
Hardhan yang mengendarai motornya dijalan tiba-tiba berhenti melihat segerombolan orang yang sedang menghadang seorang perempuan.
“Hei, kalian mau apa dengan wanita itu?” Teriak Hardhan.
“Kau tak usah ikut campur urusan kami!!” ucap salah satu laki-laki disana.
“Tolong..tolong, tolong saya pak.” Teriakan minta tolong wanita itu.
Hardhan yang mulai geram melihatnya, dia turun dari motornya dan menghajar beberapa laki-laki disana. Hardhan sempat terkena pukulan di bahu dan tangannya.
“Pergi kalian, atau saya panggil polisi sekarang” teriak Hardhan.
Mereka semua pun lari dari tempat itu, dan menyisakan wanita itu yang sudah lemah. hardhan yang melihatnya pun membawanya kerumah sakit terdekat.
“Saya bantu mba kerumah sakit dekat sini” kata Hardhan.
“Terima kasih pak, saya Sisil” ucap wanita itu.
“Abang tentara?” Ucap Sisil yang penasaran.
“Apa pentingnya?” Hardhan yang datar. Hardhan pun membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Tak lama mereka berdua sampai ke rumah sakit.
“Terima kasih sekali lagi pak, sudah menolong saya” kata Sisil.
Hardhan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Alana. Mungkin Excel rewel dan mencarinya karena hari ini dia belum menengok Excel sama sekali.
- -
Hardhan yang sudah di depan kontrakan Alana ragu untuk masuk kedalam tapi saat mendengar suara tangis Excel yang terdengar sampe diluar rumah pun tak tega. Bagaimana pun Hardhan selalu menghabiskan waktu bersama sikecil Excel sejak dalam kandungan ibunya.
Hardhan memutuskan masuk kedalam rumah dan mengetuk pintu rumahnya.
“Abang udah datang” kata Alana
“Sepertinya Excel mencari abang” ucap Alana pelan.
“Maafkan daddy ya nak, daddy tadi ada sedikit sibuk” sesal Hardhan yang terus menciumi wajah Excel.
“Abang darimana? Ini kenapa tangannya memar? Abang abis berantem?” Tanya Alana khawatir melihat Hardhan.
“Abang dari kantor, enggak ini gak berantem tadi. Sudahlah, abang lapar dek” kata Hardhan.
__ADS_1
“Abang belum makan? Haduh, abang ini kenapa belum makan. Meskipun sibuk abang jangan sampai lupa makan kayak gini, nanti sakit siapa yang urus abang” omel Alana sambil menyiapkan makan didapur.
“Kan ada kamu dek” ucap Hardhan pelan sambil mengedipkan matanya pada Alana.
Hati Hardhan kembali kacau. Perhatian Alana yang diberikan padanya membuat perasaan egois pada dirinya sebagai laki-laki muncul dengan kuat. Tapi dia mencambuk dirinya untuk selalu ingat Alana selamanya hanya bisa dicintai tanpa bisa dimilikinya wanita yang saat ini masih sangat kuat merajai pikirannya dan hatinya.
“Makan dulu bang!! Ini Alana sudah menyiapkan makanan kesukaan abang.” Alana membawakan sop ayam makana favorit Hardhan.
“Terima kasih sayang!” entah kenapa kata itu terlontar dari Hardhan dan tanpa sadar mengecup kening Alana.
Dulu Alana merasa kata sayang itu sempat membuat pikirannya tenang. Namun sekarang saat Hardhan mengucapkan kata itu kembali hatinya menjadi tak menentukan. Dirinya menjadi sedih dengan kenyataan saat ini, merasa tak percaya diri akan statusnya.
- -
“Apa boleh malam ini abang menginap disini?” Tanya Hardhan sambil menghabiskan makan malamnya.
Alana sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya. Karena selama Hardhan tak pernah sekalipun memintanya seperti itu.
“Apa tidak ada yang akan mencari abang nantinya?” Tanya Alana yang sebenarnya cemas dengan permintaan Hardhan itu.
“Siapa yang akan mencari abang? Enggak ada!!” Kata Hardhan.
__ADS_1
“Emm, yasudah bang. Terserah abang sajalah.” Jawab Alana lirih.