TerJebak Ikatan Pernikahan Dengan Musuh

TerJebak Ikatan Pernikahan Dengan Musuh
eps14


__ADS_3

“Apah? ke panti asuhan?“ kaget jeno atas ucapan gadis di sampingnya “Untuk apa ke panti asuhan?“ Tanyanya lagi.


“Apa kau bodoh? Tentu saja untuk memberikan semua Mainan-mainan yang sudah ku beli!" Jawab Jena dengan kesal.


"Iya-iya Aku tau maksudmu! Tapi aku hanya kaget saja, kamu menggunakan satu permintaan kamu untuk orang lain ! Biasanya kau tidak seperti itu!" Jawab Jeno, masih tak menyangka.


"Heh, terserah kamu saja mau berpikir seperti apa! Aku tidak perduli! jawab Jena sembari terus memakan Eskrim miliknya, dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.


Mendengar ucapan Jena. Jeno hanya Bisa menggelengkan Kepalanya. Iya lantas terus mengemudikan mobilnya, mengarah ke panti yang Jena arahkan.


Panti asuhan


Selang Beberapa Menit, Mobil Jeno sudah sampai di depan panti asuhan yang terlihat cukup besar. Setelah memasukkan mobil ke dalam Gerbang Panti tersebut, Jeno lantas memarkirkan mobilnya bersamaan dengan mobil yang mengikutinya.


Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Jeno langsung turun dari mobilnya dan langsung membukakan pintu mobil untuk Jena. Melihat hal tersebut Jena lantas keluar dari mobil, sembari membawa semua eskrim nya yang sangat banyak itu "ini lumayan berat juga ya !" ucap jena pelan, namun masih bisa di dengar oleh jeno . Mendengar ucapan Jena tersebut, tanpa basa-basi, Jeno mengambil kantung eskrim yang di pegang Jena dan membawanya.


"Dadi tadi dong!" ucap Jena dengan tersenyum nakal.


"Heh, dasar wanita!"


Jena melihat-lihat sekeliling panti Asuhan di hadapannya. Iya terlihat sangat senang melihat banyak anak -anak yang berlarian kesana kemari "Anak - anak yang lucu!" ucapnya.


"Biasa saja!" jawab jeno dingin.


Mendengar ucapan Jeno. Jena langsung membulatkan kedua matanya dan menatap Jeno dengan sangat kesal. Iya kemudian berjalan masuk ke dalam panti asuhan tersebut meninggalkan Jeno sendirian. Jeno yang melihat Jena pergi, langsung mengikuti nya dari belakang. Akan Tetapi langkahnya langsung terhenti saat Terdengar orang yang memanggilnya dari belakang. Yaitu seorang Karyawan Mall, yang iya temui di Toko tempat Jena berbelanja.


"Tuan !" panggil pegawai mall tersebut.


Mendengar panggilan tersebut, Jena lantas menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh kebelakang"Kenapa?"tanyanya dengan dingin.


"Semua Mainan-mainan dan peralatan sekolah ini harus dikemanakan tuan ?" Tanya laki-laki tersebut.


"Bawa semuanya ke dalam !" suruh Jeno singkat dan langsung masuk ke dalam panti asuhan tersebut.


"Baik tuan!" Teriak laki-laki tersebut cukup keras, kemudian pergi kembali ke mobilnya yang terparkir.


***


Setelah masuk ke pekarangan rumah panti asuhan tersebut. Jena melihat begitu banyak anak-anak yang bermain dengan gembiranya. Dengan raut wajah yang begitu senang. Jena lantas berjalan menghampiri anak-anak yang sedang bermain tersebut" Hai semua !" sapa Jena dengan sangat antusias.


Mendengar Suara yang tak asing, Semua anak-anak menoleh ke arah sumber suara. Alangkah senangnya mereka saat melihat Jena dari kejauhan.


"Wah! Kak jena datang! kak jena datang !" Teriak salah satu anak laki-laki dengan sangat keras, Iya bernama pino.


Mendengar teriakkan Pino, Semua Anak-anak yang tadinya sedang bermain, kini langsung menghentikan aktivitas mereka dan kemudian berjalan mengerumuni jena "Kak Jena! kenapa kakak baru datang? kami sangat merindukan kakak loh! Apa kakak sudah gak sayang lagi sama kami?" Tanya Pino, sembari memegang tangan Jena.


Mendengar ucapan Pino , Seketika Jena mengerutkan keningnya dengan menunjukkan Menatap Pino tajam "Kenapa kamu berpikir Seperti itu?" kakak hanya banyak urusan saja akhir-akhir ini! Kakak juga sebenarnya sangat merindukan kalian semua! jadi jangan pikir kakak tidak sayang lagi sama kalian, Mengerti?" Tanya Jena dengan tegas.


Mendengar Ucapan Jena, Seketika semua anak panti tersenyum dengan Senangnya. Mereka dengan antusias nya, langsung berlari dan memeluk jena dengan erat "Kami sayang kak Jena!" Ucap mereka bersamaan.


"Hahahah...Astaga! Makasih ya, adik-adik kesayangan kakak!" senang Jena, sembari memeluk semuanya dengan erat dan penuh kehangatan.


Dari kejauhan, Terlihat Jeno terdiam membeku, saat mendengar Ucapan Antara Jena dan anak-anak panti tersebut. Dengan Perasaan Aneh, Iya mengerutkan dahinya Dengan raut wajah yang kebingungan "Kenapa Jena sangat dekat dengan anak-anak ini ?Dan apa maksud dari ucapan Jena dan anak-anak itu? seperti Jena pernah ke sini saja!" pikirnya keheranan.


Saat sedang memeluk Jena. Pino tak sengaja melihat Jeno, yang sedang berdiri dengan muka yang terlihat kebingungan " siapa dia?" Gumam Pino, dengan menatap Jeno dengan menyidik.


Karena begitu penasaran, Pino lantas melepaskan pelukannya dan menatap Jena "Kak Jena! Dia siapa? Apa kakak mengenalnya? " Tanya Pino penasaran, sembari menunjukkan tangannya ke arah Jeno.


Jena yang menyadari Pino mengarahkan tangan pada Jeno. Iya lantas tersenyum


"Itu kak Jeno! Dia temen kakak, yang sering kakak ceritain itu loh!" Jawab Jena dengan tersenyum lepas.


"Oh...ternyata sangat tampan!" Seorang wanita paruh baya, yang tak lain pengurus panti tersebut.

__ADS_1


"Ibu pengurus?" kaget Jena, saat melihat wanita paruh baya tersebut tiba-tiba datang.


"Sudah lama ya Jena!" ucap wanita paruh baya tersebut yang membuat Jena langsung berlari dan memeluk wanita tersebut dengan erat.


"Ibu! Aku sangat merindukan ibu loh!" Ucap Jena yang membuat Wanita tersebut tersenyum.


"Benarkah ? Lalu, kenapa jarang kesini lagi?" tanya Wanita paruh baya tersebut, sembari mengelus rambut Jena, yang terurai.


"Aku tidak bermaksud! Aku hanya banyak urusan saja! Nanti aku ceritakan deh semuanya, agar lebih jelas !" Ucap Jena meyakinkan.


"Baiklah! kalo begitu ayo semuanya masuk! kita makan bersama di aula !" Ucap wanita paruh baya tersebut, pada anak-anak pantinya.


Mendengar perintah dari Ibu pengurus panti. Semua anak-anak tanpa basa-basi langsung berlari secara teratur ke dalam panti. Meninggalkan mereka berdua, termasuk juga Jeno yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.


"Ibu udah masak? Masak apa Bu hari ini" Tanya Jena begitu antusias.


"Penasaran kan? Kalau begitu ayo masuk kedalam! Kita makan bersama-sama dan Jangan lupa ajak pacarmu, yang sedang berdiri itu!" Ucap wanita paruh baya tersebut, sembari menatap Jeno.


"Bu-bukan kok! bukan pacar!" ucap Jena gugup.


"Hahaha, baiklah-baiklah, ibu mengerti!"


Jena Tersenyum. Iya kemudian Berjalan menghampiri Jeno dan menggenggam tangannya, yang membuat Jeno keheranan. Tanpa basa-basi, Jena lantas menarik tangan Jeno dan membawanya ke hadapan Pengurus panti.


"Ibu! perkenalkan, Namanya Jeno!" ucap Jena, sembari menepuk pundak Jeno yang kekar.


"Tidak perlu di kasih tau! ibu sudah tau kok!" Ucap wanita paruh baya tersebut, yang membuat Jeno langsung mengerutkan keningnya.


"Kenapa Ibu bisa mengenal Saya? Saya rasa, saya bau saja melihat ibu!" Tanya Jeno begitu penasaran.


"Mana mungkin ibu tidak kenal kamu! Setiap Jena datang ke sini, Iya sering menceritakan mu pada kami semua !" Jawab Wanita paruh baya tersebut dan langsung melangkahkan kakinya, menuju ke dalam panti.


Jena yang melihat, ibu pengurus itu akan masuk ke dalam panti. Jena dengan segera menghentikannya.


"Tunggu Bu! ini eskrim buat anak -anak !" ucap jena, sembari memberikan kantung yang ada di tangannya.


Setelah melihat wanita paruh baya tersebut masuk kedalam panti. Jeno lantas menoleh ke arah Jena dengan tatapan dingin "kamu membicarakan apa tentangku? Pasti membicarakan kejelekan ku kan?" Tanya Jeno menyidik.


"lupakan saja lah! ayo kedalam !" ucap Jena, sembari menggandeng tangan Jeno dan menariknya untuk masuk ke dalam panti.


"......"


***


Setelah Mereka berdua masuk ke dalam panti tersebut . mereka berdua langsung pergi ke Dalam aula. Saat masuk ke dalam aula tersebut, Jena dan Jeno melihat Semua Anak-anak sudah duduk dengan sangat rapih di lantai, yang sudah terlebih dahulu di alasi dengan Karpet yang begitu lebar.


Melihat hal tersebut, Jeno lantas menggenggam Tangan Jena dengan erat, yang membuat Jena keheranan.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Jangan jauh-jauh! Nanti Kamu hilang!" Ucapnya, yang sontak membuat Jena tersenyum di buatnya.


"Sudah! Ayo kita duduk di sana!" Ucap Jena, sembari Menunjuk ke arah karpet yang masih kosong.


mendengar hal tersebut Jeno mengangguk. Iya lantas mengikuti Jena dari belakang, dengan terus menggandeng tangannya.


Setelah Keduanya Duduk. Jena lantas melepaskan Tangan Jeno, yang terus menggenggamnya "Apa kamu senang, aku membawamu ke tempat ini?" Tanya Jena, pelan.


"Tidak! jelas-jelas Kamu tau aku gak suka dengan anak kecil! Tapi malah membawaku ke tempat seperti ini!" Jawab Jeno, sedikit kesal.


"Iya, aku tau! Makanya aku Tidak pernah membawamu ke sini! Tapi, kamu jangan seperti itu! Kamu harus membiasakan diri bersosialisasi! Bagaimana Jika kamu punya anak nanti? Apa kamu akan Bersikap seperti ini terus?" Ucap Jena dengan sangat serius.


Mendengar ucapan Gadis di sebelahnya, membuat Jeno langsung memalingkan wajahnya yang merona, sembari berkata "Kamu jangan bicara sembarangan! menikah saja belum, sudah memikirkan soal anak! itukan bisa di bicarakan nanti!" Jawabnya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja! aku hanya ingin menasihati mu!"


"Tapi itu tidak perlu!"


"Ya sudah, jika kamu tidak mau dinasehati! lebih baik aku pergi membantu Ibu di dapur !" ucap Jena dengan kesal dan langsung pergi menuju dapur.


"Tentu saja! Jika aku punya anak nanti, aku pasti akan menyayanginya! begitu saja ditanya !" Gumam Jeno sedikit kesal.


"Kakak!" Panggil seorang anak perempuan berumur 4 tahun dari hadapannya. Yang membuat Jeno menoleh menatapnya "Ada apa?"tanyanya dengan datar.


"Kakak tampan,gendong!" pinta anak tersebut sembari menghampiri Jeno lebih dekat.


Jeno yang mendengar permintaan gadis tersebut, lantas mengangguk. Dengan raut wajah yang datar, jeno menggendong gadis kecil itu dan mendudukkannya di pangkuannya "Siapa nama mu?" Tanya Jeno, penasaran.


"Nama ku pipi !" jawab gadis tersebut, dengan Tersenyum lebar.


"Jangan tersenyum padaku! aku sangat sebal !"


"Sebal kenapa?"


"kakak mu Jena itu, terus saja membicarakan t tentang anak! kak Jeno gak suka!" ucap Jeno, terus terang.


"hahah.!" tawa pipi dengan lepas.


"kenapa kamu tertawa? memangnya lucu?"


"Kak Jena mungkin ingin memiliki anak dengan kakak! jadi kakak jangan jutek !" Jawab pipi dengan polosnya, yang sontak membuat telinga Jeno memerah


"Mungkin !"


Di waktu yang bersamaan


Jena masuk ke dalam dapur, menghampiri Ibu pengurus panti, berniat membatunya mengemas makanan ke dalam kotak makanan "Bu! biar ku bantu!" ucap Jena, sembari duduk di sebelah Wanita paruh baya tersebut.


"Iya! Tolong kemas Semua Lauknya ya!"


"Iya Bu!" Angguk Jena, dan langsung melakukan tugasnya dengan tekun.


Baru saja beberapa Kotak makanan terisi. Tiba-tiba terdengar suara handphon Jena berbunyi. Dengan menghela nafasnya, Jena lantas mengangkat teleponnya.


"Siapa?" tanyanya, karena Tak sempat mengecek.


"Ini Aku Maya!" ucap Maya dengan sedikit kesal


"Iya, ada apa Maya?"


"Jena! kamu sudah menelepon Kevin?"tanya Maya.


"Akh aku lupa!" ucap Jena dengan menggigit bibirnya.


"kamu ini bagaimana? cepat telepon sekarang !" suruh Maya dengan kesal.


"Iya-iya aku akan menelepon nya sekarang!" Angguk Jena dan langsung mematikan teleponnya


Di sisilain


Sebuah mobil mewah berhenti di sebuah gerbang rumah, yaitu rumah Jena. Tak selang lama, terlihat seorang laki-laki turun dari mobilnya sembari membawa bunga dan coklat di tangannya "ini rumah Jena kan ?"ucap seorang laki-laki, yang tak lain yaitu Kevin "iya ini rumahnya !waktu sekolah aku bermain kesini!"gumamnya lagi dengan antusias nya.


Setelah menarik nafas panjang, Kevin mulai melangkah maju, kearah gerbang rumah Jena. Baru saja Tiga langkah yang berjalan, tiba-tiba Hanphonenya berbunyi. yang membuatnya langsung menghentikan langkahnya.


"siapa yang telpon ku? ganggu saja!" kesal Kevin dan langsung mengangkat telponnya.


"Siapasih ganggu saja !" bentak kevin dengan kesal.

__ADS_1


"ini aku, jena !"


"APAH?"


__ADS_2