Tentara Dan Cintaku

Tentara Dan Cintaku
Mengingat kembali


__ADS_3

Hardhan duduk dilantai merenung hingga kepalanya terasa pening. Pikirannya kalut menerawang jauh mengingat kebersamaan dengan Alana dulu saat di Canada.


Flashback on


“Abang bantu dek” kata Hardhan


“Jangan bang!” Tolak Alana saat Hardhan hendak membantunya berdiri. Sejak Alana hamil muda hardhan melihatnya sedih Alana selalu mual dipagi hari tak bisa makan dan minum.


“Apa ini waktu yang tepat menolak untuk abang. Abang gak bisa liat kamu kayak gini, enggak ada siapapun disini dek!” Kata Hardhan.


Aroma maskulin pada tubuh Hardhan mengingatkan Alana dengan Andre. Seketika rasa mual itu mulai hilang apalagi tanpa sengaja tubuh Alana bersandar pada bahu Hardhan karena lelah dengan rasa mual yang ditahannya.


“Kamu tenang sekali dek nempel sama abang. Abang belum mandi masih bau keringat ini loh dek.” Ucap Hardhan


“Begini saja, baju abang lepas lalu adek pasangkan pada bantal nanti adek bisa peluk sepuasnya. Abang tau kamu lagi rindu dengan Andre, tapi abang tidak bisa berbuat apapun saat ini ke kamu.” Ucap Hardhan sebelum dia kembali ke kantornya.


Alana mengangguk sebenarnya dirinya malu, namun rasa inginnya muncul dengan kuat.

__ADS_1


.


.


.


Hardhan pernah melihat Alana menangis didalam kamarnya makanan, camilan dan susu ibu hamil tak disentuh sedikitpun. Hardhan menarik nafas dalam-dalam.


“Kenapa tidak makan dek? Enggak suka, apa yang abang belikan tidak enak?” Ucap sendu Hardhan. Hardhan sedih melihat kondiri Alana begitu tertekan dengan keadaan yang sudah terjadi.


“Alana enggak lapar bang” jawab Alana


Alana menoleh pada Hardhan. Entah mengapa hatinya tak menentu sulit dijelaskan. Hardhan yang terlalu baik padanya hingga tak sampai hati dia menolak ajakan Hardhan.


“Setidaknya abang jujur pada kamu, perasaan abang selama ini walau saat ini bukan waktu yang tepat untuk abang. Abang tau statusmu di kedinasan masih sah istri Andre, abang juga tak paham Andre belum mengurus semua itu dengan benar.” Jujur Hardhan setelah dia mengungkapkan perasaannya ke Alana.


“Maaf bang, Alana belum bisa menjawab apa-apa. Kejadian kemarin sudah memberi luka mendalam ke Alana, Alana takut bang. Alana minta maaf bang.” Jawab Alana.

__ADS_1


“Abang akan temui Andre. Abang enggak tega melihat kamu seperti ini dek, sakit hati abang lihat kamu sedih terus. Abang juga gak mau salah langkah dek, abang berani bawa dirimu dengan abang selama ini, abang juga harus yang berani tanggung jawab semua perbuatan abang.” Tegas Hardhan.


“Jangan bang, Alana mohon. Alana takut bang” tangan Alana beregetar hebat. Hardhan menyerah tidak membahasnya lagi.


Hardhan menekuk lututnya mencium perut Alana yang sudah terlihat membesar diusia kandungan 6 bulan.


“Sehat terus anak daddy, daddy sayang sama dedek. Anak daddy jangan nakal diperut mama.”


.


.


.


Disuatu malam pernah Alana mengigau memanggil nama Andre dalam tidurnya. Hari sudah tengah malam, Hardhan yang kebetulan ada di apartemen Alana menengoknya. Sepulang dari kerjanya, Hardhan yang melihat Alana dikamarnya menaikkan selimut Alana perlahan sebatas dada. Sesak dada Hardhan melihat Alana tidur tanpa memakai pakaian tertutupnya. Ada rasa bersalah yang memukul dalam hatinya, karena dia, Alana berani berpakaian seperti itu diapartemennya selama ini. Alana yang awalnya tidak mau tersentuh Hardhan, akhirnya menyerah dihadapan Hardhan. Hardhan mengusap wajahnya dengan gusar menghilangkan rasa yang muncul kuat dalam hatinya.


“Abang sadar kita bukan muhrim, suamimu Andre pasti banyak mengajarimu banyak hal. Abang tau ini dosa besar. Maka abang mau kedepannya kita akan mengakhiri dosa besar ini dengan benar. Dek, perlihatkan ini hanya dihadapan abang, dan tidak boleh ada orang lain selain abang yang bisa melihatnya” gumam Hardhan dalam hatinya.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2