Terjebak 1001 Hari(Dunia Ilusiku Sendiri)

Terjebak 1001 Hari(Dunia Ilusiku Sendiri)
bab 5


__ADS_3

"Apa Sima sudah bisa pulang dok?"


"Tentu saja tapi kau harus menjaganya dengan baik,kalau begitu saya permisi."


Gael segera masuk kedalam untuk melihat kondisi Sima,Cintia semakin penasaran dengan wanita yang sangat dikhawatirkan Gael.ia pun ikut masuk kedalam untuk melihatnya.


"Sima kau tidak papa kan?,"Gael menghampiri Sima yang terlihat tengah terbaring lemas,dan beberapa perban dikepalanya.


"Aku tidak papa, bagaimana denganmu."


"Jangan khawatirkan diriku,ayo dokter sudah mengizinkan kau untuk pulang,,ayo kita pulang bersama,,kali ini kau tidak bisa menolak permintaanku."Gael duduk disebuah kursi dekat Sima terbaring saat ini,ia menggenggam jari jemari Sima,dan menatap dalam kearahnya.


"Pulang bersama apa ini Gael?"Cintia menatap tajam kearah Gael,dan Sima yang saat ini masih dalam posisi terbaring.


"Kau tidak perlu tau,lebih baik sekarang kau pergi dari sini,,tidak ada yang membutuhkan dirimu disini."ucap Gael,bahkan tidak sedikitpun ia menoleh kearah Cintia,saat ini dirinya hanya fokus pada kondisi Sima.


"Tidak perlu tau,aku ini calon istrimu Gael,jadi wajar dong aku tau semua urusan kamu"


"Calon istri?,jangan mimpi,,aku tidak akan pernah menerima wanita selicik dirimu,"


Sima menoleh kearah Cintia dan memperhatikannya,ia merasa bingung mendengar perdebatan diantara mereka berdua.


"Gael,siapa dia?"suara Sima masih terdengar lemah,

__ADS_1


"Udah kamu ngga usah khawatirkan dia,ayo kita pulang,,apa lukamu masih terasa sakit?."


"Siapa wanita ini,gaya pakaian yang sangat kuno,,ntah kenapa Gael tertarik dengan wanita seperti dia,"batin Cintia.


"Gael ayo ikut pulang denganku,kau sudah menolong dirinya kan,, sekarang biarkan keluarganya yang menjemputnya pulang."Cintia menarik tangan Gael,namun Gael menepisnya.


"Sudahku bilang jauhi diriku,atau kau akan menyesal,,sekarang cepat pergi atau aku tidak segan-segan menyakitimu saat ini juga,"ancam Gael menatap tajam kearah Cintia.


Dengan kesal Cintia terpaksa pergi meninggalkan mereka berdua,karena ia tau ketika Gael sedang marah akan sulit untuk mengendalikannya.


"Awas kau wanita aneh,akan kupastikan kau menyesal karena mendekati Gael."batin Cintia.


Akhirnya Gael mengajak Sima kembali kerumahnya,kali ini Sima tidak bisa menolak.karena kondisinya saat ini juga belum pulih sepenuhnya.


"Pelayan cepat kalian pergi kedapur dan buat sup hangat,segera antar kekamar disebelahku,"pintah Gael sembari mendorong kursi roda yang saat ini dipakai Sima,sebenarnya Sima merasa bingung dengan benda yang saat ini didudukinya,yang bisa digerakkan tanpa kekuatan sihir.


"Tidak Sima,ini namanya kursi roda,ada roda yang dipakai untuk menggerakkannya bukan sihir."


"Ohhh aku kira disini ada kekuatan sihir,dibumi semua manusia pintar yaa,bisa menciptakan sesuatu tanpa menggunakan sihir"


"Iya memang gitu, udah-udah sekarang kau harus istirahat dikamarmu,,yang ada disamping kamarku aku akan terus mengawasi mu aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu,,kau celaka karena menolong diriku."ujar Gael.


Sima mencoba bangkit dari tempat duduknya namun tidak bisa karena kondisinya saat ini masih saat lemah.ia mencoba beberapa kali,hingga membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.untung saja Gael cepat membantunya dan kembali mendudukinya dikursi roda.

__ADS_1


"Bagaimana aku akan keatas, sementara aku sendiri belum bisa berdiri dengan benar,"Sima terlihat bingung karena tubuhnya masih sangat lemah sehingga ia tidak bisa berdiri dengan benar,dan sekarang ia harus menaiki tangga untuk menuju kekamar.


"Tenang saja aku akan membantu dirimu,kau pejamkan matamu,"pintah Gael,


"Untuk apa,jangan kau macam-macam denganku atau aku tidak akan mengampuni dirimu,"Sima yang lugu merasa takut,ia pikir Gael akan melakukan sesuatu yang membuat dirinya merasa tidak nyaman.


"Aku tidak akan macam-macam denganmu, lagipula kau tidak akan bisa melawan diriku saat ini,bodoh"Sima mempercayai Gael dan kali ini iya memejamkan matanya menuruti perkataan Gael.


Dengan sigap Gael menggangkat tubuh mungil Sima,dan menggendongnya menaiki anak tangga karena ini jalan satu-satunya agar Sima bisa beristirahat dikamarnya.


"Hei apa yang kau lakukan,kau bilang kau tidak akan macam-macam bukan."ucap Sima sedikit berteriak,namun ia tetap memejamkan matanya karena takut.


"Kau tenang saja,aku tidak akan menyakiti dirimu,lagipula hanya hal ini yang bisa kulakukan untuk menolong dirimu,emang kau mau seharian duduk diatas kursi roda."


"Baiklah kali ini aku mempercayaimu,karena kau sudah menolongku,,tapi lain kali jika aku sudah sembuh dan berani melakukan ini lagi aku tidak akan memaafkan dirimu.,"ucap Sima.


Akhirnya mereka sampai dikamar Sima,Gael Mendudukan Sima ditepi ranjang tempat tidur.beberapa pelayan terlihat sudah datang membawakan bubur hangat yang tadi diminta Gael.


"Nahh,ini dia buburnya aku akan menyuapi dirimu,Aaa"


Sima pun melahap bubur yang disuapi Gael,namun ia segera memuntahkannya karena rasa bubur itu sangat hampar.


"Kenapa kau memuntahkannya?,apa ada yang kurang?"tanya Gael yang bingung kenapa Sima memuntahkan bubur yang diberikannya.

__ADS_1


"Itu sangat hambar,dikerajaanmu tidak ada makanan seperti itu,,semuanya saat enak."


"Udah,ayo cepat makan rasanya emang begitu karena ini adalah bubur khusus orang sakit,mungkin sangat beda dari dikerajaanmu tetapi ini sangat sehat kau harus memakannya."Gael berusaha meyakinkan Sima agar mau memakan buburnya namun Sima selalu saja menolak,Gael merasa geram kali ini ia mencoba untuk menakut-nakuti Sima.


__ADS_2