
“Bagaimana perasaanmu dek sekarang?” Tanya Hardhan dengan mengusap pipi Alana.
“Sedih,kacau bang. Aku udah enggak sanggup lagi bang” ucap sedih Alana.
“Tidak baik bicara seperti itu, ini ujian buatmu dek. Abang memberimu waktu untuk menenangkan diri tapi jangan berlarut-larut kesedihannya enggak baik untukmu juga Excel nantinya. Anakmu masih membutuhkan dirimu dek.” Kata Hardhan
“Iya bang”
“Jangan sedih ada abang disini, abang akan menemanimu terus” ucap Hardhan.
- -
Tak jauh dari Alana dan Hardhan ada seseorang mengawasi mereka berdua.
Drt..drrtt...
“Hallo tuan, nona muda saat ini sudah aman dengan kapten Hardhan” kata si penelepon.
“Awasi terus jangan sampai hilang!” Ucap tuan itu.
“Siap! Laksanakan”
- -
Si kecil Excel yang sudah mulai pulih selalu menempel terus dengan Hardhan tidak ingin berpisah sedikitpun. Kemanapun Hardhan pergi diikutin terus.
“Excel mau makan sama Daddy? Setelah makan kita pulang ya?” Ajak Hardhan akan pulang dari rumah sakit setelah Excel menjalani perawatan 2 minggu dirumah sakit.
__ADS_1
“Mau mampir beli mainan lagi? Pulang dari sini Daddy ajak beli mainan lagi sama bunda ya?” Excel mengangguk senang.
“Jangan terlalu memanjakan Excel bang. Abang sudah banyak membelikan mainan untuknya dirumah.” Tegur Alana ke Hardhan selalu memanjakan Excel.
“Kenapa dek? Abang senang dengan jagoanku ini.” Kata Hardhan.
“Abang juga ingin punya barbie biar lengkap” ucap lirih Hardhan penuh harap.
“Insha allah bang” kata Alana.
“Kamu dengar dek? Apa yang abang omongkan” kata Hardhan.
“Dengar bang, Alana kan tuli looh.” Ucap Alana malu.
“Maaf ya dek.” Ucap Hardhan.
- -
Andre selesai melaporkan berkas permohonan cerai ke batalyon, 3 hari lagi surat tersebut sudah jadi. Meskipun berat untuknya, ini sudah pilihan terbaik untuk dirinya dan Alana. Memang ia masih sangat mencintai Alana, tapi melihat Alana dan Excel bahagia itu sudah cukup untuknya tidak ingin mereka berdua merasakan tersiksa hidup denganya lagi. Membuat kedua orang kesayangan berada ditangan orang yang tepat.
Hardhan mengajak Excel membeli mainan kesukaannya dan mampir makan malam di restoran.
“Bundanya mau apa?” Tanya Hardhan.
“Enggak ada bang. Apa aja terserah abang.” Kata Alana.
“Ya sudah, ini untuk bunda ya Excel saja” Hardhan mengambil sebuah kotak kecil dari saku celana.
__ADS_1
“Abang ingin segera menghalalkan kamu dek, abang tak ingin terus menerus dengan keadaan kita seperti ini. Setelah kamu sudah melewati semua ini.. abang ingin menemanimu dan membesarkan Excel kedepannya. Maukah kamu menjadi istri dan ibu anak-anakku nanti untuk abang?” Tanya Hardhan serius.
Alana akhirnya tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya sekian lama bersama Hardhan. Suka dan duka dalam hidupnya selama ini Hardhan lah yang menemaninya. Hardhan lah yang selalu memberikan semangat 3 tahun ini untuk hidupnya disaat dirinya sudah mulai rapuh dengan segala masalah yang dihadapinya.
“Iya bang, Alana mau” jawab Alana malu.
“Mana jarimu dek” kata Hardhan.
Alana menunjukkan tanganya pada Hardhan.
“Kamu enggak boleh macam-macamnya ya dek. Statusmu sudah siaga satu untuk abang.” Kata Hardhan.
“Kalau sudah sama abang?” Tanya Alana sambil tersenyum mendengan ancaman Hardhan.
“Belum sampai macam-macam. Bulan depan udah dapat kabar perutmu besar.” Kata Hardhan tersenyum licik.
“Isshh abang ini..masih bisa aja merayu” Alana meraup bibir Hardhan gemas yang membuatnya selalu berdesir salah tingkah.
“Abang serius sayang..”
.
.
.
.
__ADS_1