
Alana yang masih terpaku dengan rasa terkejutnya..Hardhan yang sudah mengunci kedua tangan Alana disudut dinding ruang tamu. Hardhan mendekatkan bibirnya berniat mengecup bibir Alana.
Deg
“Jangan bang!!” Tolak Alana memalingkan wajahnya dari Hardhan.
“Abang harus bagaimana dek, abang tak kuat menahan rasa ini. Andre sudah kembali” rasa takut dan cemasnya Hardhan tiba-tiba muncul.
Hardhan terus mendekat Alana lalu memeluknya erat. Hanya pakaian saja yang memisahkan jarak antara mereka berdua. Jiwa naturalnya sebagai lelaki langsung mencuat.
“Astagfirllahu ha adzim..” Hardhan yang hampir lepas kendali.
“Maaf dek.. maafkan abang” Ucap sendu Hardhan dengan mengusap wajahnya gusar. Dia lalu mundur beberapa langkah dan berjalan masuk ke kamar mandi.
- -
Andre yang penasaran dengan mess Hardhan kenapa tidak ada Alana, dia terus berpikir anak tadi itu siapa yang digendong Hardhan. Aku harus datang ke kontrakan Alana kalau Alana memang tidak ada disini.
“Sertu Adi.. bisa tolong antarkan saya ke rumah Kapten Hardhan yang diluar? Ada barang yang harus saya antarkan!! Andre memberi alasan.
“Siap, bisa!”
Sertu Adi segera mengantar Andre dan meninggalkan sesuai permintaan Andre.
Tok..tok..tok..
__ADS_1
Andre ragu mengetuk kontrakan Alana. Hardhan memang sangat detail memilih rumah untuk Alana agar Alana merasa nyaman.
Alana membuka pintunya, dia sangat terkejut melihat Andre didepan rumahnya. Secepatnya Alana menuturp pintu rumahnya.
“Aww..” Andre kesakitan. Alana yang tak peduli, lalu menutup pintunya sekali lagi tapi Andre menahan dengan kakinya.
“Tunggu!!” Kata Andre.
Alana membiarkan Andre didepan pintu.
“Kita harus bicara dek!!” Ajak Andre.
“Enggak ada lagi yang perlu dibicarakan sejak abang kirim surat cerai itu. Kita sudah pisah bang” kesal Alana.
“Aku kesini ingin menanyakan siapa anak itu? Itu anak abang kan dek?” Kata Andre.
“Maaf kan abang, udah mengambil keputusan seperti itu. Abang sedih melihat kamu dengan Hardhan” ucap sendu Andre.
“Abang yang mulai, abang tidak tegas. Abang sudah mengkhianati cinta Alana. Alana benci abang!!” Alana terisak
“Lebih baik bang Hardhan memang membunuh abang. Untuk apa punya suami yang enggak pernah percaya dengan istrinya” Alana memukuli Andre dengan kencang.
“Anakmu sudah besar bang! Kenapa harus bang Hardhan yang menggantikan tugas abang” suara Alana sudah melemah. Dia menangis mengungkapkan beban perasaannya saat ini.
Andre memegang kedua tangan Alana.
__ADS_1
“Abang enggak paham dek. Tolong jelaskan ke abang! Abang tersiksa sekali selama ini tak ada kamu.” Kata Andre melembutkan suaranya.
- -
Saat itu Hardhan baru tiba dari Batalyon. Dia pulang lebih cepat dari biasanya karena sudah rindu Excel. Dia mematikan mesin motornya dan berniat memberi kejutan pada Excel. Tak disangka saat didepan pintu rumah kontrakan, dia melihat Andre sedang berdua dengan Alana. Perasaan Hardhan bagai tersayat pisau, tapi bukan ksatria namanya jika harus menghindar. Hardhan menarik nafas panjang lalu menghembuskan pelan-pelan.
“Bismillahirrahmanirrahim..” ucapa Hardhan menguatkan hati.
Perlahan dia masuk kedalam rumahnya, Andre terkejut segera melepaskan tangan Alana. Ada pisau yang ada dilantai, dia menatap mata Andre dan Alana secara bergantian lalu menunduk mengambil pisau dan menyerahkan pisaunya itu pada pemiliknya.
“Simpan pisau ini. Anakku masih terlalu kecil untuk bermain benda tajam itu!!” Suara Hardhan terdengar datar.
Andre menerima pisau itu lalu memasukkan lagi ketempatnya.
“Maaf pak Hardhan, jangan salah paham. Aku bisa jelaskan!!” Andre merasa tak enak hati dengan Hardhan.
“Aku mau lihat anakku dulu!!” Pamit Hardhan segera masuk kekamar Excel dan menguncinya dari dalam. Dilihatnya sikecil sedang tidur pulas dengan memeluk mainan mobil mobilannya.
Kaki Hardhan lemas. Dia merosot disamping ranjang Excel dan menelungkup di ranjang Excel.
“Daddy yang salah, daddy yang memilih mencintai mamamu nak!!” Hardhan menyelipkan telunjuknya di gengaman tangan sikecil.
Hardhan menatap wajah Excel.
“Hei.. jagoan daddy kalau kamu sudah besar nanti jangan ulangin kelakuan daddy ya! Daddy bermain api dan terbakar sendiri” gumamnya menahan sedih dalam hati.
__ADS_1
Hardhan beralih menyadarkan punggungnya didinding samping ranjang Excel.
“Apa ini sudah waktunya abang kehilanganmu Alana” sebulir air mata lolos dari sudut mata.