
Ayumi POV :
Sejak saat itu aku sering berhubungan lewat telpon dan diapun selalu mengajariku bermain basket. Karena aku masuk saat masa ospek sudah selesai aku pun sedikit mengejar ketertinggalan mata kuliah.
Banyak wanita yang iri padaku karena Gara dekat denganku. Berbagai macam cara mereka lakukan agar aku tidak bertemu Gara. Mereka selalu mengerjaiku di mana pun asal Gara tak terlihat.
"Jauhi Gara!! Anak baru aja gak usah caper sama senior!! Mur****!!" ucap wanita yang bernama Ana.
"Aku gak caper kok!" ucapnya sambil menunduk.
Tangan ana pun mencengkeram kuat rahangku, dan itu benar-benar menyakitkan, dan tampak memerah dan sedikit berdarah karena kukunya sangat panjang.
"Gak usah alasan, kalau gue liat Lo Deket lagi sama Gara, liat aja apa yang bisa gue lakuin ke Lo!" seraya melepas kasar rahangku dan berlalu pergi.
Aku benar-benar merasa sakit, kupegang bagian yang di pegang ana tadi dan kulihat benar ada noda darah walaupun sedikit. Aku berlari ke kamar mandi dan mencuci wajahku, kemudian menangis sejadinya.
Sepuluh menit aku di sana terisak dan berfikir apa yang harus aku lakukan. Tiba-tiba ponselku bergetar dan aku meraihnya ternyata Gara yang menelepon, aku biarkan saja tanpa mengangkatnya.
Entah berapa kali Gara menelepon dan aku abaikan, Aku hanya malas mendapat perlakuan seperti tadi lagi. Ya aku akui kalau aku memang pengecut. Walaupun hubungan aku dan gara tidak ada yang spesial tapi mereka selalu menuduhku cewek tidak baik karena dekat dengan Gara.
Aku akan membolos untuk satu hari ini saja, aku malas dengan orang-orang yang selalu menyindirku dan membuliku. Aku keluar dari kamar mandi dan lewat pintu belakang aku keluar lalu menghubungi supir pribadiku.Tak menunggu berapa lama, supirku datang dan aku pun pulang.
Saat tiba di rumah tidak ada siapapun kecuali para asisten rumah tangga yang bekerja di sana dan mereka pun untungnya tak banyak bertanya kenapa aku pulang lebih awal.
Aku membuka ponselku, ada sekitar tiga puluh panggilan tak terjawab, dan dua puluh chat dari Gara dan teman satu fakultasku.
Aku membaca yang dari gara dulu,sambil terduduk di ranjang aku membacanya satu persatu. Dan yang membuatku kaget adalah salah satu pesannya membuat aku tak percaya.
...Gara...
...10 panggilan tak terjawab...
P
__ADS_1
P
Kenapa gak di angkat?
Kamu di mana?
Ayumi jadi kan kita latihan sore ini?
Ayumi polos kenapa gak ada yang kamu balas. Kamu marah sama aku?
...15 panggilan tak terjawab...
Ayy!! Boleh kan aku panggil kamu begitu?
Aku ke rumah kamu yah sekarang!!
...5 panggilan tak terjawab...
Aku pun mematikan ponsel aku dan berjalan ke luar menghampiri gerbang dan mengintip di sela gerbang. Gara tengah terduduk lesu dan bersandar di dinding benteng.
Aku mengangguk balik saat sekuriti tadi mengangguk padaku, aku membuka kunci gerbang dan menggeser sedikit dan keluar. Dia langsung menghampiriku dan langsung memegang bahuku.
"Kamu kenapa..." kata-katanya terhenti saat melihat rahangku memerah dan terluka, dia juga menyentuh pipiku agar aku menoleh ke arah lain tapi aku menolaknya dan memilih mundur selangkah.
"Kenapa mencariku? Ada hal yang penting?" aku pun mengalihkan pikirannya yang masih tertuju pada wajahku.
"Kenapa gak angkat telepon dan balas chat aku?" tanyanya sambil menatap wajahku, jujur aku baru dua kali berteman dekat dengan laki-laki.
"Memang kenapa Kak?" panggilanku padanya memang seperti itu sejak kami berkenalan dan aku tau dia adalah kakak angkatanku di kampus.
"Ya kan biasanya kita baik-baik aja kan? Tapi tiba-tiba kamu jadi aneh hari ini. Dan lihat kenapa sama mata dan wajahmu?" ucapnya sambil berusaha mendekat ke arahku, dan aku pun sontak mundur kembali.
"Kita kan cuman teman kak, gak begitu wajib juga aku balas dan terima telepon dari kakak. Lagian aku gak mau jadi pengganggu hubungan orang lain." jawabku panjang sengaja menyindirnya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Ayy? Pacar? Siapa yang punya pacar?" wajahnya memberenggut, sambil menepuk pelan dirinya sendiri.
"Sekarang aku udah gak mau main lagi basket, jadi aku mohon kak jangan hubungi aku lagi. Permisi!!" tanpa menunggu jawaban aku meninggalkan dia dan bergegas masuk kemudian mengunci pintunya.
Aku mendengar Gara terus memanggil namaku dan meneriakan kenapa alasannya dan entah apa lagi karena aku langsung masuk ke kamar dan mengambil ponsel dan memblokirnya.
Tapi kenapa hatiku sangat sedih ya saat aku harus menjauhinya,ada rasa tidak rela dan sakit yang berlebihan. Tapi aku gak tau itu apa.
Setelah kejadian itu aku tidak masuk kampus beberapa hari dengan alasan sakit. Aku terus mengurung diriku di kamar dan saat ibuku bertanya aku kenapa, aku cuman menjawab gak enak badan dan gak ingin di ganggu.
Setelah empat hari tidak masuk, esoknya aku masuk di antar supirku seperti biasa. Aku juga tak ingin menatap kemanapun karena aku gak mau bertemu dengan dia.
Di dalam kelas aku di berondong bermacam macam pertanyaan oleh temanku di sana, aku hanya menjawab seadanya dan aku bilang mungkin kecapekan saja dan mereka tidak bertanya lagi kebetulan dosen pun datang dan mereka pun membubarkan diri pergi ke kursi masing-masing.
Saat jam pertama usai, tiba-tiba seseorang datang dan memintaku pergi ke ruang dosen katanya salah satu dosen menyuruhku kesana , Dan itu harus melewati lapangan basket. Aku pun mengiyakan dan mulai baranjak menuju kantor dosenku.
Aku pun berjalan dengan sedikit menunduk tanpa ingin melihat kesana kemari, dan tiba-tiba sebuah tubuh yang tinggi berhenti pas depan aku, aku yang ymtak sempat menghentikan kakiku pun sontak menubruknya.
"Akkhh!!" erangku sambil memegang keningku.
"Kamu gak apa-apa?" suara yang sungguh tidak asing menyapa telingaku, suara yang selama empat hari ini tidak aku dengar tiba-tiba ada di depanku.
"Aku gak papa! Permisi aku mau lewat kak!" masih tertunduk dan bergeser ke sisi lain guna pergi dari sana namun sayang tangannya menarik tanganku sedikit kencang.
"Lepasin kak!! Aku di tunggu dosenku di ruangannya!" aku memakai alasan itu untuk menghindar, tapi Gara tak juga melepaskan tanganku.
"Yang memanggil kamu bukan dosen, tapi aku. Aku sengaja memakai alasan itu karena kamu selalu menghindar dari aku." jawabnya sambil memegang kedua bahuku.
"Tapi kenapa kakak kayak gini ke aku? Aku kan gak main basket lagi. Jadi untuk apa kita saling berhubungan lewat jalur apapun?" jawabku sambil menatap matanya kini.
"Aku suka kamu Ayy!! Kamu mau jadi pacar aku?" tembakan langsung yang membuat jantungku benar-benar berdetak kencang.
"Apa maksud kakak?" membuat wajahku benar-benar terasa panas,apalagi ini di hadapan banyak anak basket lainnya.
__ADS_1