil Excel


__ADS_3

Weekend itu hari yang cerah dan kedatangan Andre sudah sedikit mengganggu dirumah Alana. Andre hanya ingin bermain pada anaknya Excel.


“”Abang rindu sama kamu dek!” Andre mengungkapkan perasaan hatinya yang kehilangan sosok Alana dalam hidupnya. Kesalahan teramat fatal hingga membuat semua musibah buruk ini terjadi padanya.


“Biarkan Alana sendiri bang, banyak yanh sudah terjadi diantara kita berdua dan itu masih membekas buatku” jawab Alana.


“Ingat anakmu dek, apa kamu tega melihatnya peran ayah hilang dalam hidupnya? Kata Andre mengingatkan.


Tok..tok..tok...


“Andre keluar kamu... ibu tau kamu ada didalam situ!!!” Teriak bu Heni terdengar dari sana.


Andre yang khawatir mendengar teriakan dari ibunya dan Amel datang ke kontrakan Alana. Alana sudah ketakutan, ingatan yang buruk tentang ibu mertuanya tertancap kuat dihatinya.


“Ada abang dek.. kamu tenang saja didalam!” Kata Andre sambil berjalan kedepan pintu.


Bu Heni dan Amel sudah berdecak pinggang didepan pintu.


“Mau ngapain kamu disini!! Apa yang kamu lakukan dengan wanita sial itu Andre. Ibu sudah katakan lepaskan wanita sialan itu dari hidupmu!!!” Bu Heni sangat emosi saat tau Alana ada dihadapan saat ini.


“Enggak ada wanita sial bu, Alana itu masih ibu dari anak Andre.”


“Bu, Alana sama bang Hardhan disini bu. Pasti selama ini sudah tinggal bersama. Lihat saja anak kecil itu, pasti anak bang Hardhan sama wanitan sialan itu!” Kata Amel.


“Diam kamu Mel, jangan memperkeruh suasana. Lebih baik kalian pergi dari sini!!” Tegas Andre pada ibunya dan Amel.


Excel yang mendengar teriakan dari luar rumahnya menangis ketakutan. Alana menenangkan putranya dan menggendongnya. Bu Heni memperhatikan Excel tapi Amel menyentuh tangan bu Heni.


“Dia masalah besar dalam rumah tangganya” bisiknya pada Bu Heni.


Bu Heni berjalan dan langsung mengambil Excel dari tangan Alana. Tarik menarik pun terjadi.

__ADS_1


“Jangan bu, jangan ganggu Excel. Dia masih kecil” pinta Alana ikut menangis.


Andre menghalangi ibunya hendak memisahkan Alana dari Excel.


“Kamu mau terima anak ini? Anak ini pembawa sial sama seperti ibunya!!” Bentak bu Heni pada Andre.


“Cukup bu, Excel anak kandung Bang Andre. Tolong jangan ganggu kami lagi!! Teriak Alana yang tidak terima anaknya dianggap pembawa sial.


Bu Heni yang terus tarik menarik paksa tangan Excel hinggal bocah kecil itupun jatuh kelantai dan tidak menangis lagi.


Alana dan Andre panik segera menolong anak mereka. Bu Heni hanya mematung dengan rasa tidak bersalahnya. Amel pun juga hanya bersikap datar.


“Jangan sentuh anak Alana bang!!!” Teriak Alana sangat marah.


Alana pun lalu menyambar ponsel dan menggendong Excel keluar rumahnya sambil menelepon seseorang. Andre berlari mengejar Alana namun Alana sudah hilang dari pandangannya.


“Sudah Andre masih ada Amel” kata Bu Heni.


“Kalau anda masih ingin saya anggap ibu. Tolong sekarang anda pulang dan jangan ganggu hidup Andre!!” Wajah Andre sangat marah lalu menaiki motornya dan mencari Alana.


- -


“Kenapa jadi begini dek??” Hardhan panik. Ia langsung memeluk Alana yang sudah lemas.


“Andre sudah tau apa belum?” Mata Hardhan tertuju melihat Andre sangat marah dengan ada ibunya dan wanita itu.


“Breng***!!! Kuhajar juga Andre itu!!” Emosi Hardhan langsung meluap saat melihat Andre dan ia sudah bisa menduga kalau ini ulah Andre.


Tak lama seorang dokter keluar dari ruang tindakan.


“Kamu orang tuanya Excel Hardhan?” Tanya dokter Erik yang juga senior Hardhan dan Andre.

__ADS_1


“Siap bang, saya Daddynya” jawab Hardhan.


Andre berlari menghadap seniornya.


“Ijin bang, saya ayahnya.”


“Emm, saya enggak tau apa yang terjadi diantara kalian ini. Tapi Excel masih sangat kecil. Jangan membuat dia ketakutan lagi” pesan dokter Erik.


“Anakmu harus dirawat, ada benturan di tubuhnya” jelas dokter Erik.


Hardhan langsung menatap tajam Andre. Ia sudah sangat marah saat tau anaknya celaka akibat ulah ibunya dan Amel. Hardhan menghajar Andre hingga terpental ditaman rumah sakit. Ibu Heni dan Amel sudah berteriak.


“Kurang ajar, kamu apakan anakku. Anak satu saja kamu enggak bisa menjaganya!! Bagaimana caramu menjaga Alana nantinya??”Teriak Hardhan yang emosi nya sudah tak tertahan.


“Kamu apakan anak saya? Kamu aniaya anak saya?” Bentk bu Heni. Amel langsung memeluk Andre yang sudah babak belur wajah dan tubuhnya. Alana hanya mampu melihat perselisihan itu dengan hati yang tak menentu.


“Pergi kalian dari sini!! Kalau tidak saya akan penjarakan kalian berdua!!! Bentak Hardhan pada bu Heni dan Amel.


“Hardhan.. Andre tenanglah ini rumah sakit. Kalian pikirkan anak kalian dulu!!” Tegur dokter Erik yang melihatnya.


“Siap!!”


- -


Alana memeluk Hardhan dengan erat membenamkan wajahnya di perut datar lelaki itu. Tangisnya pecah seakan tak pernah habis. Sama sekali dia tidak ingin berdekatan dengan Andre apalagi bu Heni dan Amel sangat sinis padanya dan duduk di sofa dengan wajah ingin menerkam Alana.


“Tenang dek, ada abang disini. Excel akan baik-baik saja. Tenang ya sayang!” Hardhan memeluk erat Alana dengan erat.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2