TerJebak Ikatan Pernikahan Dengan Musuh

TerJebak Ikatan Pernikahan Dengan Musuh
eps3


__ADS_3

Beberapa menit kemudian


Setelah Rania dan Marisa Sudah Puas Menghukum Jena dan jeno.


Mereka berdua langsung mengintrogasi Jena dan jeno dengan sangat tegas, agar masalah di antara mereka berdua bisa cepat di selesaikan sekarang juga sampai tuntas. Setelah Kedua orang tua tersebut menghukum anaknya. Jena dan Jeno hanya bisa terdiam tak Melawan . Mereka berdua kemudian Duduk bersebelahan sembari menundukan kepala mereka menatap lantai, dengan raut wajah yang ketakutan karna orang tua mereka menatap Mereka berdua dengan tatapan yang menyeramkan.


"Cepat bilang pada Mamah dan Tante marisa! kenapa kamu membentak Jena ?" tanya Rania pada anaknya yang sangat iya sayangi.


"Aku tidak sengaja membentaknya....


"Bohong dia Tante...!"potong Jena, mengelak pembelaan Jeno Tersebut.


"JENA DiAM!" bentak Marisa pada anaknya yang memotong pembicaraan orang lain Tampa ijin.


Karna bentakan ibunya Tersebut, JEna sontak  langsung menunduk ketakutan. Sembari terus menggerutu Dalam hatinya, yang tentunya tak akan terdengar oleh siapapun yang ada di dekatnya.


"Terus kenapa kamu membentak Jena? Memangnya apa salah Jena sehingga kamu membentaknya?" Lanjut Rania yang masih penasaran.


Karna Pertanyaan ibunya Tersebut, Jeno mulai menghela nafas nya, mencoba untuk menjelaskan "Aku sedang marah pada galu, karna dia tidak memeriksa keuangan kantor ku dengan benar! Aku tidak bermaksud Membentak Jena! Saat dia menelpon aku pikir itu adalah Galau! Jadi membentaknya! itu semua tidak di sengaja!" Jelas Jeno pada Ibunya.


Mendengar penjelasan anaknya, rasa lega seketika muncul, yang membuat Rania merasa tenang di buatnya "Terus apa pendapatmu Jena?" tanya Rania pada Jena, yang Sangat di sayanginya.


"Tapi Tante dia bahkan tidak meminta maaf padaku !" cemberut Jena, dengan mata yang melihat Jeno dengan sinis.


"Bagaimana aku mau minta maaf mah? dia saja langsung mematikan teleponnya begitu saja! Aku bahkan belum sempat Menyelesaikan ucapan ku! Jadi itu semua  bukan salah ku sepenuhnya !" elak Jeno, membela dirinya.


Melihat penjelasan Jena dan jeno, Rania Dan Marisa berdiskusi dengan berbisik-bisik yang membuat Jena dan Jeno saling bertatapan dengan tajam.


***


Setelah begitu lama berdiskusi, Rania dan Marisa langsung langsung sepakat. Mereka berdua kemudian Menghampiri Anak mereka Dengan menatap begitu tajam.


"Baiklah! kami simpulkan ternyata ini hanya salah paham di antara kalian berdua! jadi  kalian berdua cepat saling meminta maaf sekarang!" Suruh Marisa dengan tegas pada anak muda di hadapannya.


"Tidak!" Tolak Jena dan Jeno  Tegas.


"Kenapa? apa kalian tidak mau ?" tanya Rania kebingungan atas tingkah dua Anak muda di hadapannya.


"Jeno yang salah Tante! harusnya dia yang minta maaf duluan padaku !" ucap Jian sembari menunjukkan tangannya kearah Jeno yang Menatapnya dengan tajam.


"Baiklah! Kalau itu mau Jena, berarti Jeno kamu cepet minta maaf pada jena !" suruh Rania pada anaknya dengan Tegas.


"Tapi Dia juga salah mah! kenapa aku yang harus duluan meminta maaf padanya?" Ucap Jeno tak terima, atas perilaku Ibunya yang Tak adil.


"JENO!"bentak Rania cukup keras, yangembuat Jeno tak sanggup melawan.


"Iya..iya..iya..!" Angguk Jeno dengan pasrah . Kalo papah dan paman di sini! pasti mereka membelaku sekarang! tapi sekarang di sini hanya ada para wanita! tentunya aku kalah dengan mereka! Sungguh tidak adil!" kesal Jeno dalam hati kecilnya. Tak selang lama, Jeno Kemudian mengulurkan tangannya kearah Jena "Maaf...aku minta maaf..!" Ucap nya dengan dingin, sembari menggenggam tangan mungil Jena yang lembut.


"Haha..oke! aku memaafkan mu!" ucap Jena sembari memegang tangan Jeno erat . Melihat kedua anak mereka yang sudah berbaikan, Rania dan Marisa merasa senang di buatnya.


"Begitu dong! kan enak di lihatnya !." Senang Marisa.


"iya..!" jawab Jena dan jeno dengan senyum yang tidak ikhlas.


Setelah merasa sudah cukup Jena dan Jeno lalu melepas tangan mereka masing -masing dengan raut wajah yang Terlihat masam "Aku sudah Meminta maaf pada Dia! sekarang cepat bilang kenapa mamah dan tante memanggil kami berdua ke sini ?" tanya Jeno mulai penasaran di buatnya.


"iya! kenapa mamah dan Tante memanggil kami berdua di waktu yang bersamaan Seperti ini?" tanya Jian jugaikut penasan.


"Jadi begini! mamah dan Tante Tidak akan menikah kalian berdua...


"Wah benarkah?...makasih mah ,Tante!" Potong Jena dan Jeno saling senangnya, saat mendengar perjodohan mereka di batalkan.


"jangan potong dulu dong... ,ada 'tapi' nya loh!" ucap marisa dengan senyum yang menyeringai.


"Tapi apa?" bingung Jena atas ucapan ibunya.


"TAPI! KALIAN BERDUA HARUS MENCARI PASANGAN KALIAN MASING-MASING!" ucap Rania dengan keras.


"Oh aku kira apa! itu sangat mudah bagiku!" jawab Jeno dengan santainya.


"Batas waktunya Dua hari!" lanjut Marisa yang membuat kedua remaja di hadapannya kaget, sekaget kagetnya


"APAH?' teriak Jena dan Jeno keras.


"MANA BISA SEPERTI ITU!...AKU HARUS MEMILIH PASANGAN YANG COCOK DALAM WAKTU DUA HARI? MANA BISA MAH? AKU MAU MENCARI ISTRI YANG BISA MENGELOLA PERUSAHAAN! ITU CUKUP SULIT DI TEMUKAN DALAM DUA HARI!" marah Jeno atas syarat yang di berikan Dia wanita di hadapannya.


"iya , itu terlalu susah!" lanjut Jian dengan raut wajah kesalnya.

__ADS_1


"TIDAK BOLEH ADA PENOLAKAN! MAMAH DAN TANTE MARISA SUDAH MEMIKIRKAN INI SEMUA MATANG- MATANG! JIKA KALIAN TIDAK MENEMUKAN PASANGAN KALIAN DALAM WAKTU YANG DI TENTUKAN! DENGAN TERPAKSA KALIAN BERDUA HARUS MENERIMA PERJODOHAN INI DAN MENIKAH!"UCAP RANIA KERAS DAN TEGAS


"TAPI MAH...


"GAK!GA ADA TAPI-TAPI !" potong marisa


"baiklah!" pasrah JENA dan jENO.


Mendengar persyaratan yang sudah di setujui oleh Jena dan jeno, Marisa dan Rania tentunya sangat senang di buatnya ,Tapi mereka tidak menunjukan kesenangan nya di hadapan Jena dan Jeno. mereka hanya duduk dengan memasang mimik wajah yang sangat serius dan Tajam.


Karna merasa urusannya sudah selesai, Jeno menghela nafasnya, kemudian menatap ibunya dan Marisa "Jika tidak ada lagi yang mau di bicarakan! ku mau pergi !"ucap Jeno dengan dingin sembari berdiri dari duduknya.


"aku juga mau pergi!" Lanjut Jena, yang juga ingin pergi dari restoran tersebut.


"Ah..kalau begitu jeno kamu antarkan Jena pulang ya!"suruh Rania, pada anak kesayangannya.


"iya-iya..ayo cepat!" angguk  Jeno dengan pasrah sembari berjalan menjauh.


Melihat Jeno yang mulai menjauh pergi, Jena langsung berpamitan pada ibunya dan juga Ibu Jeno "kalo begitu saya pamit ya mah,Tante!"ucap Jena dan langsung berjalan mengekori Jeno dari belakang.


"iya... hati-hati di jalan!" Teriak Marisa dan Rania dari kursi mereka.


Setelah Jena dan Jeno pergi menjauh meninggalkan restoran tersebut. Marisa dan Rania merasa senang di buatnya. mereka lantas  melompat -lompat kegirangan saking bahagianya, tanpa memikirkan orang di sekitarnya yang memandang aneh mereka berdua "jeng rencana kita berhasil!" senang Marisa sembari melompat-lompat kegirangan


"kita harus merayakannya jeng!" usul Rania pada sahabatnya. Mendengar usulan Rania ,Marisa langsung berteriak sekencang-kencangnya sampai Semua orang yang berada di dalam restoran tersebut terdiam karna suara Marisa yang keras "Semua orang yang ada di sini! kalian semua bisa makan sepuasnya sampai kenyang! saya yang bayar! Jika ingin, kalian bisa membungkusnya dan membawanya ke rumah!"...Teriak Maria yang membuat seisi Restoran Tersebut bersorak Gembira.


"wah benarkah?wah kita harus pesen banyak nih! restoran ini sangat mahal mereka pasti orang kaya !" ucap para pengunjung restoran dan langsung memesan makanan yang mereka Mau.


Disisi lain


Jeno menaiki mobil miliknya dengan raut wajah yang terlihat kesal dan Jena hanya berdiri terdiam di depan pintu mobil milik Jeno. Yang membuat Jeno kesal karna jena kunjung masuk ke dalam mobil nya


"cepat naik! kenapa berdiri saja!" teriak Jeno dari dalam mobilnya.


"bukain pintunya!" teriak Jian dengan masam.


"jangan manja cepat naik! kalo tidak aku akan meninggalkan mu di sini sendirian!" ancam Jeno pada gadis tersebut.


"coba saja kalau berani!" ancam balik Jena.


Karna Jeno tidak mau di marahi oleh ibu nya lagi. Iya terpaksa turun dari mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk jena dengan raut wajah yang menahan kesal "silahkan masuk tuan putri!" ucap jeno sembari menggigit bibinya saking geregetannya pada jena yang manja.


"Jeno !"panggil Jena sembari menyimpan Handphone miliknya ke kantung yang ada di dalam mobil tersebut.


"apa?" Tanya Jeno datang.


"AYO kita taruhan! siapa yang paling cepat menemukan pasangannya terlebih dahulu!  ,harus mengabulkan salah satu permintaannya!" Ucap Jena yang membuat Jeno Tersenyum di buatnya.


" Ide yang bagus! baiklah aku setuju! lagian pasti aku yang akan menang! kau kan tidak cantik, tidak akan ada yang mau sama kamu jena !" Ucap Jeno dengan yakinnya.


"hahahah..kau bercanda jeno? aku ini wanita terpopuler di sekolah! banyak sekali yang suka padaku! aku hanya perlu menunjuk salah satunya saja, huh!" Ucap Jena dengan angkuhnya.


"mana ada laki-laki yang suka pada wanita cerewet seperti kamu? mereka pasti buta!" Celetuk Jeno, yang membuat Jena sedikit kesal di buatnya


"kau hanya iri padaku!"


"iri?maaf ya, aku ini di sekolah adalah laki-laki yang paling di incar oleh para wanita -wanita cantik! aku mapan ,tampan dan banyak lagi kehebatan ku !" Ucapnya penuh percaya diri.


"tidak...mereka hanya mengincar hartamu saja ,jangan berharap terlalu tinggi!" jawab Jena dengan senyum yang mengejek.


"kau!" Jeno marah. karna amarah yang tidak bisa lagi di pendam Tiba-tiba Jeno mengerem mobilnya secara mendadak. hal itu membuat kepala Jena terbentur dengan keras karna iya lupa menggunakan sabuk pengamannya


"aduh..sakit...!"rintih Jena kesakitan ,sembari memegang kepalanya yang terbentuk Tersebut.


"Makanya jangan membuatku marah !" Ucap Jeno dengan kesalnya.


Jena tak mengubris ucapan Jena. Jian hanya terus mengelus kepalanya yang terasa aneh. Karna merasa ada yang salah iya lalu bertanya pada Jeno dengan  keadaan kepalanya yang baru saja terbentuk. "Jeno! kepalaku kenapa? Rasanya aneh!." tanya Jena sembari memperlihatkan kepala bagian depan pada Jeno.


'karna ucapan Jena  Tersebut, Sontak Jeno menoleh menatap Jena. alangkah terkejutnya iya saat melihat darah yang bercucuran sedikit demi sedikit di kening jena "Jena keningmu berdarah!"panik jeno, saat melihat Kening Jena berdarah.


"apah ?"


Jena mengusap keningnya dengan tangannya. iya lantas gemetar ketakutan saat melihat darah yang begitu banyak. Saking setakutannya iya lalu menangis sekencang -kencangnya di dalam mobil tersebut.


"huaaa...Jeno darah...Jeno...kerumah sakit cepat!"rengek Jena dengan keras.


"i-iya-iya tunggu!" panik jeno sembari menyalakan mesin mobilnya.Mobilpun Melaju dengan cepat menuju rumah sakit.

__ADS_1


***


Rumah sakit


setelah sampai di rumah sakit xxxx Jeno menggendong Jena dengan panik.  Ementara Jena hanya menangis ketakutan di pelukan Jeno saat melihat darahnya sendiri.


"Dokter.. Dokter!" teriak Jeno dengan keras.


Karnal teriakan Tersebut, seorang dokter datang dengan paniknya "ada apa ini?"tanya dokter dengan cemas.


"kepalanya berdarah !" panik jeno, sembari menatap Jena di pelukannya.


"baik..cepat siapkan kamar untuk pasien!" ucap sang dokter pada asistennya yang berdiri tak jauh darinya.


"baik dok!"


"mari ikut saya !"ucap sang dokter pada Jeno


Jiwon mengangguk dan mengikuti sang dokter dari belakang.


***


Jena duduk di ranjang pasien sembari menangis merintih kesakitan ,Jeno yang melihat hal tersebut lantas memeluk Jena dan mencoba menenangkannya."jangan menangis...nanti juga sembuh! jika kamu menangis terus, kamu semakin jelek!"


"ini semua gara-gara kamu tau!" tangis Jena semakin keras.


"iya-iya maaf!aku kan gak sengaja!"


Tak lama dokter tersebut datang bersama dengan asisiten nya. Iya kemudian menghampiri Jena dan juga Jeno lebih dekat.


"biar saya obati!" ucap sang dokter pada Jena.


"....."


***


"sudah selesai!" ucap sang dokter dengan senyum yang Terukir di bibirnya.


"apa lukanya parah dok?" tanya Jeno


sembari masih memeluk jena dengan arat


"tidak!...hanya luka luar saja tuan muda !" jawab sang dokter sembari mengemas peralatan medisnya yang tidak di perlukan.


"makasih dok!"ucap Jena pada sang dokter.


"iya nona! lain kali hati-hati ya!"


"iya!" ucap Jena sembari mengangguk


"apa boleh langsung pulang dok ?" tanya Jeno.


"boleh...nanti saya kasih obat dan krim penghilang bekas luka! Setelah itu bisa pulang!"


"makasih dok!" ucap jeno pada sang dokter.


"sama-sama..! kalo begitu saya permisi dulu!"pamit sang dokterdan langsung pergi


setelah dokter tersebut pergi keluar. Jena


lansung turun dari ranjang nya berniat untuk  pergi "ini semua salah mu!" ucap Jena dengan jutek, sembari menatap Jeno sekilas


"iya maaf!"


"ayo pulang !"


"iya!' angguk jeno


tiba-tiba jeno menggendong Jena dengan erat di pelukannya. Karna hal tersebut, sontak Jena kaget di buatnya.


"kenapa kamu menggendong ku?" Tanyanya sinis.


"sebelum kau yang memintanya !" jawab Jeno dingin dan langsung berjalan pergi.


"bagus juga!"


"huh wanita aneh.! ledek Jeno.

__ADS_1


"kamu juga aneh!"ledek nya balik sembari memeluk jeno dengan erat. Seperti sepasang kekasih.


__ADS_2