Tentara Dan Cintaku

Tentara Dan Cintaku
Finally SAH


__ADS_3

Drrt..drrt...


“Assalammualaikum, ada apa lagi?” Kata Alana.


“Nona, sebaiknya anda kembali ada sesuatu yang penting.”


“Buat apalagi kesana sih! Ya nanti aku sempatkan pulang” jawab Alana.


Siang harinya Alana menyempatkan mampir kesuatu tempat.


“Ada apa memanggilku? Cepat aku tak punya banyak waktu.”


“Kau tau kan waktuku tak banyak disini. Cepat katakan hal penting apa!” Tegas Alana.


“Dia sudah akan kembali lagi nona” kata Jack asistennya.


“Sudah berapa tahun ini. Dia ingin kembali. Awasi dia selagi aku enggak ada. Jangan hubungi aku bila tak penting lagi. Jaga kakekku selagi tak ada disini. Aku pulang!” Kata Alana.


- -


Setelah Alana kembali dari tempat itu , dia melewati hari-harinya seperti biasa. 3 bulan sudah berlalu. Si kecil Excel terkadang ikut juga kekantor menemani Hardhan.


“Excel kemana bang?” Tanya Alana.


“Main sama papanya.” Jawab Hardhan


Melihat Dinda yang hanya diam saja tak ada reaksi apapun. Hardhan pun langsung memeluk Alana.


“Jangan begini lah bang, masih 2 bulan lagi kita akan sah!” Alana mengingatkan.


“Terlalu lama Batalyon mengetuk pali. Surat pisahmu sudah keluar, tapi aturan kantor yang banyak bikn semakin lama saja. Abang sudah enggak tahan ini dek ingin bersamamu.” Ucap Hardhan gemas.


“Sabar bang. Abang tumben sekali jadi manja begini sih” kata Alana.

__ADS_1


“Manja dengan calon istri abang apa salahnya sih dek” kata Hardhan.


“Kita nikah saja dulu ya dek. Nikah kantor dan resepsinya belakangannya” pinta Hardhan.


“Janganlah bang. Tunggu saja dulu” tolak Alana.


“Oke abang tunggu, tapi kalau bulan depan itu perutmu udah ada little peanut. Jangan salahkan abang ya, itu salahmu udah bikin masalah” kata Hardhan tegas


“Tapi bang, apa itu tidak menyalahi aturan kantor?” Tanya Alana.


“Kata siapa abang enggak tau. Tapi milih kita kayak terus atau abang amankan dulu kamu? Abang sudah janji enggak akan mempermainkanmu. Abang serius sama kamu dek” kata Hardhan.


“Yasudah iya abang. Alana nurut saja tapi Alana minta kita terdaftar di kantor agama meskipun kita belum masuk kantor abang.” Kata Alana dengan syarat.


“Tentu kalau itu maumu dek. Akhir pekan ini kita menikah secara agama, abang bawa berkasmu biar segera diurus secepatnya.


“Apa cincin yang abang beri suka dek?” Tanya Hardhan.



“Tak ada yang berlebihan buatmu dek. Cincin ini diberikan oleh nenekku untuk calon pendampingku dek. Dan cincin ini udah bertemu dengan pemiliknya yaitu kamu.” Kata Hardhan lembut.


- -


Pagi hari tepatnya sabtu akhir pekan sesuai hari yang diminta Hardhan melangsungkan nikah secara agamanya dengan Alana. Hardhan dan Alana sudah duduk dikantor agama setelah Hardhan menekan anak buahnya untuk mengurus surat-surat yang butuhkan dalam waktu yang terbilang singkat. Mama dan papa Hardhan turut hadir mendampingi putranya. Raut wajah bahagia mama dan papa Hardhan tidak bisa disembunyikan.


Andre berjalan masuk kedalam ruangan sambil menggendong Excel baru usia 2 tahun. Ada rasa tidak rela dan tidak ikhlas melihat Alana bersanding dengan Hardhan. Tapi dirinya tidak boleh egois untuk kebahagiaan orang yang masih dicintainya. Teringat sat ia mengucapkan ijab kabul sehidup semati dengan Alana sekarang sudah berakhir tak tersisa lagi.


Tangan Hardhan menjabat penghulu. Kata ‘SAH’ terdengar riuh didalam ruangan itu.


“Yess, akhirnya kamu milik abang dek!” Tegas Hardhan dengan wajah bahagianya.


Andre hanya bisa menatap punggung Hardhan dan Alana dengan pasrah. Hardhan mencium kening Alana sesaat setelah mendoakan Alana. Air mata Andre menetes saat melihat Hardhan mencium dan memeluk Alana didepannya. Hatinya sudah tak sanggup lagi mengingat perlakuan ibunya ke Alana. Hanya pelukan saat ini mewakili segala rasa.

__ADS_1


“Papa hanya punya kamu saat ini. Maaf papa telah membuat segalah jadi kacau begini. Tapi papa yakin kamu akan bahagia hidup bersama daddymu. Sebab papa tau seperti apa daddymu itu nak.” Bisik Andre di telingan Excel.


Tangan Excel kecil menghapus bulir air mata papanya. Mungkin ia tau perasaan sedih papanya saat ini.


- -


“Nanti malam kita pulang kerumah abang yuk! Ajak Hardhan.


“Enggak bisa bang, apa kata orang nanti belum tau kita udah nikah bang.” Tolak Alana.


“Ya sudah kamu ikut abang saja. Rumah masih belum rapi, belum tersentuh tangan istri.” Kata Alana.


Tak lama mereka bedua pun sampai dirumah Hardhan. Alana membersihkan make up diwajahnya, lalu Hardhan mandi sudah capek seharian diluar.


Alana mulai melepaskan pakaiannya yang diarasa agak susah. Saat melihat ingin melepasnya terlihat Hardhan yang sudah selesai mandi.



“Sudah siap kah dek. Abang jadi enggak tahan liat punggung mulusmu itu.” Hardhan pun berjalan pelan - pelan ke Alana.


Puuuughhh...



“Iisshh, abang bikin kaget Alana. datang-datang tak bersuara. Awas Alana mau ke kamar mandi saja.” Tolak Alana.


“Duuh dek, mau mencetak gol saja susah amat...”


.


.


.

__ADS_1


Hareudang..hareudang euy..


Eh gagal...


__ADS_2