
Dini hari selesainya pergulatan panas sepasang pengantin baru. permainan baru bagi pemula yang memintanya lagi dan lagi setelah tahu apa itu kepuasan dilakukannya. Hardhan bangun dari tidurnya ia melihat sepasang mata cantik disebelahnya yang sudah terlelap dikarenakan tingkah ganasnya melahap habis istrinya tanpa ampun.
Ditariknya selimut untuk menutupi bahu cantik tubuh istrinya yang mulus tanpa noda hanya sisa jejak ulah permainannya disana. Ada rasa lega dan syukur wanita cantik disebelahnya kini sudah menjadi miliknya seutuhnya status berganti siaga satu senggol dikit wanitanya baku hantam yang didapat.
“Alhamdulillah.., terima kasih sayang. Kamu milik abang seutuhnya. Abang akan berusaha menjadi imam yang baik untuk kamu, melindungi dan menjagamu dan si kecil Excel
serta anak kita nanti” bisiknya lalu mengecup lama kening Alana.
- -
Dilain tempat Andre yang masih menatap foto wanita cantik yang sekarang sudah berganti status menjadi ‘mantan istri’ ada rasa kerinduan dan penyesalan yang masih tertahan didalam hatinya hingga saat ini. Memang benar penyesalan akan hadir terlambat.
“Alana, abang belum bisa melupakan kamu. Melihatmu saat ini sudah berganti status menjadi istri dari lelaki lain itu hati abang sakit. Abang masih mencintaimu dek” diusapnya tangan Andre ke foto itu dengan setitik air mata yang sudah menetes di pipi nya.
Drrt..drrtt...drtt...
“Assalammualaikum, iya apa bu?” Tanya Andre
“Andre, kamu jangan memberi uang kepada anak dari wanita tidak tau diri itu. Anak itu bukan anakmu!. Sampai kapan pun ibu tidak terima anak dari wanita itu!” Perintah ibu Heni.
“Kamu kapan menikahi Amel?” Tanya bu Heni.
“Cukup ibu, dia anakku!!. Bulan depan!!” Jawab Andre singkat.
Andre menutup panggilan dari ibunya. Ia tidak memikirkan apa yanh sudah dikatakan ibunya tadi. Andre hanya mengirimkan sejumlah uang kepada bapaknya tapi tidak untuk ibunya. Ia tau ibunya hanya bisa menghabiskan uangnya saja bersama Amel.
__ADS_1
- -
Sudah satu bulan Hardhan menjalankan kehidupan rumah tangga nya dengan Alana.
“Bang.., kapan Excel pulang?” Alana merasa sepi dirumah tak ada suara celotehan anaknya.
“Biarkan Excel sama oma dan opa nya. Kamu kan sama abang disini.” Kata Hardhan meraih Alana agar duduk disampingnya.
“Tapi kalau begini kan jadi sepi nih rumah bang” jawab Alana sambil cemberut.
“Kalau enggak mau sepi, ayo abang buatkan teman untukmu” goda Hardhan
“Abang enggak capek? tadi malam kan sudah” tanya Alana.
“Abang tidak akan capek kalau sudah menyangkut itu. Tadi malam kan baru nyicil hidung, lainnya belum loh dek. Emang adek enggak mau abang manjakan?” Tanya Hardhan sambil mengedipkan matanya.
Tanpa banyak kata Hardhan langsung menggendong Alana dan masuk kedalam kamarnya. Hardhan menyerang Alana habis-habisan. Baru kali ini ia rasakan menggila, puas semua beban didalam hatinya terasa hilang begitu saja. Alana membuatnya nyaman.
Saat tubuhnya sudah terasa lelah, Hardhan tertidur dan tak menyadari apapun lagi. Tak lama mertua Alana datang.
“Mana Hardhan?” Tanya papa Hardhan melihat Alana yang membuka pintu rumahnya. Bahkan penampilan Alana saat ini memakai baju panjang kedodoran.
“Ehmmm, itu pa. Abang lagi tidur” jawab Alana tidak enak hati.
“Papa nih,kayak tidak pernah muda aja.” Jawab bu Dewi sangat bahagia.
__ADS_1
“Oohh iya, sana suruh Hardhan bangun. Masa masih siang begini tidur.” Kata papa Hardhan membuat Alana salah tingkah.
“Hardhan bangun nih pa, masih capek baru cicil mata” Hardhan menyambar perkataan papa nya dengan nada mengantuk dan masih malas.
“Dasar tak tau malu” bu Dewi menjewer telinga Hardhan karena mamanya ikut malu.
“Aduh ma, kok di jewer sih. Sakit!” Teriak Hardhan. Mendengar daddynya kesakitan Excel malah tertawa membuat seisi rumah menjadi rame.
“Mama kok baru pulang hari ini? Alana rindu Excel” kata Alana.
“Mama kan kasih kesempatan untuk kalian berdua. Apalagi Excel ini bikin mama jatuh hati sama tingkahnya. Mama tadi sekalian mampir belanja makanan buat kalian, kapan hari mama liat isi kulkas kalian hanya sedikit aja. Enggak ada bahan makanan, enggak tau selama belum menikah sama kamu dia ini makan apa” celetuk bu Dewi.
“Makan prihatin ma” senyum Hardhan mengecup kening mamanya. Alana ikut tersenyum melihat kasih sayang antara ibu dan anak ini.
.
.
.
Visual real version:
Hardhan Pratama
__ADS_1
Alana