
Sebulan kemudian..
Dilorong rumah sakit Hardhan berjalan sambil memegang lengan Alana agar tidak jatuh dengan kondisi Alana yang sudah mengandung 6 bulan.
“Ayo antri ke poli kandungan, abang ingin liat anak abang” ucap Hardhan
“Iyaa bang, sabarlah..” jawab Alana
Tak lama menunggu antrian poli kandungan.
“Wah.. selamat baby nya jagoan ini. Itu coba diliat detak jantungnya normal , bentuk tubuhnya udah hampir sempurna” kata dokter Rose menyampaikan pada Hardhan kalau anaknya berjenis laki-laki (anggap saja ini pakai bhs.inggris)
Senyum Hardhan mengembang bahagia tulus dan ikhlas hingga siapapun yang melihat tidak akan tahu kalu sebenarnya Alana bukan istrinya.
“Tolong resepkan obat anti mual dok. Sampai sekarang masih suka mual” pinta Hardhan yang lebih aktif berkomunikasi di banding Alana.
Hardhan membantu Alana untuk berdiri dari duduknya, sekarang punggungnya sudah sering terasa capek.
“Bang.. Alana jadi enggak enak. Abang terlalu memanjakan Alana. Carilah istri bang agar bahagia.” Alana merasa tidak enak dengan perlakuan yang diberikan hardhan kepadanya selayaknya seorang istrinya.
“Abang yang ingin merawatmu dan anakmu. Itu saja sudah buat abang bahagia dek” ucap Hardhan
__ADS_1
Alana menatap sosok Hardhan.. ada rasa sedih sebab bukan bang Andre yang menemaninya dengan kondisi seperti ini.
“Bang Andre.. sedih..” Alana mengusap air mata yang mengalir sendu di pipinya teringat Andre. Rasa kecewa itu selalu muncul saat mengingat Andre sudah meniduri Amel bahkan pula sudah menceraikan Alana. Alana merasa sudah dibuang dan tidak anggap.
“Sudah.. jangan menangis lagi. Ada abang disini! Kalau kamu terus seperti ini Abang sedih liatnya dek” kata Hardhan sambil membantu Alana berjalan.
“Talak itu sudah jelas bang tertulis dikertas. Mau minta kejelasan gimana lagi?” Alana mulai berlinang air mata kembali.
- -
Didalam mobil Hardhan menyetir sambil sesekali memperhatikan Alana disampingnya. Ada rasa sedih melihat Alana seperti ini. Rasa sayang yang terus berkembang seiring berjalannya waktu kebersamaan mereka 6 bulan ini.
“Hihihi, abang ini.. ayo alana juga lapar” jawab Alana
Berhentilah disalah satu restoran, mereka berdua duduk disalah satu kursi dekat jendela.
“Saya pesan ini..ini dan yang itu, dek mau yang mana?” Ucap Hardhan
“Samain saja dengan punya abang” jawab Alana
“Pesanannya jadi 2, sama seperti itu” ucap Hardhan ke pelayan restorannya.
__ADS_1
“Dek, liat apa kamu?” Ucap Hardhan sambil memperhatikan Alana yang melihat keluar jendela.
“Itu bang, anak kecil itu jalan dengan orang tuanya. Lucu banget..” alana menatap sendu di arah luar jendela
“Andai saja tidak terjadi seperti ini, aku dan bang andre bisa berjalan dengan anak kita kelak seperti mereka” gumam Alana dalam hati
“Sudah jangan sedih gitu dek, sebentar lagi jagoan abang kan udah lahir. Nanti kita bertiga jalan-jalan seperti mereka” ucap Hardhan
“Iya bang..”
Beberapa saat kemudian, makanan sudah ada dipesan ada dimeja mereka berdua. Hardhan berniat menyuapi ibu yang sedang mengandung yang ada dihadapannya saat ini.
“Sini, abang suapi makannya. Anggap saja abang ini bang Andre” ucap Hardhan
Hardhan berharap dengan ini, sedikit mengurangi kesedihan Alana saat ini.
“Sudah bang, Alana bisa makan sendiri. Abang makan saja, katanya lapar” jawab Alana
“Hehehe, iya dek. Ini juga sambil makan abang.” Ucap Hardhan sambil menggaruk leher tidak gatal.
“Bang.. Alana pengen..”
__ADS_1