Terjebak Di Dua Hati

Terjebak Di Dua Hati
Pernyataan cinta Gara


__ADS_3

POV AYUMI


"Aku bilang aku menyukaimu Ayy!!" ucapnya yang kedua kalinya sambil menatap Ayumi lekat dan masih memegang dua lengannya.


"Kakak jangan bercanda!!" tolakku halus.


"Aku serius!! Makanya aku gak terima saat kamu gak mau angkat no aku dan blok no aku. Aku serius Ayy!" ucap Gara dengan lembut diiringi tatapan hangat.


"Apa yang kakak suka dari aku? Aku baru anak kemaren lulus, masih banyak yang suka sama kakak dan lebih pantas!" jawabku sambil sedikit meninggikan suara.


"Siapa bilang orang lain lebih pantas? Aku juga gak punya apa-apa Ayy, aku bukan anak orang kaya. Aku masuk kesini juga karena beasiswa. Gak ada yang pantas sama aku, aku hanya merasa jatuh hati aja sama kamu apa gak boleh?" ungkapan hati Suga, Di iringi tatapan kesedihan.


"Bukan gak boleh kak!! Tapi yang suka sama kakak juga banyak, pertimbangkanlah salah satunya. Mungkin kak Ana, atau Valerie!" cicitku sambil menunduk tanpa berani menatap Gara.


"Aku gak suka mereka!! Yang aku suka cuma kamu. Sejak pertama bertemu kamu aku beneran jatuh hati sama kamu. Gak ada cewek satupun yang aku ajak main basket, cuma kamu doang!! " jelas gara sambil meyakinkan Ayumi.


"Aku gak bisa jawab sekarang!! Soalnya aku gak tau rasanya jatuh cinta. Soalnya aku belum pernah rasain namanya pacaran dan suka lawan jenis. Maaf!!" aku pun berani menatapnya dan memberitahukan isi hatiku.


"Kamu bisa jawab nanti Ayy, gak perlu sekarang!! Aku tunggu sampai kamu siap menerimaku." ucap Gara kini sedikit lega.


"Aku pamit kak, bentar lagi jam kedua makul. Permisi!!" kini Gara tidak menahannya lagi dan membiarkan aku pergi.


"Jangan blokir nomorku!!" tiga kata yang membuat aku berhenti sejenak tanpa berbalik, tak lama pun kembali berlari.


Di kelas aku benar-benar terduduk lemas,pernyataan cinta Gara barusan membuat hatinya senang sekaligus membuat bingung.


Tiba-tiba seorang wanita cantik datang dan langsung menamparnya begitu saja.


'PLAK!!'


Semua yang ada di kelas pun kaget, terlebih diriku sendiri, sontak aku langsung memegang pipiku yang terasa kebas dan panas lalu mendongak.


"Valerie!! Apa-apaan ini? Kenapa nampar aku?" aku yang tak terima mempertanyakan dengan nada biasa saja hanya penuh penekanan.

__ADS_1


"Maksud Lo apa sok sokan mikir-mikir waktu Gara nembak Lo? Lo ngerasa keren karena seorang bintang kampus nyatanya perasaannya ke Lo?" cercanya sambil menunjuk-nunjuk aku seolah aku ini tersangka.


"Terus aku harus apa?" sambil menatap sekeliling yang nampak memandangi kami dan tak sedikit juga yang berbisik.


"Ya tolak mentah-mentah lah gitu aja gak tau!! Dari mana-mana juga gue lebih segalanya dari Lo. Mau bersaing sama gue, ngaca Lo!" sentaknya yang membuatku terkejut sekaligus membuat hatiku terasa sakit


"Aku udah nolak dia ya, tapi dianya gak mau. Terus aku harus apa?" giliran ku sedikit menyentaknya.


"Pergi jauh-jauh sana, gak usah balik lagi." sambil melipat tangannya di dadanya.


"Kalau gue gak mau?!" bukan aku yang bicara, tapi Gara yang entah sejak kapan ada di antara kami.


"Ga..Gara!! sejak kapan kamu di situ?" tanya Valerie gugup.


"Sejak Lo nampar Ayumi!! Lo tau kenapa gue suka sama dia daripada Lo yang menurut Lo sempurna! Hati Lo gak pernah tulus sama orang dan Lo terlalu percaya diri dan gak pernah kalah. Iya kan?" Gara tidak membentak, bicaranya masih bernada biasa, walaupun dia marah dia gak pernah ninggiin suaranya ke siapapun juga.


"Kamu kan gak tau aku gimana Gara, Kamu gak pernah mencoba dekat sama aku." lirih Valerie sambil menatap Gara.


"Ayumi beda sama Lo. Dia selalu sopan dengan siapapun, yang gue tau Ayumi juga putri keluarga kaya tapi sifatnya jauh berbeda sama Lo.Makanya gue suka dia." Gara pun meraih tanganku dan membawaku bersamanya entah kemana, semua orang memandang ke arah kami dan Valerie menatap sinis padaku.Aku yakin dia murka padaku.


Di parkiran motor kampus kami lalu berhenti. Gara memintaku naik ke atas motor sport miliknya yang terparkir di sana.


"Naiklah!!" pinta Gara padaku yang masih diam tak berkata apapun.


"Ayolah Ayy!!" sambil memakaikan helmnya padaku sementara dia sendiri tidak memakai helm.


"Kakak gak pakai helm?" tanyaku padanya sambil menahannya saat akan naik motor.


"Nanti beli di depan sana!! Yang penting kamu yang pakai biar aman." setelah mengucapkan itu iapun naik. Akupun memegang pinggangnya untuk naik dengan sedikit susah payah, dia menahanku agar tidak terjatuh.


"Kamu sudah siap?" tanyanya sambil menoleh ke belakang.


"Iya aku siap!!" sambil memegang kecil sisi Hoodie milik Gara.

__ADS_1


"Pegangannya jangan kesitu nanti jatuh. Peluk pinggangku!!" aku hanya diam tak bergerak, sesungguhnya aku malu.


"Baiklah kalau jatuh jangan salahin aku ya!!" kini Gara mulai menyalakan mesin motornya dan mulai melaju keluar dari area kampus.


Awalnya kecepatannya biasa saja,tapi saat di persimpangan bertemu seorang polisi yang meniupkan peluit, motor itu tiba-tiba menaikan kecepatannya. Refleks aku pun langsung memeluk Gara karena takut terjatuh.


Dan kami berhenti di sebuah cafe yang berada persis di depan toko helm. Kami pun turun dan memarkirkan kembali di sana.


Gara menggandeng tanganku erat dan mengajakku memasuki toko helm. Ia memilih satu persatu helm untukku yang warna dia inginkan adalah merah.


"Mau yang ini?" sambil memperlihatkan helm yang berwarna merah.


"Enggak aku suka pink atau purple kak!! Kalau yang itu boleh gak?" tinjukku sambil menunjuk ke arah helm berwarna ungu dengan gambar shooky karakter bt21 milik BTS.


"Tapi menurutku itu bentuknya aneh, bulat dan matanya gak singkron dan mungil." ucap Gara sambil tersenyum kikuk.


"Tapi dia karakter favorit aku di bt21, pengenya sih karakter chimmy sama RJ. Tapi karena gak ada lagi, yang itu aja. Boleh kan?" ucapku mengabsen satu persatu karakter favoritku.


"Baiklah size S apa M? coba dulu satu persatu!" pinta Gara sambil mencoba satu persatu size helmnya.


Aku pun mengangguk dan sepertinya yang M lebih enak dan nyaman di pakai di banding S yang terlalu pas dan itu bikin sakit kepala.


"Yang M aja deh kak, ini terlalu pas malah sakit kepala." sambil membawa helm itu ke kasir, tapi tangan besar itu meraihnya dan membawanya lebih dulu.


"Yang ini aja katanya mbak!" ucap Gara di depan mbak kasir.


"Biar aku yang bayar kak! Berapa?" ucapku sambil hendak mengeluarkan dompet dari dalam tas.


"Ini uangnya mbak!!" Gara langsung menyimpan uang seharga helm tersebut ke Mbak kasirnya. Lalu menahan tangan aku yang sudah menggenggam dompet.


"Tapi helm itu kan aku yang pake kak!" ucapku pelan.


"Tapi kamu di bonceng aku. Udah yuk!! Makasih mbak!" sambil membawa helm yang sudah di bungkus tas khusus helm.

__ADS_1


__ADS_2