
“Bang.. alana pengen jalan ke taman kota” pinta Alana.
“Ihhss.. abang pikir Alana pengen apa. Iya abis makan kita kesana. Ini pasti mintanya anak daddy” ucap Hardhan
- -
Pagi hari yang cerah mengawalai akhir pekan, suasana apartemen yang tenang. Dan Hardhan berniat mengajak Alana membelikan baju untuk Anak yang berada diperut Alana.
“Ayo kita cari baju untuk si dedek” ajak Hardhan yang terlihat lebih antusias dari pada Alana. hardhan tau Alana merasa bosan di Apartemennya.
“Nanti sajalah bang, Alana masih malas” ucap Alana terlihat tidak semangat
“Kamu menolak mencarikan kebutuhan babymu? Ingat dek, babymu sudah mau melahirkan. Abang enggak keberatan membelikan pakaian untuk babymu. Tapi apa kamu enggak ingin memilih pakaian sendiri? “ bujuk Hardhan.
“Apa yang sudah abang pilihkan itu sudah bagus bang. Abang ajak Alana kesini saja Alana sudah bersyukur. Enggak ada yang kurang lagi” kata Alana.
Sebenarnya dia menyayangi anaknya. Tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya tapi rasa kecewa dan marah pada Andre membuat Alana tidak bahagia dalam masa kehamilannya.
__ADS_1
Hardhan menekuk lututnya, entah ada dorongan apa yang membuatnya memeluk Alana, dia mencium perut Alana yang sudah terlihat membuncit dengan sayang.
“Biar abang menjadi daddy nya. Abang sudah terlanjur menyayangi anak ini” ucap Hardhan.
“Jangan begini bang, Alana tidak bisa membalasnya” ucapnya sendu.
Tangan Alana membelai rambut Hardhan. Sungguh ini sesuatu yang salah, dia yang tak ingin disentuh siapapun bisa membelai rambut Hardhan. Ingin sekali yang dia belai adalah Andre. Apalah daya.. hanya Hardhan pengobat rasa rindunya. Terkadang Hardhan sengaja meninggalkan pakaiannya yang baru dipakai saat tau Alana ingin sekali merasakan pelukan suaminya.
Pernah suatu kali Hardhan melihat dikamar Alana dan menyelimutinya yang sedang tertidur lelap. Alana tak sadar menarik manja tangan Hardhan dan menghirup aroma tubuhnya yang maskulin. Hardhan yang tau apa Alana inginkan, tapi dia pun tau dan sadar.. bahwa tak mungkin memberikannya.
- -
Siang hari pun akhirnya Alana dan Hardhan berjalan-jalan kesalah satu mall karena Hardhan memaksa mengajaknya. Wajah Alana memang terlihat lebih terhibur.
“Dek.. abang mau tanya. Tapi kamu jangan marah ya!” Tanya Hardhan.
“ apa bang?”
__ADS_1
“Abang melihat statusmu masih menjadi istri Andre secara kedinasan kamu masih sah menjadi istri Andre” ucap Hardhan.
“Terus bang?” Jawab Alana sambil menyupi makanan kedalam mulutnya.
“Andaikan statusmu berpisah Andre.. apakah kamu mau menjadi istri abang?” Tanya Hardhan hati-hati.
Alana meletakkan sendoknya itu, dia menimbang sesaat perkataan Hardhan. Memang dalam hal ini anaknya akan menjadi korban jika dia terlalu egois. Tapi nama Alana memang belum terhapus dari kedinasan.
“Bang!! Kita tidak bisa hidup tanpa perasaan. Abang jangan mengorbankan diri karena Alana dan anak Alana” jawab Alana.
“Dek, munafik kalau abang tidak memiliki perasaan itu, dan abang tidak akan mengatas namakan anakmu dalam masalah ini. Saat ini posisi abang sangat salah karena kamu masih status istri orang. Abang rela menemui Andre untuk meminta kejelasannya. Jika memang dalam hal ini kesalahpahaman seperti dugaan abang. Abang bersedia sujud di kaki Andre meminta maaf atas kelakuan abang yang tak pantas ini membawa Alana pergi jauh” ucap sendu Hardhan.
“Tapi bang!! Abang juga tau sendiri dengan melihatnya langsung apa yang dilakukan bang Andre dengan Amel sudah berzinah” ucap Alana
Hardhan dia tak bisa mengatakan apapun. Memang saat itu menunjukkan posisi Andre salah besar.
“Yasudah habiskan dulu makanmu. Maaf abang merusak suasana hatimu” jawab Hardhan
__ADS_1