Terjebak Di Dua Hati

Terjebak Di Dua Hati
Flashback lima tahun yang lalu


__ADS_3

"Aku.. " belum sempat meneruskan kata-katanya Ayumi dikejutkan dengan munculnya Suga dari arah pintu utama.


"Ada apa ini? Siapa dia?" Suga yang masuk hanya melihat bagian belakang tubuh Jekey yang membelakangi pintu.


"Gara!!" Ayumi pun terlinjak kaget dan langsung berdiri dari duduknya.


"Jadi dia adalah lelaki yang di jodohkan oleh ibumu? Baguslah dia berada di sini jadi.." belum sempat Suga meneruskan kata-katanya, ia lebih dulu di kejutkan oleh Jekey yang tiba-tiba berbalik ke belakang.


"Hyung?" Jekey yang kaget pun langsung berdiri.


"Jekey!!" kaget Suga sambil menatap ke arah Ayumi dan Jekey bergantian. "Jadi dia?" belum sempat di lanjutkan Ayumi lebih dulu memotong ucapannya.


"Kalian saling kenal?" tanya Ayumi yang ikut kaget saat melihat mereka yang saling kenal.


"Hyung kenal dengan Luna? Ah maksudku Ayumi?" tanya Jekey sambil menatap lekat Ayumi kemudian Suga.


"Aku kenal dia Ayy!! Dia sahabatku di Korea. Apa dia yang di jodohkan denganmu?" tanya Suga kini menatap ke arah Ayumi.


"Bukan!! Dia sahabat aku di kampung sejak dulu." jawabnya jujur sambil menatap ke arah Suga.


"Jadi apa hubungan kalian? Apa kamu menghianati Jimmy Hyung karena dia?" todong Jekey sambil menatap ke arah Ayumi tapi tangannya menunjuk ke arah Suga.


"Kenapa kalian bawa nama Jimmy? Kamu kenal juga sama Jimmy Ayy?" Suga benar-benar tidak tahu siapa yang di jodohkan dengan Ayumi, karena saat dia melihat foto itu laki-laki yang bersama Ayumi tampak membelakangi kamera.


"Jimmy yang di jodohkan denganku Gara!! Kamu kenal juga? Ah ya tuhan kenapa jadi begini?" ucap Ayumi dengan nada tak percaya. Dan air matanya pun langsung mengalir dari matanya.


"Dia pacarku sejak lima tahun terakhir!! Dia yang selalu aku ceritakan ke kalian. Dan yang selama ini menghilang dan selalu aku cari adalah dia. Tapi kenapa saat aku menemukannya, kenapa aku juga harus berada di posisi seperti ini?" lantang Suga sambil menepuk dadanya kasar kemudian menjambak rambutnya frustasi.


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Ini benar-benar membuatku juga ikut bingung!!" Jekey kini mengusap wajahnya kasar lalu kembali duduk dan menggelengkan kepalanya kemudian menunduk.


Ayumi pun terduduk lemas sambil memijat kepalanya yang saat ini seakan mau pecah. Ini benar-benar di luar akalnya. Bagaimana dia berada di antara dua orang yang bersahabat baik.

__ADS_1


Suga pun ikut terduduk di sofa dekat Jekey dan melakukan hal yang sama seperti Jekey dan Ayumi.


"Apa kamu masih mencintainya Luna?" tanya Jekey lemas.


"Aku benar-benar mencintai Gara, tapi aku juga gak ingin persahabatan kalian hancur. Tapi apa yang harus aku lakukan?" Ayumi yang benar-benar di Landa kebingungan pun meremas tasnya kasar. Kemudian sesekali mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti.


Suga dan Jekey pun saling menatap dengan tatapan yang entah harus bagaimana. Harus jujur pada Jimmy kah? Atau harus menyembunyikannya,atau harus meneruskan perjodoan dengan Jimmy dan membuat Suga sedih atau bagaimana.


"Aku mohon kalian keluar!! Aku ingin sendiri dulu." sambil terisak kini Ayumi berlari ke arah kamarnya dan menguncinya.


"Ayumi!!...Lunaaa!!" teriak keduanya bersamaan sambil refleks keduanya berdiri. Merasa tak ada gunanya memaksa Ayumi keluar sekarang, mereka pun pergi guna memberikan waktu bagi Ayumi untuk beristirahat.


Sementara di kamar, kini Ayumi menangis lagi tidak berhenti, air matanya seperti mata air yang mengalir.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku gak tau kalau mereka bersahabat? Apa dia bos ku yang selama ini Jimmy bilang berada Korea itu Gara? Berarti setiap waktu aku bakal ketemu Gara." gumamnya lirih di sela tangisannya.


"Min Suga, Aku baru kepikiran juga nama Gara kan Sugara Alva. Emang ada Min nya? Ah ada iya aku ingat. M. Sugara Alva. Berarti selama ini aku memang sudah dekat dengan Gara," ia bergulat dengan fikirannya sendiri.


Flash back lima tahun lalu...


Hari itu aku benar-benar tidak menyangka bisa pergi jauh dari kota kelahiranku. Aku berpindah untuk menyusul kedua orangtuaku yang sudah lebih dulu tinggal di kota sejak bisnisnya maju. Dan pulang kampung sebulan sekali kadang tiga bulan sekali.


Aku baru lulus dan bisa menyusul mereka untuk kuliah di kota besar, bisa di bayangkan betapa bahagianya hatiku. Begitu aku sampai di rumah mewah milik ayah dan ibu, aku benar-benar di perlakukan seperti seorang putri .


Seminggu setelah aku tiba di kota, aku diantar oleh Ibuku ke salah satu fakultas ternama di sana, tempatnya bagus dan banyak sekali pohon rindang. Setelah selesai dengan administrasi,ibuku mendapat telepon penting dan mengharuskannya pergi lebih dulu, karena aku ingin melihat-lihat dulu area kampus maka ibu menyuruh supir untuk menunggu dan mengantarku pulang, beliaupun menyetujuinya .


Aku berjalan di pinggir lapangan basket yang terlihat ramai oleh suara teriakan perempuan. Aku penasaran dan mendekat, lalu setelah sampai mencoba masuk di antara kerumunan dan setelah berhasil masuk barisan depan aku melihat belasan pria tengah bermain basket dan itu sangat keren.


Saking keasikan melihat permainan basket yang sejak dulu aku inginkan tapi tidak di ijinkan oleh ayah dan ibu. Aku tidak menyadari bola basket yang sedang di mainkan melesat keras ka arah kepalaku.


'Bugh!!'

__ADS_1


"Aargh!!" Aku hanya mendengar suara teriakan baik laki-laki maupun perempuan, setelah itu aku pingsan tak ingat apapun lagi.


Aku terbangun berada di sebuah klinik yang ada di area kampus, tiba-tiba saja ada yang mendekat.


"Kamu gak papa?" tanyanya sambil menatap aku yang masih terduduk.


"Aku gak papa kok!! aww!" aku hanya memegang bagian keningku yang sedikit benjol dan sedikit memar juga.


"Maaf ya,tadi bolanya gak tau kenapa meleset dan kena sama kamu." sambil mengulurkan tangannya meminta maaf.


"Ah gak papa kok! Aku juga salah gak liat arah bola." jawabnya seadanya Sambil meraih tangannya lelaki yang menolongnya. Mau marah, marah sama siapa.


"Gara!!" belum lepas genggaman tangan mereka, lelaki itu memperkenalkan dirinya .


"Ayumi!!" jawabnya sambil tersenyum.


Mereka pun melepas tautan tangannya dan Gara kembali ke posisi duduknya tadi.


"Kamu mahasiswa baru atau..?" tanya Gara menebak-nebak.


"Iya aku baru daftar tadi sama ibu aku, tapi ibuku pulang duluan karena aku mau liat dulu area kampus. Tapi tadi malah aku tertarik ke arah lapangan basket." jelasnya sambil sedikit gugup.


"Kamu dulu ekskul basket waktu di SMA?" tanyanya lagi.


"Aku gak di izinin padahal aku tertarik banget sama olahraga basket!!" jawabnya kemudian menunduk sedih.


"Kamu mau main basket?" sambil menatap Ayumi, kali ini agak sedikit mendekat.


"Iya mau tapi gak di bolehin ibu." jawabnya lesu.


"Kita tukeran nomor ponsel masing-masing, nanti aku ajarin main basket supaya kamu bisa main basket!" sambil meminta ponsel milik Ayumi, dan Ayumi pun memberikannya.

__ADS_1


Gara mencatatkan nomornya di ponsel Ayumi dan mendialnya ke ponsel miliknya. Sehingga tau nomor masing-masing.


"Terima kasih yah Gara!!" sesaat setelah menyimpan nomor Gara.


__ADS_2